
Heathrow Airport London
Rania sudah bersiap untuk masuk pesawat menuju Dallas Texas demi tiket yang sudah dibelikan Chris Armstrong ketika ponselnya berbunyi.
"Apa Armstrong?"
"Kamu sudah di pesawat?" tanya Chris yang mengganti panggilan ke video.
Rania pun memencet tombol video yang memperlihatkan dirinya berada di dalam pesawat hendak menuju kursi kelas bisnis nya. "Puas ?"
Chris pun nyengir. "Safe flight sayangku. Muaaaahhh !" Pria itu mencium layar ponselnya membuat Rania langsung mematikan panggilan Chris.
"Iiissshh... Nggilani !" umpat nya. Rania mirip dengan Oma buyut nya, Josephine dan Marissa, kalau sudah jengkel, yang keluar dari mulutnya adalah Omelan dengan bahasa Jawa. Meskipun casing bule, Rania sangat menyukai bahasa Jawa, apalagi di kampusnya ada mata kuliah bahasa Jawa di fakultas bahasa. Gadis itu mengambil kuliah itu diluar studinya di bedah karena dia butuh balance demi kewarasan selama di kedokteran. Apalagi ayahnya adalah orang Jawa jari Rania tetap berusaha mempertahankan akar keluarga nya.
Liburan semester ini pun dimanfaatkan Rania untuk kembali ke Amerika Serikat karena selain mendapatkan tiket gratis, dirinya juga rindu kedua orangtuanya dan opa serta omanya. Rania duduk di kursinya dan memasang sabuk pengaman serta mengganti mode pesawat di ponselnya. Gadis itu pun bersiap untuk beristirahat apalagi sempat melakukan tindakan bedah sebelumnya.
***
Medical City Hospital Dallas Texas
Chris menunggu kedatangan Rania dengan tidak sabar. Ayahnya yang menjenguk sepulang kerja, tampak geli melihat putranya tampak belingsatan.
"Kamu kenapa? Nunggu Rania?" goda Donnie. "Boy, anak itu kan masih di pesawat..."
"Takutnya kalau nyasar ke New York bukan Dallas."
"Tampaknya Rania bukan tipe seperti itu deh ! Apalagi dia cucu dokter Joey jadi Daddy yakin dia juga dididik sama seperti opanya, tidak boleh ingkar janji."
"Dad, kamu tidak tahu otak Rania itu macam tidak bisa diprediksi karena saking Absurd nya" ucap Chris yang sejujurnya sangat cemas karena di manifest nama Rania ada di dalam penumpang pesawat menuju ke Dallas tapi dia kan cucu Mafia jadi bisa saja melakukan apa saja...
"Sudah, kamu tenang saja. Rania pasti datang, boy." Donnie memeriksa perban di bahu Chris. "Tampaknya perbanmu harus sudah diganti lagi, Chris. Biar Daddy panggilkan perawat."
Pria paruh baya itu memencet tombol perawat dan tak lama seorang perawat datang lalu mengganti perban di bahu Chris yang baru dioperasi.
Semoga kamu nggak nyasar ke New York...
***
Dallas International Airport
Rania berjalan keluar dari pintu kedatangan menuju taksi bandara. Karena dirinya hanya membawa duffle bag dan tidak membawa koper, gadis itu bisa langsung keluar tanpa harus menunggu bagasi. Gadis itu lalu mengaktifkan ponselnya dan tak lama suara notifikasi masuk di dalam benda pipih itu.
Mommy, Daddy, Opa Joey, Rase dan... Demit.
Di dalam taksi Rania meminta untuk diantarkan ke Omni Dallas Hotel yang sudah dia booking sebelumnya karena tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Chris dirawat. Setibanya di hotel, Rania pun langsung check in dan masuk ke dalam kamarnya.
Rania melihat pemandangan kota Dallas dari jendela kamarnya bahkan dia bisa melihat rumah sakit Chris. Ponselnya berbunyi membuat gadis itu mengangkatnya karena tahu siapa yang menelponnya.
"Hai mom..."
"Sudah sampai Dallas kamu?" tanya Blaze.
"Sudah mom. Aku mau istirahat dulu sambil makan siang di hotel baru sore aku ke tempatnya Armstrong" jawab Rania.
"Terus kamu mau berapa hari di Dallas? Kamu nggak ke New York?"
"Mom, aku kan ada libur dua Minggu, dan tanggal aku pulang open date jadi suka-suka aku lah mau pulang kapan. Tentu saja aku di Dallas cuma tiga hari karena aku pesan hotel cuma selama itu. Seminggu aku akan habiskan di New York. Jujur aku kangen kalian..."
"Good. Kalau Opa mu tanya bagaimana kabar Armstrong, bilang saja sudah kamu kasih sianida !" gerutu Blaze kesal.
"Why ?"
"Mommy dan Daddy berisik setiap saat yang dibahas Quarter back Dallas Cowboys satu itu. Opa mu takut musim depan performa Chris tidak akan seperti biasanya..."
Rania tersenyum licik. "Sianida terlalu ketahuan mom. Aconite atau succinylcholine lebih tidak ketahuan..."
Blaze terbahak. "Kamu memang anak mommy paling mafia. Rase lebih mirip daddymu, terlalu kalem... Kadang-kadang..."
"Oke sayang, kabari saja kalau kamu ke New York."
***
Chris berusaha menelpon Rania tapi ponselnya tidak dapat dihubungi membuat pria itu kesal.
"Apa dia lupa mengaktifkan ponselnya?" gumam Chris yang melihat sudah pukul empat sore.
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Chris menoleh dan tak lama muncul wajah yang sangat ditunggu nya. Rania datang sembari membawakan makanan dan Chris tersenyum lebar melihat gadis yang ditunggunya datang.
"Hai beautiful..." sapa Chris.
"Hai Demit..." balas Rania cuek sambil meletakkan makanan di atas meja. "Mau pizza ? Aku lapar."
"Maulah ! Tunggu... Kamu belum makan?" Chris menatap Rania bingung.
"Sudah tadi di hotel tapi aku masih lapar..." Rania membuka tas berisikan pancake pizza berisikan banyak keju dengan sosis, jagung manis dan macaroni.
"Rania, ini penuh dengan kalori dan karbohidrat..."
"So? Aku lapar ! Jadi bodo amat !" Rania meletakkan sepotong pizza diatas piring kertas dan memberikan pada Chris, lalu dia mengambil langsung dua potong diatas piring kertasnya.
Chris melongo melihat gadis itu makan dengan cueknya di sebelah tempat tidur nya, seperti tidak pernah makan sebelumnya.
"Kamu benar-benar kelaparan atau maniak pizza ? Memangnya di London tidak ada pizza enak?" tanya Chris sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak seenak ini. Aku tadi tanya ke hotel tempat pizza enak jadi aku beli sebelum kesini dan ternyata memang enak !" jawab Rania.
"Itulah kenapa kamu harus pindah ke Dallas bersamaku..." seringai Chris.
Rania hanya menatap datar ke pria yang masih duduk di atas tempat tidur pasien.
"Nggak usah modus. Pizza di New York jauh lebih enak tapi ini juga enak. Aku belum menemukan pizza enak di London sejauh ini" ucap Rania judes. "So, bagaimana operasi bahumu?"
"Sukses dan aku bisa pulang lusa."
"Good. Karena waktunya pas sekali."
"Hah?" Chris tampak bingung. "Pas buat apa?"
"Pas untuk aku terbang ke New York lah. Tenang saja, aku pakai uang aku sendiri kesana. Kan tiket kamu dari Amerika ke Inggris jadi aku bisa tukar keberangkatan dari New York to London, tidak dari Dallas" jawab Rania cuek.
Chris melongo. "Kamu tidak merawat aku Ran?"
"Merawat kamu? Memang nya kamu siapa ? Pasienku bukan, saudara apalagi..."
"Raniaaaaa ..."
"Dengar demit, kamu itu hanya operasi bahu." Rania mengambil laporan pasien yang ada di tempat tidur Chris. "Ini hanya operasi kecil dan yang kena bahu sebelah kiri. Kamu kan nggak kidal jadi tidak ada masalah."
"Rania... Kan aku memintamu datang kan untuk merawat aku... "
"Bukannya hanya menjenguk kamu?" tanya Rania bingung.
Chris menepuk jidatnya. "Duh, kamu tuuuuhhh..."
"What?" tanya Rania.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️