
Separuh perjalanan kami lewati tanpa ada masalah yang serius. Sejauh ini hanya ada beberapa monster lemah yang kadang menghalangi jalan. Tentu saja menyingkirkan sesuatu seperti itu bahkan tidak cukup untuk membuat kami berkeringat.
Pada hari ke-20, kami akhirnya memasuki perbatasan Kota Pelabuhan.
Wilayah ini merupakan sebuah kota besar yang sebagian wilayahnya adalah pelabuhan. Pada masa lalu, Kekaisaran Dwarf melakukan pelayaran pertama mereka ke Benua Manusia. Setelah berhasil mendarat dengan selamat, atas perintah dari Glastila, mereka membangun Kota Pelabuhan ini yang kemudian berubah menjadi salah satu kota dengan perputaran ekonomi terpadat di dunia.
Barang-barang seperti cakar, taring, sisik, dan berbagai organ monster lainnya akan dikirim kemari oleh Guild Petualang. Mereka menjualnya kepada para dwarf untuk kemudian diolah menjadi material batu sihir. Kudengar mayat iblis yang Alma kalahkan juga akan dikirim ke Kekaisaran Dwarf melalui pelabuhan ini.
Pihak dwarf sendiri mengimpor berbagai macam peralatan sihir yang ditujukan untuk memudahkan pekerjaan sehari-hari. Mereka juga sering menjual peralatan tempur kepada pihak kerajaan maupun para bangsawan yang memesannya.
Harga peralatan tempur yang dibuat oleh dwarf memang lebih mahal daripada yang dibuat oleh pandai besi manusia, tetapi kualitasnya tiga kali lipat lebih baik. Oleh karena itu, banyak bangsawan feodal kecil yang rela mengumpulkan uang hanya untuk membeli set lengkap peralatan tempur dari para dwarf dan menjadikannya harta keluarga.
"Sebenarnya itu kisah yang miris sekaligus lucu." Cellica mengoceh seraya memandang keluar jendela. "Dwarf tidak diperbolehkan menjual peralatan tempur berkualitas tinggi kepada ras lain. Jadi, apa yang para bangsawan sebut sebagai harta keluarga sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang digunakan oleh prajurit penjaga gerbang di kerajaan kami."
Yah, aku dan Alma tahu bagaimana rasanya. Kebanyakan demoniac weapons dianggap sebagai salah satu senjata pusaka terkutuk. Bagi yang dapat menggunakannya, mereka akan memiliki kekuatan yang berada di luar batas imajinasi manusia. Setidaknya seperti itulah rumor yang beredar.
Pada kenyataannya, bahkan demon lord sekalipun hanya sanggup membeli senjata berkualitas menengah ke bawah. Senjata berkualitas tinggi dimonopoli oleh Seven Deadly Sins dan akan diberikan pada acient demon bawahan mereka sebagai hadiah. Jadi, hampir mustahil ada demoniac weapons bagus di dunia fana yang pernah muncul sebelumnya. Dengan kata lain, demoniac weapons yang menjadi rumor dan dianggap legenda hanyalah peralatan sampah yang bisa hancur hanya dengan remasan tangan acient demon terlemah.
Aku benar-benar tidak mengerti kenapa pengetahuan manusia begitu sangat memprihatinkan. Padahal, dulu mereka adalah salah satu musuh yang cukup merepotkan.
Ketika kami masih berdiskusi, kereta yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti. Suara seorang wanita bisa terdengar dari luar, sepertinya dia sedang memarahi kusir kami dengan kasar.
"Kota Pelabuhan tidak menerima pengunjung! Berbalik dan pergilah!"
Mendengar bentakan keras yang sampai masuk ke dalam gerbong kereta, kami bertiga berhenti bicara. Keheningan yang tercipta hanya berlangsung sekejap karena Cellica kembali mengoceh seraya menepuk dahinya sendiri.
"Serius, tidak bisakah mereka bicara secara baik-baik? Sikap seperti inilah yang membuat reputasi dwarf semakin buruk di mata ras lain."
Daripada seseorang yang membentak di luar sana, aku sebenarnya lebih terganggu oleh sikapmu.
"Tolong tunggu sebentar."
Cellica bangkit dari tempat duduk seraya membuka pintu gerbong. Aku dan Alma mengikutinya dari belakang.
Di hadapan kusir yang masih duduk pada kursi kemudi, tiga orang gadis kecil berdiri dengan angkuh. Tubuhnya dilapisi armor perak yang memantulkan cahaya. Mereka juga membawa tombak logam berwarna perak yang diacungkan ke arah kusir.
"Oi, aku sudah memesan sebuah kapal untuk pulang. Kenapa kalian melarangku masuk?" Cellica berbicara dengan nada seakan menantang.
Apakah sebentar lagi akan terjadi perkelahian antara anak kecil?
"Berisik! Ini perin--" Ketika mereka mengalihkan pandangan dari kusir ke arah Cellica, ketiganya langsung diam.
Aku dan Alma hanya bisa diam tidak mengerti. Kami dengan jelas dapat mencium bau ketakutan samar yang ketiganya pancarkan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Cellica sebenarnya adalah sosok yang cukup merepotkan sehingga para dwarf segan padanya?
"Ma-maafkan aku! Kapalmu sudah menunggu sejak pagi."
"Hm?" Cellica memandangi ketiganya dengan tajam, membuat mereka semakin ketakutan. "Sebenarnya ada apa? Kenapa Kota Pelabuhan ditutup?"
"Itu ... " Mereka saling memandang sebelum salah satunya berbicara.
"Kekaisaran memobilisasi sejumlah besar kekuatan militer dan menjadikan Kota Pelabuhan sebagai basis militer sementara. Selain kami, para paladin dan militer dari Alfheim juga ditempatkan di sini."
"Empress Glastila memerintahkan ini?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan Cellica, ketiganya mengangguk.
"Selain kami para ksatria dari kelas viking dan gladiator, para guardian juga dirumorkan akan kemari."
Kalau tidak salah, kelas viking merupakan bentuk lanjutan dari kelas dasar creator. Berbeda dengan kelas lanjutan creator lainnya yang berfokus pada penguatan senjata maupun penciptaan ramuan, viking adalah kelas yang menitik beratkan pada seni perang memakai kapak.
Sementara itu, gladiator merupakan kelas lanjutan dari warrior. Orang-orang yang berada pada kelas ini menguasai seni pedang dua tangan. Biasanya mereka memamerkan tubuhnya yang sangat berotot seraya menggendong pedang raksasa ke mana-mana.
Kalau guardian ... sebenarnya aku tidak terlalu banyak tahu. Hal yang kutahu tentang mereka hanyalah merupakan kelas yang kebanyakan dipegang oleh para prajurit elit yang bertarung bersama Glastila. Mereka dapat mengayunkan pedang dua tangan berat hanya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya memegang perisai besar. Dari segi kekuatan dan pertahanan, mereka adalah yang paling unggul.
"Sebanyak itu?! Apa yang sebenarnya terjadi?"
Cellica kelihatannya terkejut saat mengetahui bahwa Glastila mengirim begitu banyak pasukan. Untuk alasan yang berbeda, aku juga agak terkejut sekaligus cemas.
"Kami masih belum mendengar rencana spesifiknya. Namun, mengingat Kuil Ortodox juga mengirim para paladin, besar kemungkinan ada domain iblis di Midgard."
Paladin biasanya tidak akan ikut campur dengan peperangan antara kerajaan manusia. Kelompok itu hanya akan bergerak ketika ada iblis kuat yang mengganggu dunia fana. Jadi, memang masuk akal jika mereka bergerak karena ada invasi dari para iblis. Namun, mengingat beberapa kejadian yang sudah kami lewati, kurasa mustahil kekuatan militer sebanyak ini dikirim hanya karena iblis setingkat demon lord.
Memang bagus untuk melakukan kontak dengannya dan menjadikannya bawahanku dalam rangka untuk membangun kekuatan. Masalahnya, sekarang sudah terlambat. Dia sudah diketahui oleh dunia dan sejumlah besar kekuatan militer menargetkan nyawanya. Tentu saja aku tidak sebodoh itu sampai-sampai memilih mendatanginya dan bertarung bersama.
Lagipula aku ini iblis, bukan manusia. Saling membantu hanya akan terjadi saat kedua belah pihak saling diuntungkan. Karena dia sudah ketahuan, kerugiannya jauh lebih besar daripada manfaat yang bisa kudapatkan. Jadi, semoga beruntung.
"Kenapa mereka tampak takut padamu?"
Ketika kami kembali masuk ke dalam kereta dan melanjutkan perjalanan, Alma berbicara pada Cellica yang duduk berhadapan dengan kami. Terus terang aku juga sedikit penasaran.
"Yah ... " Cellica tertawa seraya menggaruk kepalanya. "Bagaimana cara menjelaskannya, ya? Bisa dibilang aku ini anak seorang bangsawan?"
Jadi, dia itu salah satu keturunan orang penting di Kekaisaran Dwarf, ya? Kurasa sikap para penjaga tadi menjadi cukup masuk akal sekarang.
"Begitukah? Apakah itu sebabnya kau bahkan bisa membungkam anak direktur akademi?" Alma membalas ucapan Cellica dengan sebuah pertanyaan.
"Bukan hanya karena itu. Anak direktur cuma pandai bicara sementara kemampuan bertarungnya sangat remeh. Jadi, dia memang murni takut padaku, bukan karena statusku."
Ah, kalau dipikir-pikir benar juga. Sangat jarang ada dwarf yang mau belajar di kerajaan manusia. Selain karena sangat jauh, biaya sehari-hari dan budaya yang berbeda juga kadang membuat sulit untuk beradaptasi. Aneh rasanya melihat salah satu dari mereka bersekolah. Apalagi saat aku tahu bahwa dia datang ke akademi sebenarnya untuk mempelajari bidang alkimia yang jarang sekali menarik minat para dwarf.
Walaupun begitu, aku tidak mau bertanya tentang topik itu padanya. Aku tak ingin dia mengoceh panjang lebar lagi.
Pelabuhan ternyata tidak terlalu jauh. Walaupun begitu, kami masih tetap membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke pelabuhan karena terjebak kemacetan.
Jalan utama Kota Pelabuhan memang terbilang luas. Bahkan mungkin cukup luas sampai dapat menampung empat kereta kuda yang berjalan berdampingan. Namun, jumlah kendaraan dan orang yang berlalu-lalang luar biasa banyak.
Sebagian besar adalah para prajurit militer dari Kekaisaran Dwarf. Akan tetapi, para paladin dan prajurit militer elf juga tidak sulit ditemui.
Kebanyakan dari mereka mengangkut peti-peti dari kereta ke dalam bangunan. Ada juga yang bertugas untuk mengatur lalu lintas yang padat dan mendistribusikan peralatan tempur serta bubur gandum kepada para prajurit yang baru saja tiba.
Bukankah aktivitas militer di sini terlampau ramai? Apakah masalah yang sedang terjadi jauh lebih buruk daripada imajinasiku? Jika memang iya, maka ini adalah kabar buruk bagiku juga.
Kalau Hestia sampai menilai bahwa huru-hara tidak dapat ditangani lagi oleh makhluk fana, dia pasti akan mengirim Deka Logos untuk mengurusnya. Menilai dari seberapa peka kemampuan mereka dalam mendeteksi iblis, akan sulit bagiku untuk bersembunyi dari mereka. Jika sesuatu seperti itu sampai terjadi, kemungkinan terbongkarnya identitasku akan menanjak tajam.
Aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih sampai kami tiba di pelabuhan. Namun, ketika aku menatap kapal logam raksasa yang berjejer seraya mengibarkan bendera Kekaisaran Dwarf, pikiranku sedikit teralihkan.
Ada begitu banyak kapal di sana. Masing-masing dipasangi meriam besar di atas deknya. Seakan menambah keindahannya, tiga buah cerobong yang terus mengeluarkan asap putih berdiri setinggi lebih dari empat puluh meter.
"Tidak ada layar sama sekali?" Alma bertanya dengan suara yang sedikit menunjukan rasa takjub.
"Ho~? Apakah ini kali pertama kau melihat kapal bertenaga sihir?" Cellica terlihat menyombongkan dirinya.
Aku pribadi sudah pernah mendengar tentang kapal seperti ini ketika berperang dengan Kekaisaran Dwarf. Namun, ini merupakan pertama kalinya bagiku untuk melihatnya secara langsung. Sebelumnya, ketika aku memutuskan untuk pergi sendiri menyerang Arbellion, semua kapal sudah dimusnahkan sehingga tak ada kesempatan bagiku untuk melihatnya.
Tak kusangka akan datang hari di mana aku bisa melihat semua ini.
"Untuk menggantikan layar, kapal-kapal ini memutarkan baling-baling yang ada di dalam air sebagai tenaga pendorong. Kau lihat cerobong asap itu?"
Cellica menunjuk cerobong-cerobong besar yang terus mengeluarkan asap.
"Di dalam kapal ada ruangan khusus yang diukir dengan rune. Setiap rune membentuk sirkuit sihir jenis api. Jadi, saat batu sihir ditempatkan di dalam ruang bahan bakar, sirkuit sihir akan aktif dan menciptakan panas.
"Panas itu akan mendidihkan air di dalam boiler dan menciptakan uap yang kemudian digunakan untuk menggerakan turbin yang terhubung dengan baling-baling di bawah air. Hal ini membuat kapal kami bisa mengarungi lautan jauh lebih cepat bahkan tanpa perlu bantuan angin maupun arus laut. Dengan mengaplikasikan teknologi luar biasa itu, kami juga berhasil menciptakan kereta perang berlapis mithril tanpa kuda yang berjalan di atas rel."
Para dwarf memang mengerikan. Mereka menggunakan sihir dengan cara mereka sendiri. Bahkan ketika aku menghadapinya dahulu, mereka menyerangku menggunakan batang logam yang sanggup memuntahkan ratusan potongan logam kecil secara terus-menerus. Memang tidak meninggalkan luka fatal, tetapi tetap menyakitkan. Padahal logam-logam yang mereka gunakan bukan terbuat dari material yang bisa melukai dewa.
"Sekarang kendaraan berlapis mithril yang dipersenjatai dengan meriam dan tidak memerlukan rel sudah mulai diproduksi massal. Golem kami juga sudah memasuki fase berikutnya. Tunggu dan lihatlah ... "
Cellica semakin sering mengoceh ketika kami sudah naik ke atas dek dan kapal mulai berlayar.
Aku yang tidak terbiasa dengan kendaraan semacam ini mulai merasa tidak nyaman. Bahkan, saat kapal mengarungi lautan penuh ombak di hari berikutnya, aku berakhir dengan muntah beberapa kali dan terkapar di atas tempat tidur tanpa bisa melakukan apa-apa.
Kapal benar-benar kendaraan terburuk. Bagaimana bisa mereka mengarungi lautan dengan sesuatu yang menyiksa seperti ini? Selain itu, hal yang jauh lebih menjengkelkan dari ketidak nyamanan ini adalah mengetahui kenyataan bahwa Alma sama sekali tidak mabuk.
Serius, kenapa si bodoh ini bisa tahan dengan penyiksaan yang bahkan membuatku kewalahan?!
--------------------------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Senin, 30 Maret 2020 pukul (ntah kapan terserah mangatun publishnya jam berapa)
Note : Jalur utama antara kota di kampungku dah ditutup uwu. Selain kendaraan pribadi gak boleh lewat.