
Ranch Rossi Dallas Texas
Menjelang tengah malam, semua anggota keluarga Pratomo sudah kembali ke hotel yang disiapkan oleh Leonardo dan Lenna. Tanah tempat mereka mengadakan acara pun sudah bersih hanya tinggal meja dan kursi yang akan dibereskan esok entah jam berapa.
Di rumah utama, tinggal Leonardo, Biana dan Lenna. Pedro dan Nadira memilih untuk tinggal di paviliun yang biasa dipakai untuk para turis. Paviliun satu lagi dipakai oleh Arsyanendra bersama Violet dan putranya Akira, karena mereka ingin suasana berbeda.
Dan sekarang di dapur, Lenna dan Biana yang sudah berganti pakaian ke baju rumah, sedang menikmati hot choco berdua karena Leonardo begitu ganti pakaian, langsung keluar rumah untuk memeriksa semua pegawainya dan keamanan ranchnya.
"Kebiasaan kak Leo kalau mau tidur begitu, kak Bia. Memeriksa semuanya dengan teliti... Padahal ini kan malam pengantin kok malah sok rutin sih!" omel Lenna sambil menikmati hot Choco dan kue red Velvet.
"Kalau sudah kebiasaan kan memang begitu, Lenna. Maaf ya Dendeng eh... Raiden bikin perkara jadi Hercule cidera..." senyum Biana.
"Mau gimana kak, sudah kejadian... Yang penting kan Hercule sudah di klinik jadi diawasi..." jawab Lenna. "Lagian nama Raiden bagus-bagus kok jadi Dendeng?"
"Well, salahkan appanya. Oom Shinichi kan suka seenaknya kalau manggil istri dan anak-anaknya jadi Kita ikutan deh .." Biana dan Lenna menoleh saat mendengar pintu dapur terbuka dan tampak Leonardo masuk sambil tersenyum.
"Yuk istirahat. Len, kok malah ngemil red Velvet?" goda Leonardo.
"Pengen kak. Tadi aku gak kebagian. Tapi ternyata Raul sudah menyimpan buat aku..." jawab Lenna cuek.
"Raul?" Biana menatap adik iparnya. "Kamu... Sama Raul?"
"Haaaaahhh? Nggak kak, aku sama Raul kan kayak saudara rasa teman ... Memang kenapa?" Lenna tampak panik kena tatap dua kakaknya. "Nggak ada apa-apa... Beneran !"
"Ada apa-apa juga nggak papa. Kan Raul kuliah disini hanya beda state saja..." senyum Leonardo sambil duduk di sebelah istrinya dan meminum hot Choco dari gelas Biana.
Lenna hanya memajukan bibirnya. Tapi Raul memang tampan dan seiman pula... Lenna memang agak kesulitan jika berkencan dengan pria yang berbeda keyakinan karena pasti diajak ke bar atau club sedangkan gadis itu sangat menghindari tempat -tempat seperti itu.
"Dah yuk, istirahat. Aku capek banget hari ini... " Leonardo meletakkan mug yang sudah kosong di bak cucian piring, lalu menggandeng tangan Biana. "Kamu nggak tidur?"
"Tidur lah singa gurun. Bangun siang yaaa... Aku teler..." jawab Biana sambil merangkul mesra suaminya.
"Kalian bangun siang saja semua. Kita pun sama ..." gelak Lenna.
"Good nigt Lenna" pamit Biana.
"Good night kak Bia. Have fun" cengir Lenna dengan wajah penuh arti membuat Leonardo mengedipkan sebelah matanya ke arah adiknya.
***
Lenna masih mencuci piring ketika ponselnya berbunyi dan wajahnya tampak tersenyum saat tahu siapa yang menelponnya.
"Hai, Raul..." sapa Lenna.
"Hai Lenna. Sorry aku telpon kamu malam-malam. Apa di kamar mandi tamu ada jam Hublot aku? Warnanya biru navy dan silver. Aku tadi habis wudhu, lupa ambil..." balas Raul.
"Kamar mandi tamu yang sebelah mana?" tanya Lenna sambil menuju kamar mandi yang memang ada dua.
"Yang ada stiker Dallas Cowboys."
Lenna tahu itu kamar mandi tamu kedua yang biasanya dipakai tamu kalau kamar mandi utama dipakai.
"Sebentar ... " Lenna menyalakan lampu dan mencari jam mahal milik Raul. Gadis itu membuka lemari kaca yang berada disana tempat semua peralatan dan perlengkapan mandi bagi para tamu dan melihat jam tangan milik Raul berada disana.
"Ada Raul."
"Tolong disimpan sama kamu ya. Besok aku ambil tapi jam berapa belum tahu ... Thanks Lenna."
"Goodnight Lenna. Selamat beristirahat..."
"You too." Lenna mematikan ponselnya dan membawa jam klasik itu ke dalam kamarnya dan dia melihat di baliknya ada nama Raul terukir disana.
Raul Accardi
Lenna mencoba memakainya dan tersenyum. "Dipakai aku, cantik juga" cengirnya sambil tiduran. "Tidur aaahhh..." Tak lama gadis itu terlelap dengan mengenakan jam tangan milik Raul.
***
"Ah, Leooo... " Biana merasakan dirinya merasa panas, gemetaran dan semua sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Leonardo mencum*bui setiap inci tubuh polos istrinya bahkan Lidah dan jarinya memainkan inti miliknya dengan lihai hingga Biana merasakan sesuatu yang basah mengalir di sana.
"Aaaahhh... Leoooo..." de*sah Biana yang semakin mencengkram seprai saat mendapatkan puncaknya yang pertama.
Leonardo mencium panas bibir Biana yang langsung memegang milik suaminya yang semakin mengeras.
"Kamu mau coba?" goda Leonardo.
"Aku penasaran..." Mata sayu Biana tampak mulai terbungkus oleh nafsu.
"Coba saja... Is*ap punyaku... Kita coba gaya 69... "
Biana pun bersemangat karena lebih dikuasai penasaran dan naf*sunya. Pertama kalinya Biana merasakan seperti apa yang ada di film-film dewasa tapi melakukan nya sendiri, memiliki sensasi yang jauh lebih gila dari bayangan nya sendiri.
Biana tahu suaminya jauh lebih berpengalaman dan justru karena itu, dia pun ikut bersemangat dalam mengeksplorasi semua milik suaminya seperti Leonardo mengeksplorasi dirinya.
Leonardo merasa tidak tahan lagi lalu membalikkan tubuh istrinya dan perlahan memasukkan miliknya membuat Biana terkesiap karena ada sesuatu yang asing di sana. Biana menjerit kecil saat penghalangnya ditembus oleh Leonardo.
Namun karena foreplay suaminya sudah membuatnya nyaman, Biana menikmati hubungan suami istri dengan Leonardo. Biana bersyukur melakukan ini pertama kali dengan suami sah nya jadi suasananya lebih relaxing tanpa ada ketakutan berbuat dosa ataupun diamuk ayahnya hamil di luar nikah.
Buana dan Leonardo saling mengeluarkan suara yang membuat orang lain bisa berpikiran macam-macam. Apalagi saat Leonardo membalikkan tubuh istrinya dan berhubungan dari belakang, Biana semakin dibuat melayang hingga tanpa sadar dia mengeluarkan permintaan yang membuat Leonardo tersenyum senang.
"Harder?" bisik Leonardo di sisi telinga Biana yang terengah-engah.
"Harder, baby. Oh, ini nikmat sekali Leo... " gumam Biana yang sudah tidak bisa berpikir jernih.
"I love it when you talk dirty, baby..." senyum Leonardo.
Biana semakin menggila saat Leonardo membuatnya mendapatkan puncaknya beberapa kali dan akhirnya pria itu pun mendapatkan puncaknya. Leonardo dan Biana pun ambruk berdua dengan nafas memburu, tubuh berbalut peluh.
"Oh my God Bia... Aku sangat bersyukur puasa lama kalau openingnya wow... Damn, you're so hot Bia..." ucap Leonardo yang berbaring di sebelah Biana yang tidur tengkurap.
"Aku senang melakukan ini padamu... Kamu juga hot... Oh, apakah aku boleh bangun siang besok? Aku capek..." senyum Biana ke arah Leonardo dengan wajah berbinar.
"Absolutely... Kita bangun siang tapi kita tetap berada di tempat tidur..." cengir Leonardo dengan wajah meshum.
"Dasar !"
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️