The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Galena dan Alex Di Rumah Sakit



Ruang Rawat Inap Billy Gallagher di Royale Hospital London Inggris


Galena menoleh dan melihat kakaknya ribut tidak jelas dengan pria bermata hijau kebiruan itu. Putri Gabriel Luna dan Garvita Schumacher hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menatap Billy yang asyik mengobrol dengan Eléonore.


"Mbak Rania kenapa itu mbak?" tanya Eléonore.


"Nggak tahu. Mbak tidak heran kalau pada akhirnya mbak Rania bakalan bikin si chief babak belur" gumam Galena cuek.


"Mbak Lena..." panggil Billy.


"Ya?"


"Dokter Rania...dan chief Alex Darling memang jarang akur..." ucap Billy.


"Kok tahu?"


"Kemarin... Saat mengurus aku, mereka juga ribut..."


Galena menghela nafas panjang. "Mbak Rani tuh hobinya ngajak gelut!"


***


"Ursula? Ursula? Cumi-cumi gemuk hitam badan ungu abu-abu rambut perak? Seriously Alex !" pendelik Rania sebal.


"Ralat. Ursula itu gurita, bukan cumi-cumi... Addduuuhhh !" Alex meringis kesakitan saat telinga nya ditarik Rania.


"Nggak usah diperjelas, kampret !" bentak Rania sambil melepaskan jepitannya yang membuat telinga kanan Alex Darling memerah.


"Rania..." panggil Garvita.


"Ya Tante?" Rania dan Alex menoleh ke arah wanita bermata biru keturunan Jerman itu.


"Apakah pendarahan di otak nya berbahaya, Rania? Apa perlu dioperasi?" tanya Garvita ke Rania. "Sebab kata Miss Jha, Billy mengalami pendarahan disana."


"Alhamdulillah nggak perlu dioperasi karena dengan obat-obatan sudah mulai membaik dan hasil CT scan kemarin sudah berhenti pendarahan nya. Tapi Billy masih harus direhabilitasi karena kita belum tahu impact nya ke fisik. Aku sih bersyukur kemampuan bicaranya baik-baik saja, dan Billy masih muda jadi kemampuan sembuhnya lebih cepat dari yang sudah berumur." Rania menatap ke Oom dan Tantenya.


"Ran, apa ada bukti-bukti Rontgen atau scan lainnya? Buat tambahan alat bukti di pengadilan nanti?" tanya Alex.


"Sudah aku siapkan Lex. Jadi bisa kamu bawa nanti."


Alex mengangguk. "Thanks Ran."


Gabriel dan Garvita menoleh ke arah Billy yang asyik ngobrol dengan Galena dan Eléonore. "Semakin cepat proses adopsi besok, semakin baik. Billy akan dirawat di Dubai" ucap Gabriel.


"Iya Oom tapi aku belum bisa mengeluarkan surat pulang yaaa. Tunggu seminggu lagi karena harus memeriksa kondisi fisik yang masih di gips dan terapi lainnya."


"Tidak apa-apa Ran, yang penting dia dalam perawatan terbaik." Gabriel menatap keponakannya.


"Absolutely Oom."


***


"Kamu kalau ke Dubai, nanti bisa naik kuda, belajar bela diri dan belajar banyak hal lainnya" ucap Galena.


Billy hanya mengangguk memandang calon kakak angkatnya yang tampak bar-bar. Duh, kok beda jauh ya sama My Lady Alisha.


"Kak Billy harus cepat sembuh ya. Nggak enak di rumah sakit. Makanannya... huweeekkk!" celetuk Eléonore.


"Memang kamu pernah di rumah sakit?" tanya Galena ke Eléonore.


"Pernah! Kena demam tinggi dan makanannya cuma boleh bubur. Mana nggak enak, masih enak bubur buatan mommy. Makanya Elle nggak suka rumah sakit, nggak boleh makan es krim dan makanannya nggak enak semua!" tukas balita cantik itu.


"Tapi kan ada Jell-O. Enak kan tuh!" balas Galena.


"Elle benci Jell-O" jawab Eléonore sambil memajukan bibirnya.


Billy tertawa kecil. "Punya saudara perempuan itu ramai ya?"


"Kamu belum tahu saja Bill, kami memang perempuan tapi kami jago berkelahi!" ucap Galena jumawa.


"Kak Billy, hati-hati kalau sama mbak Lena. Dia hobi berkelahi" bisik Eléonore dengan mimik lucu.


Billy hanya bisa melongo. Keluarga baru aku sepertinya bakalan seru deh.


***


"Aku bawakan pizza. Kata Mas Richard, ini pizza terenak di London. Entah benar atau nggak tapi memang enak meskipun masih kalah dikit dengan pizza New York" ucap Galena yang langsung mengambil piring kertas, tissue dan satu botol teh karena Billy tidak boleh minum coke.


"Terimakasih mbak Lena" jawab Billy sambil menerima pizza-nya.


"Sama-sama" jawab Galena yang memakai sweater putih tebal karena tahu pasti akan dingin meskipun pemanas sudah bekerja. Tapi ini adalah London yang musimnya sering Membagongkan.



Galena Al Jordan Schumacher Luna


"Mbak..." panggil Billy.


"Yes?"


"Apa naik kuda menyenangkan?" tanya Billy.


"Sangat. Oh, kamu harus bisa bela diri paling tidak dua macam yang bisa kamu kombo. Macam aku, suka taekwondo yang aku mix denahn krav maga." Galena menatap Billy serius. "Dan kamu juga harus bisa menembak. Bukan untuk gaya, tapi untuk membela diri kamu sendiri. Bukan apa-apa, Billy. Kita itu dari keluarga terkenal, banyak orang yang suka dengan kita tapi juga banyak orang yang tidak suka. Kita tidak bisa terpancang dan tergantung dengan bodyguard jadi kita harus bisa membela diri kita sendiri. Pesan mbak, kalau kamu sudah canggih, dipakai untuk kebaikan, jangan kejahatan."


"Kata Elle, mbak Lena sudah sering dipanggil ke kepala sekolah karena berkelahi..." mata biru Billy menatap Galena yang tampak kikuk.


"Well, itu karena aku membela temanku. Dengar Billy, di keluarga kami memang semua bisa bela diri tapi kami juga memakainya untuk membela kaum lemah. Aku membela temanku yang dibully dan endingnya aku yang jadi target bully. So, daripada aku sakit hati, mending mereka dong yang pengecut itu sakit hati dan fisik sekalian biar jera ! Kamu itu hanyalah seorang pecundang kalau berani membully orang lain !" ucap Galena berapi-api.


"Dasar adiknya Rania ! Semuanya pakai jalan kekerasan !"


Galena serta Billy menoleh ke arah pintu kamar dan tampak Alex Darling datang dengan mengenakan jaket kulit, kaos hitam dan celana jeans disana.



Alex Darling


"Kamu ngapain kesini, Chief ?" tanya Galena bingung.


"Menemani kamu lah !" jawab Alex cuek sambil masuk dan meletakkan helm barunya diatas meja kopi. "Wah pizza !" Tangan Alex terulur dan hendak mengambil pizza ketika tiba-tiba tangan Galena mengeplak punggung tangannya.


"Cuci tangan dulu ! Jorok !" bentak Galena galak.


"Astagaaaa ! Galaknya !" Alex menatap mata biru yang tampak judes itu dengan perasaan geli.


Galena berkacak pinggang dan tetap memasang wajah galak.


"Oke... Oke ... Aku cuci tangan dulu..." senyum Alex sambil masuk ke dalam kamar mandi.


"Ampun deh !" gerutu Galena kesal.


Billy tertawa melihat keributan antara Galena dan Alex Darling. "Mbak Lena sangat mirip dokter Rania."


"Dengar Billy, aku itu calon dokter jadi kalau ada yang jorok sedikit, aku agak sensitif !" ucap Galena judes.


Billy tersenyum. "Tampak nya aku bakal ikut galak macam mbak Lena...."


"Jangan ikutan dengan Lena, Billy. Jadilah dirimu sendiri, kalau Lena kan memang keturunan bar-bar" celetuk Alex yang sedang mengeringkan tangan dengan tissue.


"Seriously chief ? Ngapain kamu kesini?" tanya Galena.


"Kan aku sudah bilang aku mau menemani kamu."


"But, why?" Galena menatap Alex bingung.


"Takut ada yang culik kamu..." jawab Alex asal.


"Haaaaahhh?"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️