RE:Verse

RE:Verse
23. Pemicu Perang



Carmen membawa kami ke depan sebuah mansion di kota yang asing. Dia mengatakan bahwa pemimpin domain iblis --Greed-- berada di dalam mansion tersebut.


Bukankah kemampuannya dalam memanipulasi dimensi benar-benar mengerikan? Jika dia mau, aku mungkin bisa ditusuk dari belakang olehnya ketika sedang tidur. Walaupun termasuk makhluk lemah, aku tak boleh meremehkan gadis pendeta ini.


"Semoga beruntung. Jujur aku tidak berani untuk menemani kalian bertemu dengan raja iblis. Kesehatan mentalku pasti akan terganggu jika aku melihatnya."


Carmen kembali memasuki lubang dimensi yang dibuatnya dan meninggalkan kami begitu saja.


Apa-apaan orang ini? Dia jauh lebih takut untuk berhadapan dengan raja iblis dibandingkan denganku? Bukankah seharusnya kau lebih takut padaku?


Yah, mari lupakan masalah sepele ini. Mungkin dia masih tidak tahu siapa aku sebenarnya.


Aku menukar pedang biasa di pinggangku dengan Hecate untuk memudahkan Greed dalam mengenaliku. Terus terang aku tidak mau kesalah pahaman seperti dulu terulang kembali dan berakibat fatal.


Ketika diriku dan Alma melangkah mendekati gerbang, salah seorang prajurit yang sejak tadi berdiri memandang kami mulai berbicara.


"Selamat datang di mansion milik Keluarga Baron Cromwell. Apakah Anda memiliki urusan dengan tuan tanah feodal?"


Ada apa dengan sambutan aneh ini? Lagipula kenapa ada prajurit manusia di tempat tinggal raja iblis? Aku benar-benar heran.


Untuk sekarang, mari kesampingkan terlebih dahulu keanehan ini.


"Aku datang untuk menemui Greed."


Mendengar balasanku, sikap prajurit itu sedikit berubah. Entah kenapa dia terlihat jauh lebih menghormatiku daripada sebelumnya.


"Oh, maafkan saya karena sudah menahan Anda. Tuan tanah telah menunggu kedatangan Anda berdua."


Kedua penjaga itu segera membukakan gerbang dan mempersilakan kami masuk.


Greed menunggu kedatanganku? Apakah dia sebenarnya sudah tahu keberadaanku dan menyiapkan semua ini untukku? Seperti yang diharapkan dari salah satu raja iblis.


Ketika kami melangkah mendekati mansion, tanpa diduga pintu ganda mansion mulai terbuka. Dari balik pintu ganda tersebut, sosok makhluk yang sudah tidak asing lagi keluar dan berjalan menuju gerbang tempat kami berada.


Sosok itu memiliki tinggi lebih dari tiga meter dengan kulit bersisik seperti reptil. Sepasang sayap hitam di punggungnya terlihat seperti menyebarkan aura hitam di sekitarnya. Aku melihat sepasang tanduk di kepalanya, tetapi salah satu tanduknya terlihat patah.


"Hamba senang Anda akhirnya menemui kami, wahai dewa kami."


Monster itu membungkukan kepalanya kepada kami berdua sebagai lambang penghormatan.


Apakah dia tahu siapa diriku sebenarnya hanya dalam sekali melihat? Luar biasa, dia bisa mengenaliku dalam waktu singkat. Seperti yang kuduga dari salah satu acient demon teratas.


"Tidak sepertimu, kelihatannya Garfagos langsung mengenaliku."


Aku mengucapkan itu kepada Alma sekadar untuk menggodanya. Sebagai balasan, gadis itu hanya diam tanpa dapat berkata apa-apa. Kemudian, Alma malah berbicara kepada Garfagos seakan mengalihkan topik.


Apakah dia merasa bersalah dengan kejadian saat aku pertama kali memanggilnya?


"Ya-yah, sudah lama tidak bertemu."


Mendengar ucapan Alma yang jelas sedang gugup, Garfagos tertawa. Suara tawanya bahkan sampai menghempaskan udara di sekitar kami. Kurasa konsentrasi mana miliknya yang sangat kental sedikit memengaruhi lingkungan sekitarnya.


"Apa yang terjadi dengan tubuhmu, Kakak? Tubuh aslimu saja sudah kecil. Sekarang kau malah memilih tubuh manusia yang kecil juga. Apa kau terobsesi untuk menjadi sekecil kutu?"


Mendengar kalimat ejekan seperti itu, wajah Alma agak berubah. Kurasa dia sedikit tidak senang dengan ucapan tersebut.


"Lebih baik kau tutup mulutmu atau tandukmu yang lain akan kupotong juga."


"Oh, kau mengungkit masalah tanduk di pertemuan pertama kita setelah sekian lama tak saling bertemu? Apakah memotong tandukku membuatmu menjadi besar kepala? Asal kau tahu, di pertarungan kita berikutnya, akan kucabut semua cakar dan gigimu lalu kuubah menjadi tusuk gigi."


Yah, betapa akurnya mereka berdua.


Garfagos dan Alma sebenarnya memiliki hubungan darah yang erat. Sementara Alma dianggap sebagai produk cacat dan dibuang, Garfagos merupakan produk kebanggaan orangtuanya. Dia bahkan berhasil menempati posisi sebagai monarch yang berada di bawah perintah Greed. Tidak ada seorang pun yang tak mengenalnya di dunia bawah. Bahkan raja iblis lain sekalipun akan merasa tertekan dengan kehadirannya.


Dahulu, sebelum aku dikirim ke masa lalu, seingatku Garfagos memiliki tanduk yang lengkap. Namun, sekarang dia kehilangan salah satu tanduknya. Kurasa hal ini disebabkan oleh berubahnya masa lalu sehingga memicu kejadian yang membuatnya kehilangan tanduknya.


Berdasarkan dari pembicaraan mereka berdua, aku berasumsi bahwa Alma mungkin memotongnya saat mereka terlibat perkelahian. Padahal dulu mereka berdua berada di bawah pimpinanku sehingga hampir tidak mungkin terlibat perkelahian satu sama lain.


Sebelumnya Alma mengatakan bahwa setelah kepergianku, Kekaisaran Iblis kembali terbagi menjadi tujuh dan perang besar terjadi lagi. Mungkinkah Garfagos dan Alma berada pada kubu yang berbeda? Aku jadi penasaran kepada siapa Alma memihak saat perang kembali pecah.


"Bukankah itu sebuah keajaiban? Sungguh luar biasa Fiora bisa menang darimu."


Aku mengemukakan pendapatku tentang pertarungan mereka. Jujur saja, aku tidak percaya iblis seperti Alma bisa melakukan hal-hal seperti ini.


Mendengar ucapanku, Garfagos tertawa sekali lagi.


"Kau dengar itu, Kakak? Yang Mulia menganggap kemenanganmu sebagai keajaiban! Tidakkah kau merasa malu setelah mendengarnya?"


Wajah Alma yang datar sedikit memerah. Apakah dia mulai merasa malu dalam menghadapi ejekan-ejekan dari kami?


"Justru kau yang seharusnya malu karena kalah dariku. Apalagi kau dengan bangga memamerkan tanduk patahmu itu ke mana-mana."


Monster di hadapan kami terkekeh seraya menunjuk tanduknya yang patah dengan jari jempol tangan kirinya.


"Tanduk ini adalah sebuah bukti bahwa aku telah melawan Gatekeeper yang dirumorkan sebanding dengan raja iblis dan berhasil selamat. Tidakkah itu terdengar luar biasa? Reputasiku meroket berkat hal ini dan reputasimu juga ikut naik. Para monarch bahkan percaya bahwa idiot sepertimu sanggup menandingi Seven Deadly Sins."


Garfagos benar-benar telah melakukan pembohongan publik yang sangat parah.


Memang benar bahwa aku menyebarkan kesan bahwa Alma adalah salah satu iblis terkuat dengan tujuan agar para raja takut terhadap pasukanku dan menekan kerusuhan. Berkat hal inilah aku dapat mengendalikan tujuh kerajaan iblis dan membungkam pemberontakan mereka.


Garfagos sendiri mengetahui kenyataan dibalik kebohongan yang kubuat. Namun, walaupun dia berusaha menyebarkan fakta sebenarnya selama ribuan tahun, sama sekali tidak ada yang berubah. Tujuh raja iblis masih tetap tidak mau berurusan dengan Alma. Apalagi saat aku memutuskan untuk menyimpan semua senjataku pada orbis miliknya dan memberikan gelar Gatekeeper padanya.


Sekarang ... alih-alih mengungkap kebohongan yang kubuat, Garfagos malah merasa senang dan membual tentang pertarungannya dengan Alma. Apakah sifatnya juga berubah akibat dari sihir Sang Pahlawan?


Aku benar-benar tidak mengerti dengan keanehan yang selama ini terjadi di sekitarku.


"Kadal sialan ini ... "


Alma menggeram di sampingku dengan nada marah yang tertahan. Namun, sebelum keduanya terlibat perdebatan yang lebih jauh, aku memotong pembicaraan mereka.


"Bisa kau tunjukan di mana Greed sekarang? Aku ingin mendiskusikan sesuatu dengannya."


Menyadari kesalahannya ketika aku berbicara seperti itu, Garfagos mulai panik. Dia berbicara dengan tergesa-gesa.


Garfagos kembali masuk ke dalam mansion. Saat dia membungkuk untuk menghindari terbentur batas atas pintu terlihat agak lucu. Untung saja aku berhasil menahan tawa.


Dia memandu kami ke dalam sebuah ruangan mewah yang dihias oleh berbagai macam lukisan. Aku tidak terlalu memperhatikan detail dari ruangannya karena kedua mataku langsung tertuju pada seorang pria yang tengah duduk di sebuah kursi mewah berbahan kulit binatang.


Ketika melihatku, pria itu berdiri dan membungkukan tubuhnya padaku seakan memberikan penghormatan. Lalu, dia berbicara dengan nada yang begitu sopan.


"Betapa bahagianya hamba dapat kembali bertatap muka dengan Anda, wahai dewa kami yang agung."


Aku mengabaikan penghormatannya dan memilih untuk lekas duduk pada kursi mewah berlapis kulit binatang yang menghadap ke arahnya. Sementara itu, Alma berdiri diam di samping belakangku layaknya seorang kesatria manusia. Kulihat Garfagos juga mengambil sikap yang sama di belakang Greed.


"Aku tidak akan berbasa-basi karena kita hanya punya waktu sedikit. Greed, aku memperbolehkanmu duduk berhadapan denganku."


Menanggapi perkataanku, lelaki itu --yang kuasumsikan sebagai Greed-- mengucapkan kalimat, "sesuai perintah Anda, Yang Mulia," kemudian, dia kembali duduk di tempatnya sebelumnya.


Sebenarnya aku ingin bertanya kenapa dia bisa berada di dalam tubuh seorang manusia juga dan bagaimana caranya dia termanifestasi ke dunia. Namun, aku bisa membahas hal ini untuk nanti.


"Kalau begitu, aku akan langsung mengatakan inti dari tujuanku datang kemari."


Aku menjelaskan tentang alasan kenapa diriku tiba-tiba meninggalkan Kekaisaran Iblis dan apa yang sebenarnya sedang kulakukan. Tentu saja aku tak menceritakan kisah yang sesungguhnya. Apa yang kukatakan hanya alasan yang sudah kupikirkan selama ini. Sesuatu yang sebelumnya kuceritakan pada Alma ketika dia bertanya hal yang sama.


Intinya, aku mengaku bahwa dalam rangka untuk membangun kekuatan dan memantapkan pondasi domain iblis di dunia fana, diriku menyamar menjadi manusia di dunia ini guna membuat Kerajaan Langit lengah. Kemudian, setelah persiapanku selesai dan kekuatan pasukanku telah mencapai kesempurnaan, aku bermaksud untuk menyapu dunia fana dan Kerajaan Langit dalam satu kali peperangan.


"Oleh karena itu, aku ingin kau dan pasukanmu bersembunyi sampai hari peperangan itu tiba."


Setelah mendengar penjelasanku, Greed terdiam cukup lama. Raut wajahnya jelas menunjukan ketidak puasan, tetapi tampaknya tidak ada niatan untuk menolak perintahku.


"Begitukah. Seperti yang diharapkan dari dewa kami yang maha agung. Anda sudah memiliki pandangan yang jauh ke masa depan. Hamba merasa malu dengan tindakan hamba selama ini yang secara bertahap menggoyahkan rencana sempurna Anda. Yang Mulia bahkan sampai repot-repot mendatangi hamba untuk memberi perintah secara pribadi."


Ah, kelihatannya berjalan dengan baik. Dia bahkan tidak sedikit pun menanyaiku tentang alasan di balik perintah anehku itu. Kurasa percuma diriku menyiapkan berbagai macam jawaban kalau-kalau dia memberikan berbagai macam pertanyaan.


Kalau begitu, kurasa aku bisa sedikit bersantai dan menanyakan beberapa hal yang sejak tadi ingin kuketahui.


"Sebenarnya aku agak tertarik dengan sesuatu." Aku memulai topik baru dengan kalimat layaknya basa-basi. "Bagaimana kau bisa naik ke dunia fana dan berada di dalam tubuh manusia?"


"Oh ... tidak pernah hamba berharap bahwa makhluk luar biasa seperti Anda tertarik dengan makhluk rendahan ini."


Greed kelihatannya cukup antusias dengan pertanyaan yang kuajukan. Jujur saja melihat respon berlebihannya membuatku sedikit jijik.


"Hari itu hamba sedang bersenang-senang di dalam orbis. Namun, kemudian pandangan hamba menjadi gelap tanpa sebab yang jelas. Ketika hamba membuka mata, apa yang hamba lihat adalah sebuah kota porak-poranda dimana mayat manusia bergelimpangan. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Setiap kali hamba mengingat pemandangan itu, tubuh ini pasti gemetar oleh kegembiraan!"


Uh, penjelasannya sedikit sulit untuk dimengerti. Akan tetapi, kurasa aku bisa memahami sebagian besar ucapannya.


Jiwanya mungkin tiba-tiba tertarik menuju tubuh manusia itu ketika dirinya sedang menggunakan mantra orbis. Oleh karena itu, Greed sekarang memiliki penampilan seperti manusia. Beruntung baginya karena dapat memanggil Garfagos secara penuh sebelum aturan mengenai mana kegelapan yang merusak tubuh berlaku.


Sekarang masalahnya adalah, siapa yang memanggil Greed ke dunia fana?


Makhluk fana tidak mungkin dapat menembus gerbang kegelapan tujuh belas dan mengaktifkan Mantra Necromancy Tingkat Ketiga. Satu-satunya kemungkinan hanyalah bahwa Greed termanifestasi dengan sendirinya, sama seperti kasusku sebelumnya. Kalau begitu, mungkin hal yang menimpanya juga berhubungan dengan perubahan dunia yang sering terjadi belakangan ini.


Aku penasaran sampai kapan dunia akan tetap tidak stabil seperti ini.


"Ah, wahai dewa kami yang agung, hamba baru saja mengingat sesuatu yang akan membuat Anda senang!"


Ucapan Greed yang tiba-tiba memecahkan lamunanku.


"Hamba sudah mengumpulkan cukup jiwa untuk memanifestasikan tubuh seorang raja iblis. Jika Anda memberi hamba waktu sedikit lebih lama, hamba bisa menambahkan jiwa lain untuk memenuhi ritual pengorbanan dalam memanifestasikan tubuh luar biasa Anda ke dunia fana!"


Oh? Dia menyinggung sesuatu yang menarik.


Memang ada beberapa cara untuk menyusun tubuh fana para iblis ke dunia ini. Selain menggunakan mantra dan mengorbankan sekitar setengah dari jumlah mana milikku, menggunakan pengorbanan juga bisa dilakukan. Setidaknya butuh sekitar 300.000 jiwa makhluk fana untuk menyusun tubuh fana milikku. Sementara itu, bagi tubuh seorang raja iblis, setahuku butuh sekitar 200.000 jiwa.


"Kerja bagus! Setelah tubuhku benar-benar termanifestasi, aku akan membawa tubuh aslimu ke dunia ini dengan mengorbankan mana milikku."


Mendengar perkataanku yang penuh dengan kepuasan, Greed menunjukan seringai senangnya.


"Hamba sudah tidak sabar untuk melihat lagi sosok agung Anda, Yang Mulia!"


Bahasan selanjutnya tidak terlalu penting. Aku hanya bertanya tentang keadaan dunia bawah dan bagaimana kondisi setiap kerajaan sekarang.


Menurut Greed, dunia bawah terbagi menjadi delapan faksi yang berbeda. Tujuh faksi merupakan faksi yang dipimpin oleh setiap raja iblis. Sementara itu, faksi terakhir dipimpin oleh Alma.


Jujur saja, aku terkejut Alma menjadi pemimpin faksi. Benar-benar di luar dugaan.


Kalau dipikir-pikir, alasan di balik pertarungan antara Alma melawan Garfagos sekarang menjadi masuk akal. Mereka berada pada faksi yang berbeda. Jadi, tidak heran jika terjadi perang di antara mereka berdua.


Setiap pemimpin faksi sebenarnya tidak berniat untuk memberontak. Mereka hanya ingin menjaga perdamaian dengan cara menunjuk pengganti sementara untuk menduduki takhta. Sayangnya, di antara ketujuh raja iblis, tidak ada satu pun yang mau mengalah. Wajar jika perselisihan kecil itu tumbuh menjadi peperangan.


Alma sendiri tetap berpegang teguh padaku. Dia tidak ingin siapa pun menggantikanku walaupun itu hanya sementara. Inilah sebabnya lahir faksi baru yang menginginkan takhtaku tetap kosong sampai aku kembali.


Entah bagaimana aku harus mengatakan pendapatku. Di satu sisi aku senang bahwa mereka tidak berniat untuk memberontak. Namun, di sisi lain aku menyayangkan tindakan agresif mereka.


Karena Greed harus menyiapkan ritual dan menambah jumlah jiwa yang perlu dikorbankan dan aku perlu kembali melaporkan kesuksesanku kepada Demigod, kami mengakhiri pembicaraan sekitar dua jam kemudian. Namun, setelah aku meninggalkan mansion miliknya, ada sedikit masalah yang mengangguku.


"Bagaimana cara kita kembali ke kuil?" Aku bertanya pada Alma yang berjalan di belakangku.


Gadis itu sama sekali tidak menjawab, hanya terlihat berpikir tanpa mengemukakan apa pun. Kurasa dia juga kebingungan dengan masalah ini.


Menyadari bahwa tidak ada yang bisa kami lakukan, pada akhirnya aku memberikan sebuah ide.


"Bagaimana kalau kita tidur di kota ini untuk semalam?"


Tanpa perlu mendengar jawabannya pun aku sudah tahu Alma pasti akan setuju. Jadi, aku mulai mencari bangunan yang masih layak huni di sekitar jalanan. Akan tetapi, sebelum aku dapat menemukan sebuah bangunan, sesuatu mengarah kepada kami dengan cepat dari arah belakang.


Aku segera menarik Hecate dari pinggangku sementara Alma memasang topengnya dan menarik kedua belatinya. Dia berdiri tepat menghalangi tubuhku, bermaksud untuk menjadi perisai.


Tidak sampai satu detik setelah persiapan kami, sebuah gelombang panas kuat membakar segalanya, mengubah tempatku berada menjadi lautan lava berwarna merah kehitaman.


--------------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 04 Juli 2020 pukul 12:00 PM


Note : -