The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Demit? Singa Gurun?



Apartemen Biana Pascal


Leonardo memegang rahangnya yang terkena tinju Biana dan menatap gadis cantik di hadapannya dengan wajah terkejut. "Oh My God, Bia. Kenapa aku kamu tinju?"


"Kamu kan minta dielus wajahnya, ya aku elus lah" jawab Biana cuek.


"Elus itu begini Bia..." Leonardo mengulurkan tangannya hendak mengelus pipi Biana tapi tangannya dicekal oleh gadis itu.


"Kamu nggak usah macam-macam deh, Cowboy !" hardik Biana kesal.


"Aku nggak macam-macam Biana, semacam saja kok. Kasih lihat bagaimana cara elus yang benar..." Mata biru Leonardo tampak berkedip jenaka.


"Uuuurrrghhhh ! Dasar pria Italia !" gerutu Biana.


"Hei, ayahmu juga Italia kan?"


"Half Italian Half French ! Tidak full Italian dan tidak seganjen kamu !" balas Biana.


"Dengar Bia, aku memang bukan kandidat terbaik tapi aku akan menjadi pria terbaik kamu."


Biana menatap Leonardo dan memegang wajahnya. "Dengar Singa Gurun, aku baru mau 20 tahun, kamu belum ada 25 tahun dan mikir mu kejauhan. Dan sekarang, waktunya kamu pulang karena acara makan malam sudah selesai apalagi ini sudah jam sepuluh malam. Aku ada kelas besok pagi. Tolong, Singa Gurun, kubur dalam-dalam perasaan love at first sight kamu, sebab kita tidak mungkin bersama. Banyak perbedaan dan pandangan hidup."


Leonardo memegang tangan Biana. "Masih banyak waktu, Bia... Masih banyak waktu untuk membuat kamu menjadi pasangan aku dan jatuh cinta padaku."


Biana memicingkan matanya. "In your dream, Singa Gurun. In your dream ( dalam mimpimu )."


"Kita lihat saja Biana. Ucapanku atau ucapan mu yang terbukti nanti. Kamu jatuh cinta padaku atau tidak."


"Taruhan? Apa taruhannya, Leo?"


"Jika kamu jatuh cinta padaku, kita akan menikah di ranch. Dan jika kamu tidak jatuh cinta padaku, akan ku buat kau jatuh cinta meskipun harus lama lagi menikahnya."


"Whaaaatttt? Oh singa gurun, kamu menyebalkan !"


Leonardo hanya nyengir. "Jangan begitu dengan calon suami."


Biana benar-benar sudah sampai batas kekesalannya. Gadis itu lalu menarik Leonardo dan mendorong pria itu menuju pintu apartemennya.


"Lho Bia. Kok ... " Leonardo mencoba protes tapi diri nya sudah didorong keluar oleh Biana. Pria itu itu berbalik ...


BLAM !


Pintu apartemen Biana tertutup tepat di depan wajah Leonardo dan pria itu hanya tersenyum geli dengan sikap Biana.


"Kamu kok menggemaskan. Kita lihat saja Bia, kamu pasti akan jatuh cinta padaku." Leonardo membuka ponselnya. "Dengan mendekati ayah dan ibumu dulu, baru ke kakek dan nenekmu... "


***


Selama sebulan Leonardo berada di Harvard, pria itu selalu berusaha mendekati Biana. Bahkan dia menemani gadis itu sedang mengajar sebagai asisten dosen selain makan siang. Hingga rumor merebak bahwa asisten dosen judes itu sudah memiliki pasangan seorang cowboy dari Dallas Texas.


Biana mengacuhkan semua rumor dan membiarkan Leonardo bersamanya karena dirinya merasa percuma memberikan pengertian dari halus sampai kasar, karena pria itu sangat keras kepala.


Toh hanya sebulan disini dan ini sudah tinggal empat hari si singa gurun di Harvard. Baguslah ! Biana memilih untuk duduk di sebuah kursi taman dan menghubungi sepupunya yang hanya beda bulan saja.


"Hai !" sapa Rania Blair Prasetyo.


"Hai. Kamu di rumah sakit?" tanya Biana yang menghubungi Rania melalui panggilan video.


"Ditugaskan di kamar mayat. Opa tuh seenaknya pindahin jadwal coas aku !" sungut Rania sebal. "Harusnya aku jadwal obgyn tapi kata Opa mending yang horor dulu baru yang santai. Njelehi !"


Biana cekikikan. "Asal nggak kayak Opa Joey saja suruh disana tiga bulan."


"Dih amit-amit. Mana Oom Wira senang aku di kamar mayat. Ya bener, dia dokter forensik dan aku banyak belajar darinya tapi kan nggak pakai acara kasih cerita horor dong !" gerutu Rania.


"Mending Oom Wira. Lha si L itu gimana coba ? Bikin teman satu kelasnya jejeritan karena bilang ada arwah melayang diatas langit-langit kelas." Biana sampai tidak habis pikir dengan sepupunya, Lachlan Lexington de Luca yang biasa dipanggil L, memiliki hobi mirip Oma nya Freya, ditambah L punya indera keenam yang sering membuat para sepupunya horor.


Biana yang sudah tahu Leonardo berada di belakangnya hanya mengedikkan bahunya. "Pria paling nekad dan super ngeyel !"


"Sama dengan super ngeyel dari jaman SMA aku. Hai singa gurun" sapa Rania.


"Hai. Actually namaku..."


"Leonardo Rossi. I know. Aku Rania Bianchi Prasetyo, sepupu Bia."


"Senang bertemu denganmu. Btw, kenapa aksen mu sangat British?" Leonardo menatap gadis cantik di layar MacBook Biana.


"Aku kuliah di London, meskipun aku warga negara Amerika Serikat tapi karena kelamaan di London, jadi kebawa aksen nya."


"Kamu kuliah di London?" tanya Leonardo. "Ambil apa?"


"Kedokteran."


"Singa Gurun, please. Biarkan aku mengobrol dengan Rania." Biana menatap tajam ke arah Leonardo.


"Oke sayang. Mau aku belikan kopi?" Leonardo tersenyum manis.


"Boleh. Belikan aku frappe capuccino di Starbucks..."


"Ah dekat kok."


"Starbucks Dallas."


Leonardo melongo. "Bianaaa... terlalu jauh..."


"Just hush ... Hush. Kamu itu mengganggu aku sedang berghibah." Biana mengayunkan tangannya sepertu mengusir Leonardo.


Leonardo cemberut dan mencium pipi Biana sekilas lalu kabur sebelum Biana bereaksi. "Iiissshh dasar singa gurun ! Awas kau !" teriak Biana kesal.


"Sunat saja Bia !" kekeh Rania.


"So, bagaimana dengan Demit?" tanya Biana.


"Dia datang setiap tahun ke London, Bia. Ini sudah tahun keempat dia datang kemari setiap libur pertandingan dan kamu tahu, dia bisa seenaknya kemari karena baru saja menandatangani kontrak dengan Dallas Cowboys senilai USD 50juta untuk empat tahun ! Demit hanya dari draft tapi bisa langsung masuk tim inti."


Biana melongo. "Wow Ran, untuk pemain rookie yang langsung mendapatkan nilai kontrak segitu. Padahal Demit baru usia berapa?"


"22 tahun."


"Tapi termasuk hebat lho langsung masuk tim inti. Oh, pasti Opa Joey senang mendengarnya?" kekeh Biana yang tahu Joey Bianchi adalah fans Dallas Cowboys dan sangat mendukung Chris Armstrong berkarir di dunia olahraga American Football.


"Yup. Opa memang sangat mendukung karier Demit."


"Kita kenapa dikejar pria-pria super ngeyel ya Bia?"


"Kalau nggak ngeyel, tidak cocok masuk ke keluarga kita." Biana nyengir ke arah Rania.


"Touché."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️