The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Bertemu Dengan Lenna Rossi



Ranch Rossi di Dallas Texas


Pagi ini Biana tiba di peternakan / ranch milik Leonardo dan menurut rencana akan menginap semalam. Sejak Pedro dan Rajendra memberikan restu, Leonardo merasa semakin bisa bebas menculik dirinya untuk kemana-mana. Beruntung dengan adanya libur weekend, Leonardo menjemput Biana di Harvard lalu membawanya ke Dallas.



Bau khas peternakan tercium di hidung Biana dan dirinya sudah pernah ke peternakan milik Oomnya Pahlevi serta milik Arsyanendra di Indramayu. Zinnia dan Sean memang membuat peternakan sapi perah, sapi potong, ayam, unggas dan kambing disana. Semua yang mengelola perusahaan milik Zinnia di bawah pengawasan PRC Group dan AJ Corp.


Dan gara-gara keusilannya, dirinya waktu kecil dikejar soang dan bebek hingga jatuh ke dalam sawah. Untung ada Arsyanendra yang laksana pangeran berjubah putih, menolong dirinya. Untuk pertama kalinya Biana menangis kencang bukan karena sakit digigit bebek tapi karena malu akibat ditertawakan oleh para buruh tani.


"Welcome to My Ranch. Mi casa es su casa ( rumahku rumahmu juga )" senyum Leonardo.


"Whoah... Luasnya. Mungkin sama dengan rach milik Oom Pahlevi di Kingaroy Queensland Australia" ucap Biana.


"Yuk masuk ke belakang" ajak Leonardo sambil menggandeng tangan Biana dan gadis itu melihat kuda-kuda yang bebas merumput. Biana juga melihat para Cowboys tampak mengatur ternak sapi disana.


"Wah kuda ! American Quarter?" tanya Biana.


"Bukan Bia. Brumby. Aku tidak tahu kamu paham jenis breed kuda..." puji Leonardo.


"Opa ku kan punya di Kastil..."


"Arabian, Friesian, Morgan dan Mustang. Breed yang sangat bagus, Bia. Aku malah ingin mengawinkan Morgan ku dan Morgan mu..."


Biana tampak surprised. "Whoah kamu punya berapa breed disini?"


"Sama dengan punya Opa Rajendra dan beberapa breed lainnya. Dengar Bia, ranch aku sangatlah luas jadi punya 100 ekor kuda, 100 sapi dan 100 kambing tidak masalah ... " Leonardo mengajak Biana berjalan lagi dan pria itu bersiul sambil melambaikan tangannya dan tampak seorang gadis diatas kuda di Padang lepas membalas lambaian tangan Leonardo.


"Lenna?" tanya Biana.


"Yup."


Gadis itu memacu kudanya dan menghampiri tempat Leonardo dan Biana berdiri di pagar.


"Haaaiiii ! Kamu pasti kak Biana ya?" seru gadis cantik yang wajahnya mirip dengan Leonardo. "Tunggu sebentar, aku turun dulu..." Lenna pun turun dari kudanya dan menalikan tali kekangnya.


"Halo Lenna" senyum Biana dan tiba-tiba Lenna memeluk Biana erat. Bau rumput, parfum dan kulit pelana tercium dari gadis itu. Sangat khas cowboy dan peternakan.


"Akhirnya bertemu juga dengan wanita yang membuat kakakku harus belajar matematika hingga mukanya penuh virus..."


"Rumus, Lenna ... " ralat Leonardo.


"Bagiku matematika adalah virus !" balas Lenna sambil mengurai pelukannya. "Yuk, kak Bia, kita makan ala cowboy!" Lenna menggandeng tangan Biana menuju rumah induk. "Kak Leo, tolong Maximus dimasukkan ke kandang..."


"Maximus? Apakah dari film The Tangled?" tanya Biana.


"Yup. Malah mirip kan?" kerling Lenna membuat Biana menoleh ke kuda putih itu.


"Arabian ?" tanya Biana.


"Bingo ! Wow, kak Biana tahu juga? Awesome..." puji Lenna. "Kak Leo memang tidak salah pilih... So, apalagi..."


"Opaku punya kuda-kuda terpilih, Lenna jadi aku hapal dan kudamu, so beautiful..." senyum Biana. "Oh apalagi keluarga aku di Dubai dan Australia... Mereka sangat horse enthusiast..."


"Berarti kak Bia bisa tinggal disini ... Kak Bia takut darah nggak?" tanya Lenna sambil masuk ke dalam rumah yang langsung menuju dapur. "Aku masak roti jagung, beef stew, sosis bakar dan es teh. Duduk kak Bia..."


Biana pun duduk di kursi kayu yang sangat country bahkan interiornya pun mengingatkan Biana di film-film khas Southern.



"Dapurmu cantik. Mengingatkan dapur di kastil McCloud..." ucap Biana.


"Kata kak Leo, kak Bia punya kastil?" tanya Lenna sambil meletakkan panci stew.


"Aku bantu Lenna..." tawar Biana.


"Eh tapi... "


"Kamu duduk manis lah... Biarkan Lenna heboh sendiri" kekeh Leonardo saat masuk ke dalam dapur itu. "Lenna ! Maximus ngajak gelut ! Dia tidak mau masuk kandang."


"Soalnya dia baru sebentar aku ajak jalan-jalan jadi dia mutung deh !" sahut Lenna sambil meletakkan roti jagung diatas meja.



"Yuk makan. Aku lapar" ucap Leonardo. "Tahu sendiri Bandara ke ranch butuh waktu hampir dua jam."


"Ayo makan. Aku tahu aku bukan chef macam opanya kak Biana tapi aku harap masakan aku enak..." senyum Lenna sambil menuangkan es teh ke gelas Biana. Gadis itu lalu meletakkan beef stew dan roti jagung di piring Biana. Lalu ke piring Leonardo dan terakhir piringnya sendiri.


"Mari makan..." senyum Biana sambil menyendok beef stew nya. "Mmmm... Ini enak banget!"


"Benarkah? Beef stew nya tidak overcooked?" tanya Lenna.


"No, ini pas semuanya. Kamu pintar memasak Lenna" puji Biana.


Leonardo tersenyum mendengar percakapan Biana dan adiknya.


"Acara hari ini apa kak Leo?" tanya Lenna.


"Membuat trauma Biana ke bebek dan angsa hilang. Kamu tahu, dulu Biana sampai terjun bebas masuk ke dalam sawah padi, gara-gara dikejar bebek saat liburan ke Indonesia..." seringai Leonardo membuat Biana melongo.


"Bagai... Bagaimana kamu tahu soal itu?" Biana menatap tajam ke arah Leonardo.


"Masuk ke dalam sawah? Kak Bia umur berapa itu?" tanya Lenna yang tiba-tiba tertarik dengan cerita aib itu.


"Elementary School kan Bia? Lalu Prince Arsyanendra membawamu keluar dari lumpur sawah itu... " goda Leonardo lagi.


"Oh my God, Prince Arsyanendra itu saudaranya kak Biana? Oooohhh itu cowok ganteng banget!" ucap Lenna.


"Dia sudah punya calon istri" jawab Biana judes sambil tetap menatap Leonardo. "Katakan, siapa yang bercerita? Akan aku hajar !"


"Kalau aku bilang siapa, apakah yakin kamu akan menghajar nya?" Leonardo menatap mata biru Biana dengan wajah jenaka.


Biana terkesiap. "Noooo... Jangan bilang ayahku sendiri yang mengatakan padamu! Dasar chief BAU satu itu ! Bisa-bisanya mengatakan aib ku padamu !"


"Yup, Supervisory Special Agent Pedro Pascal lah yang menceritakan padaku soal phobia bebekmu, Biana. Namanya Anatidaephobia istilahnya..." senyum Leonardo.


"Aku tidak Anatidaephobia, singa gurun ! Aku hanya takut pada bebek !" balas Biana.


"Itu juga termasuk Biana..."


"Aku bisa melihat bebek tapi tidak mau dekat-dekat... Dan aku tidak takut berlebihan !" bantah Biana.


"Mari kita coba nanti usai makan... " senyum Leonardo. "Aku akan menemanimu Biana."


Lenna menatap pasangan itu dengan tatapan geli. "Kapan kalian menikah? Aku selalu ingin melihat kalian heboh sendiri."


Leonardo dan Biana menoleh ke arah Lenna.


"Whaaaatttt?"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️