The Cowboy Who Loves Me

The Cowboy Who Loves Me
Rania dan Biana dengan Dua Prianya



Apartemen Rania di Soho London Inggris


Akhirnya Rania bisa membujuk Biana keluar dan menemui Leonardo yang merasa cemas karena gadisnya sekarang gampang ngambek.


Kayaknya gara-gara dikirim ke Oxford satu semester sedangkan Bia sedang senang-senangnya di Harvard. Leonardo melihat wajah kusut Biana, langsung memberikan senyum manis.


"Kamu mau kopi, singa gurun?" tawar Biana dengan nada dibuat ceria.


"Mau lah. Siapa sih yang menolak kopi buatan ca... " Leonardo melirik ke arah Alisha. "Biana...Dosen matematika..."


Biana tersenyum lalu membuatkan kopi untuk Leonardo. Sementara pria itu melihat kode Alisha untuk tidak terlalu terburu buru karena mood kakaknya baru bagus.


***


"Kopi hitam dengan satu gula kan?" ucap Biana sambil menyerahkan secangkir kopi ke Leonardo.


"Terima kasih Bia..." senyum Leonardo sambil menerima kopi itu dan Biana pun duduk di sebelahnya membuat pria itu tampak senang.


Setidaknya sudah seperti menunjukkan bahwa kamu adalah pasangan aku, Bia.


"Kamu ada pertandingan lagi, koboi Cengeng?" tanya Rania.


"Adalah. Tapi sayangnya, Bia harus disini. Menyebalkan !" jawab Leonardo sambil manyun.


"Hei, jangan salahkan aku, salahkan Harvard !" balas Biana judes. "Aku juga tidak mau kemari !"


"Setidaknya tho mbak, kalau di Harvard bosan mengajar, mbak Bia sudah ada tempat di Oxford..." celetuk Alisha.


"Nooooo !!!" seru Biana dan Leonardo berbarengan.


Alisha cekikikan dan Rania hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu pulang nggak?" tanya Rania.


"Hah? Aku? Memangnya aku tidak boleh disini?" tanya Leonardo bingung.


"Tak boleh! Kamu macam perjaka di sarang perawan.. Eh kamu masih perjaka nggak sih?" tanya Rania cuek. "Aku yakin sudah tidak perjaka kamu."


Wajah Leonardo memerah mendengar ucapan gamblang dokter bedah cantik itu. "Seriously, Rania. Bisa nggak sih kamu ngomongnya di saring?"


"Hei! Aku seorang dokter dan aku terbiasa blak-blakan dengan pasien. Bia, kamu jangan mau sama singa gurun ini, dia sudah tidak perjaka! Rugi kau !" ujar Rania sambil menyesap cappucino nya.


"Oh astagaaa!" Leonardo memegang pangkal hidungnya. "Iya, aku sudah tidak perjaka! Puas?"


"Sudah kuduga" jawab Rania kalem membuat Alisha cekikikan melihat keributan kakak-kakaknya.


"Tapi berkat itu, aku lebih pengalaman di tempat tidur..." Leonardo menatap dalam ke Biana. "Mau dicoba? Setelah kita ijab?"


Biana melongo. "Siapa juga yang mau nikah sama kamu? Lagian ya Koboi, aku tidak bisa tinggal di ranch dengan setiap hari bekerja keras mengurus ternak, panen ... Bukan passion aku! Aku lebih suka menjadi dosen atau peneliti, bukan tinggal di ranch!" jawabnya lugas.


Mata biru Leonardo tampak sedikit terluka tapi dia sudah tahu apa jawaban Biana karena dulu gadis itu pernah bilang ingin menjadi dosen seperti ibunya.


"Aku yakin kamu akan berubah pikiran jika sempat datang ke ranch aku" ucap Leonardo yakin.


"Jangan terlalu yakin, Leo. Karena aku adalah wanita yang keras kepala..."


"Aku suka wanita keras kepala..." bisik Leonardo sambil mendekatkan wajahnya. "Aaadduuuuhhhh!"


Biana memencet hidung mancung Leonardo. "Kamu mau ngapain?" hardiknya gemas.


Leonardo memegang hidungnya. "Cium kamu lah!"


Rania dan Alisha terbengong bengong. "Jujur amat sih?"


"Pulang deh! Balik Sono ke New York!" Biana pun berdiri membuat Leonardo ikut berdiri.


"Tidak ada support buat aku?" goda Leonardo.


"Fighting!" ucap Biana dengan gaya Korea.


"Cium dong Bia..."


Leonardo pun memanyunkan bibirnya. "Aku pulang malam ini ke New York. Kamu have fun di Oxford ya. Berapa lama?"


"Hanya satu semester dan setelahnya aku balik ke Harvard."


Leonardo tersenyum smirk dan membuat Biana curiga. "Kamu mau ngapain?"


Pria itu hanya tersenyum lalu mencium pipi Biana sekilas. "Aku pulang dulu! Bye Rania, Bye Princess. Assalamualaikum!" Leonardo bergegas membuka pintu apartemen dan pergi meninggalkan Biana yang melongo sebelum gadis itu melempar gelas kopinya.


"Singa gurun brengseeekkk!" umpat Biana kesal.


***


Kamar Rania Malam Harinya


"Apa acara kamu tadi Rania ?" tanya Chris lewat panggilan video.


"Tadi ? Kedatangan koboi Cengeng dan Yang Mulia Pangeran... Seru kan?" jawab Rania yang masih berkutat dengan laporan pasiennya.


"Kamu sibuk apa dengan iPad mu ?" tanya Chris yang tampak baru saja selesai latihan.


"Laporan pasien. Aku harus mengerjakan untuk besok Senin."


"Apa kamu lupa tidak membuatnya?"


"Aku hanya malas melakukan qpalagi pasiennya menyebalkan..." Rania menatap Chris di layar MacBooknya. "Boleh kan dokter pilih kasih ?"


"Iya seperti kamu pilih kasih padaku karena dengan ku hanya tiga hari, dengan keluarga mu seminggu ..." balas Chris manyun.


"Oh come on Demit ! Kamu itu bukan pasien aku ! Lagian aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga aku ... Salah siapa kirim tiket open date ?" ujar Rania judes.


"Kamu cantik kalau marah..." rayu Chris.


"Nggak mempan demit !"


"Rania, aku harus merayu model apa supaya kamu luluh ?"


Rania menoleh ke arah Chris. "Seriously? Kamu ingin merayu aku supaya aku luluh padamu ? Demi apa coba ?"


"Demi kamu jadi pasangan aku. Bukankah dokter Joey Bianchi sudah menyetujui aku menjadi kekasihmu..."


Rania meletakkan pen nya dan menatap Chris serius. "Jangan mentang-mentang Opa suka sama kamu, suka tim kamu dan suka permainan kamu di lapangan, bukan berarti kamu bakalan jadi pasangan aku !"


"Raniaaaaa... Kamu itu .."


Suara ponsel Rania berbunyi dan gadis itu langsung mengangkat nya. "Halo Darling..."


Chris langsung melotot mendengar Rania memanggil orang lain dengan panggilan 'Darling'.


"Dimana ? Seriously Lex, tapi aku lagi libur... " Rania memainkan rambut coklatnya dengan jarinya membuat Chris semakin cemberut karena tahu, gaya seperti itu gadis yang ditelpon pria disukainya.


"Oke. Aku akan kesana Alex. See you soon Darling ... " Rania mematikan panggilannya dan melihat wajah cemberut Chris di layar MacBook. "Kamu kenapa ?"


"Kamu selingkuh dariku ya Rania ? Aku kira kamu cewek setia tapi ternyata... Kamu selingkuh dengan pria bernama Alex ! Mana kamu pakai manggil dia Darling pula ! Kamu tidak pernah memanggil aku semesra itu ! Jahat kamu Rania ! Akan aku rebut kamu dari pria bernama Alex itu !" Chris mematikan panggilan video nya membuat Rania terbengong bengong.


"Siapa yang selingkuh ? Memang aku pacaran sama kamu Demit ?" gumam Rania tapi setelahnya dirinya tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun, memang ya atlet itu mikirnya otot duluan, otak belakangan... "


Rania semakin cekikikan mengingat wajah manyun Chris Armstrong. "Duh ya ampun... Bocah koplak !" kekehnya geli.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️