
Kediaman Keluarga Pascal di Maryland
Biana menatap wajah garang ayahnya dan wajah datar ibunya saat mereka sudah tiba di rumah mereka di Maryland. Sepanjang perjalanannya, Pedro dan Nadira tidak berbicara dengan Biana yang membuat gadis itu memilih ikut diam daripada nanti salah salah ada api naga menyembur.
Padahal kan aku tidak tidur bareng singa gurun, sama sekali. Aku tidur dengan Lenna... Biana pun berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Bia..." panggil Pedro Pascal membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Yes Daddy" jawab Biana sambil berbalik dan berjalan menuju ayahnya.
"Duduk !"
Biana pun menurut. Meskipun Biana tampak slengean dan seenaknya sendiri, tapi gadis itu sangat menghormati kedua orangtuanya. Dan dia tahu saat ini posisinya salah karena liburan ke rumah pacar / tunangan lama.
"Alisha dan Richard menikah bulan depan. Kamu kapan sama Leo? Apa menunggu kamu mendapatkan surat pindah dari Harvard ke Dallas University?" tanya Pedro. "Atau kamu memilih menjadi ibu rumah tangga?"
Biana tergagap saat ditanya rencana masa depannya dengan Leonardo. Memang dirinya dan Leo sempat membicarakan apa rencana mereka tapi masih sebatas wacana. Biana tahu, ayahnya adalah tipe orang yang selalu punya rencana cadangan. Kamu memang punya plan A tapi kamu harus ada plan B sampai Z agar tidak membuat kamu kelimpungan.
"Aku baru mau rencana pindah ke Dallas. Dan mungkin akan menjadi dosen tidak tetap Dad, sebab aku ingin menikmati hidup berumahtangga... Daddy kan tahu aku sudah kuliah dari usia 14 tahun dan sekarang mau 24 tahun... Apa Daddy tidak keberatan aku hanya jadi dosen tidak tetap?" Biana menatap Pedro takut-takut.
Nadira yang datang sambil membawakan secangkir kopi untuk Pedro, tersenyum mendengar ucapan putrinya.
"Mommy malah senang kalau kamu sudah menentukan jalan hidupmu. Ternyata tinggal di peternakan tidak jelek kan Bia?" goda Nadira.
"Aku ingin refreshing dari matematika... Bukannya aku tidak suka jadi dosen ... Tapi aku ingin tahu luar dalam bisnisnya Leonardo. Kata Lenna, ini memang pekerjaan 24 jam dan sedikit beristirahat... Dan mungkin setelah menikah aku lebih berotot karena melempar tumpukan jerami?" cengir Biana.
"Bicarakan sama Leo. Daddy tidak mau melepas kamu ke Cowboy cengeng itu kalau tidak kejelasan kalian mau bagaimana ke depannya!" ucap Pedro final membuat Nadira dan Biana saling berpandangan.
"Daddy mu takut kehilanganmu tuh Bia. Sama kan rasanya waktu dulu kamu minta aku sama Daddy dan Opa Juna?" goda Nadira membuat Pedro tersedak.
"Siapa bilang ? Aku hanya ingin Bia dan Leo itu nggak salah planning ! Itu saja" elak Pedro membuat Biana melengos.
"Dad, apa Daddy lupa aku bacaannya apa dari kecil? Buku psikologi Daddy. Jadi aku tahu Daddy bohong atau tidak... Sedikit banyak aku bisa memprofiling seseorang lho..." balas Biana gemas karena Pedro seolah tidak mau jujur dengan perasaan takut ditinggal anak wedhok.
Pedro pun manyun karena putrinya menggoda dengan caranya profiling.
***
Brussels Belgia Sebulan Kemudian
Richard dan Alisha akhirnya melakukan ijab qobul di sebuah istana yang cantik di Brussels. Dan semua generasi ketujuh pun heboh saat Chris mengulang kembali lamaran ke Rania di depan para anggota keluarganya saat acara resepsi.
Leonardo dan Biana hanya menggelengkan kepalanya melihat adegan Membagongkan dari keduanya.
"Itu si Chris mau lamaran berapa kali sih?" kekeh Leonardo karena tahu sudah melamar sebulan sebelumnya di stadium Dallas Cowboys.
"Mungkin karena mereka lamaran sendiri macam kita, jadi biar afdol, diulang lagi" senyum Biana.
"Kata Oom Pedro, kamu mau mengambil posisi dosen lepas di Dallas University? Kenapa? Bukankah menjadi dosen itu passion kamu?" tanya Leonardo sambil merangkul pinggang Biana.
"Memang kamu bilang apa sama Daddy?"
"Well, asal kamu tahu Bia, aku dan Daddymu sering bertelepon usai kita bertunangan. Dan aku memang bilang tidak akan mengekang kamu menjadi dosen. Bahkan aku akan mengantarmu berangkat mengajar jika kamu menjadi dosen disana..." Leonardo menatap tunangannya. "Tapi apa benar kamu mau melepaskan semuanya dan menjadi dosen lepas?!"
Biana mengalungkan tangannya di leher Leonardo. Gadis yang mengenakan gaun model Sabrina berwarna peach dengan perhiasan seserahan itu menatap tunangannya serius.
"Aku ingin menikmati peran menjadi istri kamu, tahu nggak? Sepuluh tahun aku hidup di dunia akademik dan sekarang, aku ingin refreshing... Aku ingin bersama suamiku, berkuda bersama dan ... " Biana mencium bibir Leonardo. "Bantu aku biar bisa dekat dengan Hercule Poirot."
Leonardo terbahak. "Ya ampun Bia, malah bebek kamu ributin?" kekeh pria itu sambil mempererat pelukannya.
"Iya lah! Kamu tahu kan aku suka main bareng anak angsa mu dan si Hercule kepo ingin lihat tapi dipegang tidak mau!" sungut Biana mengingat bebek bewarna coklat dan hijau itu.
Singa Gurun
Biana Pascal
***
"Kamu tuh lhoooo... Kan sudah lamaran di stadium, kenapa lamaran lagi disini sih? Tuh cincinnya jadi dua kan?" Rania menunjukkan jari manisnya yang sudah ada dua cincin. "Mau pasang berapa lagi?"
"Lha emang kenapa aku kasih banyak cincin ? Kan biar kamu tetap terikat sama aku, Rania" cengir Chris Armstrong.
"Dasar Demit ! Kebanyakan cari pesugihan !" sungut Rania judes.
"Hah? Apa itu pesugihan? Jangan bilang urusan jelek lagi... " Chris memicingkan mata birunya.
"Yah... Karena kamu demit jadinya jelek melulu..." Rania terdiam setelah Chris mencium bibirnya panas. Setelahnya gadis itu mengerjap-ngerjap kan matanya kaget.
"Biar diam mbak Kunti..." kekeh Chris.
"Kalian berdua itu kok panggilannya gadha manis-manisnya sih!"
Chris dan Rania menoleh dan melihat Arsyanendra dengan istrinya Violet yang sedang hamil muda tersenyum geli melihat keduanya heboh sendiri.
"Mas Arsya..." cengir Rania Sambil memeluk kakak sepupunya. "Mbak Vio, congratulations..."
"Terimakasih..." senyum Violet.
"So, kapan kalian akan menikah?" tanya Arsyanendra.
"Nunggu demit selesai superbowl. Kan setelah final, baru kita menikah. Ya kan Demit?" Rania menoleh ke arah Chris Armstrong.
"Iya your highness. Habis superbowl..." jawab Chris.
"Terus kalian akan tinggal di Dallas?" tanya Arsyanendra.
"Kemungkinan besar dan aku akan pindah ke rumah sakit di Dallas, bekerja disana." Rania menatap Chris.
"Kamu jadi dokter pribadiku saja Rania... Aku tidak ikhlas tanganmu pegang pria lain..." goda Chris.
Arsyanendra dan Violet terbahak. "Mulai deh posesif nya keluar..." kekeh Arsyanendra.
"Lho posesif itu wajib your highness, benar kan?" ucap Chris sambil memeluk Rania erat dan mencium pelipisnya.
"Ampun deh..."
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️