
Dallas Texas
Rania bersama dengan Chris, mencari apartemen yang lebih dekat dengan rumah sakit tapi juga dengan apartemen pria itu. Setelah mengadakan janji dan melihat-lihat bersama dengan agen properti, akhirnya Rania memilih apartemen yang gedungnya bersebelahan dengan gedung apartemen Chris.
"Kenapa kamu tidak ambil yang satu gedung sama apartemen aku?" tanya Chris sambil menemani Rania membayar biaya sewa nya selama enam bulan.
"Lha aku kan cuma sementara sampai kita menikah. Toh setelah kita menikah, aku tinggal di apartemen kamu." Rania menepuk pipi Chris lembut.
Chris cemberut. "Padahal unit apartemen sebelah apartemen aku kosong dan kamu sudah melihat nya kan? Kenapa tidak diambil?"
"Karena Chris sayang, kamu akan selalu modus ke unit apartemen aku setiap hari. Benar kan?" Rania memegang wajah pria bermata biru dengan kedua tangannya. "Agree?"
"Damn, modusku kebaca..." gumam Chris sambil manyun.
Rania tertawa. "Dengar Demit ... Aku kenal kamu tidak hanya dua tiga bulan... Delapan tahun aku kenal kamu !! 1/3 hidupku kenal kamu ... Tahu? Jadi kalau sistem modusmu kebaca ... Ya salahkan mukamu yang sangat transparan..."
"Apakah mukaku sangat transparan kalau aku sayang dan cinta banget sama kamu?" goda Chris.
"Sangat..." Rania dan Chris saling berciuman membuat agen properti dan pihak bank hanya bisa melongo. Seriously, quarter back satu ini dengan putri dokter Bianchi tidak ingat sedang berada dimana.
"Ehem. Miss Bianchi Prasetyo... Ini belum selesai..." ucap petugas bank itu sambil tersenyum maklum.
"Eh? Belum selesai ya?" tanya Rania yang masih dalam pelukan Chris.
***
Malam ini Rania memilih tidur di hotel karena besok baru menata apartemen nya. Dirinya memilih untuk tidak membawa barang-barang yang tidak penting, dan hanya sangat krusial dia bawa. Apalagi truk Haul nya baru datang besok di hari Sabtu dan menata semua barang-barangnya.
Chris yang tadinya mengeyel untuk menemani Rania di hotel, akhirnya menyerah untuk pulang karena sudah mendapatkan jepitan telinga super pedas dari gadisnya. Pria itu berjanji akan membantu pindahan Rania esok usai acara latihan di stadium.
***
Ranch Rossi Sabtu Pagi...
Lenna menatap Buzz yang sibuk melatih Hercule Poirot berjalan di sepanjang jalan sebelum ke meja ijab dengan perasaan bingung. Gadis yang tidak ada kuliah hari ini tampak penasaran diselimuti kebingungan saat Buzz dan Hercule Poirot sama-sama berteriak kesal.
Yang satu berteriak "Jalan Hercule !" sedangkan yang satu "Kweeeeekkkk" dengan ekspresi marah dan kesal. Pancingan Snack dari Buzz tidak berhasil membuat Hercule mau berjalan.
"Ada apa ini?" tanya Lenna yang melihat halaman belakang ranch ditata seperti desain menikah.
"Kakakmu itu Lenna. Ingin Hercule membawakan cincin pernikahan besok..." adu Buzz. "Tapi Hercule tidak mau diajak kompromi !"
"Kweeeeekkkk!" balas Hercule judes dan menyosor kaki Buzz.
Si judes Hercule Poirot
"Aduuuhhh ! Sakit Hercule Poirot ! Aku masak kamu nanti !" bentak Buzz kesal membuat Lenna tertawa terbahak-bahak.
"Oh ya ampun ... Kalian sangat hilarious... Hercule memang tidak bisa dipaksa begitu. Sudah gini saja, biar nanti Hercule aku gendong saat memberikan cincin buat kak Leo dan kak Bia."
"Kamu bawa pakai apa Lenna? Maksudnya cincin nya?" tanya Buzz.
Lenna menggendong Hercule Poirot yang langsung menduselkan kepalanya di dada gadis itu. "Aku nemu tas imut di Amazon. Biar cincinnya aku masukkan ke kantong kecil dan dibawa pakai tas kecil yang nanti jadi backpack di punggung Hercule. Lucu kan?"
"Oh astaga... Ini pernikahan yang sangat-sangat antik..." gumam Buzz.
"Biar kenangannya tetap tersimpan, Buzz. Kan kak Leo dan kak Bia, insyaallah menikah sekali seumur hidup..." senyum Lenna.
Buzz mengangguk. "Biar peternakan ada sentuhan wanita lebih banyak...."
"Sorry Lenna, kita selama ini selalu menganggap kamu cowok karena mampu bekerja sama hebohnya dengan kami..." kekeh Buzz yang langsung mendapatkan tendangan dari Lenna.
"Brengseeekkk kalian ! Aku cewek tulen !" protes Lenna diikuti teriakan Hercule Poirot seolah mendukung nona nya.
"Eh ngomong-ngomong... Di Brussels, ada cowok yang bikin kamu tertarik nggak?" goda Buzz..
Wajah Lenna memerah. Kok aku terbayang Raul Accardi ya.
"Oooohhh Lenna kecil sudah sedikit dewasa karena suka sama cowok..." gelak Buzz.
Lenna hampir memukul Buzz saat Leonardo keluar dari istal sambil membawa Spots.
"Kalian berdua kenapa ribut-ribut dari tadi?" tanya Leonardo bingung.
"Boss, Lenna kecil sudah masuk masa puber ! Biarpun telat ! Tampaknya dia suka salah satu cowok di Brussels..." adu Buzz membuat Leonardo menatap Lenna dengan tatapan kepo.
"Raul Accardi?" tebak Leonardo membuat pipi Lenna yang tadinya sudah normal, kembali merah.
"Kak Leoooo..." rengek Lenna dengan wajah malu.
"Siapa itu Raul Accardi?" tanya Buzz bingung.
"Adiknya Biana, salah satu sommelier di perusahaan anggur Bianchi dan keturunan Blair - Giandra..." senyum Leonardo.
"Whoah ... Mafia?" Buzz menoleh ke arah Lenna. "Yang sempat gegeran dulu ?"
"Mereka mafia baik kok" bela Lenna.
"Kita lihat saja Lenna. Jalan kamu masih panjang... Kalau Raul memang jodoh kamu, tidak akan lari kemana... " senyum Leonardo. "Yuk berkuda sambil melihat semua perkebunan. Bawa Hercule sekalian dan anjing-anjing gembala juga. Sudah lama kita tidak jalan-jalan ke perkebunan."
Lenna pun tampak senang karena baginya berkuda bersama dengan kakaknya sembari memeriksa semua perkebunan, ternak dan semua yang ada di peternakan nya adalah momen yang sangat dia suka. Mengetahui seluk beluk ranch nya dari ujung ke ujung adalah penting baginya karena dirinya dan Leonardo adalah pemiliknya.
***
Apartemen Rania di Dallas Texas
Rania benar-benar membuktikan ucapannya karena hanya membawa barang-barang yang penting selama tinggal di apartemen yang disewanya selama enam bulan.
Rania adalah tipe yang praktis, tidak mau repot karena baginya yang penting adalah ada kasur, sofa, alat-alat masaknya, meja dan kursi kerja, tv layar lebar dan Netflix. Dia tahu tinggal disana sementara saja jadi tidak perlu disibukkan lagi macam dia di London yang barang-barangnya sebagian dia jual di Ebay dan e-commerce lainnya, sebagian dia donasikan dan sebagian lagi dia simpan di gudang penyimpanan.
Suara bel apartemennya berbunyi bertepatan semua barang Rania sudah masuk semua. Gadis itu membuka pintu dan tersenyum melihat Chris membawa dua temannya, Simba dan Raphael untuk membantu menata barang-barang.
"Bagus ! Aku butuh pria-pria berotot dan tidak perlu dibayar ... Lumayan irit !" ucap dokter bedah itu cuek. "Pizza cukup kan?"
Chris dan Simba hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan asal Rania.
"Seriously, Armstrong, cewekmu pelit banget !" kekeh Raphael, salah satu Guard di tim.
"Kalau aku tidak pelit, aku tidak bakalan kaya" timpal Rania sambil nyengir lebar.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️