
Apartemen Biana di Oxford Inggris
Biana tampak pusing dengan isi tesisnya yang berisikan tentang inkonsistensi dan logika dalam linier matematika. Gadis itu menatap sebal ke semua rumus yang sudah dia usahakan masuk ke dalam tesisnya namun sepertinya ada yang tidak cocok.
"Aaaarrrggghhhh! Masa ya kudu minta Sheldon Cooper, Leonard Hofstadter, Howard Wolowitz dan Raj Khootrappali ? Adanya Oom Raj Rao tapi jadi dokter bedah ! Aku benciiii !" teriak Biana sambil menyebutkan semua karakter di sitcom klasik The Big Bang Theory.
Gara-gara Oom Shinichi nya dan Oom Sadawira yang penggemar sitcom itu, membuat Biana jadi penggemar keempat geek nerd koplak karakter tersebut dan karena itulah dia menjadi suka matematika serta fisika.
"Duh otakku !!!!" keluh Biana yang merasa dirinya tidak bisa berpikir.
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Biana menoleh dan bergegas membuka nya. Tampak Leonardo berdiri di depannya dengan wajah cemas.
"Kamu nggak papa? Kenapa teriak-teriak?" tanya Leonardo.
"Nggak papa singa gurun, hanya kesal saja. Kenapa?" balas Biana yang kemudian terkejut karena tangannya ditarik oleh Leonardo.
"Sini. Duduk manis." Leonardo membawa Biana ke ruang tengah lalu dirinya menyetel Netflix dan mencari sitcom The Big Bang Theory. "Siapa tahu kamu menemukan ide dari sini."
"Seriously singa gurun ! Ini sudah jam sepuluh malam dan aku harus tidur karena besok mengajar." Biana menatap tajam ke Leonardo.
"Nonton saja dulu. Nanti mood kamu akan lebih baik..." senyum Leonardo sambil berdiri untuk membuatkan popcorn.
Tak lama pria itu mendengar suara tawa Biana saat menonton kekonyolan tokoh Sheldon Cooper dan Leonard Hofstadter. Leonardo pun ikut duduk di sofa sambil membawakan popcorn yang baru jadi dan dua botol teh dingin.
"Thanks singa gurun..." ucap Biana.
"Sama-sama sayang..."
Keduanya pun asyik nonton sambil tertawa bersama saat melihat adegan yang lucu.
***
Royale Hospital London
Rania tampak terkantuk-kantuk saat berjaga di ruang IGD meskipun sudah minum kopi keduanya. Gadis itu pun merenggangkan punggungnya sedangkan suster Amy yang menjadi partnernya masih sibuk memperhatikan pasien yang datang dan sudah ditangani Rania.
"Suster Amy, aku ke mengecek pasien - pasienku dulu ya. Gabut aku !" ucap Rania sambil menuju area pojok meja suster.
"Silahkan dokter Bianchi."
Rania pun berjalan menuju komputer yang mengarsipkan semua pasien-pasiennya dimana dia akan mengadakan visite pada esok pagi.
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dan Rania bisa mendengar keributan di pintu masuk IGD.
"Raniaaaaa!"
Rania Bianchi Prasetyo
Rania pun menoleh dan melihat Alex Darling bersimbah darah. Dokter itu bergegas menghampiri Alex.
"What happened? Ini darah mu ? Kamu terluka dimana ?" tanya Rania panik.
"No, no, ini bukan darahku Rania... Ini darah David !" ucap Alex.
Rania melihat David mengalami luka tusuk di berbagai tempat dan segera membantu dokter dan suster yang memegang pertama.
"Bawa ke ruang operasi ! NOW !!!" teriak Rania.
***
Alex Darling menyandarkan kepalanya di tembok rumah sakit sambil memejamkan matanya. Di tangannya, dia memegang cup kopi yang dibelinya dari mesin pembuat kopi rumah sakit.
Pria itu tidak menyangka, anak buahnya yang juga detektif andalannya, mengalami hal seperti ini. Alex tidak hentinya berdoa agar David selamat apalagi dia mendengar pria itu mengalami lima luka tusukan. Entah mengenai apa saja tapi Alex yakin pasti mengenai aorta yang mengakibatkan pendarahan hebat.
Suara pintu operasi terbuka membuat pria itu menoleh dan melihat Rania keluar dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Alex pun sudah merasakan hal yang buruk akan terjadi.
"Bagaimana..."
Rania menatap Alex Darling dengan wajah sedih. "I'm sorry, Darling... David tidak selamat..."
Alex Darling pun menangis dan Rania langsung memeluk pria itu.
"I'm sorry Alex... Salah satu tusukannya mengenai aorta jantung dan itu yang membuatnya tidak selamat... " ucap Rania pelan.
Alex Darling pun menangis lebih keras dan malam itu Rania harus menemani teman debatnya yang kehilangan rekan kerjanya.
***
"Ditusuk istrinya? Bagaimana bisa?" tanya Rania usai Alex Darling bisa tenang.
"David memang memiliki istri yang sedikit gangguan kejiwaan tapi pria itu tidak mau menceraikan ataupun membawanya ke rumah sakit jiwa. Dan tadi, Mary melihat David pulang bau parfum wanita padahal kami tadi memang ada acara bersama dengan seorang artis dan wajar jika harum parfumnya menempel karena kami mengawalnya..." Alex menarik nafas dulu sebelum melanjutkan.
Rania memegang tangan pria itu seolah memberikan kekuatan padanya.
"Dan... Mary mengajak David bertengkar dan kemudian dia mengambil pisau dapur... Lalu menusuk David..."
"Bagaimana kamu bisa datang secepat ini...?" tanya Rania.
"Akulah yang mengantarkan David pulang dan baru berjalan 500 meter, seorang tetangga David memanggil polisi dan tentu saja aku mendengar dari radio ku bukan? Kejadian itu sangat cepat Rania. Dan ambulans datang bersamaan dengan aku datang karena aku harus memutar dulu karena aku sudah masuk jalan satu arah."
"Dan kamu mengawalnya kemari" ucap Rania.
Alex Darling mengangguk.
"Bagaimana dengan Mary ?"
"Sudah ditahan dan aku yakin, dia akan mengatakan bahwa dia mengalami gangguan jiwa agar bebas dari jerat hukuman yang berat..."
"Tapi dia membunuh seorang anggota kepolisian aktif, Darling. Dia tidak bisa lepas begitu saja!" geram Rania.
"Tentu saja !" balas Alex Darling.
"Good !"
***
Oxford University
Leonardo mengeyel untuk mengantarkan Biana ke kampusnya dan setelah berdebat, akhirnya gadis itu mengalah. Leonardo dengan cueknya menggandeng tangan Biana, membuat banyak orang melihat dosen matematika dari Harvard University itu ternyata sudah punya kekasih.
Mereka berdua pun tiba di ruang dosen dan Leonardo tanpa malu mencium bibir Biana di depan para dosen termasuk Alan Curry yang melongo melihat pria bertubuh tegap dan kekar mencium gadis incarannya.
"Selamat bekerja" senyum Leonardo setelah mencium bibir Biana yang meninggalkan wajah merah disana.
"Thanks Leo, sudah mengantarkan aku" jawab Biana malu karena pria itu benar-benar definisi action first... Setelahnya embuh !
"Aku akan tunggu di cafetaria sambil bekerja ya?" ucap Leonardo sambil menepuk tali tas punggungnya.
"Oke."
Leonardo mengangguk ke semua orang disana sebelum pergi meninggalkan Biana. Tentu saja semua orang heboh ingin tahu siapa pria itu dan Biana hanya tersenyum manis.
Tapi tidak dengan Alan Curry yang bergegas keluar ruang dosen dan mengejar Leonardo.
"Yo Mate !" panggilnya membuat Leonardo menoleh.
"What's up Dude?" balas Leonardo santai.
"Kamu siapanya Miss Pascal?" tanya Alan Curry tanpa basa basi. Dosen matematika itu tampak tidak ikhlas melihat Biana dicium oleh pria lain di depannya.
"Aku calon suaminya Doktor Pascal. Puas?" jawab Leonardo tegas.
Alan Curry melongo.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️