
Carson Beach, Massachusetts
Setelah menempuh waktu sekitar enam puluh menit karena Leonardo mengajak membeli banyak makanan untuk mereka piknik, akhirnya keduanya tiba di pantai carson. Pantai yang open public, berpasir putih dan sepi dari pengunjung, adalah pilihan Leo untuk menikmati acara sunset bersama Biana.
Biana menggelar kain piknik sedangkan Leonardo membawa keranjang piknik yang dibelinya secara mendadak tadi. Sebenarnya kalau tidak pakai acara membeli makanan dan berbelanja peralatan, mereka tiba di pantai sekitar sepuluh sampai lima belas menit.
"Suka ke pantai, Bia?" tanya Leonardo yang suka cuacanya menjelang musim dingin. Baginya pemilihan waktu usai musim panas, sangat tepat karena tidak banyak orang yang datang.
"Suka kalau nggak sama kamu..." jawab Biana judes.
"Duh Bia... Memang ada masalah apa sih sama aku?" goda Leonardo sambil mengerjap-ngerjap kan matanya.
Biana menyipitkan matanya... "Kamu menyebalkan !"
"Biana, aku tuh ganteng, punya ranch, jago Rodeo, punya uang, punya..."
"That don't impress me much ( itu tidak menarik aku ) !"
"Kok macam lagunya Shania Twain" gumam Leonardo dengan cueknya.
"Dasar ka..." Suara notifikasi ponsel Biana berbunyi dan gadis itu membaca pesan disana lalu gadis itu tertawa kecil. "Dasar Indy !"
"Siapa Indy?" tanya Leonardo dengan nada cemburu.
"Indiana Blair, anaknya Oom Nelson dan Tante Marisol. Biasa dipanggil Indy. Oom Nelson kan penggemar film Indiana Jones."
"Cowok?"
"Cowok lah ! Baru usia sebelas tahun."
"Memang dia ngapain?" tanya Leonardo.
"Indy itu papanya pengacara mamanya jaksa penuntut umum. Dan tadi di sekolah, Indy mencecar temannya yang memfitnah sahabatnya. Anak itu langsung keluar deh ilmu hukum nya termasuk hukuman penjara" gelak Biana. "Kayaknya besarnya bakalan mirip Oom Nelson deh. Jadi pengacara..."
"Kalau aku lihat dia bakalan jadi jaksa penuntut umum. Berani mencecar temannya" komentar Leonardo.
"Pasti tidak jauh-jauh dari dunia hukum" senyum Biana.
"Bia... Kalau kita paca..."
"Nggak !"
"Tapi ini sudah termasuk Ken..."
"Bukan kencan ya singa gurun !" potong Biana judes.
"Ah, aku anggap kencan kok ..." jawab Leonardo cuek sambil dengan santainya merebahkan kepalanya di paha Biana.
"Seriously Leo ! Pahaku bukan bantal !" Biana hendak menyentak kepala Leo tapi pria itu bergumam pelan.
"Sebentar saja Bia. Aku capek nyetir motor dua hari..." ucap Leonardo sambil terpejam.
"Yang nyuruh siapa?"
"Nggak ada yang nyuruh, aku sendiri yang mau..."
"Ya itu namanya resiko ditanggung penumpang, singa gurun !"
"Bia..."
"Hhhmmm..."
"Kamu kenapa sih nggak mau pacaran sama aku?"
"Orang ga mau kok dipaksa?"
"Mau dong Bia. Kamu tidak bakalan aku kecewakan kok..."
"Dengar singa gurun... Aku bilang tidak mau ya tidak mau."
"Tapi aku mau pacaran sama kamu..."
"Lha kan kamu Bambaaaanngggg !" umpat Biana kesal.
"Siapa itu Bambang?" Leonardo membuka mata biru nya dan menatap Biana curiga. "Laki kah?"
"Mana ada nama Bambang cewek kecuali pakai Bambangwati !" balas Biana judes.
"Siapa itu Bia?" Leonardo bangun dari tidurnya. "Pacarmu?"
Biana tersenyum licik. "Iya, pacar gue. Di Indonesia !" Maaf Tante Shayna, aku pinjam nama Oom Bambang dulu. ( Baca Romeo Untuk Juliet ).
"Kan aku sudah bilang nggak mau pacaran sama kamu ! Kamunya saja yang super ngeyel ! Kenapa sih?" Biana menatap jengkel.
"Karena aku sayang dan cinta kamu Bia ! Yakin deh pacarmu yang namanya Bambang itu tidak bakalan setia sama kamu juga !"
BUGH !
"Aduuuuhhhh... Biana !" Leonardo mengusap bahunya.
"Aku pulang ! Kamu nggak usah antar!" Biana pun berdiri dan meninggalkan Leonardo tapi pria itu menarik tangannya, membuat gadis itu terjatuh diatas tubuh Leonardo.
Leonardo lalu menggulingkan tubuh Biana sambil memeluk dan mengungkungnya. "Biana..."
Mata biru abu-abu Biana menatap mata biru Leonardo dengan tatapan terkejut dan sedikit panik. "Leo..." Biana berusaha melepaskan diri tapi tubuh Leonardo lebih besar dan lebih kuat.
"Putuskan Bambang... Pacaran sama aku..." wajah Leonardo semakin mendekati wajah Biana yang tampak panik.
"Kamu gila !" umpat Biana.
"Yes ! I'm so crazy in love with you..." Bibir Leonardo lalu menempel di bibir Biana yang kemudian Melu*matnya membuat gadis itu terkejut.
Disaat Biana tampak berpikir, Leonardo merubah ciumannya menjadi lembut dan bermain dengan lidahnya di dalam mulut gadis itu. Biana yang belum pernah berciuman secara intimate seperti itu, terhanyut dalam sikap mesra Leonardo.
Bibir Leonardo lepas dari bibir Biana yang merasa ada rasa kehilangan namun gadis itu tidak bisa berpikir lagi saat Leonardo mencum*Bu ceruk leher Biana membuat nafasnya berantakan.
"Stop... " pinta Biana dengan nada bergetar.
"Bia..."
"STOP !" Biana lalu mendorong Leonardo sekuat tenaga dan ketika pria itu terhuyung ke belakang, dengan sekuat tenaga Biana meninju wajah pria itu hingga tersungkur.
Leonardo memegang rahangnya yang terasa sakit akibat ditinju Biana. "Bia... "
"BRENGSEEEKKK !" Biana pun berdiri dan mengambil tasnya. "Tidak usah kamu antar ! Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi !"
Gadis itu berdiri dan ketika berjalan beberapa langkah, Leonardo berteriak.
"Bia, maafkan aku. Maaf kan aku yang sudah mengambil ciuman pertama kamu..." Leonardo menengok ke belakang dan melihat Biana berdiri membelakanginya.
Gadis itu seolah tidak mendengarkan dan memilih tetap berjalan meninggalkan Leonardo. Biana memesan Uber yang tidak lama datang lalu pergi dari pantai itu untuk kembali ke Harvard University.
Ditinggalkan Biana, Leonardo duduk diatas kain piknik dan meminum coke nya lalu mengambil rokok dan mulai menyalakan batang nikotin itu. Perasaan pria itu kacau balau. Satu sisi dirinya sangat senang bisa mencium Biana bahkan dirinya lah yang pertama bagi gadis itu tapi sisi lain, dia merasa sudah menyakiti Biana karena sikap pemaksanya.
Alamat gadis itu marah besar. Leonardo menghembuskan asap rokoknya dan menatap matahari terbenam. I'm sorry Biana.
***
Apartment Biana di dekat Harvard University
Biana menatap pemandangan area Harvard University dari balkon apartemen nya sambil menikmati hot chocolate yang selalu membuatnya tenang. Gadis itu sudah cukup lelah menangis tadi di kamar mandi sambil berusaha membersihkan semua jejak dari Leonardo, apalagi dia melihat jejak merah di lehernya yang putih.
Biana menghela nafas panjang berulang kali, merasa dirinya bodoh bisa terjebak dan terpengaruh dengan stupid kiss dari pria Texas itu.
Bahkan singa gurun tahu aku belum pernah berciuman dengan siapa pun. Biana merasa kesal tapi dirinya juga tahu kalau dia tidak bisa membela diri padahal memiliki kemampuan berkelahi seperti halnya semua anggota keluarga besarnya.
"Bodoh kamu Bia ! Bodoh !" umpat Biana berulang kali memaki dirinya sendiri.
Suara dering ponselnya, tidak dia gubris karena tahu siapa yang menelponnya. Biana memilih untuk memejamkan matanya diatas kursi malas balkon apartemen nya.
***
Leonardo berdiri di seberang gedung apartemen Biana dan melihat gadis itu berada di balkon dengan wajah muram yang berada di lantai dua. Pantulan cahaya lampu memperlihatkan bagaimana mata Biana tampak sendu dan Leonardo tahu kalau gadis itu habis menangis. Leonardo menelpon ponsel Biana namun gadis itu mengacuhkannya.
Jangan abaikan aku Bia. Aku benar-benar menyesal.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***
Bonus
Indiana 'Indy' Braga Blair ... Son from Nelson Blair and Marisol Braga