
Ruang Praktek Rania di Royal Hospital London
"Dubai? DUBAI? Ngapain? Jangan bilang kamu ngejar Lena !" pendelik Rania sebal karena sahabat debatnya mengejar adiknya yang selisih usia tujuh - delapan tahun. "Lena masih bayi !"
"Lena sudah mau dewasa."
"Dia baru 19 tahun!" bentak Rania.
"Aku tidak meminta Lena menikah dengan ku sekarang, tapi aku ingin Lena tahu kalau aku serius padanya !" balas Alex Darling.
"Kamu baru ketemu lima kali !"
"Tapi aku sudah tahu Lena adalah gadis idamanku... "
"Karena Lena bermata biru?" Rania memicingkan matanya.
"Karena semuanya, Rania. Memang awalnya karena matanya tapi setelah kamu banyak mengobrol dengan Lena, dia sangat-sangat istimewa..." jawab Alex Darling.
"Adik-adik aku semuanya istimewa ! No, Darling... Aku melarang kamu mengejar Lena ! Dia masih kuliah !" Rania menatap judes ke Alex Darling sambil bersedekap.
"Aku tahu. Makanya aku akan menunggu adikmu selesai kuliah di kedokteran tapi tetap sudah aku klaim dulu." Alex mencium pipi Rania. "Bye, Ran. Aku berangkat malam ini. Doakan aku bisa bersama Adikmu."
"Aku bakalan bakar menyan biar kalian ga jadian!" balas Rania cuek.
"Mantra hocus pocus kamu nggak bakalan berhasil !" Alex Darling berjalan menuju pintu dan hendak keluar. "Kamu bukan Hermione Granger atau pun Severus Snape. Kamu hanya muggle biasa. Bye Rania, nanti aku bawakan oleh-oleh dari Dubai." Pria itu pun pergi meninggalkan Rania yang menatap sebal ke chief Super Intendant Alex Darling.
***
Oxford Inggris
"Alex kemana?" tanya Biana sambil menerima panggilan video dari Rania malam harinya. Gadis itu sedang bersandar di paha Leonardo yang asyik menonton pertandingan sepak bola. Biana dan Rania saling FaceTime menggunakan ponsel masing-masing.
"Ke Dubai. Ngejar Lena."
Leonardo yang mendengar percakapan gadisnya dengan sepupunya hanya tersenyum smirk.
"Tapi Lena kan masih belasan tahun, belum dua puluh tahun. Lha Alex umur berapa coba ? Selisih berapa tahun? Tujuh? Delapan?" tanya Biana.
"Sekitar itu... Ya ampun tuh bocah !" gerutu Rania.
"Ran, Alex Darling itu sudah dewasa."
"Tetap saja aku merasa dia masih bocah !" jawab Rania judes. "Semoga Lena nggak jatuh ke acara tebar pesona si Darling itu !"
"Ran, kalau Lena bersama Alex nantinya, tidak masalah lah. Pertama semua orang tahu siapa Alex Darling, kedua kita tidak perlu screening lagi dan Ketiga, kita belum ada anggota keluarga baru dari Scotland Yard" balas Biana santai. "Sudah, kamu nggak usah mikir bakar menyan karena belum tentu Lena mau sama Alex."
Rania tampak tercenung. "Benar juga... Ngomong-ngomong, itu paha enak banget ya Bia."
"Enak lah, empuk" kekeh Biana sedangkan Leonardo mengelus rambut tebal gadisnya dengan lembut.
"Kalian besok berangkat jam berapa ke London?' tanya Rania.
"Pagi lah jam delapan setelah pemilik flat datang untuk acara pengembalian kunci."
"Oke. Langsung kemana? Rumah Oom Charles atau Rumah Oom Eagle?"
"Kami langsung ke rumah Oom Eagle Ran. Kemarin Fesya sudah merengek minta kami disana dulu" jawab Leonardo. "Mungkin kami juga mau ke kastil McCloud bertemu dengan Opa Rama dan Oma Astuti."
"Bagus tuh ! Dekati semua keluarga McCloud, baru kamu tahu dapat restu atau kagak !" baals Rania.
"Kamu sendiri bagaimana dengan Chris ?! Kalian itu terlalu lama berjauhan..." tanya Leonardo.
"Masalahnya, aku baru selesai studi tahun depan bulan April dan Chris tahu itu. Aku akan kembali ke New York jika sudah selesai disini sebab aku harus memperjelas hubungan aku dengan Chris."
"Memang apa yang terjadi, Ran?" tanya Biana.
"Lagiiiii?" seru Biana karena ini sudah kali kesekian Chris Armstrong melamar Rania via Joey Bianchi.
Leonardo tersenyum. "Dia sangat ingin bersamamu Ran. FYI, dia sangat sangat serius mempelajari keyakinan kita. Dia dan Richard itu sama, mereka sangat serius."
"Ah aku lupa kalau Demit dan Richard belajar sama kamu" ucap Rania. "So, kalian sudah official. Apa Oom Pedro sudah tahu?"
"Aku sudah bertemu dengan Agen Pascal sebelum kemari. Setidaknya beliau tahu kalau aku memang datang untuk menjemput putrinya pulang ke New York."
"Agen Pascal? " Rania terbahak. "Resmi amat !"
"Hei, aku berada di Quantico, di ruang kerjanya dan asistennya tampak dingin menatap aku. So, aku harus memanggil Daddy nya Biana resmi lah!" ucap Leonardo.
"Asisten nya? Daddy punya asisten? Siapa? Apakah agen Gale Jobb?" tanya Biana.
"Bukan. Asistennya pria. Masih muda tapi sudah direkrut menjadi asisten chief BAU itu kan sesuatu. Namanya Scott Peterson dan aku yakin, Daddymu bisa melihat Scott punya skill yang cakap."
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Rania.
"Scott memiliki mata elang dan aku sudah biasa bertemu banyak orang jadi aku tahu orang ini berpotensi atau tidak. Dan aku yakin, suatu saat nanti, Scott akan menjadi field agent yang berpotensi. Aku setuju dia bersama Daddymu karena dia akan belajar banyak dari agen Pascal yang seorang agen FBI berpengalaman baik di lapangan maupun di birokrasi."
Biana menatap Leonardo dengan tatapan kagum. "Aku tidak menyangka kamu juga mempelajari psikologi dan psikoanalisa."
"No, Bia. Itu namanya pengalaman hidup. Aku memang tidak mempelajari psikologi secara pendidikan formal, tapi kamu kan tahu aku sudah mengurus ranch sejak kecil, bertemu dengan para orang dengan berbagai karakter dan dari sana aku mempelajari orang."
"Oh my God. Kamu selalu membuat aku surprise dengan kelebihan - kelebihan kamu..." puji Biana yang mendapatkan ciuman mesra di bibir nya tanpa memperdulikan wajah judes Rania di ponsel Biana.
"Astaghfirullah kalian itu ! Sudah, aku tunggu kalian di London besok !" Rania pun mematikan panggilannya.
***
Apartemen Rania di Soho London
Rania manyun melihat kemesraan antara Biana dan Leonardo, membuat dirinya merasa iri karena bagaimana pun melihat mereka bahagia, jiwa jomblowati nya pun berkobar kobar.
"Brengseeekkk Bia ! Malah ciuman di depan aku !" sungut Rania.
Suara ponsel Rania berbunyi lagi dan gadis itu main geser tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Bia, kalau kamu pamer acara ciuman sok mesra kamu sama koboi cengeng, mending nggak usah telepon deh !"
"Aku rindu berciuman denganmu, Rania. Kita harus sering-sering melakukannya supaya tidak lupa rasanya."
Rania menoleh ke arah ponselnya dan tampak wajah Chris disana dengan wajah usil.
"Demit?!" seru Rania.
"Halo sayang. Bagaimana kabar mu hari ini?! Apakah operasi nya lancar?" senyum Chris.
"Sudah ketemu Opa?"
"Well, sudah dan dia bilang oke" jawab Chris dengan senyum lebar.
Rania menepuk jidatnya.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️