
Apartemen Biana di Cambridge Massachusetts
Biana menatap wajah Leonardo yang tampak serius memandangnya. Sejujurnya jantung Biana berdegup kencang karena melihat mata biru itu tampak sungguh - sungguh menatapnya penuh cinta dan ketulusan disana.
"Singa Gurun..."
"Bia, kalau kamu belum bisa menjawabnya sekarang, tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa aku serius dan sampai kapanpun, aku selalu bersamamu."
Biana terdiam dan dalam hati kecilnya dia salut dengan keberanian dan kejujuran Leonardo. Apalagi jarang jaman sekarang seorang pria berani mendatangi ayah si gadis di kantornya dan dibawah todongan pistol pun dihadapi. Hanya saja, Biana masih belum mau dipusingkan dengan urusan asmara karena dia fokus dengan studi dan kariernya.
"Biana, anggap saja kita sudah pacaran dan saling tahu bahwa kita adalah pasangan" putus Leonardo.
"Mana bisa begitu !" protes Biana. "Itu kan keputusan kamu, cumiii !"
"Hah? Cumi? Apalagi itu Bia?" Leonardo bingung dengan kata yang keluar dari mulut Biana.
"Squid !" jawab Biana.
"Kamu itu... Sudah singa gurun sekarang cumi ? Ya ampun Bia, nggak ada yang cakep ?" gerutu Leonardo.
"Gadha !" jawab Biana judes.
"Kita makan dulu yuk. Lihat kamu galak begini pertanda perut mu lapar itu..." senyum Leonardo. Pria itu lalu menggandeng tangan Biana menuju meja makan yang sudah ditata nya dengan rapi. Air liur Biana langsung terbit melihat makanan favoritnya ada semua disana.
Bagaimana bisa singa gurun tahu makanan favorit aku? Perasaan aku nggak posting macam-macam di Instagram aku deh...
"Kamu mau yang mana Bia ?" tanya Leonardo sembari mengambil piring dan hendak diisikan makanan yang dibawanya.
"Semuanya !"
Leonardo menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum. "Oke princess..." Pria itu mengambilkan makanan di meja untuk Biana.
"Terimakasih" ucap Biana saat menerima piring dengan makanan disana.
"You're welcome."
Biana dan Leonardo makan dengan tenang tanpa ada percakapan disana karena pria itu memberikan kesempatan untuk gadisnya menikmati semua makanannya.
***
"Kamu masih belum bisa mengurai konstanta Euler - Mascheroni?" tanya Leonardo usai mereka makan siang dan pria itu membantu Biana mencuci piring.
"Belum. Otaknya dimana sih bisa bikin rumus seperti itu?" gerutu Biana.
"Otaknya ya terdapat di tempurung kepala dong Bia..." kekeh Leonardo yang semakin gemas melihat gadisnya cemberut. Dan jika Biana sedang emosi, kata-katanya sering Absurd bahkan terkadang dirinya tidak paham ucapan gadis itu.
"Apa aku ganti judul tesis ya.." gumam Biana.
"Kamu mau ganti apalagi?" tanya Leonardo yang duduk di sofa bersama dengan Biana yang masih sibuk corat-coret di iPadnya.
"Geometri Aljabar?" Biana menatap Leonardo.
"Bia, itu lebih susah lagi" ucap Leonardo yang mengambil selembar kertas dan mulai mencoret - coret disana.
"Contoh sederhana geometri aljabar adalah rumus y\=x(^2). Jika digambarkan, hasilnya adalah kurva parabola. Tujuannya adalah untuk melihat sejauh mana perkiraan bentuk objek tertentu dengan menempelkan blok-blok pembangun geometris sederhana dari dimensi yang terus bertambah..." terang Leonardo yang membuat Biana melongo.
"Konjektur Hodge menegaskan bahwa untuk jenis ruang tertentu, yang disebut varietas aljabar projektif, potongan-potongan yang disebut siklus Hodge sebenarnya merupakan kombinasi linear rasional dari potongan-potongan geometris yang lebih sederhana, disebut siklus aljabar... Sampai sini paham kan Bia?" Leonardo menatap Biana yang masih terkejut dengan otak pria itu.
"Dengan kata lain, beberapa jenis tertentu dari struktur geometri memiliki pasangan aljabar yang dapat digunakan untuk mempelajari dan mengklasifikasikan bentuk-bentuk objek rumit dengan lebih baik... Ini jauh lebih complicated dibanding konstanta Euler - Mascheroni" sambung Leonardo sambil menunjukkan hasil Corat coret rumusnya. "Hampir sama dengan hukum quantum di bidang fisika yang baru dipecahkan oleh Shinichi Park. Kalau boleh aku kasih saran, kamu tetap fokus dengan tesismu yang sekarang sebab bukan tidak mungkin kalau kamu ganti, bakalan lama lulusnya."
Biana menatap Leonardo dengan tatapan tidak percaya. "Bagaimana kamu bisa tahu sejauh ini?"
"Bia, aku tahu gadis yang sayangi adalah seorang dosen matematika dan bagaimana pun caranya, aku juga harus bisa mengimbangi meskipun aku pasti masih kalah dari kamu tapi aku berusaha keras..." senyum Leonardo.
"Ayo kita pecahkan masalah di tesis kamu."
Leonardo membantu Biana untuk mengurai rumus complicated itu dengan saling berdiskusi dan lagi-lagi Biana memberikan applaus dalam hati ke pria bermata biru itu yang menyimpan banyak kejutan di balik sifat serampangan nya.
***
Menjelang makan malam, Biana memesan pizza dan coke untuk mereka berdua. Sambil berisitirahat, Biana menatap Leonardo yang masih berpikir.
"Kamu nginap dimana singa gurun?" tanya Biana.
"Di hotel dekat sini. Bukan hotel bintang lima tapi cukupan lah. Lagipula, aku kan seorang cowboy, tidur diatas tumpukan jerami juga sering."
"Jam sepuluh kamu pulang ya ..."
"Lho ? Kamu nggak nawarin aku menginap disini?" goda Leonardo.
"Kamu pilih kanan rumah sakit atau kiri kuburan?" ancam Biana galak membuat Leonardo terbahak.
"Ya ampun Biaaaa... Kamu itu kok bisa menemukan istilah aneh-aneh sih."
"Itu nggak aneh-aneh, itu faktanya" jawab Biana cuek.
"Bia, kamu kenapa menggemaskan sih?" Leonardo menatap lekat ke wajah cantik itu.
"Aku menyebalkan tepatnya..."
"Nggak kok, kamu menggemaskan. Cantik, pintar dan ... Absurd."
Suara bel apartemen Biana berbunyi dan gadis itu berdiri untuk mengambil pesanan pizza-nya. Setelah memberikan tip, Biana pun menutup pintu apartemennya sambil membawa dua kotak besar pizza dan sebotol coke.
"Ayo makan..." ucap Biana sambil meletakkan pizza itu diatas meja tempat mereka tadi berdiskusi.
Leonardo membuka kotak pizza-nya yang membuat apartemen Biana harus pizza. Gadis itu mengambil es batu yang dia letakkan di dalam bucket untuk minum coke.
"Kalau tesis mu berhasil besok, aku mau minta kamu datang menyaksikan pertandingan Rodeo aku. Please ya Bia... Datang ya?" pinta Leonardo sembari memakan pizza-nya.
"Aku nggak bisa berjanji singa gurun. Jadwalnya kan sering bentrok antara aku dan kamu."
"Dengar Biana, tahun depan ada pertandingan Rodeo di New York dan aku ingin kamu datang. Nanti aku kirimkan tiket VIP khusus buat kamu..."
"Singa gurun, aku tidak berani berjanji... Dulu saja aku juga tidak datang karena jadwalnya bentrok dengan jadwal mengajar aku." Biana menatap serius ke Leonardo. Biana tidak mau pria di hadapan terus berharap dirinya akan datang ke pertandingan Rodeo.
"Aku tidak perduli karena yang penting kamu datang lah."
Biana terdiam. Mungkin tidak ada salahnya sekali-kali aku datang. "Baiklah Leo. Insyaallah tahun depan aku bisa datang."
Leonardo tersenyum puas.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Alisha Léopold bakalan akan nongol disini
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️