The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Raul and Lenna



Ranch Rossi Dallas Texas


Pukul sepuluh pagi, Lenna baru terbangun dari tidur nyenyak nya dan langsung bergegas mandi lalu menyiapkan makan siang. Gadis itu tanpa sadar memakai jam tangan milik Raul Accardi sambil memasak left over semalam yang dia modifikasi supaya bisa jadi makan siang.


Menjelang jam 12 siang, pasangan pengantin baru itu baru keluar kamar dan Lenna tersenyum simpul saat melihat rambut panjang Biana masih setengah basah.


"Ehem... Yang sudah ihik-ihik" goda Lenna sambil memasang wajah usil membuat wajah Biana memerah.


"Jangan godain kakak iparmu... Malu dia" senyum Leonardo sambil merangkul pinggang Biana. "Masak apa kamu Sis?"


"Memanfaatkan bahan yang ada. Jadilah masakan baru..." Lenna mengambilkan makanan ke piring.


"Len..." panggil Biana.


"Ya kak Bia?" jawab Lenna.


"Itu jam tangannya siapa?"


Lenna melirik ke pergelangan tangannya. "Jamnya Raul..."


Leonardo dan Biana menatap Lenna tajam. "Kok bisa sama kamu?" tanya Leonardo.


"Kemarin ketinggalan di kamar mandi tamu dan meminta aku menyimpannya. Daripada aku lupa taruh dimana juga, mending aku pakai aja lah ..." jawab Lenna cuek.


"Astagaaaa..." gumam Leonardo sambil memegang pelipisnya.


"Dah, yuk makan. Eh ngomong-ngomong, aku belum telepon mas Arsya dan Mommy ... " Biana mengambil ponselnya di kamarnya yang memang dia letakkan dengan posisi offline. Sambil berjalan menyalakan ponselnya, dia melihat dari jendela kedatangan dokter hewan langganan Ranch.


Duh, jangan-jangan Hercule Poirot gadha.


"Sayang, ada dokter Hodges..." ucap Biana ke Leonardo yang melihat ke arah pintu dapur.


"Siang Leo" sapa Dokter Hodges yang berkulit hitam itu.


"Siang dok. Ayo, makan siang ..." ajak Leonardo ramah.


"No, thanks. Aku hanya mau mengabari... Hercule Poirot harus rawat inap lebih lama..."


"Apakah cideranya berat?" tanya Leonardo cemas.


"Well, lebih menjurus ke stress..." cengir dokter Hodges. "Cideranya sudah membaik dan dia sudah bisa berdiri tapi dia merasa insecure dengan ruangan luas. Mungkin trauma kena tendang di istal... Jadi dia lebih nyaman di ruang inkubator yang hangat dan tenang..."


"Bebek bisa stress?" tanya Lenna bingung. "Apa self esteem nya rontok saat kena tendang Raiden?"


"Mungkin karena selama ini kan tidak ada yang bisa membuatnya menurunkan egonya dan saat ada yang membuatnya cidera dengan telak, Hercule langsung merasa kalah... Dia bebek yang memiliki harga diri tinggi" kekeh dokter Hodges. "Jadi aku minta besok kalau Hercule pulang, biarkan dia di kandangnya dulu sampai benar-benar nyaman, baru bisa dikumpulkan dengan kawanannya."


Biana memegang pelipisnya. Bahkan bebek pun bisa mendrama ?! Ampun deh!


***


Raul datang bersama dengan Alano Bianchi dan Lachlan de Luca. Ketiganya tampak bingung melihat pengantin baru malah asyik membereskan tempat pesta bersama dengan para pegawai ranch.


"Mbak Bia? Kok malah beres-beres?" tanya Alano yang juga ikutan mengangkat meja bersama dengan Lachlan.


"Lha daripada bengong di rumah" jawab Biana.


"Manten paling nyeleneh... Lenna dimana mbak?" tanya Raul.


"Lenna ada di rumah induk. Katanya lagi buat camilan buat acara minum teh sore. Kamu ke dalam saja Raul" jawab Biana.


Raul pun berjalan menuju rumah induk.


"Kalian bertemu mas Arsya?" tanya Biana.


"Nggak ketemu tapi kata Mas Enzo ada di kota Dallas diajak bang Chris ke stadium Dallas Cowboys" jawab Lachlan.


"Dasar quarter back satu itu..." gumam Biana.


***


Raul masuk ke dapur dan melihat Lenna sedang membuat pie daging. Pria tampan itu tersenyum melihat gadis itu malah memakai jam tangan kesayangannya.


"Lenna..."


"Whaaaatttt !" jerit Lenna yang memang membelakangi pintu dapur. Gadis itu menoleh dan menatap judes ke Raul. "Don't ever do that again !" Lenna langsung memukul bahu Raul.


"Ya ampun, gitu saja kaget..." kekeh Raul.


"Kaget, Sapi !" umpat Lenna.


"Daripada keledai !" balas Lenna sambil memasukkan pie ke dalam oven.


"What ! Seriously Lenna !" Raul memilih sapi daripada keledai.


Lenna melirik judes ke arah pria yang tampak santai siang menjelang sore ini.


"Jam tangan ku ternyata pantas juga di pergelangan tangan kamu." Raul mengedikkan dagunya ke pergelangan tangan Lenna.


"Eh iya ! Sorry ..." Lenna pun melepaskan jam tangan itu.


"Pakai saja."


Lenna melongo. "Tapi Raul..."


"Pakai saja. Cocok kok buat kamu. Tenang, koleksi jam tangan aku banyak. Pakai kamu malah bagus" ucap Raul sambil bersedekap.


"Eh?" Lenna menatap bingung ke pria berwajah khas Italia Inggris itu.


"Pakai saja. Nanti kalau waktunya tepat, aku akan memintanya bersama pemiliknya..." senyum Raul membuat wajah Lenna memerah.


"Whaaaatttt..." cicit Lenna.


CUP !


Raul mencium kening Lenna. "Dipakai terus ya jam nya kecuali mandi dan tidur..."


Lenna hanya melongo tidak bisa berword-word dengan sikap Raul.


"Lenna? Yuhuuuu? Kamu nggak pingsan kan?" Raul menatap intens iparnya itu.


"Nggak pingsan... Tapi ... " Lenna langsung terduduk lemas membuat Raul terkejut.


"Oh crap ! Lenna ! Kamu nggak papa?" Raul membantu gadis itu duduk di kursi.


"Jangan bikin aku dag dig dug, Raul ! Jantungku itu lemah..." ucap Lenna dengan wajah sedikit memucat. Raul segera mengambil segelas air putih dingin dari dalam kulkas dan memberikan pada Lenna yang segera menghabiskannya.


Raul tertawa kecil melihat wajah panik bercampur malu Lenna yang menurut nya sangat menggemaskan apalagi dia tampak tangguh sebagai cowgirl tapi ternyata dia polos sekali.


"Raul ! Jangan tertawa !" hardik Lenna dengan wajah memerah.


"Kamu belum pernah dicium?" goda Raul.


Pipi Lenna semakin merah padam membuat Raul tahu itu jawabannya.


"Ya ampun, kamu kok menggemaskan sih..." kekeh Raul yang mendapatkan keplak di bahu oleh Lenna.


"So what !" pendelik Lenna galak.


"I'm the luckiest man, Lenna. So, jangan sampai hilang ya jam tangan aku.." senyum Raul sambil menepuk kepala Lenna lembut.


"Nggak bakalan hilang karena aku harus menggantinya dan ini limited edition. Susah carinya dude !" balas Lenna membuat Raul terbahak.


"Dude? So American!" goda Raul.


"Hei ! Apakah kamu tidak punya darah Amerika juga.. Mamamu kan warga negara Amerika."


"Well, aku lebih ke anak Turin daripada New Yorker..." balas Raul cuek.


"Raul ! Mau ikut buat api unggun nggak?" ajak Alano yang datang ke dapur. "Kita mau buat s'more. Tuh anak-anak sudah pada datang... Tunggu ... Ini bau gosong apa?"


Lenna menjerit heboh. "PIE AKUUUU !!!"


***



Raul Accardi


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️