The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Pangeran Itu Juga Manusia



Royale Hospital London


Rania melihat wajah Alisha tampak mendung saat makan siang, membuat dirinya kepo.


"Kamu kenapa?" tanya Rania sambil memakan saladnya.


"Mas Arsya menghilang..." jawab Alisha.


Rania melongo. "Hilang kemana?"


"Nggak tahu."


"Sama siapa?" tanya Rania.


"Sama mas Vic. Kalau kata Richard, kemungkinan bakalan ikut Hell Week Navy Seals. Soalnya mas Arsya pernah bilang kalau penasaran ingin ikut." Wajah Alisha tampak cemas memikirkan kakaknya apalagi sebelumnya mereka sempat gegeran Turin. ( Baca Mafia and Yakuza Brothers ).


Rania hanya tersenyum. "Sha, kakakmu itu memang bukan military junkie tapi dia ada basic militer dari kerajaan Belgia. Kalau Vic sama dia, kamu tenang saja. Vic itu hobinya menantang dirinya sendiri, sampai sejauh mana kamu mampu. Lagipula, mereka kan punya basic bela diri jadi kamu jangan terlalu khawatir. Terus Oom Sean dan Tante Zee bagaimana?"


"Mereka santai aja tuh mbak. Kak bingung aku... Biasanya Daddy dan mommy kelimpungan kalau mas Arsya pergi tanpa kabar meskipun jarang sekali... Tapi ini?" Alisha menggelengkan kepalanya. "Aku suka bingung dengan kedua orang tua aku..."


"Sha, kamu kan anak psikologi jadi tahu kan alasan kenapa Oom Sean dan Tante Zee tidak mempermasalahkan kemana menghilang nya mas Arsya. Ya karena, mereka sudah diberitahu oleh mas Arsya akan pergi dengan Vic dan itu pun bukan hal yang aneh-aneh... Meskipun termasuk aneh-aneh sih .." gumam Rania yang tidak habis pikir mau-mau nya digembleng macam gitu dengan lokasi bakalan ketemu lintah, buaya atau ular sekalipun.


"Ampun deh mas Arsya dan mas Vic itu kalau memang ikutan hell week... " ucap Alisha.


"Sha, mau kakakmu itu pangeran, tapi dia juga manusia yang selalu ingin tahu segala sesuatu. Dan aku yakin, pihak Navy Seals tidak akan membiarkan terjadi apa-apa sama mas Arsya. Mereka tentu tidak mau seorang pangeran Belgia, putra mahkota, calon raja, kenapa-kenapa. Bisa gegeran antara Amerika dan Belgia nanti, meskipun mas Arsya sendiri yang masuk ke Hell Week" balas Rania panjang lebar. "Lagipula, setidaknya ada di generasi ini yang uji nyali ke Hell Week setelah sebelumnya hanya generasi keempat yang terakhir melakukannya."


"Mungkin mbak Rania benar. Mas Arsya ingin melihat sejauh mana kemampuannya di bidang pelatihan militer... Kita semua tahu kan mas Arsya bisa menerbangkan helikopter, pesawat dan tank sekalipun... " ucap Alisha.


"Nah tuh ..." Rania memegang tangan Alisha. "He's fine. Vic juga. Mereka hanya salah tempat kongkow."


Alisha tertawa.


***


Apartemen Biana di Oxford


Biana memeriksa lagi semua apartemen yang akan ditinggalnya besok. Semua barang-barangnya sudah dia siapkan semua dan Leonardo sudah menyiapkan mobil untuk perjalanan dari Oxford ke London. Pria itu memang sengaja menyewa mobil demi menjemput Biana karena tahu gadisnya bakalan memilih naik kereta untuk pulang ke London.


Selama di Oxford, Biana memang tidak memiliki mobil karena baginya mengendarai Vespa yang disewanya selama enam bulan atau naik transportasi umum sudah cukup baginya buat kemanapun.


"Sudah semua, sayang?" tanya Leonardo saat melihat gadisnya memeriksa kamar tidurnya. "Disana tinggal perlengkapan mandiku, Bia."


"Jangan lupa besok dibawa karena pagi-pagi, pemilik apartemen akan datang meminta kuncinya" ucap Biana sambil keluar dari kamar mandi di dalam kamar tidur Leonardo selama menginap di apartemen gadis itu.


"Iya sayang .." senyum Leonardo yang kemudian menarik tangan Biana dan memeluknya erat. "Kamu kembali ke Harvard, langsung rencana menikah yuk?"


Biana menatap judes ke Leonardo. "Sudah ketemu Daddy? Sudah ketemu Opa?"


"Belum tapi aku memang sudah minta ijin pada Daddymu untuk menjemput kamu pulang ke State dan beliau kasih ijin selama aku bersikap sopan padamu..." Leonardo menatap mesra Biana.


"Singa gurun..."


"Yes baby..."


"Kenapa kamu bisa jatuh cinta padaku?" Mata biru Biana menatap mata biru Leonardo.


Biana tertawa kecil. "Touché. Realita, meskipun kamu sudah sikat gigi dan berkumur dengan obat kumur mulut sebelum tidur, tetap saja begitu buka mulut semua gas dalam perut keluar..."


Leonardo menyingkirkan rambut coklat Biana. "Gosh, I love you so much Bia. Aku tidak menyangka bisa tergila-gila dengan wanita yang sangat-sangat independen dan bar-barnya minta ampun..." ucap Leonardo penuh perasaan.


"Aku juga tidak menyangka bisa jatuh cinta dengan Cowboy yang jago matematika karena selama ini aku selalu menilai cowboy hanya memikirkan ranch, ternak dan jerami."


"Jangan meremehkan cowboy yang satu ini Bia, karena akan selalu membuat kamu jatuh cinta setiap saat... " balas Leonardo sambil mencium hidung maju Biana. "Yuk kita makan siang di luar. Aku lapar. Kamu mau apa?"


"Makan yang enak dan banyak !" jawab Biana lugas.


Leonardo tertawa. "Ini yang aku suka darimu. Tidak perduli kondisi badanmu, yang penting makan enak dan banyak."


"Hidup hanya sekali, koboi cengeng. Harus dinikmati" senyum Biana.


***


Siang itu Biana dan Leonardo menikmati acara makan siang di sebuah restauran timur tengah yang menyediakan kambing guling dan nasi biryani rempah.


Keduanya tampak asyik mengobrol berbagai macam hal dan sesekali Leonardo mengusap bibir Biana yang terkena saus. Mata keduanya sama-sama saling memancarkan rasa cinta satu sama lain membuat semua orang tahu kalau keduanya saling mencintai.


***


Ruang Praktek Rania di Royal Hospital London


"Dokter Rania, ada super Intendant Alex Darling..." ucap Suster Amy yang tahu Rania sedang beristirahat usai melakukan operasi.


"Suruh masuk, suster Amy. Aku sudah bisa menerima tamu. Yang penting ada kopi." Rania menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan karena merasa kaku disana. Kasus operasi yang dilakukannya cukup membuatnya lelah.


"Rania... Are you okay?" tanya Alex Darling saat masuk ke dalam ruang praktek gadis itu.


"Leherku kaku ! Bayangkan aku berdiri tiga jam berusaha mencari pusat tumor yang sangat-sangat tersembunyi. What do you expect ?" omel Rania.


"Pulang. Mukamu lelah !"


"Ini juga mau pulang tapi aku menikmati Starbucks ku dulu. So, ada apa kamu kemari?" tanya Rania.


"Aku harus keluar negeri dua bulan Ran, jadi jika ada kasus yang membutuhkan bantuan mu, akan ada letnan Benjamin Lawson. Aku sudah bilang padanya, untuk hubungi kamu jika butuh masalah kesehatan."


Rania mengerenyitkan dahinya. "Kamu mau kemana?"


"Dubai."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️