The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Dua Pria Manja



Royale Hospital London


Alex Darling, David James dan Suster Amy menoleh ke arah Rania yang hanya menatap mereka dengan wajah cuek bercampur usil.


"Nggak dikebiri juga Raniaaaaa..." desis Alex Darling gemas dengan dokter yang mengambil spesialisasi bedah itu.


"Cih ! Padahal pengen lho aku kebiri... Lumayan kan buat praktek bedah aku..." sungut Rania sambil manyun membuat Alex Darling menyipitkan matanya sebal.


"Prognosis nya bagaimana dokter Bianchi ?" tanya David James.


"He'll live ( dia akan hidup ) tapi entah sampai kapan" jawab Rania sebodo amat.


"Astagaaa... " Alex Darling memegang pelipisnya.


***


Alex Darling dan David James menunggu sampai Nicholas bangun dan keduanya pun menanyakan kronologis penyerangan itu. Rania hanya melihat itu dari seberang karena bukan ranahnya.


Suara getar ponsel Rania terdengar dan gadis itu melihat siapa yang menelpon dan memilih keluar dari sana.


"Halo Demit... Ada apa?"


"Hanya kangen padamu, Baby..."


"Seriously? Baby? Hei, aku sudah besar !" jawab Rania.


"Rania, baby disini... Ah sudahlah, hai sayang... Aku kangen padamu..." kekeh Chris.


"Aku nggak !"


"Oh come on Rania... Buatlah pria satu ini bahagia sedikit..." pinta Chris dengan nada lelah.


Rania lalu duduk di kursi tunggu. "Ada apa Chris ? Ada sesuatu?"


"Rania, aku harap bisa ke London menemuimu tapi sayangnya... Aku tidak bisa datang tahun ini. Kamu tahu sendiri kan Dallas Cowboys juara dunia NFL tapi aku mengalami masalah juga... Cedera bahu kiri yang mengharuskan aku menjalani operasi..."


"Jadi kamu ingin aku menyempatkan diri datang ke Dallas untuk menjenguk dirimu?" tebak Rania yang sudah tahu modus pria bermata biru itu.


"Ah Rania, kamu memang gadis yang pengertian membuat aku makin cinta sama kamu..." kekeh Chris.


Rania hanya mendengus kesal. "Kapan kamu operasi ?"


"Minggu depan... Please Rania... "


"Bayarkan tiketku PP, pulang pergi, business class. Bagaimana?"


"Deal !" ucap Chris cepat. "Apa sih yang nggak buat kamu?"


Rania menghela nafas panjang. "Dasar tukang modus !"


"Ya Rania...Datang yaaaa" rayu Chris.


"Kirim kan tiketnya ... Baru aku pikirkan jadi berangkat atau tidak ... "


"Raniaaaaa..." teriak Chris tapi Rania langsung mematikan ponselnya.


Alex Darling yang melihat Rania sedang duduk di kursi tunggu, langsung menghampiri gadis itu. "Kamu kenapa?"


"Ada pasien rewel minta dibesuk" jawab Rania malas.


"Siapa?"


"Setan Cowboy... "


Alex Darling mengerenyitkan dahinya. "Setan Cowboy?"


"Yup. Aku Minggu depan harus ke Dallas."


"Pasienmu di Dallas? Amerika Serikat?"


"Memang di Great Britain ada Dallas?" balas Rania.


"Apakah pria Amerika yang pernah ribut dengan kamu ?" Alex Darling pernah melihat Rania sedang ribut dengan Chris beberapa waktu lalu.


"Yup."


"Dia suka padamu?"


"Yup. Sejak SMA."


"Kenapa tidak kamu terima ?" tanya Alex Darling.


"Menunggu dia berubah. Aku tidak suka dengan pria tidak berkomitmen..."


"Kamu suka dia ?"


Rania menatap ke Alex Darling. "I don't know. Tapi ... Memang dia pria paling Bonek... Bondo Nekad yang aku kenal..."


"Bagaimana jika kamu tidak menerima dia?"


"Maunya ... Tapi dia super ngeyel..."


Alex Darling menepuk kepala Rania. "Ran, kamu tahu kan kita berdua tidak pernah akur yang benar. Aku selalu menganggap kamu macam adik perempuan aku dan sebagai kakak, kalau kamu tidak suka dengan pria itu, jangan ditanggapi..."


"Hhhmmm... Kita lihat saja nanti." Rania menatap Alex Darling. "Yakin kamu tidak ada perasaan sama aku?" goda gadis itu.


"Nope. Kamu bukan tipe aku... Bar-bar, brutal dan seenaknya sendiri ..." jawab Alex Darling yang membuat Rania terbahak.


"Anggun, kalem dan bermata biru."


Rania mengedikkan bahunya. "Good luck for that. Di keluarga aku tidak ada yang kalem... Kecuali Alisha sih tapi tidak akan aku kenalkan ke kamu !"


"Why?"


"Karena dia putri raja. Sedangkan kamu rakyat jelantah..."


Alex Darling mengacak-acak rambut Rania. "Si@lan kamu Ran! Aku memang bukan bangsawan, tapi jangn di bilang seperti itu dong !"


***


Harvard University Cambridge Massachusetts


Biana baru saja menyelesaikan perkuliahan ketika matanya menatap pria bermata biru yang bersandar di pintu ruang kuliahnya. Para mahasiswi disana tampak berbisik-bisik melihat Leonardo yang hanya menatap Biana seorang, mengacuhkan gadis-gadis lain.


"Hai Cowboy..." sapa Biana.


"Hai beautiful..." senyum Leonardo.


"Ada apa ke Cambridge?" tanya Biana.


"Ganti bajumu dengan ini..." Leonardo menyerahkan paper bag ke Biana.


"Apa ini singa gurun?" tanya Biana lagi dengan bingung.


"Sudah pakai saja." Leonardo tersenyum usil.


Biana menyipitkan matanya. "Awas kalau bikini!"


"Kayaknya aku bisa memba... Addduuuhhh !" Leonardo mengusap kepalanya yang terkena keplak Biana.


"Otak ngeres ! Otak meshum !" hardik Biana.


"Sudah ganti saja. Aku tunggu di depan kamar mandi. Kamu sudah tidak ada kuliah lagi kan? Sudah tidak ada acara ngajar lagi tho?" Leonardo menggandeng tangan Biana menuju kamar mandi kampus.


"Nggak ada... Bagaimana kamu tahu ?" tanya Biana bingung.


"Aku tanya bagian administrasi. Sudah sana ganti baju.." Leonardo mendorong punggung Biana. "Tas mu biar aku bawa."


Biana menatap judes ke Leonardo yang hanya tersenyum manis.


***


Leonardo tersenyum senang saat melihat Biana sudah berganti pakaian yang sama dengan dirinya, serba berpakaian dari kulit macam mau touring.



Biana McCloud Pascal


"Memang kita mau kemana singa gurun?" tanya Biana bingung karena dirinya sama dengan Leonardo, sama-sama mengenakan baju hitam.


"Mobil mu dimana?" Leonardo mengacuhkan pertanyaan Biana.


"Di parkiran lah. Memang ada apa sih?" Biana menatap Leonardo yang langsung menggandeng tangan gadis itu.


"Bawa saja yang penting macam ponselmu dan dompet. Lainnya kamu tinggal di dalam mobilmu" perintah Leonardo.


"Iiissshh... Kamu itu kok penuh rahasia sih !" gerutu Biana yang berjalan menuju parkiran mobil dan tiba di mini Cooper miliknya lalu memasukkan semua barang-barangnya. Biana hanya membawa dompet dan ponselnya yang dimasukkan ke dalam tas kecil yang selalu ada di dalam mobilnya.


Setelah menguncinya dan menyimpan di dalam tas, Biana menatap Leonardo. "Terus sekarang?"


"Ikut aku ... " Leonardo menggandeng tangan Biana menuju ke sebuah motor besar yang Biana tahu adalah Ducati.


"Kita naik motor?" tanya Biana tidak percaya.


"Yup. Ini helm kamu..." Leonardo memberikan helm baru ke Biana lalu naik ke atas motor nya.



Yang main culik dosen cantik


"Kamu kesini naik motor?" tanya Biana tidak percaya sambil mengenakan helm nya.


"Yup. Butuh waktu dua hari sampai sini Bia. Aku sempat menginap dulu sebelum berangkat lagi ke Cambridge Massachusetts" senyum Leonardo sambil memasang helmnya. "Ayo naik."


Biana menggelengkan kepalanya. "Dasar nekad !"


"Demi bisa berduaan denganmu. Mumpung besok libur kan? Jadi kenapa kita tidak berjalan-jalan dengan naik motor dengan bebas ?" Leonardo menoleh ke arah Biana yang sudah naik motor dan duduk di belakangnya. "Pegangan, Bia."


Biana pun memeluk pinggang Leonardo.


"Inilah yang aku suka kalau naik motor..." Leonardo langsung memacu Ducati nya membuat Biana terkejut dan memeluk erat tubuh pria itu.


"Leeeeoooo !!!!" jerit Biana.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️