The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Rencana Ke London



Rumah Kediaman Keluarga Gabriel Luna dan Garvita Schumacher


"Moooommmm!" teriak Galena memanggil ibunya yang sedang membuat roti. Semenjak menikah, Garvita lebih suka membuat roti, cake atau camilan daripada memasak. Soal masak makanan, dia serahkan ke pelayan.


"Apa sayang?" jawab Garvita tenang.


"Billy kecelakaan."


Garvita yang sedang menghias cake pandan menghentikan gerakannya. "Jatuh atau dijatuhkan?" tatap wanita bermata biru itu.


"Mom? Bagaimana mom tahu?" tanya Galena.


"Mengingat neneknya macam nenek Kabayan atau nenek lampir, mommy tidak heran jika Billy jatuh akibat disengaja" jawab Garvita. "Nanti Daddy mu pulang, kita bicarakan kapan ke London. Okay?"


***


Royal Hospital London


"Alex, aku punya bukti" ucap Rania saat super Intendant Alex Darling datang menemui mereka. "Ngomong-ngomong bagaimana si nenek gayung?"


Alex menatap dokter bedah itu dengan tatapan bingung. "Nenek gayung? Apa itu?"


"Lupakan, anggap saja mirip nenek Sihir. Bagaimana nenek Billy?"


"Masih diinterogasi. So, bagaimana buktinya?" Alex menatap dua kakak beradik itu.


"Ini. Bisa kamu lihat sendiri." Rania menunjukkan rekaman CCTV.


Alex Darling pun menonton rekaman itu dan setelahnya dia mengusap wajahnya kasar. "Jadi Billy sengaja didorong? Apakah Billy memiliki asuransi?"


"Hei, itu bukan urusan aku Darling! Apa tugas kamu kalau kami semua yang menyelesaikan? Apa kamu makan gaji buta? Kalau begitu, gajimu berikan padaku! Dasar detektif payah!" omel Rania yang mendapatkan tawa dari Alex.


"Your Highness, bagaimana bisa anda memiliki kakak perempuan yang galaknya seperti ini? Tolong, jangan sampai gaji saya yang tidak seberapa ini diambil oleh dokter bedah satu ini. Padahal gaji dia lebih banyak dari saya..." pinta Alex Darling membuat Alisha tertawa.


"Well, saya tidak bisa memilih siapa kan kakak saya?" jawab Alisha sambil tersenyum.


"Bagaimana kalian bisa mendapatkan rekaman ini?" tanya Alex Darling.


"Aku memasangnya karena tetangga nya, Miss Angelie mengatakan bahwa Billy dibully secara verbal dan kemungkinan besar si nenek tidak mau kehilangan uang pendidikan setiap bulan dari pemerintah." Alisha menatap Alex serius. "Dan ternyata berguna kan CCTV nya."


"Your Highness, apakah anda memasangnya saat Billy ada di rumah?" tanya Alex.


"Iya. Billy dan Miss Angelie berada di rumah karena saat itu nenek Billy berlibur ke Yunani."


"Billy tinggal dengan siapa selama ditinggal liburan ke Yunani?"


"Dengan Miss Angelie" jawab Alisha. "Chief Darling, saya tahu saya salah tapi tolong, ini demi kebaikan Billy."


Alex Darling menatap Rania. "Ran, sebenarnya ini bukti yang solid tapi karena memasangkannya diam-diam tanpa sepengetahuan penghuni rumah..."


"Kamu salah Darling! Billy tinggal disana dan Billy tahu Alisha memasang CCTV itu untuk melindungi dirinya dan bukti untuk child service. Karena tidak ada bukti kekerasan fisik maka dengan adanya CCTV itu membuktikan kekerasan verbal yang efeknya jauh lebih parah dari kekerasan fisik!" jawab Rania berapi-api. "Kalau aku tidak ingat sumpah dokterku, sudah habis dia sama aku!"


"Oh Astagaaa! Dokter Rania, anda itu dokter atau bukan sih?" gerutu Alex.


"Aku dokter jagal!" jawab Rania cuek.


Alex memegang pelipisnya tanda pusing mendengar ocehan gadis yang dikenal ceplas-ceplos. "Oke, saya minta rekaman CCTV ini dan bisa saya buat untuk menekan si nenek karena di kantor polisi dia mengotot kecelakaan sedangkan kami mendapatkan laporan dari Nyonya Angelie Jha bahwa dia melihat Billy didorong karena pada saat itu dia sedang hendak membuang sampah."


"Nah tuh saksinya ada!" celetuk Rania gemas.


"Masalahnya Rania, ini perang ucapan dan polisi tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Dengan adanya rekaman ini kan membuat kita semakin yakin bahwa kecelakaan ini disengaja." Alex menatap kedua gadis di hadapannya.


"Jangan lupa, transfer gajimu separuh ke rekening ku! Kamu kan tinggal tahu beres!" ejek Rania.


Alex memandang Dokter bedah itu dengan tatapan kesal. "Heran, kamu dari dulu tidak berubah judesnya!"


"Hei, kalau aku berubah, kamu bingung nanti, kehilangan teman debat!" kekeh Rania.


Suara era*Ngan membuat ketiga orang yang sedang ribut itu menoleh.


"Aku rasa Billy sudah mulai sadar" ucap Rania sambil bergegas memeriksa bocah itu.


***


"Billy didorong hingga jatuh dari tangga?" Gabriel menatap istri dan putrinya.


"Tampaknya uang adalah udang dibalik salad Daddy ..." jawab Galena.


"Klasik..." ucap Gabriel dingin.


"Kita harus ke London Gab..." Garvita menatap suaminya.


"Siapa yang mengurus kasus ini?" Gabriel memandang Galena.


"Super Intendant Alex Darling."


Gabriel dan Garvita melongo. "Benar nama belakangnya Darling?" seru keduanya.


"Kata mbak Rania sih begitu..."


***


Royale Hospital London


Rania memeriksa semua organ internal Billy dengan didampingi Alisha yang selalu menggenggam tangannya.


"Baik-baik saja kan mbak?"


"Alhamdulillah baik-baik saja. Hanya memang gegar otak yang termasuk ringan. You're a tough boy, Billy" senyum Rania.


"Thank you dokter Rania..." jawab Billy pelan.


Alex Darling lalu mengkopi semua rekaman CCTV dari MacBook Alisha ke flashdisk miliknya. Setelahnya chief Superintendent itu undur diri dan Rania akan mengantarkan pria berambut blonde itu usai memeriksa kondisi Billy.


"Aku antar Alex dulu ya Sha. Billy, kamu bersama Princess Alisha ya. Dokter Rania hendak mengurus semuanya dulu" ucap Rania lembut ke Billy.


"I..ya dokter" jawab Billy pelan sambil menahan sakit.


Rania menepuk bahu adiknya dan keluar dari ruang rawat Billy. Setelahnya Alisha menatap bocah malang itu. "Ceritakan bagaimana kamu bisa jatuh, Billy?"


"Aku... hendak ... turun tangga... tapi sepertinya ada yang mendorong aku... Setelahnya...aku tidak ingat apa-apa lagi..." jawab Billy.


"Billy, apa kamu ingat saat aku hendak memasang CCTV?" tanya Alisha pelan yang dijawab anggukan bocah itu. "Dari rekaman itu, terlihat apa yang sebenarnya terjadi..."


Mata Billy terbelalak. "Siapa, my lady..."


Alisha menghela nafas panjang. "Nenekmu."


Billy tampak lemas dan setelahnya menangis. "My lady... aku ingin pergi... Pergi menjauh dari nenek itu..."


Alisha menggenggam tangan Billy. "Maukah kamu ikut dengan adikku di Dubai? Dia ingin seorang adik laki-laki."


Billy mengangguk antusias. "Bawa aku pergi dari sini my lady..."


Alisha mengangguk. "Kamu tenang saja. Aku akan usahakan yang terbaik untukmu."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


***



Introducing Super Intendant Alex Darling