
Harvard University Setahun Kemudian
"Saya harus ke Oxford lagi?" seru Biana kesal.
"Iya Miss Pascal. Anda diminati menjadi dosen tamu disana kembali dan ada pertukaran dosen..."
"Tapi kenapa ke Oxford lagi? Kenapa tidak ke Maryland atau UCLA atau Princeton ?" eyel Biana kesal.
"Karena dekan fakultas science sangat suka dengan gaya mengajar anda Miss Pascal dan bagi kami, menjadi hubungan yang lebih baik antara Harvard dan Oxford."
"Saya sedang mengurus disertasi saya disini..."
"Miss Pascal, anda kan bisa mengurus disertasi sepulang anda dari sini. Kan hanya satu semester disana..."
Biana menatap sebal ke arah dekannya dan rasanya kalau tidak ingat dia masih ada penelitian di Harvard, ingin rasanya dia menendang ke Antartika.
"Anda berangkat tiga hari ke depan" senyum Dekan itu.
"WHAAAATTTT?" pekik Biana kesal.
***
Pertandingan Rodeo di New York**
Leonardo menunggu kedatangan Biana tapi hingga giliran dia maju untuk melakukan pertandingan, gadis itu tetap tidak datang. Usai maju Rodeo, Leonardo menelpon Biana tapi tidak ada nada sambung.
Kemana gadisku satu itu ?
***
Sementara itu diatas Samudera Atlantik
Biana menepuk jidatnya saat melihat kalender di ponselnya. Dirinya benar-benar lupa jika ada janji dengan Leonardo untuk menonton pertandingan Rodeo nya.
Damn it ! Aku lupa ! Gara - gara dekan sialan main kirim saja ke Oxford ! Duh alamat ngamuk deh nih ...
Biana menggigit bibirnya dan berusaha mencari alasan jika Leonardo mengamuk apalagi sekarang dirinya berada di dalam pesawat yang menuju London.
***
Flat Biana di Oxford
Biana kembali ke flatnya yang lama dan mulai mengaktifkan ponselnya. Suara notifikasi langsung berbunyi dan paling banyak adalah Leonardo.
Biana hanya mengirimkan pesan bahwa dirinya sekarang berada di Oxford. Dan dirinya memutuskan untuk memblokir nomor telepon Leonardo karena pasti akan membuatnya terganggu dengan kegiatan mengajar nya di Oxford nanti.
***
New York
Leonardo menatap tidak percaya pesan yang diberikan oleh Biana bahwa dirinya berada di Inggris sekarang. Pria itu berusaha menelpon Biana tapi ternyata nomornya sudah diblokir.
Pria itu harus menghitung hingga seratus agar mengurangi emosi nya. Meskipun dia bisa paham gadisnya harus ke London tapi tetap saja.
Aku harus ke London!
***
Apartemen Rania di London
"Jadi kamu memblokir nomornya Singa Gurun?" tanya Rania ke Biana yang datang untuk menikmati weekend bersamanya dan Alisha Léopold.
"Siapa itu singa gurun?" tanya Richard Carrington, putra mahkota Kerajaan Inggris yang datang mengantarkan Alisha ke apartemen Rania.
"Cowoknya Biana, Richard" jawab Rania cuek. Rania dan Biana memang seumuran dengan Richard dan mereka sudah kenal dari kecil bersama dengan sepupu kedua gadis itu, Arsyanendra, pangeran Belgia. ( Baca The Prince and I dan Kings and Queens ). Jadi para kakak Alisha biasa memanggil pangeran itu dengan nama depan termasuk dua sepupu pria mereka lainnya, Vicenzo Bianchi Mancini dan Hyde Bianchi.
"Kenapa kamu blokir, dosen menyebalkan?" ejek Richard.
"Karena biar nggak ganggu aku !" jawab Biana cuek. "Kalian mau makan apa?"
Suara bel apartemen pun berbunyi membuat Rania melepaskan handuk di kepalanya dan sedikit menata dengan tangannya lalu menuju pintu kamar apartemennya. Sebelumnya dia melihat dari layar intercom dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Bia, si singa gurun kemari!" seru Rania.
Biana yang sedang memilih makanan, mendongakkan kepalanya. "Apa?" Biana bergegas melihat layar intercom dan tampak pria yang mengejarnya bersandar santai di tembok apartemen menatap layar intercom.
"Hih! Orang ituuuu!" gerutu Biana gemas.
Biana menatap tidak percaya melihat pria yang sudah mengejarnya sejak dirinya masih kuliah di Harvard.
"Cari siapa?" tanya Rania sambil memencet tombol speaker.
"Biana Pascal. Rania, Biana disitu kan?" jawab Leonardo.
"Seriously singa gurun, ngapain cari Bia?" balas Rania.
"Please, Rania. Dia memblokir nomorku. Boleh kah aku naik?" pinta Leo.
"Damn ! Kok dia tahu sih diblokir" gerutu Biana.
"Ya tahu lah, kan dia tidak bisa menghubungi kamu ! Payah ih dosen satu ini !" ejek Richard.
"Eh mahasiswa malas yang harus mengambil mata kuliah dari aku, kamu itu kenapa sih ? Julid!" balas Biana judes.
"Oke, kalian berdua. Please !" ucap Alisha agar tidak terjadi perang antara kakaknya dan Richard.
"Sha, kok bisa sih kamu punya kakak macam dia sih ?" tanya Richard sambil menunjuk ke Biana.
"Memang sudah seharusnya aku menjadi kakak Alisha agar melindungi dia dari pangeran nggak jelas macam kamu !"
Mata biru Biana dan mata biru Richard saling berpandangan judes membuat Alisha pusing dan memegang pelipisnya. Memang benar mereka sudah saling mengenal dari kecil tapi kan bukan berarti seenaknya gegeran dan saling ejek seperti ini.
Rania menoleh ke arah sepupunya. "Gimana?"
"Suruh masuk lah, daripada di luar jadi gembel dan lumutan!" balas Biana cuek membuat Richard dan Alisha melengos.
Rania pun memencet tombol kode untuk bisa membuka akses Leonardo masuk. Wajah gadis itu tampak manyun ketika Rania membuka pintu apartemennya. Tak lama seorang pria tinggi bermata biru itu masuk ke dalam apartemen.
"Halo Bia" sapanya dengan nada rendah yang membuat Biana melengos.
"Woi, mata jangan lihat Bia saja. Tuh ada pangeran Inggris dan putri Belgia. Kasih hormat sana!" ujar Rania judes.
Leonardo melihat ke arah dua orang yang menjadi topik trending di seluruh dunia tentang hubungan keduanya.
"Your Highness..." Leonardo membungkuk hormat ke arah Richard dan Alisha yang masih memindai pria itu.
"So, Mr Rossi. Apa yang membuat anda datang ke London?" tanya Richard dengan aura pangerannya.
"Dia." Leonardo menunjuk ke Biana yang masih asyik bermain ponsel.
"Ada apa, Singa gurun?" tanya Biana polos.
"Kamu janjinya mau nonton pertandingan Rodeo di New York tapi malah kabur ke London."
Biana melongo begitu juga dengan tiga orang lainnya yang berada di apartemen itu. "Kapan?" tanya gadis itu bingung.
"Waktu aku datang ke Harvard menemuimu. Kamu bilang akan datang saat pertandingan aku di New York. Setelah setahun, janjimu tidak kamu tepati! Sekarang malah pergi ke Inggris!"
Ketiga orang disana langsung menatap tajam ke Biana yang menggaruk kepalanya. "Aku kok lupa..." gumamnya dengan wajah bingung.
"Seriously Bia!" hardik Richard gemas sambil mengusap rambutnya kasar. "Sha, aku pusing. Lebih baik aku pulang daripada melihat drama mantan dosenku yang absurd itu!" Pangeran Inggris itu pun berdiri. "Bia, Rania, jangan bikin rusuh London!"
"Aku tidak janji kalau itu Rich!" balas Rania cuek.
"Aku cuma mau bikin rusuh Oxford! Enak saja main kirim orang dari Harvard! Ditolak lagi keberatan aku!" sungut Biana.
Richard menggelengkan kepalanya sebal. "Aku pulang dulu!"
"Pulang Sono! Kembali lah ke istana mu!" balas Rania.
Alisha hanya tersenyum melihat interaksi Richard dan dua kakak bar-barnya. Gadis itu lalu berdiri dan mengantarkan pria bermata biru itu ke pintu apartemen.
Biana dan Leonardo saling berpandangan membuat Rania sebal.
"Kalian jangan cari tiang atau pohon buat nari ala film India ya !" ucap Dokter bedah itu sebal.
"Hah? Siapa yang mau nari Rania?" tanya Leonardo bingung.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️