The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Singa Gurun



Harvard University, Mathematics Division


Biana memperhatikan Professor Bond memberikan kuliah tentang aljabar linear yang sering membuatnya sebal. Ternyata para Oom nya yang mengambil science pun sama, sama-sama membenci mata kuliah aljabar linear. Bahkan kedua Oomnya, Bayu dan Devan, sampai harus debat kusir dengan Professor nya.


( Baca The Story of Three Brothers dan Love In Race ).


Biana bukannya tidak tahu kalau dirinya diperhatikan oleh pria bernama Leonardo Rossi. Gadis itu melirik dan terkejut saat Leonardo memberikan muach dengan bibirnya ke dirinya.


Astagaaaa! Minta dicincang nih orang dan aku lempar ke Empang Opa Luca ! Biana mengacuhkan Leo dan kembali memperhatikan Professor Bond.


***


Semua orang keluar dari ruang kuliah kecuali Leonardo yang menunggu kursi kosong. Pria itu melihat Biana sedang membereskan proyektor mini yang dimasukkan ke dalam tas khusus.


"Apa perlu bantuan?" tawar Leonardo sembari mendekati Biana.


"Tidak terimakasih."


"Aku Leonardo Rossi. Kamu Biana Pascal kan?"


"Kan kamu sudah dengar tadi saat Professor Bond memperkenalkan aku?" Mata biru abu-abu Biana menatap tajam ke arah Mata biru Leonardo.


"Tapi kita belum berkenalan secara resmi." Leonardo mengulurkan tangannya. "Leonardo Rossi."


Biana dengan ogah-ogahan menerima uluran tangan Leonardo Rossi. "Biana Pascal."


"Kamu keturunan Perancis?" tanya Leonardo.


"Kamu keturunan Italia?" balas Biana cuek.


"Kelihatan kan dari nama belakang aku?" senyum Leonardo.


"Nggak heran. Pantas gayanya macam playboy duren tiga!" Biana membawa tas berisikan proyektor dan mencangklongkan tas ransel Louis Vuitton x Supreme nya.


Leonardo melihat Biana yang bersiap pergi. "Kamu anak orang kaya ya Bia?"


Biana menatap Leonardo. "Yang kaya kedua orang tua ku. Kenapa kamu bisa bilang begitu?"


"Tas mu seharga hampir $10,000. Sepatumu, Louboutin? Choo?"


"Stuart Weitzman."


Leonardo bersiul. "You're rich."


"Orang tuaku yang... Sudahlah ! Aku tidak ingin berbicara dengan mu..." Biana berjalan menuju ruang perlengkapan tapi Leonardo tetap mengikuti gadis itu.


"Kamu cantik Bia. Boleh kan aku memanggilmu Bia? Namamu juga indah. Biana. Artinya cantik kan dalam bahasa Perancis? Dan kamu tinggi juga. Berapa tinggi mu? 176? 177?"


"178. Kamu kenapa cerewet sekali sih?" Biana menatap judes ke Leonardo. "Dengar Singa Gurun..."


"Leonardo... Atau Leo supaya akrab..." senyum pria itu.


"Aku lebih suka memanggil mu Singa Gurun."


"Biana, kira-kira... " Leonardo bersedekap. "Apakah kamu mau makan malam bersamaku? Jujur aku buta Cambridge."


Biana menatap pria yang lebih tinggi darinya. "Berapa tinggimu Singa Gurun?"


"191. Kenapa? Kita pasangan yang cocok kan?" cengir Leonardo.


"Huweeekkkk !" Biana berlagak ingin muntah.


Leonardo terbahak. "Biana, aku rasa aku jatuh cinta padamu."


Biana melongo. "Oh dasar pria Italia ! Selalu merasa jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Hei, tapi aku serius Biana."


Biana berjalan meninggalkan Leonardo.


"Bia, nanti aku jemput ya !"


Biana hanya melambaikan tangannya.


***


Apartemen Biana dekat kampus Science.


Biana baru saja menyelesaikan acara mandi malamnya dan segera menghubungi Pedro dan Nadira. Kegiatan rutin yang selalu dilakukan semenjak dirinya kuliah sendirian di Harvard meskipun tahu ayah dan opanya mengirimkan pengawal bayangan untuknya.


"Bagaimana acara kuliahnya tadi?" tanya Nadira setelah mereka terhubung panggilan videonya.


"Ada mahasiswa menyebalkan!" sungut Biana kesal.


"Siapa namanya Bia?" tanya Pedro yang langsung memasang wajah waspada. Baginya, siapa yang mengganggu putrinya, tidak akan selamat.


"Italian?" seru Pedro dan Nadira. "Anak Harvard? Kok mommy baru dengar namanya."


"Nope. Harvard terutama fakultas matematika sedang mengadakan acara pertukaran mahasiswa dengan Dallas University dan Rossi adalah salah satu mahasiswanya yang datang."


Nadira menoleh ke arah suaminya yang langsung mencari tahu siapa pria yang mengganggu putrinya. "Mas Pedro ! Nggak usah background check!"


"Wajib Nadira. Aku tidak mau ada serial killer mendekati putriku!" balas Pedro tegas.


"Kamu itu kelamaan di BAU jadinya semua - semua kamu kaitkan dengan orang-orang mental illness " keluh Nadira.


"Tapi Daddy benar Mom. Aku jadi jauh lebih waspada ! Kan kalau dia macam - macam, endingnya nanti kan di meja autopsi Oom Wira" sahut Biana cuek.


"Bianaaa... Oom Wira di Quantico, kamu di Cambridge ! Nggak mungkin lah dibawa kemari !" Nadira memegang pelipisnya karena pusing dengan bar-barnya Biana.


"Lha kan pasti Daddy ambil kasusnya" eyel Biana yang membuat Nadira harus menghela nafas panjang.


"Astaghfirullah... Mas ! Ini semua gara-gara kamu, Wira, Bayu, Devan, Deva, ngajarin Biana jadi kebangetan pemberaninya." Nadira menatap Pedro kesal.


"Lho kok aku? Bukankah bagus ya Bia jadi cewek pemberani?" Pedro menatap istrinya bingung.


"Haaaiissshhh!" Nadira manyun.


"Sayang, Leonardo Rossi, usia 22 tahun, mahasiswa semester akhir fakultas Science Dallas University, atlet Rodeo, memiliki ranch di Texas. Orang tua nya tinggal disana bersama dengan adik Leo bernama Lyra. Adik Leo berusia 17 tahun."


"Atlet Rodeo?" tanya Biana. Pantas badannya kekar. "Cowboy? Benar-benar cowboy?"


"Yup, ini Daddy kirim foto satelit rumah dan ranchnya."


Nadira mendelik. "Astaghfirullah! Mas ! Aku tahu kamu chief BAU FBI sekarang tapi bukan begini dong..."


"Siapa bilang aku pakai situs FBI ? Aku pakai punya Jang Corp, sayang. Aku juga tahu ini pencarian pribadi jadi aku tidak bawa - bawa FBI" jawab Pedro tenang.


Biana melihat betapa luasnya ranch milik keluarga Rossi. "Berapa ini luasnya Dad?"


"Sekitar 35 ha. Tapi keluarga Rossi punya tiga ranch yang dipakai untuk ternak sapi dan kuda khusus untuk high quality. Yang dua luasannya sekitar 50 ha dan 65 ha. Ini yang menjadi rumah induknya, Bia."


Biana mengangguk. Cowboy kaya rupanya.


"Sudah, kamu istirahat Bia. Lanjut besok ya?" senyum Nadira karena sudah pukul delapan malam. "Kamu makan malam pakai apa?"


"Masih ada sisa beef stew kok mom. Cukup lah."


"Sayang, si Rossi itu bersih tapi kamu juga harus waspada juga. Biasanya pria Italia itu tukang modus."


"Oke Dad."


Biana saling berpamitan ke kedua orangtuanya dan sedang mematikan MacBook nya, ketika bel apartemen nya berbunyi.


Gadis itu pun membuka pintunya dan melihat siapa yang datang. Wajah Biana tampak sebal dan segera menutup pintu apartemennya namun sepatu boot milik pria itu menahannya.


"Aku bawakan makan malam. Bento salmon? Sebagai perkenalan?" ucap Leonardo sambil memperlihatkan tas dari rumah makan Jepang terkenal di Cambridge.


"Aku sudah makan ... Terima kasih..." jawab Biana sopan.


"Ayolah Bia, aku belum makan malam. Temani aku lah."


"Kenapa tidak dengan teman-teman kamu?" Biana masih mengintip dari balik pintu.


"Aku ingin makan bersamamu. Tenang Bia, kita cuma makan. Please?" pinta Leonardo.


Biana menghela nafas panjang. "Oke. Habis makan, kamu pulang ! Tidak ada alasan apapun !" Biana membuka pintu apartemennya dan memberikan akses ke Leonardo untuk masuk.


"Apartemen kamu artistik Bia" puji Leonardo saat melihat apartemen Biana.


"Thanks."


"Makan yuk ?" senyum Leonardo.



Leonardo 'Singa Gurun' Rossi


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️