
RR's Meal London, ruang kerja dan meeting Eagle. McCloud
"Manly? Manly?" pendelik Rania. "Apa nggak ada kata lain?"
"Lho aku kan cowok sendiri disini, bagaikan mantan perjaka di sarang perawan... Addduuuhhh!" Chris mendelik ke arah Biana yang menendang kakinya keras.
"Ada anak di bawah umur ! Mulut dikondisikan !" hardik Biana sambil melotot.
Elfesya cekikikan melihat keributan kakak-kakaknya ke pria bermata biru itu. "Bang Chris, sabar ya."
"Sudah sabar dari dulu, Fesya. Eh boleh kan aku manggil begitu?"
"Iya, panggilanku Fesya" jawab Elfesya sambil tersenyum manis.
"Rania, kenapa adik-adik mu cantik-cantik semua sih? Duh, jiwa kakak lelaki aku makin berkobar deh..." ucap Chris sambil menatap lembut ke Rania.
"Yakin kamu mau jadi kakak mereka? Ini baru sebagian kecil yang ada. Kamu belum bertemu kami semua... Yang ada kamu depresot !" sahut Rania cuek.
"Depresot?" Chris menatap Rania bingung.
"Beyond depresi" jawab Elfesya.
"Oooohhh... Masa sih aku bakalan depresi menghadapi para adik-adik perempuan kamu?" Chris menatap ke ketiga gadis di hadapannya dengan tatapan tidak percaya.
"Sebenarnya bukan ke depresi sih, Chris tapi lebih menjurus ke pening dan bakalan bikin kamu harus beristighfar banyak-banyak" jawab Alisha.
"Istighfar? Apaan itu?" tanya Chris.
"Kalau kamu memang mau sama mbak Rania, Abang harus belajar keyakinan kami. Itu syaratnya... " sahut Elfesya.
Chris menepuk jidatnya, dia lupa akan hal penting itu. "Aku harus belajar sama siapa?"
"Noh singa gurun !" celetuk Biana. "Kan dia keyakinannya sama dengan kami."
"Leonardo Rossi maksudmu Bia? Kamu sudah jadian sama cowboy itu?" tanya Chris.
"Well, masa percobaan. Cocok Alhamdulillah, kagak ya aku cari yang lain" jawab Biana cuek. Rania terbahak mendengar ucapan sepupunya yang sebaya dengannya.
"Nggak yakin Bia dan Leo akan berpisah. Apalagi Leo sama dengan Bia, penggemar matematika. Ya kan?" goda Rania. "Tesis mu saja dibantu sama Leonardo."
Alisha dan Elfesya menoleh ke arah Biana yang dengan santainya makan saladnya. "Iya mbak? Tesismu dibantu sama Leonardo?" tanya Alisha.
"Lha dia mau bantuin, kenapa tidak dimanfaatkan?" balas Biana.
"Astaghfirullah... " kekeh Elfesya.
"Oke kita kembali ke topik. Aku kan sudah sama Rania..." ucap Chris yakin.
"Ngadi-ngadi ih demit !" protes Rania.
"Biana sudah sama si tukang Rodeo itu, Your Highness sudah dengan pangeran Richard... Fesya? Tipe pria idaman kamu? Aku tahu kamu baru ABG tapi setidaknya sudah punya bayangan..." Chris menatap gadis blasteran itu serius.
"Demit, kamu ngapain nanya-nanya soal itu ke Fesya?" Rania menatap Chris bingung.
"Karena Rania sayang, jika pria itu kurang ajar dengan Fesya, aku sendiri yang akan menghajarnya sendiri !" jawab Chris tegas. "Apa kamu tidak sadar bahwa jiwa kakak lelaki aku sedang on the mood and on fire?"
Biana dan Alisha terbahak melihat wajah dongkol Rania ke Chris karena pria tampan semakin mengadi-ngadi.
"Kamu begitu yakin bakalan menjadi ipar mereka semua ya Demit?" ucap Rania judes.
"Hei, Dokter Joey Bianchi sudah memberikan aku ijin pacaran denganmu, bahkan ijin menikah pun sudah ada di tangan beliau. Bukankah kalau Dokter Bianchi sudah bertitah, kedua orang tuamu juga tidak bisa melawan dan membantah bukan?" jawab Chris jumawa membuat Rania memicingkan matanya kesal.
"Kamu mau kemana?" tanya Biana.
"Rumah sakit ! Alex Darling babak belur akibat melerai Hooligans antara Arsenal dan Chelsea."
***
Royale Hospital London
Rania hanya bisa menghela nafas panjang melihat kacaunya IGD akibat banyak korban terluka akibat tawuran antara supporter klub sepakbola. Entah apa yang terjadi, tapi ini kali pertama terjadi kerusuhan setelah sekian lama tidak ada kejadian seperti ini di Inggris Raya.
Rania yang ditemani Chris, bergegas mencari Alex Darling dan berhasil menemukannya dalam kondisi terkapar dengan banyak perban dan memar di tangan serta wajahnya.
"Darling? Mana yang sakit?" tanya Rania sambil memeriksa tubuh super Intendant Scotland Yard itu.
"Sakit...semua..." jawab Alex lirih.
Rania memeriksa apakah ada luka tusuk atau apapun dan gadis itu bersyukur karena hanya luka akibat pukulan.
"Kepalamu kena?" tanya Rania.
"Aku pakai helm Rania... Aku sedang pulang habis shift aku dan... Naik motor saat mendengar kerusuhan di Stamford Bridge... Aku kesana membantu aparat ... Malah aku seperti ini..." jawab Alex Darling.
"Dokter Bianchi ! Tolong bantu !" suara seorang suster membuat Rania menoleh.
"Oke !" jawab Rania. "Demit, kamu jaga Alex ya. Aku bantu mereka dulu" pamit gadis itu sambil menepuk pipi Chris.
"Ran ..." panggil Chris.
"Apa?" Rania menoleh ke arah Chris.
"Semangat!" senyum Chris membuat Rania ikut tersenyum.
"Thanks Demit..." balas Rania sambil memberikan kiss bye dengan tangan nya lalu menuju IGD.
Chris tersenyum lebar saat Rania begitu ekspresif.
"Kamu macam orang gila senyum-senyum sendiri, lads" ucap Alex Darling.
"Memang ! Aku tergila-gila dengan dokter bar-bar itu" jawab Chris. "Jangan kamu rebut! Awas !"
Alex Darling tersenyum smirk. "Kami tidak ada chemistry, Chris. Lagipula mata Rania coklat sedangkan aku suka wanita bermata biru..."
"Ah syukurlah... Aku akan minta Rania jangan memakai softlens biru sampai kapanpun... "ucap Chris cuek.
"Buat apa Rania memakai... Softlens biru? Mata dia normal... Memang kenapa kalau Rania memakai softlens biru?" Alex menatap bingung ke pria yang duduk disebelahnya.
"Karena kamu bisa jatuh cinta padanya, Lex!" balas Chris judes.
Alex Darling tertawa tapi setelahnya mengernyitkan dahinya karena badannya sakit semua.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️