
Royale Hospital London, Ruang Rawat Inap Alex Darling
"Sayangnya otak dia sama kerasnya dengan batu karang, Demit. Jadi tidak mengalami gegar otak" jawab Rania santai membuat Simba tertawa.
"Oh Astagaaa kalian itu memang cocok! Sama-sama kacau !" gelak pria berkulit hitam itu.
Alex hanya bisa memegang pelipisnya karena merasa pusing dengan percakapan kedua orang di hadapannya. "Kamu nggak pulang ke Dallas?" tanya anggota Scotland Yard itu.
"Ini mau pulang karena pesawat kami berangkat nanti malam. Ran, kamu nggak antar aku ke bandara?" Chris menatap Rania sambil menarik turunkan alisnya.
"Alisnya kenapa? Kedutan?" Rania menatap Chris sambil mengerenyitkan dahinya.
Pria bermata biru itu pun melengos. "Ya ampuunnn..."
"Resiko mu suka dengan gadis yang terlalu lempeng perasaannya, Chris" kekeh Alex Darling.
"Susah... Susah... Susah..." gumam Chris sambil memasukkan baju kotor nya ke dalam tasnya.
Rania menghampiri Chris. "Kamu nggak kembali ke hotel? Aku mau pulang, mandi, ganti baju dan kembali kemari karena jadwal aku bekerja pukul dua siang. Jadi aku tidak bisa mengantarkan kamu, Demit."
"Kita bersama dulu di apartemen kamu?" goda Chris.
"Kalau kamu mau aku sunat detik ini juga, nggak papa..." seringai Rania membuat Alex dan Simba menatap tidak percaya mendengar ucapan unfilter dokter bedah itu.
"Tega kamu Rania !" protes Chris sambil reflek memegang miliknya.
"Coba kamu tanya singa gurun, syaratnya ikut keyakinan aku apa. Pasti dia bilang sunat salah satunya. Percaya deh !" jawab Rania cuek.
Chris menatap Simba. "Ya memang. Pria muslim itu harus sunat Chris. Sepupuku kan muslim, dan dia harus berkhitan. Serius !"
"Dipotong apanya?"
"Kepalanya" sahut Rania Durjana.
Chris menatap gadis itu dengan tatapan horor. "Raniaaaaa !"
***
Alex Darling akhirnya bisa beristirahat dengan tenang setelah para biang kerok sudah pulang meninggalkan dirinya di ruang rawat inapnya.
Pria bermata biru itu tidak habis pikir dengan Rania dan Chris. Sama-sama kacau, sama-sama unfaedah tapi entah kenapa ada chemistry yang tersamar. Alex bisa merasakan bahwa Rania memiliki perasaan khusus ke Chris tapi masih belum mengakui nya. Sok gengsi.
"Baguslah kalau Rania dan Chris. Sama-sama nggak waras mereka berdua itu !" kekeh Alex sambil menikmati roti yang dibelikan Rania dari toko roti di rumah sakit.
"Halo?"
Alex melihat wajah cantik yang membuka pintu ruang rawatnya. "Your Highness?"
Alisha pun masuk ke dalam kamar Alex. "Bagaimana keadaanmu? Lho yang lain pada kemana?" tanya Alisha yang celingukan mencari Rania dan Chris.
"Sudah pada pulang. Kakakmu sedang berganti pakaian untuk masuk ke shift nya jam dua. Chris dan Simba kembali ke Hotel dan akan pulang ke Dallas malam ini" jawab Alex ke putri Belgia itu.
"Chris pulang malam ini?" tanya Alisha sambil berjalan ke tempat tidur Alex. "Bagaimana dengan keadaan mu? Tidak ada yang patah kan?"
"No your highness... Hanya ulu hatiku kena tendang waktu kerusuhan kemarin."
"Tapi tidak apa-apa kan?"
"Thank's God tidak apa-apa... Hanya memar dan aku harus minum obat."
Alisha menepuk bahu Alex pelan. "Syukurlah. Aku harus kembali ke ruanganku untuk membuat laporan." Gadis itu pun membalikkan badannya.
"Oh princess..."
"Yes?" Alisha menoleh ke arah Alex.
"Jangan terlalu keras pada diri sendiri."
Alisha tersenyum. "Kenapa? Karena aku seorang princess jadi takut kalau aku retak macam vas? Alex, aku bukan princess semacam itu."
"I know. Hanya saja princess, anda harus menjaga kesehatan diri anda sendiri."
Alisha mengangguk. "Thanks Alex. Get well soon."
***
Apartemen Rania di Soho London
"Jadi Alex Darling kena tendang ulu hati?" tanya Biana yang menunggu kedatangan Rania sebelum kembali ke Oxford.
"Gara-gara bantu polisi kerusuhan semalam" jawab Rania yang sudah tampak segar usai mandi. Gadis itu langsung menuju meja makan yang sudah tersedia makanan enak buatan Biana.
"Aku tahu kamu nggak bakalan sempat makan teratur jadi aku buat makanan favorit kamu" senyum Biana.
"Terima kasih Bia." Rania langsung mengambil piring dan mulai makan.
"Bagaimana dengan Chris?"
"Pulang nanti malam ke Dallas."
"Kamu nggak antar?" tanya Bia.
"Hello... Aku bekerja Bia. Bukan main-main..." pendelik Rania manyun.
"Ada baiknya kamu antar dia pulang Rania. Bukan apa-apa, daripada nanti dia semakin mereog, kamu juga kan yang pusing. Kebayang bagaimana kalau kamu diganggu terus. Bisa tidak konsentrasi bekerja dan kuliah kamu..." ucap Biana. "Asal kamu tahu, Chris itu sama dengan Leonardo. Mereka itu sama-sama butuh untuk support agar tidak merusuhi kita Ran."
"Jadi itulah mengapa akhirnya kamu memilih menerima Leonardo?" tanya Rania.
"Terlepas dari dia sudah berani menghadapi Daddy, aku suka pola pikirnya Ran. Dia mirip Daddy. Bukankah cinta pertama anak perempuan itu adalah ayahnya sendiri? Kamu pasti ingin mendapatkan suami mirip Oom Sammy, yang sabar denganmu. Tapi kamu malah bertemu dengan Chris yang dengan caranya sendiri, juga sabar sama kamu lho. Begitu juga dengan aku. Aku sangat memuja Daddy. Aku juga suka Oom Wira. Aku ingin memiliki pasangan yang gabungan dari mereka semua dan aku mendapatkan di Leonardo. Sayangnya Leo seperti Daddy, jeniusnya seperti Oom Wira... " papar Biana panjang lebar.
"Menurutmu begitu?"
"Dicoba saja kalian berpacaran dengan serius. Aku awalnya juga tidak yakin, tapi semakin kemari, aku melihat banyak kelebihan Leo..."
Rania tampak tertegun. "Tapi aku dan Chris jarang bisa berbicara mesra satu sama lain ..."
"Rania, apa kamu tidak melihat... Kedua orangtuamu itu jauh dari kata mesra lho... Jadi contohnya ada..." gelak Biana.
"Damn aku lupa ! Daddy dan mommy memang jarang mesra...." Rania menepuk jidatnya.
"See? Secara tanpa sadar, kita mengikuti kedua orang tua kita..." gelak Biana.
"Bia, apa kamu benar-benar jurusan matematika? Bukannya psikologi macam Alisha?" sindir Rania.
"Apa kamu lupa siapa Daddyku? Aku sudah biasa baca buku psikologi sejak kecil jadi aku terbiasa menjadi profiler..."
Rania menghela nafas panjang. "Aku lupa Oom Pedro chief BAU FBI..."
***
Rania meminta ijin kepada ketua dokter jaga untuk pergi sebentar ke Heathrow. Melihat Rania sudah semalaman membantu para petugas kesehatan akibat kerusuhan, akhirnya ketua dokter jaga mengijinkan dokter cantik itu.
Rania menyetir mobil nya yang imut menuju Heathrow Airport untuk mengantarkan Chris pulang ke Dallas.
"Kayaknya benar kata Biana. Aku harus memberikan mood booster buat si Demit supaya tidak mengganggu pekerjaan dan studi aku..." gumam Rania.
Setengah jam kemudian Rania tiba di bandara dan setelah mengunci mobilnya, gadis itu menuju bagian keberangkatan.
Rania mencari-cari gate keberangkatan ke New York lalu ke Dallas dan saat menemukan, Chris dalam antrian masuk ruang tunggu.
"Demiiitt !!!" panggil Rania.
Chris yang sedang mengobrol dengan Simba, menoleh dan wajah pria itu langsung tersenyum lebar. "Aku ingin adegan film India..." ucapnya ke Simba.
"What??"
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️