
Ranch Milik Keluarga Rossi, Texas.
Buzz menyusul Bossnya yang sedang memberikan perintah kepada gaúchos atau Cowboys dari Amerika Selatan ( Argentina, Uruguay dan biasanya keturunan Spanyol dan Indian ) untuk mengumpulkan semua kuda-kuda milik Ranch. Bukan tanpa sebab Leonardo memberikan kepercayaan kepada para gaúchos itu karena mereka terkenal dengan skill nya menggiring dan melatih kuda liar.
Para gaúchos itu pun langsung menggiring kuda dari berbagai breed yang terpilih untuk kembali ke istal-istal ranch. Suara suitan dan siulan kode untuk menggiring terdengar ramai disana. Belum debu dan gonggongan anjing gembala peliharaan Leonardo yang berjumlah tiga ekor.
Tiga anjing Australian Shepherd yang dikenal sangat pintar menggiring hewan ternak, bersama dengan gaúchos, memerintahkan kuda-kuda itu kembali. Leonardo pun membantu mereka sedangkan Buzz memperhatikan keadaan Bossnya.
Setelah para kuda berkumpul dan bisa diatur untuk kembali ke ranch dengan diawasi para gaúchos dan tiga anjing gembala, Buzz mendekati Leonardo. Dua orang diatas kuda Thoroughbred itu tampak berdampingan di belakang rombongan.
"Boss... "
"Apa Buzz?"
"Boleh aku memberikan saran?" tanya Buzz.
Leonardo memiliki empat orang pegawai yang dia percaya. Buzz, Woody, Per dan Juan Manuel. Buzz adalah tangan kanan Leonardo yang bertanggung jawab atas ranch Rossi, Woody bertugas mengurus sapi Hereford, Angus dan Holstein yang merupakan sumber daging dan susu. Per sendiri bagian pengawas kambing-kambing sedangkan Juan Manuel penanggung jawab kuda-kuda terpilih Leonardo.
"Saran apa Buzz?" sahut Leonardo sambil melakukan suitan ke arah salah satu gaúcho nya karena ada kuda arabnya yang hendak keluar dari gerombolan.
"Jangan give up. Jika gadis itu seperti yang anda bilang, boss, dia wajib anda perjuangkan. Ayolah boss, demi kebahagiaan anda. Perjuangkan !" kompor Buzz. "Memang siapa sih Boss gadis itu?"
"Biana Pascal."
"Gadis Perancis?"
"Keturunan Perancis dan Spanyol dari ayahnya sedangkan ibunya ada keturunan Skotlandia dan Indonesia."
"Pasti cantik..."
"Sangat cantik... Duh semoga ayahnya tidak tahu aku membuat putri nya ngambek..." gumam Leonardo yang tidak terbayang Pedro Pascal menodongkan Glocknya lagi.
"Memang siapa ayahnya ?"
"Kepala Unit BAU FBI di Quantico..." Leonardo menerawang teringat bagaimana Pedro sangat over protektif ke Biana.
Buzz melongo. "Boss, berat boss. Bisa berabe kalau ayahnya tahu. Saranku, boss datangi miss Pascal. Bagaimana caranya lah boss, buat sampai Miss Pascal tidak ngambek lagi."
Leonardo terdiam.
"Boss, anda bisa menaklukkan banteng liar, jago Rodeo, pasti sanggup menaklukkan Miss Pascal."
"Begitu menurut mu?"
Buzz mengangguk. "Anda sangat sayang dengan Miss Pascal kan?"
"Banget !"
"Sudah bertemu dengan orang tuanya?"
"Sudah bertemu dengan ayahnya ... Pakai acara ditodong pula..." senyum Leonardo mengingat kekacauan di ruang kerja Pedro.
"Boss, anda bisa menghadapi ayahnya. Anda bisa menaklukkan putrinya."
Leonardo mengangguk.
***
Seminggu sudah Rania menghabiskan waktu liburnya di New York bersama dengan Rasendriya, Biana, Duncan dan Aslan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu di Poughkeepsie sambil membuang peluru.
Dan kini Rania terbang pulang ke London, sedangkan Biana sudah kembali ke Harvard University seperti biasa. Para generasi ketujuh pun beraktivitas seperti rutinitas mereka.
***
Apartemen Biana di Cambridge Massachusetts
Biana melepaskan kacamata anti radiasinya setelah lelah membuat tesisnya. Kepalanya sedikit pusing karena semua pekerjaannya membuatnya berpikir keras karena dia berusaha memecahkan teori yang belum terjawab lama.
Apakah konstanta Euler - Mascheroni dan konstanta Catalan, maupun konstanta Khinchin termasuk bilangan rasional, irasional aljabar, atau transendental? Berapa ukuran keirasionalan dari setiap bilangan-bilangan ini? Biana menatap rumus formula dari ahli matematika itu yang menjadi banyak perdebatan para intelektual lainnya.
Biana pun berjalan menuju dapur untuk mengambil es krim coklat yang ada di kulkasnya. Otaknya butuh hal-hal yang dingin agar tidak panas.
Gadis itu lalu mengambil kotak es krim nya yang berukuran 3 liter dan sendok dan duduk di kursi makan. Perlahan Biana menyuap es krim rum raisin vanilla favoritnya. Di kulkas nya ada banyak ukuran es krim favorit nya karena bagi Biana, es krim adalah sumber pendingin otaknya.
"Itu jadinya rancu deh rumusnya. Tidak linier dan tidak real..." Biana mengambil kertas di meja kerjanya dan bolpoin lalu mulai mencoret coret rumus itu mencari jawaban yang lebih masuk akal dan diterima para dosen penguji nya besok.
Suara bel pintu apartemennya berbunyi membuat Biana menghentikan pekerjaannya dan berjalan menuju pintu.
Gadis itu melihat Leonardo berada di depan pintu apartemennya dan membuat dirinya cemberut karena pria itu adalah orang yang sedang tidak ingin ditemuinya.
Tapi kalau tidak dibukakan, bakalan seharian di depan. Biana pun akhirnya membukakan pintu apartemennya dan wajah tampan Leonardo tampak tersenyum.
"Hai Biana..." sapa Leonardo ramah. "Belum makan siang kan? Aku bawakan..."
Biana melihat kantong makanan yang berasal dari restauran timur tengah terkenal di Massachusetts. "Kenapa kamu tahu aku belum makan siang?"
"Hanya menerka - nerka saja. Kamu kan sedang menyelesaikan tesis kamu..." Leonardo memperlihatkan kantong makanan. "Kamu suka masakan timur tengah kan? Ada nasi biryani, kebda iskandarani..."
"Masuklah ! Kamu macam tukang delivery makanan saja !" ucap Biana dingin membuat Leonardo semakin lebar senyumannya.
"Lho kan aku memang tukang delivery makanan khusus untukmu Bia.." Leonardo pun masuk ke dalam apartemen Biana yang tampak berantakan dengan berbagai kertas disana.
"Bia, ada Twister datang?" tanya Leonardo yang bingung karena biasanya apartemen gadis itu selalu rapi dan bersih.
"Iya, buat perhitungan rumus yang belum terpecahkan..." Biana lalu membereskan kertas-kertas yang berantakan. "Taruh saja di meja makan kantong makanannya."
Leonardo meletakkan kantong makanan diatas meja dan melihat kotak es krim yang agak mencair. Pria itu menutupnya lalu memasukkan ke dalam freezer. Leonardo melihat coretan rumus matematika yang sedang berusaha dipecahkan Biana diatas meja makan.
"Bia..."
"Hhhmmm..."
"Ini bukannya konstanta Euler - Mascheroni?" tanya Leonardo. "Bahan tesismu ini?"
"Hu um. Rasanya aku ingin membedah otak orang itu yang membuat teori memusingkan !" umpat Biana sambil meletakkan semua kertas diatas meja kopi.
Leonardo mulai menata piring dan gelas di meja makan membuat Biana melongo karena pria itu macam sudah biasa saja melakukannya.
"Makan siang dulu Bia..." ajak Leonardo.
"Kamu ngapain kemari ? Apakah ada pertandingan Rodeo? Jadi kamu main kesini?" Biana menatap judes ke Leonardo.
Pria bermata biru itu menghampiri Biana. "Aku tidak ada pertandingan Rodeo. Aku kemari untuk pertandingan ku sendiri."
"Apa maksudmu? Aku tidak paham..."
Pria itu berdiri di hadapan Biana dan keduanya sangat dekat. "Pertandingan ku sendiri adalah meminta maaf mu kesekian kalinya dan berusaha menaklukkan hatimu. Aku tahu aku salah main curi ciuman pertamamu dan aku sangat menyesal akan hal itu. Membuatmu kecewa dan marah tapi apapun akan aku lakukan untukmu Bia. Dan kejadian itu tidak akan terjadi jika tidak perasaan bermain di dalamnya. Aku mencintaimu Bia, sampai kapan pun."
Biana menatap Leonardo dengan tatapan bingung.
Yang merayu dosen cantiknya
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️