
Gedung Science Oxford University Inggris
Alan Curry menatap pria di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. Benarkah pria ugal-ugalan ini calon suaminya Biana?
"Kenapa? Tidak percaya? Tanya saja sendiri pada Biana kalau tidak percaya" jawab Leonardo cuek lalu berjalan meninggalkan Alan Curry yang masih terbengong-bengong.
***
Biana sedang bersiap untuk mengajar ketika di depan pintu ruang dosen, dirinya terhadang oleh Alan Curry.
"Ada apa Mr Curry?" tanya Biana yang bisa melihat singa gurun membuat pria itu terdiam.
"Apa benar pria berandalan itu kekasih kamu? Calon suami kamu?" tanya Alan Curry penasaran.
Biana hanya tersenyum manis meskipun dalam hatinya kesal karena Leonardo sudah main klaim kalau dirinya adalah calon istri atlet Rodeo itu.
"Iya, dia calon suami saya. Kami sudah bersama lama..." jawab Biana. Lama dari big Ben ! Wong yang ngadi-ngadi si koboi cengeng !
"Miss Pascal, pria itu tidak cocok denganmu!" bisik Alan Curry.
"Kenapa?" Biana menyipitkan matanya.
"Karena, dia pria tidak punya manner ! Apa kamu tidak melihat dia sangat preman?"
Biana hanya menipiskan bibirnya. "Aku harus ke ruang kuliah. Sudah terlambat. Permisi!" Biana pun meninggalkan Alan Curry yang masih tidak terima kalau gadis itu sudah memiliki kekasih.
Biana berjalan menuju ruang kuliah dengan wajah cemberut. Apa-apaan bilang singa gurun tidak punya manner ! Tahu apa si bumbu Curry ! Justru karena dia punya manner, dia berani menemui Daddy di sarang singanya di Quantico ! Itu namanya manner !
Dan pagi ini, semua mahasiswa Biana mendapatkan dampaknya dengan mendapatkan kuliah yang jauh lebih dingin dan sulit dari biasanya.
***
Taman Oxford University
Leonardo membaca grafik pergerakan saham dari MacBook nya yang dimana dia menanamkan investasi disana plus keuntungan ranch dia selain pengeluaran biaya-biaya lainnya. Pria itu tersenyum saat Woody mengirimkan semua berkas penjualan sapi dan domba. Mereka pun bersiap untuk menjual kalkun guna menyambut hari Thanksgiving apalagi kalkun-kalkun mereka dikenal sangat enak karena semua pakan hewan ternak Ranch Rossi adalah bahan organik.
Ponsel Leonardo berbunyi dan pria itu tersenyum melihat siapa yang menelponnya.
"Halo Lennah. Kok belum tidur?" sapa Leonardo lembut ke adik perempuannya.
"Masih kepikiran kak Leo. Bagaimana? Kak Biana sudah mau menerima kakak?" tanya Lennah penasaran karena tahu siapa gadis yang ditaksir kakaknya.
"Sudah. Bia sudah mau menerima kakak bahkan kakak sudah menghempaskan calon bibit pebinor dengan cepat!" kekeh Leonardo mengingat bagaimana Alan Curry tampak tidak terima dirinya adalah calon suami Biana.
"Apakah calon pebinor itu tampan?" goda Lennah.
"Well, kalau kamu nonton Harry Potter, pasti tahu Seamus Finnigan. Nah macan itu mukanya ..." jawab Leonardo sambil tersenyum.
"Aaahhh nggak tampan !" seru Lennah heboh. "Masih tampan kak Chris Armstrong tapi dia juga sudah punya cewek."
"Jangan Lennah. Chris sudah mentok di Rania, sepupu Biana."
"I know. Kalian itu memang suka dengan cewek yang susah digapai" gelak Lennah.
"Sebenarnya nggak susah asalkan telaten dan tulus mendekati nya plus punya nyali bertemu dengan orang tuanya."
"Semoga aku mendapatkan jodoh macam kakak, yang tidak macam-macam, yang tulus mencintai, menghargai dan menghormati aku seperti aku mencintai, menghargai dan menghormati dia" doa Lennah.
"Aamiin, sister. Dan asal kamu ingat, sebelum macam-macam, hadapi kakakmu dulu!"
Lennah tertawa. "Tentu saja."
Leonardo terdiam saat melihat Biana datang dengan wajah cemberut.
"Kak, ada apa?" tanya Lennah yang mendengar Leonardo terdiam.
"Bia datang dan wajahnya tampak tidak bagus."
"Apakah ada mahasiswa nya yang membuatnya kesal?"
"Aku tidak tahu Lennah."
"Sudah, kakak hibur dulu Kak Bia. Mungkin ada yang membuatnya gusar."
Lennah tertawa karena Leonardo seperti memarahinya macam dia masih kecil padahal dia sudah lulus high school dan mau kuliah.
"Good night kak Leo. Salam buat kak Bia" pamit Lennah.
"Good nigt Lennah." Leonardo mematikan ponselnya dan melihat wajah manyun Biana.
"Ada apa Bia?" tanya Leonardo lembut. "Mahasiswa mu ada yang berbuat ulah?"
"Nope. Tapi si bumbu Curry yang berbuat ulah !" sungut Biana kesal.
"Dia yang mukanya mirip Seamus Finnigan?" senyum Leonardo membuat Biana melongo.
"Seamus Finnigan? Harry Potter?" Biana menatap Leonardo tidak percaya. "Oh my God !" Setelahnya Biana tertawa terbahak-bahak. "Kamu itu kalau cari persamaan kok selalu tepat !"
Leonardo tersenyum saat melihat gadisnya bisa tertawa lagi. "Much better?"
"Yup. Kamu tahu koboi cengeng, dia bilang kamu tidak cocok untukku karena kamu berandalan, tidak punya manner..."
"Padahal?" goda Leonardo.
"Kamu memang tidak punya manner."
"Bianaaa..."
"Tapi aku salut kamu berani menemui ayahku di tempat kekuasaan nya" ucap Biana lembut.
"Demi kamu, apapun aku lakukan Bia" jawab Leonardo serius. "Meskipun harus berhadapan dengan Glock Daddymu..."
Biana tersenyum. "Kamu masih harus masih membuat mommy, opa dan Oma luluh. Tugas mu masih banyak, singa gurun. Daddyku juga belum seratus persen percaya padamu. Paham?"
"I know Bia. I know" senyum Leonardo.
"So, tadi siapa yang menelpon kamu?" tanya Biana santai.
"Lennah. Dia menyampaikan salam padamu."
"Wa'alaikum salam..." senyum Biana.
***
Ruang Interogasi Scotland Yard London
Alex Darling menatap wajah istri David yang berada di ruang interogasi. Dirinya menunggu hasil evaluasi ahli psikologi dan ahli lie detector. Meskipun jaman sudah semakin maju tapi peralatan pun semkain bisa mendeteksi kondisi psikologis seseorang.
"Super Intendant Alex Darling" panggil salah satu anak buahnya.
"Bagaimana?"
"Hasil lie detector, Mary berbohong."
"Hasil kejiwaan?" Alex Darling menoleh ke arah anak buahnya.
"Dia tidak gila, Sir."
Alex Darling memukul tembok dengan geram. "Selidiki latar belakang Mary !"
"Baik Sir."
Alex Darling memukul tembok dengan keras. "BRENGSEEEKKK!"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️