
Ranch Rossi di Dallas Texas
Leonardo melihat Biana duduk di kursi gantung di teras belakang sambil memakai selimut motif kotak-kotak. Wajah gadis itu tampak lembut sambil menikmati pemandangan matahari terbit di peternakan.
"Mau kopi atau hot choco, Bia?" tawar Leonardo.
Biana menoleh. "Selamat pagi..." senyum gadis itu membuat Leonardo tidak tahan untuk tidak mencium bibir Biana.
"Selamat pagi calon istriku" senyum pria bermata biru itu.
"Sudah laporan ke Daddy?" goda Biana yang tahu kalau Leonardo belum bilang ke ayahnya Pedro Pascal. "Bisa heboh datang kemari tahu anaknya dilamar tanpa bilang-bilang."
"Masa sih?" Leonardo menatap geli ke Biana.
"Ya sudah kalau tidak percaya..." senyum Biana.
Leonardo mengerenyitkan dahinya. Memang apa yang akan dilakukan chief BAU itu?
***
New York, Penthouse Joey dan Georgina Bianchi
Rania dan Chris merasa seperti kena sidang grebek hansip saat mereka datang pagi ini dari Dallas. Rania dan Chris berangkat dari Dallas usai subuh dan tiba di New York sekitar pukul sembilan pagi karena perjalanan dari Dallas ke New York membutuhkan waktu 3,5 jam.
Dan kini, keduanya duduk di kursi depan meja makan dimana disana sudah ada Samuel Prasetyo, Blaze Bianchi, Rase Prasetyo, Joey Bianchi dan Georgina O'Grady.
Keringat dingin mengalir di kening Chris karena bagaimanapun dirinya main lamar tanpa bilang-bilang. Rania sendiri lebih santai menghadapi tatapan tajam keluarganya.
"So, kamu sudah melamar Rania?" tanya Joey Bianchi.
"Sudah Dr Bianchi."
"Di AT&T Stadium?" tanya Samuel Prasetyo.
"Iya Dokter Prasetyo."
"Kenapa tidak undang kami?" hardik Blaze judes membuat Rania dan Chris melongo.
"Eh?"
"Kan seru aja lihat kalian berdua lamaran di tengah-tengah stadium" jawab Rase cuek.
"Kalau kalian menikah, berarti kamu tinggal di Dallas dong" celetuk Samuel. "Dekat sama Biana lagi deh..."
"Ah iyaaaa. Bia pindah ke Dallas kan akhirnya..." seru Rania. "Sip !"
Chris menoleh ke arah Rania. "Senang kan kamu... Sepupumu yang juga partner in crime."
"Iyalah ! Bisa tag team ngerjain kamu sama singa gurun!" seringai Rania usil.
"Kapan kalian mau menikah?" tanya Joey.
"Setelah Alisha !" ucap Chris dan Rania bersamaan membuat anggota keluarga Bianchi tertegun.
"Bisa kompak gitu ya..." gumam Rase sebal.
***
Ranch Rossi Dallas Texas
Biana dan Leonardo sedang membawa para kuda berjalan di halaman istal bersama dengan Lenna, saat melihat helikopter terbang diatas mereka.
"Memang sering ada helikopter terbang di tanah ranch?" tanya Biana sambil menyisir Surai Elsa, kuda Akhal-Teke betina yang bewarna emas.
"Jarang sih Kak Bia. Biasanya sih yang punya ranch besar-besar ... Kalau aku dan kak Leo jarang sewa helikopter kalau nggak urgent banget. Tapi itu pun bisa dihitung pakai jari selama aku disini..." jawab Lenna.
Leonardo melihat ke atas langit dan ternyata helikopter itu menuju tanah lapang yang memang ada di dalam wilayah ranch nya. Pria itu tampak curiga melihat helikopter itu mendarat dengan sempurna.
Para pekerja nya termasuk Woody dan Buzz tampak waspada hingga mereka menghentikan pekerjaan mengangkut jerami dengan fork.
"Aku tidak tahu..." jawab Buzz sambil memegang fork nya.
Tak lama dari dalam helikopter turun dua orang pria dan wanita yang tampak menatap dingin ke arah Biana.
"Mom ! Dad !" seru Biana.
Leonardo menepuk jidatnya sedangkan Lenna terkejut melihat kedua orangtuanya Biana datang dengan gaya yang tidak pernah dia duga.
"Wah keren!" cengir Lenna sambil menoleh ke arah kakaknya yang mengusap wajahnya kasar.
***
Pedro Pascal menatap judes ke Leonardo di ruang tengah sedangkan Nadira bersama Biana dan Lenna di dapur sibuk sendiri. Kopi di meja sudah agak dingin tapi Pedro tetap tidak mau menyentuhnya. Chief FBI itu memilih menatap mata biru pria yang sudah melamar putrinya tanpa memberitahukan padanya!
Pedro tahu itu malah dari Sean Léopold yang cerita Leonardo berencana melamar Biana. Itu pun Sean tahu dari calon menantunya, pangeran Richard dari Inggris.
Apa-apaan! Apa tidak tahu Biana masih ada Daddy dan Mommy nya? Pedro berdehem.
"Mr Pascal... Saya bisa jelaskan..." ucap Leonardo.
"Jelaskan apa?" jawab Pedro judes.
"Saya sudah melamar Biana ..."
"Lalu? Kapan kamu mau laporan ke saya? Nunggu sampai mau nikah ?" Pedro menatap tajam ke arah Leonardo.
"Rencananya setelah mengantarkan Biana ke Harvard..."
"Kamu nunggu seminggu sampai detik ini kalau saya tidak datang, kamu juga tidak akan bilang kan?" hardik Pedro. "Kamu tahu siapa yang bilang sama saya? Sean Léopold ! Richard yang kasih tahu ! Masa saya harus tahu dari orang lain bukannya dari kamu? Biana juga !"
Biana yang sedang di dapur hanya menunduk karena dirinya sudah ingin bilang ke ayahnya tapi Leonardo yang akan mengatakannya sendiri dimana pria itu juga tidak kunjung bilang sampai seminggu Biana berada di ranch untuk liburan.
Nadira hanya memeluk putrinya sedangkan Lenna memegang tangan calon kakak iparnya yang tampak sedih kena bentak ayahnya. Entah kenapa, Lenna senang dengan cara kedua orangtua Biana ke putrinya. Tegas tapi tetap sayang.
"Maafkan saya Mr Pascal. Bukan salah Bia, salah saya. Sayalah yang bilang pada Bia kalau saya yang akan mengatakannya pada anda tapi saya berencana mengatakan langsung bukan via telepon atau pun video call. Besok kan Biana pulang ke Harvard dan saya berencana ke Quantico setelah mengantarkan Bia..." ucap Leonardo tegas. "Jika Mr Pascal marah, marahlah pada saya. Saya yang bersalah disini, sayalah yang bertanggung jawab."
Pedro menatap Leonardo dingin. "Bia ! Bereskan semua bawaan kamu ! Kita pulang ke Maryland !" perintah Pedro.
"Sir..." Leonardo menatap Pedro dengan tatapan bingung.
"Dengar Singa Gurun, memang kamu sudah bertunangan dengan putri saya, tapi saya tidak mau Biana tinggal disini lama-lama. Kalian harus menikah dulu sebelum saya ijinkan Biana disini ! Paham ! Bia ! Bereskan barang kamu ! Pulang sama Daddy dan Mommy !" teriak Pedro lagi.
Biana menatap wajah ayahnya yang tampak marah dengan tatapan sendu. "Yes Daddy ..."
"Aku bantu kak Bia..." tawar Lenna. Kedua gadis itu masuk ke kamar Lenna karena selama menginap di ranch Rossi, Biana tidur bersama dengan adik Leonardo.
Leonardo memandang wajah galak Pedro Pascal dengan perasaan bingung. "Tunggu Mr Pascal..." Leonardo mengehentikan ucapannya saat Nadira masuk dan duduk bersama dengan mereka. "Anda tidak mengijinkan Biana tinggal disini kalau belum menikah dengan saya...?"
"Iyalah !! Saya tidak suka putri saya tinggal bersama dengan seorang pria yang belum ada ikatan pernikahan sah !" jawab Pedro kalem.
Leonardo tersenyum lebar. "Anda merestui saya dan Biana?"
"Kapan lagi ada pria mau bertanggung jawab menerima segala kesalahannya?" ucap Pedro. "Terlepas kesalahan kamu tidak segera bilang pada saya segera, saya hargai kamu mau menemui saya lagi di Quantico. Dan mulai detik ini, kamu tidak boleh menginap di apartemen Bia di Harvard macam kamu di Oxford ! Tidak boleh !"
Leonardo hanya tersenyum kecut.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️