The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Biana Oceana McCloud Pascal, Will You...



Ranch Rossi Dallas Texas


Biana mencengkram kemeja flanel Leonardo saat masuk ke dalam kandang khusus inkubator dan melihat telur-telur itu sudah menetas.


"Ini telur milik Bonnie and Clyde... kamu tahu kan angsa itu binatang setia. Nah, saat Bonnie bertelur dan baru beberapa hari mengerami, entah kenapa dia tiba-tiba mati. Clyde merasa sedih dan berusaha mengerami telur-telurnya tapi... Tak lama dia menyusul Bonnie. Mati patah hati kalau kata Lenna... Jadi kami yang mengurus semua anak-anak warisan mereka" papar Leonardo.


"Oohhh ya ampun..." Tanpa sadar Biana menangis mendengar cerita romantis sedih itu. "Kamu membuat aku melow, singa gurun!"


Leonardo mencium pipi Biana. "See, banyak hal di peternakan. Kamu tahu, Lenna pernah nangis seminggu gara-gara kuda Morgan kesayangannya harus di euthanasia karena kankernya sudah semakin agresif. Kami sangat terikat dengan hewan-hewan kami meskipun tahu sapi-sapi, kambing, domba ataupn unggas kami akan pergi ... Tapi selama di peternakan kamu memang harus bisa mengendalikan emosi..."


Biana menatap anak-anak angsa itu. "Ada berapa itu?"


"Ada .. Enam dari 12 telur yang kami coba tetaskan..."


"Apa sudah ketahuan jenis kelaminnya?" tanya Biana.


"Tunggu sehari, Bia. Ayo bantu kasih makan anak-anak B and C." Siang itu Biana membantu Leonardo menyiapkan sarang yang nyaman untuk anak-anak angsa yang baru menetas dengan dibantu teriakan Hercule Poirot yang merasa kesal tidak diperhatikan.


***


"Kamu mau berkuda? Mumpung cuacanya bagus..." ajak Leonardo usai mereka beristirahat dan beribadah bersama.


"Jam empat sore tapi masih terang ya..." gumam Biana. "Coba di Inggris. Bubar ..."


"Ayo, Bia. Kita lihat tanahku dan Lenna."


Leonardo menggandeng tangan Biana menuju istal kuda. Biana bisa melihat koleksi kuda milik Leonardo tidak kalah dengan koleksi keluarga nya.


"Kamu naik Spots saja. Dia sangat jinak dan suka wanita cantik. Kamu tahu, kalau Lenna masuk sini atau teman - temannya yang cewek-cewek, pasti dia lebay.."


Dan benar, Spots langsung meringkik heboh seolah caper. Biana tertawa melihat ulah kuda dengan banyak totol di bulunya seperti Dalmatian.


"Breednya Appaloosa kan?" tanya Biana.


"Tuh kan Bia, kamu sudah cocok jadi istri aku. Tahu breed kuda ... Jangan-jangan sapi juga tahu nanti..." kekeh Leonardo sambil menyiapkan Mufasa, kuda Arabnya.


"Entahlah...." jawab Biana cuek. "Aku pakai pelana yang mana?"


"Pakai saja yang warna coklat ada inisial LR warna pink. Punya Lenna itu dan Spots biasa pakai itu."


Biana mengambil pelana serta tali kekang milik Spots dan memasangnya.


"Need hand ( butuh bantuan )?" tawar Leonardo.


"Nope. Aku bisa kok." Biana memasang tali kekang di mulut Spots yang langsung mengendusnya lalu mengusap wajahnya di kepala Biana. "Oh ya ampun, kamu benar-benar mirip anjing Dalmatian... Manja banget!" kekeh Biana sambil membawa Spots keluar istal menuju halaman. Biana ingin agar Spots terbiasa dengannya dulu dan berencana menaikinya pelan-pelan di halaman.


Biana memasang pelananya dan mengusap wajah Spots lalu menarik tali kekangnya mulai berjalan bersama.



Leonardo yang sudah membawa Mufasanya yang bewarna chestnut atau coklat dengan Surai hitamnya, tampak gagah di sebelah pria itu.


"Wah, Spots senang itu diajak jalan seperti itu. Pasti tidak lama, dia bakalan nempel sama kamu" kekeh Leonardo yang sudah memasang pelana diatas punggung Mufasa.


"Aku naik sekarang boleh ya?" tanya Biana sambil menghentikan langkahnya dan mengelus Spots lembut.


"Naik saja Bia, Spots tidak sabar itu kamu jalan bersamanya."


Leonardo tersenyum melihat Biana tampak santai dengan baju model backlash hitam, celana jeans dan boot.


"Kamu nggak kedinginan nanti pakai baju model begitu?" tanya Leonardo.


"Ini jaketnya aku simpan di kantong pelana" jawab Biana sambil berjalan di sisi Leonardo. "Kita jalan santai kan singa gurun?"


"Jalan santai saja." Leonardo memperlihatkan tanahnya yang luas serta adanya pembatas dengan pemilik ranch lainnya. "Pagar kami ada CCTV dan alarmnya, Bia. Meskipun seperti nya tidak modern, tapi ranch ini secara teknologi canggih. Hanya saja memang, kami masih memakai cara tradisional."


"Kalian mendapatkan dananya?"


"Pejualan sapi, kuda dan banyak hal lainnya. Hasil bumi kami juga banyak... Kamu mau ambil jeruk, pear atau pawpaw juga ada ..."


"Pawpaw?" Biana menatap bingung. "Buah apa itu?"



"Buah khas Amerika Utara dan hanya tumbuh di daerah sini, Ohio dan Canada. Mirip pepaya Hinga membuat banyak orang keliru, dalamnya kuning. Buahnya memiliki rasa mirip pisang, mangga, dan blewah. Biasanya dimakan mentah namun bisa dijadikan eskrim. Banyak orang yang mencarinya bahkan para chef dan restauran bintang lima. Harga nya lumayan karena memang buah ini mudah busuk jadi begitu waktunya matang, sehari sebelumnya kita petik dan langsung didistribusikan. Ranch kami juga sedang membudidayakan plum Murray yang sudah langka..."


Biana mendengarkan penjelasan Leonardo dengan perasaan kagum. Pria ini ternyata jauh lebih berbobot aslinya. Pola pikirnya sangat kreatif dan berbeda dengan pria-pria lainnya. Meskipun terkadang keluar sikap Membagongkan, tapi Biana sangat salut dengan cara Leonardo mengelola peternakan warisan ayahnya.


"Kita Kesana Bia. Ada danau buatan yang memang aku buat jika kami sedang menggembalakan ternak. Biar kuda-kuda kami bisa minum..."


Leonardo lalu turun dari Mufasa dan membantu Biana turun dari Spots. Keduanya membawa kuda masing-masing dekat danau itu dan membiarkan mereka minum serta merumput.


"Cuacanya bagus... Aku suka ... " senyum Biana.


"See, tinggal di peternakan tidak terlalu jelek kan Bia?" senyum Leonardo yang memakai topi Stenson nya.


"Hhhmmm... " gumam Biana sambil memandang sekeliling tanah milik Leonardo dimana ada deretan pohon - pohon yang gadis itu yakin adalah pohon buah-buahan yang diceritakan tadi.


"Ini jauh lebih luas dari ranch milik Oom Pahlevi Hassan di Kingaroy..." ucap Biana yang masih memperhatikan sekelilingnya tanpa mengetahui Leonardo sudah berlutut dengan satu kaki.


"Leo.. Itu pohon..." ucap Biana sambil berbalik dan terkejut melihat Leonardo berlutut sambil memperlihatkan cincin berlian di kotak beludru.


"Biana Oceana McCloud Pascal... Will you marry me..." ucap Leonardo penuh perasaan.


Biana menatap Leonardo tidak percaya jika dirinya akan dilamar di tanah peternakan pria itu.


"Leo..." bisik Biana tersendat karena menurut nya ini lamaran romantis dan private yang memang dia inginkan. "Of course lah cowboy cengeng !"


Leonardo tertawa mendengar panggilan kesayangannya diucapkan juga. Pria itu lalu menyematkan cincin berlian itu dan berdiri di depan Biana lalu mencium bibir gadis itu.



Yang sudah engagement


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️