
Apartemen Biana di Oxford Inggris
Biana terbangun seperti jam biasanya, dan mulai melaksanakan ibadah subuh sesuai rutinitas nya. Gadis itu lalu mengikat rambutnya tinggi - tinggi dan keluar dari kamar nya. Hidungnya yang mancung mencium bau kopi dan sarapan. Biana tersenyum karena bau kopinya sangat nikmat.
"Kok bau kopinya beda..." gumam Biana yang menuju dapur. Gadis itu terpekik saat melihat Leonardo di dapur tanpa baju.
"Good morning cantik. Baru bangun?" goda Leonardo. "Kopi sayang ?"
Biana tampak tergagap. "Baju... Kamu kemana ?"
"Aku terbiasa tidur tanpa baju Bia, malah kadang nude sekalian... " jawab Leonardo enteng.
Wajah Biana semakin memerah. "Seriously, singa gurun ! Bagaimana bisa kamu membicarakan hal-hal se vulgar itu ?"
"Lho wajar kan Bia. Bicara hal-hal seperti itu bersama dengan calon istri? Bia, kamu memang belum pernah melakukannya tapi kamu tahu kan soal begituan?"
Biana menatap sebal ke arah Leonardo. "Benar-benar deh !" Gadis itu mengacuhkan tubuh kekar dan berotot Leonardo guna menuju ke tempat gelas.
"Sudah aku siapkan, Biana" senyum Leonardo sambil menyerahkan mug berisikan kopi. "Kopi dengan dua blok gula."
Biana menatap Leonardo dengan tatapan curiga.
"Gula, Biana. Bukan garam dan aku tidak sedang membuat oralit !"
Biana masih tetap menatap Leonardo dengan wajah curiga.
"Bukan drugs juga. Gila apa ?! Ayahmu bisa datang kemari dengan full squad dan yakin, dia tidak akan ragu membuat kepalaku bolong !"
Biana masih ragu-ragu dan akhirnya Leonardo mengambil mug Biana lalu menyesap nya sedikit. "See, hanya pure kopi dan gula" ucapnya sambil menyerahkan pada Biana.
Biana pun menerima kopi itu dan menyesapnya. Mata gadis itu terbelalak saat merasakan kopinya. "Ini kopi apa Leo?"
"Kenapa ?"
"Enak banget ! Aku belum pernah merasakan kopi seperti ini !" jawab Biana antusias.
"Ini adalah kopi yang dibuat para cowboy di ranch aku. Ada racikan rahasia disana dan aku berhasil membawanya kemari dengan membayar pajak bea cukai lumayan banyak tapi demi kamu bisa merasakannya. Bagaimana? Enak kan? Sangat berbeda dnegan kopi yang kamu minum bukan?" senyum Leonardo.
"Bahkan aku di Amerika saja belum pernah merasakan kopi senikmat ini" ucap Biana sambil menyesap kopinya.
Leonardo menatap Biana lembut lalu tersenyum senang membuat gadis itu menatap bingung ke pria bertubuh kekar itu.
"Ada apa?" tanya Biana.
"Seperti inilah bayanganku saat sudah menikah denganmu. Aku membuatkan kopi yang nikmat dan kita minum bersama di dapur, saling mengobrol, saling bercanda serta menatap satu sama lain. Sederhana kan Bia?" senyum Leonardo. "Aku adalah pria sederhana yang harus jatuh bangun meyakinkan kamu, Bia. Tidak hanya kamu tapi juga ayahmu, ibumu, opa dan Oma mu."
"Bagaimana dengan keluarga kamu?" Biana menatap Leonardo dengan wajah memerah karena pria itu menghadap dirinya dengan tubuh polosnya.
"Adik perempuan aku hanya berkata, Good luck kakak..." kekeh Leonardo.
"Adik perempuan kamu bernama..."
"Lennah. Sekarang dia berada di ranch mengerjakan semuanya bersama dengan dua asisten aku, Buzz dan Woody..."
Biana menaikkan sebelah alisnya.
"Yeah, macam film Toy Story. Believe me Biana, itu nama asli mereka berdua..."
Biana tertawa. "Oh my God Leo. Adikmu bernama Lennah berarti singa kecil, dan dua pegawai mu bernama sama dengan dua tokoh Toy Story ? Wow..."
Leonardo semakin mendekati Biana. "Maka dari itu, tinggal lah bersamaku di Ranch dan kamu tidak akan bosan Bia. Aku membebaskan kamu mau mengajar di almamater aku atau tidak, itu semua berpulang padamu tapi yang jelas, aku dan kamu bersama dalam wadah pernikahan, sayang."
"Apakah tattoo kamu asli ?" tanya Biana.
"Asli. Mau menyentuh nya ?" Mata biru Leonardo menatap lembut ke Biana.
"Bolehkah ?" Tangan Biana sedikit ragu-ragu terangkat.
Wajah Biana memerah lagi tapi dirinya benar-benar penasaran. Perlahan tangan Biana terangkat dan jarinya yang lentik menyentuh bahu Leonardo lalu menyusuri motif tattoo itu.
"Kapan kamu membuatnya?"
"Jaman kuliah. Aku dan Chris Armstrong sedikit mabuk... You know boys. Dan kami pun membuat Tattoo. Aku di bahu, dia... Banyak tempat. Bahu, tulang rusuk, kaki, tulang belikat... "
"Rania bakalan ngamuk kalau tahu...."
"Kenapa?"
"Rania tidak suka pria bertatto. Pria Brewok dan dada berbulu, dia masih oke tapi tattoo... "
"Apakah akhirnya Chris gagal bersama Rania?"
Biana mengedikkan bahunya. "Semua tergantung bagaimana Chris bisa menaklukkan Rania..."
Leonardo mengambil mug Biana dan meletakkannya di atas meja dapur. "Macam aku dan kamu, Bia?" Pria itu memeluk Biana dan gadis itu membalas pelukan dengan memeluk pinggang Leonardo.
"Memang kenapa dengan aku dan kamu, Leo?"
"Kita itu memang cocok satu sama lain, Bia. Kita sama-sama keras kepala tapi kita sama-sama suka matematika. Dan aku sangat suka wanita cerdas dan aku memang hanya lulusan S1 tapi aku bangga dengan determinasi kamu yang tetap ingin menjadi dosen seperti ibumu. Tidak banyak gadis yang menyukai matematika seperti kamu, bahkan sampai mengambil profesor. Bia, aku sudah mengatakan padamu berulang kali, aku tidak akan mengekang kamu menjadi dosen jika nanti kita menikah tapi..."
Biana tersenyum. "Kamu tidak akan pernah menyerah ya singa gurun?"
"Menyerah untuk mendapatkan kamu ? Tidak. Sama sekali aku tidak terlintas untuk menyerah padamu. Sejak awal kita bertemu, aku sudah tahu. Kamu adalah wanita yang ingin aku nikahi, yang aku ajak membangun rumah tangga, yang bersama-sama memiliki anak..."
Biana tampak terharu mendengar pernyataan Leonardo karena sejak awal, pria itu selalu konsisten dalam perasaan nya.
"Apakah kamu yakin kita akan langgeng?" tanya Biana akhirnya.
"Kita tidak pernah tahu kehidupan rumah tangga kita ke depannya seperti apa. Tapi satu yang aku tahu, jika kamu sudah bertekad dan berjanji pada Allah serta orang tua si gadis bahwa kamu akan menggantikan posisi ayahnya untuk melindungi putrinya, sekuat tenaga harus dilakukan. Kita tidak bisa membandingkan rumah tangga kita dengan orang lain karena isi otak kita berbeda satu sama lain. Dan yang tahu soal kita dan pasangan kita ya... Hanya kita berdua... "
"Apakah kamu memang aslinya sebijak ini Leo?"
"Aku hanya belajar dari apa yang terjadi padaku. Bia, kedua orang tua aku bukanlah karakter orang tua yang bisa dibanggakan. Mereka terlalu muda saat menikah dan emosi mereka belum siap. Keduanya berpisah saat aku berusia sepuluh tahun dan Lennah delapan tahun. Aku dan Lennah tinggal bersama Daddy di ranch sedangkan mommy memilih tinggal bersama dengan pacarnya..."
Biana bisa melihat bagaimana mata biru itu tampak sedih. Secara naluriah, Biana memegang wajah Leonardo seolah memberikan support pada pria itu.
"Saat aku di High School, ibuku tewas karena kecelakaan bersama dengan suami keduanya. Kamu tahu, ayahku tidak mau menikah lagi karena terlalu mencintai ibuku. Dan... Tak lama ayahku menyusul ibuku akibat kecelakaan juga. Mau tidak mau, aku lah yang memegang Ranch Rossi dan aku bersama Lennah bekerjasama dengan semua orang mempertahankan ranch tersebut hingga menjadi besar sekarang. Aku tahu terlalu bucin juga tidak bagus tapi jika tidak bucin..."
Biana mengusap pipi Leonardo dengan kedua ibu jarinya karena pria itu menangis menceritakan bagaimana keluarga nya. "Poor Singa Gurun... Memang tidak semua orang bisa mempertahankan rumah tangga tapi seperti katamu, kamu belajar dari peristiwa kedua orang tua mu..."
"Karena itulah, aku berjanji jika aku bertemu dengan wanita yang aku tahu akan menjadi istriku, aku akan menerapkan cara komunikasi yang seperti ini..." Leonardo menatap lembut ke Biana. "Kita pasti mengalami roller coaster Bia..."
"Iya. Sangat roller coaster dan Membagongkan..." gumam Biana.
"Jadi? Kita pacaran?" goda Leonardo.
"Mau aku tolak pun... Aku sudah mendapatkan hal-hal yang positif darimu. Tidak banyak pria yang mau membuka diri dan menceritakan tentang keluarganya..."
"Karena aku tahu kamu sudah menscreening keluarga aku tapi kamu tidak tahu sebenarnya bukan..." potong Leonardo. "Memang hal positif apalagi dari aku yang membuat kamu bisa memberikan nilai A ?"
"Otak kamu encer. Kamu suka matematika... Jadi aku bisa ada partner berdiskusi dan sharing jika aku mendapatkan kesulitan..."
Leonardo mencium bibir Biana lembut. "Aku sangat mencintaimu Bia. Dan asal kamu tahu, aku ikut kuliah online matematika agar aku bisa mengimbangi kamu..."
Biana melongo. Sampai segitunya?
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa para readersku
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️