RE:Verse

RE:Verse
20. Nidavellir



Kejadian kali ini sepertinya memang didalangi oleh Pangeran Pertama dari Kerajaan Ignis. Soalnya, target yang diincar oleh pemimpin kerusuhan kali ini merupakan delegasi mereka sendiri.


Kerajaan itu memang sudah sejak lama mengalami perang dingin antara dua faksi besar. Mereka yang mendukung Pangeran Kedua mungkin saja mengincar posisi anggota keluarga kerajaan dan bermaksud untuk menjodohkan salah satu putranya kepada putri bungsu. Oleh sebab itu, membunuh Sang Putri merupakan langkah paling cepat untuk memangkas kekuatan faksi pedagang.


Biasanya saat ada pergantian takhta, banyak saudara-saudari Raja yang akan diasingkan dalam kastil terpencil. Terutama bagi mereka yang jelas menjadi musuh pada saat perebutan takhta. Walaupun begitu, karena Pangeran Kedua dan Putri Bungsu adalah anak Sang Ratu, sebagian besar bangsawan percaya bahwa putri itu tidak akan diasingkan. Apalagi dirinya sama sekali tidak tertarik dalam dunia politik dan secara terang-terangan ingin menjadi seorang ksatria wanita.


Ketika berita mengenai dirinya yang memasuki akademi menyebar di kalangan masyarakat kelas atas, banyak pedagang kaya dan bangsawan kecil yang sebelumnya netral mulai memihak pada Pangeran Kedua. Tentu saja aku langsung tahu apa yang mereka incar.


"Memang bagus menempatkan anak-anak mereka untuk dijodohkan dengan Sang Putri, tetapi apa mereka pikir sesuatu seperti itu akan benar-benar terjadi?" Aku bertanya pada Alma yang berjalan di sampingku.


Kami sedang dalam perjalanan menuju Guild Petualang untuk mengambil identitas yang sebelumnya diajukan oleh Alma.


Anggota delegasi sudah memutuskan untuk pulang tepat sehari setelah penyerangan. Mereka menyinggung penyerangan iblis untuk menyatakan bahwa ibukota sedang tidak aman dan mengajukan keluhan kepada Raja Cygnus. Saat Raja mendengarnya, dia menyunggingkan senyum kecil sebelum memutuskan untuk memberi kompensasi sebagai permintaan maaf.


Aku yang menyaksikannya secara langsung juga merasa semakin tertarik dengan orang itu. Dia benar-benar raja yang gila rupanya. Tergantung kebijakan Raja Ignis, perang besar antara dua kerajaan bisa saja terjadi.


Korban mati pada saat kerusuhan berlangsung adalah beberapa penonton dan lusinan bangsawan tinggi yang memiliki banyak pengaruh. Lucunya, sebagian besar bangsawan yang mati secara kebetulan adalah faksi yang menentang kekuasaan raja saat ini. Hanya dengan mengetahui semua itu saja aku sudah bisa menyimpulkan bahwa musibah kali ini dimanfaatkan dengan baik.


Terserahlah, toh tidak ada hubungannya denganku.


"Mereka adalah aliansi yang terikat di bawah kepemimpinan Marquis Canaria. Orang-orang percaya bahwa dia mustahil berkhianat dan akan membagi keuntungan secara adil. Memang dilarang adanya pemaksaan dalam perjodohan putri, tetapi Marquis Canaria juga tidak melarangnya. Lagipula ... "


Alma berhenti berbicara untuk sementara seraya mengangkat kepalanya, menatap langit biru pagi hari.


"Pernikahan Putri Estelle hanyalah bonus. Pangeran Kedua sudah menjanjikan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan bangsawan feodal dan para pedagang kecil."


Jujur saja pergerakan yang lambat seperti itu bukanlah gayaku. Jadi, aku tidak terlalu tertarik untuk mendengar detilnya sama sekali. Bila dibandingkan dengan sistem kerajaan iblis yang menjunjung tinggi kekuatan, kerajaan manusia tampaknya sangat membutuhkan penyokong untuk dapat tetap stabil. Inilah sebabnya mereka membentuk aliansi dan perjanjian di atas kertas ketika menginginkan kekuasaan.


"Apa rencana kita selanjutnya?" Menyadari bahwa aku tidak membalas kata-katanya lagi, Alma tiba-tiba bertanya.


Sebenarnya aku tidak punya rencana khusus untuk ke depan. Tujuanku untuk berbicara dengan daywalker gagal total. Ketika kerusuhan terjadi, mereka segera dilindungi oleh Imperial Knight dan aku sama sekali tidak diizinkan dekat-dekat. Pada akhirnya aku memilih untuk keluar sendiri dan bertemu dengan rombongan raja ketika suasananya sudah membaik.


Raja menetapkan status siaga di ibukota sehari setelahnya. Akibat keputusannya tersebut, aku yang merupakan orang luar tidak diperbolehkan untuk berada di istana lagi. Sebagai gantinya, mereka memberiku beberapa koin emas dan menyewakan kamar di sebuah penginapan mewah untukku selama satu bulan.


"Tidak ada rencana untuk saat ini. Kurasa menetap beberapa hari di sini tidak akan jadi masalah." Aku membalas pertanyaan Alma.


"Kalau begitu, bagaimana jika kita pulang ke Trowell?"


Pulang? Sejak kapan kota itu jadi rumah kita? Yah, bukan berarti aku tidak setuju dengan ajakannya.


Ketika aku akan memutuskan untuk menerima permintaannya, seseorang tiba-tiba memanggil kami dari belakang.


"Oi, gadis petualang bertopeng aneh!"


Kami menoleh ke belakang hampir bersamaan, menatap seorang gadis kecil dengan topi khas penyihir dan armor kulit lusuh. Dia membawa tas gendong yang agak besar seraya melambaikan tangan ke arah kami. Kemudian, saat menyadari kami melihatnya, dia berlari mendekat.


"Apa kau mengenalnya?" Aku bertanya pada Alma.


"Bocah elf yang ada di turnamen. Namanya ... Latifa?" Alma malah mengucapkannya dengan nada bertanya seraya sedikit memiringkan kepalanya.


"Cellica! Namaku Cellica! Dan aku ini dwarf!" Gadis itu langsung membentak membetulkan kata-kata Alma.


Kapan mereka jadi seakrab ini? Mengesampingkan masalah itu, entah kenapa penampilannya agak berbeda dengan dwarf biasa. Memang secara fisik tidak ada yang salah dengannya, tetapi dia memancarkan sedikit aura suci yang seharusnya tidak dimiliki oleh dwarf.


Bagaimana bisa?


"Cellica, ya?" Aku tersenyum ke arahnya. "Namaku Yehezkiel dan dia adalah adikku, Almaria."


Ketika aku mengenalkan diri, Cellica terlihat agak tertegun. Dia memandangku dengan tatapan yang melebar. Apa yang aneh?


"Bagaimana kau bisa punya adik yang sama sekali tidak mirip?"


"Karena kami memang bukan saudara kembar." Alma menjawab pertanyaannya dengan nada yang seakan menyiratkan bahwa itu hal yang tak perlu dipertanyakan lagi.


"Maksudku sifat! Kau itu menyebalkan sementara kakakmu cukup sopan. Bukankah itu aneh?"


Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka? Apakah Alma melakukan sesuatu yang membuatnya marah saat kejadian itu?


"Ah, lupakan saja. Aku malah kesal sendiri." Gadis itu menghela napasnya sebelum kembali berbicara. "Apakah kalian akan pergi ke guild? Kalau iya, bolehkah aku ikut?"


"Tentu saja. Kami tidak keberatan."


Aku menyetujuinya tanpa pikir panjang, tetapi kemudian menyesalinya. Anak ini banyak bicara! Benar-benar menyebalkan berada bersamanya.


"Racun binatang magis sebenarnya bisa dipakai untuk obat ... "


"Kau tahu? Udara itu tidak hanya satu unsur ... "


"Di Arbellion, kami punya golem logam dan ... "


"Bagaimana kalau menerima quest dariku dan ... "


Sialan, kenapa aku harus mendengarkan semua ocehannya yang tidak penting?


Pada akhirnya aku bisa bertahan tanpa membunuhnya sampai kami tiba di guild.


Ketika kami memasuki ruangan guild, ada banyak sekali petualang yang berkumpul di sini. Kelihatannya penyerangan beberapa hari lalu menarik perhatian para petualang ke ibukota. Mereka mungkin penasaran bagaimana rupa iblis sebenarnya. Yah, itu bukan urusanku.


"Ramai sekali! Jika kita berjualan di sini, apakah akan mendapat banyak untung?"


Aku mengabaikan omong kosong Cellica.


Kami berjalan menuju salah satu resepsionis yang sedang tidak menerima tamu. Tepat sebelum aku mulai berbicara, seorang petualang berotot dengan tatto pada tubuhnya menghampiri kami. Dia menyeringai seakan sedang berusaha mengintimidasi.


"Benar sekali, akhirnya ada orang yang merasakannya juga. Aku sudah sering mengalaminya, kau tahu?" Alma menimpalinya dengan sedikit antusias.


Hei, sejak kapan kalian akrab?!


"Aku petualang pendatang dari Cerbia. Karena banyak sekali petualang di sini, jumlah quest jadi sangat sedikit. Apa kalian akan mengajukan quest? Kalau tidak keberatan, biar aku yang melakukannya." Pria itu menunjuk dirinya sendiri dengan jari jempolnya seraya tertawa dengan suaranya yang berat.


"Eh? Kau tidak bermaksud untuk mengejek kami?" Cellica yang keheranan bertanya dengan wajah seakan tidak percaya.


"Apa? Tidak." Lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Kelompokku sama sekali tidak menghasilkan apa pun begitu kami tiba di sini. Kupikir kami akan terus seperti ini jika tidak langsung menanyakan quest kepada tamu sebelum resepsionis mendaftarkannya."


Ah, dia cuma petualang miskin yang tak berpenghasilan rupanya.


Membicarakan quest sebelum mendaftar memang diperbolehkan. Selama transaksi dilakukan melalui guild, tidak akan ada siapa pun yang dirugikan. Jadi, mendatangi tamu yang datang merupakan salah satu cara paling efektif jika seorang petualang ingin mendapatkan pekerjaan dengan cepat.


"Oh, maafkan aku. Mereka berdua sudah menerima quest-ku. Jadi, mungkin lain kali?" Cellica membalas dengan sopan seraya sedikit membungkuk sebagai permintaan maaf.


"Ah, tidak apa-apa. Aku pikir kalian hanya sekelompok pengembara. Rupanya mereka berdua petualang, ya? Kalau begitu sampai jumpa."


Lelaki itu berbalik dan pergi menuju mejanya lagi. Dia melanjutkan acara minumnya bersama teman-teman kelompoknya. Rupanya, kami tidak boleh menilai orang hanya dari penampilannya saja.


Tunggu dulu, kelihatannya ada sesuatu yang salah dengan kata-kata Cellica.


"Sejak kapan kami menerima quest darimu?" Aku bertanya padanya.


"Eh?" Bukan cuma Cellica, Alma juga sedikit mengubah raut wajahnya saat aku bertanya. "Bukankah tadi kau menyetujuinya?"


"Kapan?"


"Di perjalanan, saat kita menuju kemari. Aku bertanya dan kau setuju."


Mendengar penjelasannya, aku memandang ke arah Alma yang berdiri tepat di sampingku. Menyadari tatapanku dan tahu maksud dari tatapan itu, Alma menganggukan kepalanya.


Apa?! Kapan aku melakukannya? Bukankah dia hanya berbicara omong kosong sepanjang jalan dan aku cuma mengabaikan semua ocehannya seraya menganggukan kepala supaya dianggap mendengarkan? Kenapa arah pembicaraannya menjadi pengajuan quest?!


Sialan!


Biarkan saja dulu, mari kita dengarkan apa isi quest-nya.


"Apa yang kau ingin kami lakukan?"


"Bukankah aku sudah menjelaskannya sebelumnya?"


Aku sedikit tertawa ringan saat Cellica memandangku dan mengerutkan dahinya. Apakah dia marah?


"Maaf, aku tidak mendengarkan."


Cellica menghela napasnya sebelum kembali berbicara.


"Mau bagaimana lagi. Cuma quest penjagaan. Karena kerusuhan yang terjadi di sini, orangtuaku menyuruhku untuk pulang terlebih dahulu sampai keadaan ibukota kembali stabil. Jadi, aku ingin kalian menjagaku sampai ke Arbellion."


Permintaan untuk menjaganya selama perjalanan, ya? Tampaknya cukup merepotkan. Lagipula di mana Arbellion itu?


Karena tujuannya adalah pulang, maka kemungkinan Kota Arbellion adalah suatu wilayah di benua para dwarf. Kalau begitu, kita harus menyeberangi lautan. Bukankah perjalannya lumayan memakan waktu?


Kurasa aku harus menolaknya.


"Jangan khawatir dengan biaya. Aku bisa membayar kalian dua puluh keping emas. Juga, pasar di sana sangat bagus untuk dikunjungi. Jarang orang luar yang bisa menginjakan kaki di Arbellion, kau tahu? Setidaknya kau membutuhkan reservasi atau orang dalam untuk mendapatkan izin memasuki Arbellion."


Upahnya lumayan tinggi juga, ya? Selain itu, pasar yang dia maksud pastilah bukan pasar biasa. Kalau pasar terkenal di Kekaisaran Dwarf, sudah pasti pasar item, 'kan? Cukup menarik.


Ah, aku baru ingat!


Di masa lalu, saat aku bertarung melawan Glastila, tempat dimana kami berhadapan adalah sebuah kota yang bernama Arbellion. Kota tersebut merupakan daerah yang dibangun secara pribadi oleh Glastila dan katanya sangat sulit untuk dimasuki orang luar. Bahkan seorang raja dari sembilan kerajaan dwarf sekalipun tidak bisa masuk ke sana tanpa izin dari Glastila.


Kalau begitu, kelihatannya tidak ada ruginya aku ke sana.


"Baiklah kalau begitu. Kita akan pergi besok." Aku menyetujui quest yang dia ajukan.


Kota yang dibangun oleh Glastila, ya?  Aku penasaran seindah apa kota yang di masa lalu aku hancurkan itu. Kuharap kali ini aku bisa melihatmu lagi walaupun hanya dari kejauhan.


------------------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 21 Maret 2020 pukul 12:00 PM.


Note :


Bingung kenapa ada sembilan kerajaan dwarf?


Sistemnya seperti ini :


• Wilayah dwarf (manusia menyebutnya Benua Dwarf atau Benua Barat, tetapi dwarf sendiri menyebut benuanya sebagai Nidavellir) itu dibagi ke 9 wilayah yang masing-masing dipimpin oleh raja.


• Kekaisaran Dwarf berdiri tepat di tengah wilayah dan tidak termasuk wilayah kerajaan manapun.


• Alih-alih tunduk pada Sembilan Raja, Kekaisaran lebih seperti menguasai Nidavellir secara keseluruhan dan akan menghukum kerajaan manapun yang mencoba kembali menyulut peperangan ke benua itu.


• Oleh karena itu, bagi para dwarf, orang kekaisaran dipandang memiliki derajat lebih tinggi daripada orang dari sembilan kerajaan.


Info lebih lanjut akan diterangkan dalam cerita.