
Markas Scotland Yard London Inggris
Alex Darling mulai menyelidiki siapa Mary sebenarnya karena selama ini dirinya dan semua para rekan David, menganggap pernikahan mereka baik-baik saja.
Pria bermata biru itu tampak semakin dingin saat tahu anak buah andalannya, dibunuh dengan alasan tidak masuk akal dan keji. Dirinya sangat tidak terima bagaimana nyawa seseorang dianggap tidak berharga.
Dua hari ini, Alex bersama dengan Julian dan anggota Scotland Yard lainnya, bekerja keras demi David yang menurut rencana akan dimakamkan seminggu lagi usai selesai semua autopsi.
***
Ruang Interogasi Scotland Yard London Inggris
"Kamu tidak gila! Kamu tidak depresi! Kamu hanya seorang wanita yang narsistik, egosentris dan pembunuh berdarah dingin !" maki Alex Darling sambil melemparkan berkas-berkas ke atas meja.
Mary dan pengacaranya, Marshal hanya terdiam melihat bagaimana salah satu leader Scotland Yard dan pemimpin penyelidikan serta boss David tampak menyimpan amarah.
"Kamu sengaja membuat David untuk menikahi mu, tapi yang kamu incar adalah surat tanah rumah David ! Lingkungan tempat tinggal David akan dibangun mall dan hanya beberapa rumah disana yang masih belum mau menjual rumah mereka. Jika...ada kasus pembunuhan... Orang-orang disana pasti akan pergi meninggalkan lingkungan itu dan menjual dengan harga murah !" Alex Darling menatap tajam ke Mary lalu beralih ke pengacaranya Marshall.
"Dan kamulah yang mengirim Mary menjadi pion untuk mendapatkan surat tanah itu! Tapi David tetap tidak mau mengatasnamakan rumah itu ke kamu kan Mary? Jadi kalian merasakan setahun sudah terlalu lama hingga harus dengan cara drastis dan kejam ! Kalian membunuh David ! Kalian adalah orang-orang yang serakah! Kami semua sudah perusahaan mana yang mengincar tanah itu ! Dan jangan harap kalian keluar dari sini hidup-hidup karena membunuh anggota kepolisian, sama saja kamu bunuh diri ! Ada banyak orang yang dendam dengan kalian ! Dan pembunuh polisi, juga tidak akan selamat di penjara ! Hanya karena iming - iming £2 juta, nyawa David kalian ambil ! Memang pantas kalian aku bunuh saja disini !" Mata Alex Darling tampak memendam amarah yang luar biasa.
"Kalian tidak bisa membuktikan!" ucap Marshall.
Alex menatap tajam ke arah Marshall. "Yakin?! Jules!"
Julian lalu memasang flashdisk di layar tv di dalam ruang interogasi itu. Tak lama terdengar percakapan antara Mary dan Marshall.
"Setahun sudah terlalu lama sayang. Aku tidak tahan lagi berpura-pura depresi!"
*"Tampaknya orang-orang disana juga sulit untuk disuruh pindah, Mary." *
*"Apakah kamu ada cara lain?" *
"Kamu bunuh David !! Nanti aku akan membebaskan kamu dengan alasan kamu mengalami depresi dan Insanity."
*"Benar ya sayang. Bebaskan aku, dan aku yakin mereka akan takut jika aku tinggal disana usai bebas. Mereka akan takut kalau aku tiba-tiba snap!" *
*"Kita buat teror karena David kan sudah mati!" *
*"Dan dua juta poundsterling akan milik kita bersama, sayang. Oh bagaimana aku membunuh David ?" *
"Tusuk saja dan berlagak kamu gila hingga kamu tidak sadar saat melakukannya."
"Baiklah sayang."
Alex Darling bersedekap di dalam ruang interogasi itu dengan menatap tajam ke arah kedua orang itu. Mary dan Marshall tampak memucat karena percakapan mereka direkam.
"Kebodohan kalian adalah, kalian menggunakan telepon biasa saat berkomunikasi karena menganggap akan jauh lebih aman daripada ponsel. David mungkin sudah curiga jadi semua alat komunikasi dia pasang perekam dan penyadap. David bukan orang bodoh tapi dia hanya sedang tidak beruntung mendapatkan istri kejam !" Alex Darling menoleh ke arah pintu dan tampak disana para anggota Scotland Yard baik pria maupun wanita berdiri disana.
"Aku matikan semua CCTV. Terserah kalian mau apakan mereka berdua dan semua akan menjadi tanggung jawab aku ! Pesanku hanya satu, jangan sampai mati !" ucap Alex Darling yang keluar dari ruang interogasi.
Sekitar sepuluh orang disana pun masuk ke dalam ruang interogasi yang sempit itu membuat Mary dan Marshall menatap horor ke mereka semua.
***
Royale Hospital London
Rania menghampiri Alex Darling yang duduk di bangku taman rumah sakit. Pria itu tampak memejamkan mata sembari mendongakkan wajahnya menikmati sinar matahari di musim gugur ini. Alex tampak tidak terganggu dengan ramainya orang lalu lalang.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rania yang usai mengurusi pasiennya ke arah Alex.
Rania pun duduk bersebelahan dengan Alex Darling dan pria itu meletakkan kepalanya di bahu gadis cablak tersebut.
"Sudah mendapatkan alasan mengapa Mary membunuh David?" tanya Rania.
"Sudah. Demi dua juta poundsterling dan kekasihnya yang juga pengacaranya. Kamu tahu, mereka berdua dibayar oleh sebuah perusahaan kontraktor untuk bisa mengusir semua orang disana. Komplek tempat David tinggal, tinggal tiga keluarga disana dan mereka melakukan segala cara agar bisa merebutnya..." jawab Alex dan Rania mendengar nada lelah dari sahabatnya yang macam Tom and Jerry itu.
"Darling, apakah kamu sudah memberikan hukuman diluar hukuman resmi?"
"Sudah. Rania, kenapa sih di London tidak dibuat Empang piranha macam milik Opamu di Tokyo?" gumam Alex Darling sedikit mengantuk.
Rania tertawa. "Karena London, bukan daerah jajahan Opa. Jangan harap ada empang piranha disini." Rania menunduk dan melihat Alex Darling tertidur. "Ya ampun nih anak... Untung jam kerja aku sudah selesai..."
Rania memegang tangan Alex dan menepuk nya pelan. "Semoga kamu bisa mengikhlaskan kepergian David, Lex. Bagaimana pun ini memang sudah garis tangannya."
Gadis itu duduk bersama Alex Darling di kursi taman dan tak lama mereka berdua pun terlelap.
***
Apartemen Biana di Oxford
Leonardo membereskan semua barang bawaannya karena hari ini dirinya kembali ke Texas. Biana menatap pria itu sambil bersedekap dan wajahnya menampakkan tanpa ekspresi.
"Bia, kamu itu tahu kan aku mau pulang..."
"Terus?"
"Janganlah memberikan wajah seperti itu, membuat aku menjadi galau tidak ingin meninggalkan mu sendirian disini bersama para muggle..."
Biana tertawa. "Seriously Singa Gurun, aku tidak menyangka kamu adalah Potter mania."
"Banyak yang kamu tidak ketahui dari aku, Biana. Jadi karena itu..." Leonardo mendekati Biana dan memeluknya. "Cari tahu soal kau banyak-banyak."
"Seperti kamu sudah tidak perjaka?" senyum Biana.
"Well... " Leonardo menatap lembut ke arah gadis itu. "Aku kan sudah bilang sebelumnya, aku memang sudah tidak perjaka di apartemen Rania." ( Baca Kings and Queens ).
"Jika kamu memang serius padaku, Leo, hiduplah selibat..." ucap Biana sambil memeluk Leonardo.
"Kejadian itu sudah lama, jaman aku masih awal kuliah dan saat aku bertemu denganmu... Aku sudah bertekad untuk tetap hidup bersih sampai bersamamu... Aku ingin kita melakukannya dengan benar, Bia..." senyum Leonardo. "Dan itu kan yang kamu inginkan dari aku?"
"Yes. Kamu bisa berhubungan intim demi lust tapi wanita tidak bisa. Jika kamu memang ingin berhubungan intim, wanita kebanyakan menggunakan perasaan disana kecuali kalau memang pekerjaannya tinggal buka p@h@."
Leonardo mencium kening Biana. "No, Bia. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku kan yang mendapatkan ciuman pertama kamu dan karena itulah, aku akan selalu menjagamu, mencintaimu, menghormatimu dan menjadikan ratuku seorang dalam hatiku."
Biana lagi-lagi terpesona dengan ucapan Leonardo.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️