
Royal Hospital London
Rania membantu konselor psikolog anak untuk mengurangi rasa trauma Matilda yang tidak bisa lepas menggenggam tangan calon dokter bedah itu. Super Intendant Alex Darling mengikuti sesion itu sembari mencari informasi.
Dengan sedikit hipnosis, Matilda bisa menceritakan bagaimana dirinya melihat ayahnya menyiksa ibunya.
"Dimana kamu bersembunyi?" tanya psikolog anak yang bernama Maria itu.
"Di dalam lemari... Ada rongga disana... " Matilda menghela nafas panjang berulang kali. "Mommy... mommy dipukul Daddy. Mommy... berteriak sakit tapi... Daddy tidak ... mau mendengar... Daddy malah... tertawa... " tangis Matilda meledak dan Rania memeluk gadis cilik itu.
Alex Darling mengusap wajahnya kasar. Akan aku hajar sendiri b@jingan itu !
"Alex, apa kamu sudah mencari orang itu?" tanya Rania sambil mengelus punggung Matilda lembut.
"Semua polisi di London sudah mendapatkan gambar DPO that son of... crap !" ucap Alex Darling sebelum melanjutkan dengan kata kasar membuat Maria melotot.
"Super Intendant Alex Darling!" tegur psikolog berusia empat puluh an itu.
"Sorry, hampir kebabalasan" senyum Alex Darling manis.
Maria menatap judes ke polisi tampan itu. "Language, please !"
"Sorry." Suara ponsel Alex berbunyi dan pria itu segera keluar dari ruang konseling Maria.
"Rania, apakah bibi Matilda sudah datang?" tanya Maria ke arah dokter yang masih memeluk gadis cilik itu.
"Belum. Mungkin sebentar lagi" jawab Rania. "Matilda, kamu nanti dengan bibi Nancy ya. Tinggal dengannya di Liverpool. Okay?" bujuk gadis itu ke Matilda.
"Apakah Daddy...tidak akan menemukan... aku, Rania?" tanya Matilda dengan penuh ketakutan.
"Nope. Karena Daddy mu akan pergi jauh, hingga tidak akan pernah mencarimu !" jawab Rania yakin.
***
"Dimana son of the b1tch itu?" tanya Alex Darling saat mendapatkan kabar dari anak buahnya yang sudah menemukan Nicholas, ayah Matilda.
"Kami temukan di tempat pacarnya, Sir..."
Alex mengumpat dengan segala bahasa kasar membuat anak buahnya harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Bawa ke markas ! Aku sendiri yang akan menghajarnya !" ucap Alex geram. Pria itu lalu masuk ke dalam ruang konseling Matilda.
"Rania... Bisa bicara sebentar?" pinta Alex ke Rania yang sedang mengajak Matilda makan coklat.
"Matilda, sebentar ya. Super Intendant Alex memanggil aku dulu." Rania menatap lembut ke gadis cilik itu.
"Jangan lama-lama" pinta Matilda.
Rania pun berjalan menghampiri Alex yang kemudian menggandeng tangannya untuk keluar.
"Kok pakai acara gandeng-gandeng?" desis Rania sebal.
"Biar cepat !" Alex membawa Rania berada di pojok lorong lantai itu. "Ayah Matilda sudah ketemu."
Mata Rania terbelalak. "Dimana?"
"Di rumah pacarnya."
"What the f*** ! Son of the b1tch ! Minta dicincang tuh orang ! Bawa aku temui dia, biar aku slice, buat makan piranha Opa !" amuk Rania membuat Alex melongo.
"Ran, satu-satu kalau marah..." kekeh Alex. "Piranha? Kamu bicara apa?"
"Apakah kamu tahu kalau di Jepang, keluarga aku punya empang piranha buat buang mayat?" jawab Rania cuek.
Alex memegang pelipisnya. "Aku tahu kamu cucu mafia tapi seriously... Piranha?"
"Yup ! Sangat efisien bukan buat menghilangkan jejak."
"Oke, aku tidak mau tahu dan anggap saja aku tidak mendengar akan hal ini. Intinya adalah, aku hendak kembali ke markas dan menginterogasi b@jingan itu ! Bibi Matilda, dalam perjalanan kemari dengan dikawal polisi wanita. Nanti biar mencarimu ya." Alex menatap Rania serius.
"Apakah kamu butuh keterangan lagi dari Matilda?"
"No. Rekamannya sudah jelas dan aku tidak mau membawa anak sekecil itu menjadi saksi di pengadilan dan melihat pembunuh ibunya kembali. Trauma dia sudah jauh lebih mengerikan daripada aku mengusut kasus mutilasi!"
"Karena kamu sudah dewasa, Alex..."
"Kamu dewasa dan itu sudah tugas kamu menjadi anggota Scotland Yard untuk menangani kasus aneh-aneh, Alex. Paham?" Rania menepuk pipi Alex. "Hajar pria jahat itu ! Jangan kasih kendor !"
Alex tersenyum smirk. "I thought you never ask ( aku kira kamu tidak akan memintanya )."
***
Siang itu Nancy, bibi Matilda datang bersama dengan dua orang polisi wanita dan supervisor Scotland Yard untuk mengurus kepindahan gadis cilik itu ke Liverpool. Matilda tampak histeris karena Rania tidak bisa ikut namun setelah dibujuk oleh bibinya, gadis cilik itu pun mau ikut bersamanya ke Liverpool.
Nancy bertukar nomor ponsel dengan Rania dan Maria untuk bisa saling sharing kondisi Matilda. Menjelang sore, dengan dikawal polisi, Nancy dan Matilda pergi ke Liverpool.
***
Sementara itu di ruang interogasi Scotland Yard
David James hanya bisa mengelus dada melihat boss dan juga partnernya menghajar Nicholas. Semua orang di divisi pembunuhan rasanya ingin menghajar pria yang memukuli istrinya hingga tewas namun karena pangkat Alex Darling paling tinggi diantara mereka, perasaan itu sudah terwakilkan dengan ngamuknya pria tampan itu.
"Apa kamu tidak sadar kalau anakmu bakalan trauma seumur hidup ! You bastard ! A$$ Hole !"
BUGH! BUGH! BUGH!
Tiga pukulan mendarat di wajah Nicholas yang sudah babak belur membuat pria itu keliyengan.
"Kalau mau hajar orang, cari gender yang sama ! Bukan wanita, you jerk !" umpat Alex Darling yang seperti kalap. "David !"
"Yes Alex."
"Pasang semua foto hasil karya dia ! Foto hasil autopsi Linnet, biar dia tahu seperti apa ! Kalau perlu, aku sendiri yang akan melakukan hal yang sama seperti yang dia buat di tubuhnya!" Alex Darling keluar dari ruang interogasi itu dan membanting pintunya.
David menggelengkan kepalanya dan dirinya baru tahu kenapa Alex minta semua foto autopsi dicetak besar. Pria bertubuh besar itu pun keluar meninggalkan Nicholas yang masih terduduk dengan darah segar mengalir dari hidung dan bibirnya.
Tak lama, empat anggota kepolisian Scotland Yard memasang foto-foto hasil autopsi yang sudah dicetak besar dan di tv diputar saat dokter forensik mengautopsi Linnet. Rekaman video di TKP pun diputar di depan Nicholas yang hanya menatap datar.
Setelahnya keempat anggota kepolisian itu keluar dan mereka berada di balik kaca dua arah untuk mengawasi emosi Nicholas termasuk Alex dan David. Semua anggota Scotland Yard terkejut saat melihat Nicholas tersenyum sinis melihat jenazah Linnet difoto oleh pihak CSI.
"Lex..." David berbisik ke arah Alex.
"Dia psikopat..." Alex pun keluar.
"Kamu mau kemana?" tanya David.
"Minta ijin buang orang ke Empang piranha !"
David dan para anggota kepolisian lainnya hanya saling berpandangan. "Empang piranha? Dimana? Amazon?"
***
Royal Hospital London
Alex Darling duduk di kursi batu bawah pohon taman sambil menunggu Rania datang. Tak lama dokter cantik itu datang sambil memasukkan kedua tangannya di saku snelinya.
"Well?" tanya Rania.
"Aku sudah menghajarnya."
"Lalu?"
"Aku berikan shock therapy tapi ternyata dia sosiopat dan psikopat !"
"Kamu minta dia dilempar ke Empang?"
"Apakah di London ada?" tanya Alex Darling.
Rania tersenyum smirk.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️