The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Bertemu Billy Gallagher



Royale Hospital London


Note.


Percakapan Alex Darling dan Galena sudah ada di Alisha. Author hanya mengingatkan bagaimana awal mereka bisa dekat.


***


Rania terlebih dahulu berjalan menuju kamar Billy untuk memeriksa semuanya apalagi keluarganya pada datang ke rumah sakit itu. Setelah semuanya oke, baru dokter bedah itu menghampiri rombongan Dubai.


"Ayo ke kamar Billy. Dia ditunggui oleh Angelie, tetangganya" ajak Rania.


Galena yang berjalan di belakang bersama Alex, tampak penasaran dengan chief satu ini. "Chief..."


"Yes Miss Luna?"


"Panggil Lena saja. Aku penasaran, apakah ada kasus yang membuat anda terbengong-bengong?"


Alex menoleh ke arah gadis jangkung ini dengan tatapan bingung. "Anda menginterogasi saya, Lena?"


"Iiissshh, kepo masa nggak boleh?" sungut Galena manyun.


"Ada Lena. Kasus pembakaran berantai atau serial arsonist dan pelakunya adalah perempuan." Alex menatap gadis bermata biru yang tampak antusias.


"Serial arsonist? How? Dia ketahuan bagaimana?" tanya Galena yang memang suka cerita kriminal.


"Jadi dulu waktu kecil, si pelaku pernah menjadi pahlawan yang menyelamatkan keluarganya dari kebakaran hingga membuat dirinya mendapatkan penghargaan dari membuatnya jadi selebriti lokal. Rupanya setelah dewasa, dia merasa orang lain tidak mengingat kepahlawanannya dia dan mulai melakukan pembakaran dengan alibi kecelakaan. Hingga terjadi korban jiwa di suatu tempatnya dia bekerja..." cerita Alex. ( Kasus ini benar-benar terjadi di Inggris ).


"Jadi jiwa ingin tetap dianggap pahlawan lagi membuat dirinya melakukan hal itu?" Mata biru Galena menatap tidak percaya. "Sick, man."


"Exactly."


Tak lama keduanya sampai di kamar Billy.


***


Eléonore bergandengan tangan dengan Rania berjalan menuju ruang rawat VIP Billy Gallagher. Semua biaya perawatan Billy ditanggung oleh Gabriel dan Garvita setelah sebelumnya Alisha yang mengurus semuanya.


"Mbak Rani..." panggil Eléonore.


"Ya Elle?"


"Apa kak Billy masih sakit?" tanya bocah cilik yang mau berulang tahun kelima Minggu depan.


"Masih. Kepalanya kan masih sakit jadi sama mbak Rani tidak boleh pulang dulu sampai benar - benar sembuh." Rania tidak mengada-ada karena hasil terakhir MRI dan CT scan saat Billy dibawa ke rumah sakit, ada pendarahan jaringan otak Billy yang membuat Rania dan rekannya dokter syaraf cemas dengan kondisi bocah malang itu. Billy sendiri masih mengkonsumsi obat-obatan untuk mengurangi pendarahan dan bengkak yang semakin membaik tapi Rania dan rekannya belum mengijinkan Billy pulang dulu.


"Kasihan. Elle lihat lho waktu kak Billy dimarahi sama neneknya."


"Kamu lihat dimana?" tanya Rania kaget.


"Sama mbak Alisha waktu nonton di komputer. Kata pak polisi itu" Eléonore menunjuk ke arah Alex Darling yang masih ngobrol dengan Galena. "Neneknya sudah dipenjara. Kata mbak Lena, mau dicincang kalau ketemu."


Rania melirik judes ke arah Galena yang tidak memperhatikan dirinya. Dasar Lena! Enak banget bilang cincang orang di depan bocil!


"Jangan kamu tiru ya Elle. Nggak boleh cincang orang!" nasehat Rania.


"Iya mbak."


"Mending kamu tendang ke jurang..." lanjut Rania dengan wajah tanpa dosa.


Eléonore cekikikan. "Mbak Rani sadis!"


"Habis, kamu nggak tahu kondisinya Billy waktu pertama dibawa kesini, Elle. Mengenaskan."


Eléonore mengangguk. Gabriel dan Garvita hanya mendengarkan percakapan Rania dan Eléonore, semakin membulatkan tekad untuk bisa segera membawa Billy usai semua administrasi selesai.


Rombongan Dubai akhirnya tiba di kamar Billy dan Angelie tersenyum saat melihat Rania datang. Gabriel dan Garvita terenyuh melihat kondisi Billy yang masih digips dan meskipun masih lemah tapi wajah bocah itu sudah tampak segar.


"Hai Billy. Perkenalkan ini Mr dan Mrs Luna, Oom dan Tantenya Alisha dan aku. Dan ini Galena Luna, putri mereka." Rania memperkenalkan keluarganya. "Oom, Tante, ini Mrs Angelie Jha, tetangga yang sayang dengan Billy."


Gabriel berjabat tangan dengan Angelie sedangkan Garvita memeluk wanita berdarah Pakistan itu. "Terima kasih sudah menolong Billy."


"Sama-sama Mrs Luna. Saya berusaha semampu saya untuk menolong Billy dari wanita itu" senyum Angelie.


"Hai Billy, aku Galena yang akan menjadi kakakmu nanti. Kamu nanti bisa panggil aku mbak Lena" sapa Galena lembut.


Billy tersenyum ke arah gadis cantik bermata biru itu. "Salam kenal... mbak Lena..." balasnya pelan.


"Kalau ini, Eléonore, biasa dipanggil Elle. Dia adik sepupuku dan dia sangat khawatir denganmu" senyum Galena sambil mendorong Eléonore lebih dekat ke Billy.


"Apakah itu sakit?" tanya Eléonore sambil menunjuk perban di kepala Billy.


"Sudah tidak terlalu..." jawab Billy.


"Nenek kak Billy jahat! Untung sekarang sudah dipenjara!" ucap Eléonore dengan nada galak membuat Billy tersenyum, geli melihat gadis cilik berambut pirang dengan mata biru tidak jelas itu memasang wajah judes.


Galena dan Eléonore lalu mengajak Billy mengobrol agar bocah laki-laki itu merasa nyaman dulu sebelum nantinya mengobrol dengan Gabriel dan Garvita.


***


Alex menatap bagaimana Galena dan Eléonore tampak seru bercerita bahkan gadis bermata biru itu mengambil iPad dari Tote bag nya. Entah apa yang ditunjukkan Galena tapi mata Billy tampak berbinar.


"Kamu ngapain lihatin adikku?"


Alex menoleh dan tampak wajah judes Rania berada di sebelahnya tempat dia berdiri.


"Rani, berapa usia Lena?" tanya Alex mengacuhkan pertanyaan Rania.


"18 mau 19. Kenapa? Jangan bilang kamu love at first sight sama Lena !" bisik Rania tertahan.


"Beda tujuh tahun sama aku..." gumam Alex membuat Rania melongo.


"Dengar Darling, are you serious?" Rania menatap Alex Darling dengan wajah tidak percaya.


"Matanya Lena cantik dan biru... Kenapa kamu tidak bilang punya adik secantik Lena?" Alex membalas tatapan Rania.


"Karena, kalau aku bilang, kamu bakalan begini ! Tapi karena sudah terlanjur ketemu, mau gimana?" Rania memegang pelipisnya. "Kamunya naksir tapi Lena pasti nggak mau."


"Kenapa?"


"Karena kamu tua !" jawab Rania cuek.


"Aku masih 26 tahun ! Belum bisa dibilang tua, Bianchi !" balas Alex judes.


"Tapi dia masih belasan, masih dibawah umur !" timpal Rania tidak kalah judesnya.


"Kalian berdua ribut apa sih?"


Kedua orang yang sedang ribut itu pun menoleh dan melihat wajah Galena yang menatap tidak suka mereka berdua ribut.


"Kalau kalian mau gelut, sana ke lapangan ! Jangan disini !! Disini itu rumah sakit ! Ada anak lagi sakit ! Benar-benar deh !" bentak Galena yang setelahnya kembali ke Billy dan Eléonore.


"Ya ampun Rania, dia benar-benar adikmu ! Galaknya sama..." ucap Alex Darling yang masih terpaku dengan Galena.


"Dia memang adikku, Darling ! Masih meragukan?" balas Rania.


"Ran, rupanya begini ya rasanya dimarahi bidadari..." gumam Alex yang tidak berkedip menatap Galena.


"Bukannya kamu juga sering kena marah sama aku ! Aku bukan bidadari gitu?" protes Rania.


"Bukan... Kamu Ursula... "


Rania memukul bahu Alex Darling keras-keras.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gifts


Tararengkyu ❤️🙂❤️