RE:Verse

RE:Verse
13.III Pesta Perpisahan Sederhana



Carla tidak memutuskan untuk pergi hari ini juga. Dia memberi tahuku bahwa kami akan berangkat besok menjelang siang dan menunggu kami di depan gerbang utama Kota Trowell.


Yah ... walau sehebat apa pun dia, berkendara dengan kereta kuda selama sepuluh hari tentu saja akan membuat tubuhnya sakit dan pegal. Tidak heran jika dia ingin istirahat terlebih dahulu di kota ini sebelum kembali ke ibukota.


Waktu yang diberikan olehnya aku manfaatkan untuk melakukan persiapan. Kami juga menjalani beberapa quest sederhana untuk mendapatkan koin tambahan. Kemudian, saat hari mulai beranjak sore, Gabe dan Hellen mengajak kami untuk berdiskusi di salah satu restoran murah.


Biasanya Gabe dan Hellen selalu menggunakan uang yang mereka dapatkan dengan sangat hati-hati. Jadi, saat mereka berdua mengajak kami untuk makan di sebuah restoran, aku agak terkejut. Pasti ada suatu hal penting yang ingin mereka sampaikan pada kami. Apa pun itu, kemungkinan besar masih berhubungan dengan kepergian kita menuju ibukota.


Restoran yang kami datangi adalah salah satu yang termurah di kota ini. Tempatnya berada agak jauh dari jalan utama, tetapi cukup ramai pengunjung karena dikenal dengan masakannya yang murah dan cukup lezat. Sudah jelas bahwa restoran seperti ini akan menjadi target bagi rakyat miskin untuk merayakan hari penting mereka.


Hari ini tamu-tamu yang datang kemari tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa petualang peringkat rendah dan orang-orang biasa serta para prajurit dari Orde Bianca.


Kami memilih salah satu meja kayu bulat yang menyediakan empat kursi. Setelah menyenderkan senjata-senjata yang kami bawa dan duduk di kursi-kursi itu, seorang pelayan mendatangi meja untuk menulis pesanan.


Seperti biasa, aku memesan daging panggang dan segelas anggur dengan kadar alkohol rendah. Setelah itu, Alma dan yang lainnya memesan sesuatu yang berbeda denganku.


Ya, selera kami tampaknya memang tidak sama.


Selesai dengan segala macam makanan dan minuman yang kami pesan, pelayan wanita tersebut bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan semuanya.


Ketika kami berempat menunggu pesanan untuk diantarkan ke meja, aku sadar bahwa wajah Gabe dan Hellen terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Mereka saling melemparkan pandangan satu sama lain, tetapi tidak ada yang memulai pembicaraan.


Apakah ada sesuatu yang terjadi?


"Kalian punya sesuatu untuk disampaikan, 'kan?" Sebagai respon dari kegugupan mereka, Alma memulai pembicaraan di antara kami.


Saat Gabe dan Hellen mendengar pertanyaan Alma, mereka sedikit tersentak untuk beberapa saat. Dua-duanya menunduk dalam diam sebelum akhirnya kembali saling menatap dan menganggukan kepala.


"Maafkan kami." Hellen berbicara dengan suaranya yang lembut.


"Kenapa tiba-tiba minta maaf?"


Apakah ada masalah antara mereka dengan kami sehingga kedua orang ini meminta maaf? Jujur aku sama sekali tidak tahu alasan di balik permintaan maaf yang diucapkan Hellen. Alma juga tampak tidak mengetahuinya.


"Selama ini kami hanya menjadi beban untuk kalian. Kami bahkan mendapatkan pembayaran atas prestasi yang sebenarnya tidak kami capai." Gabe menjelaskan alasan di balik permintaan maafnya.


Ah ... jadi begitu. Mereka merasa tidak enak dengan uang yang kami berikan, ya?


Aku memang membagikan semua hasil yang kami dapat secara merata. Bahkan bonus atas pembasmian archdemon yang kami dapat dari Guild Master aku bagikan setengahnya kepada mereka berdua. Padahal, Gabe dan Hellen sama sekali tidak membantu pada saat itu. Tentu saja bukan hal yang aneh jika mereka merasa tidak pantas untuk menerima semua ini.


"Tidak apa-apa. Kalau kakakku memutuskan untuk memberikannya, aku sama sekali tidak keberatan." Alma menjawab perkataan Gabe dengan nada datar dan wajah polosnya.


Kulihat Gabe dan Hellen seperti mau mengatakan hal yang lain. Namun, pesanan kami sudah tiba dan dua orang pelayan mulai mengatur semua makanan di atas meja. Hal ini menyebabkan Gabe dan Hellen kembali diam.


"Mari makan selagi hangat." Aku langsung berbicara tepat setelah semua pesanan kami berada di atas meja.


Mendengar kalimat ajakan yang aku ucapkan, Gabe dan Hellen terlihat tambah gugup. Lalu, mereka memilih untuk menyantap makanannya daripada melanjutkan pembicaraan kami.


Untuk sementara, hanya terdengar suara sendok kayu, garpu, dan pisau yang saling beradu dengan piring. Kami tidak berbicara sedikit pun ketika menyantap semua hidangan yang ada.


Kemudian, pada saat aku meneguk segelas anggur yang ada di hadapanku, Gabe kembali berbicara untuk melanjutkan percakapan yang tertunda beberapa saat lalu. Kali ini dia mengucapkan semuanya dengan nada yang jelas dan tanpa keraguan.


"Kami sangat terbantu dengan adanya kalian berdua. Bahkan penghasilan kami selama kalian bergabung dengan party ini sudah lebih dari cukup untuk hidup selama beberapa tahun ke depan tanpa khawatir kelaparan. Akan tetapi ... "


Gabe tiba-tiba berhenti bicara. Dia mulai kembali gugup dan tampak susah untuk menyelesaikan kata-katanya. Namun, beberapa saat kemudian dia melanjutkan ucapannya.


"Kami ... kami tidak bisa ikut bersama kalian ke ibukota."


"Hm?"


Alma yang mulutnya masih dipenuhi oleh makanan hanya mengeluarkan gumaman tidak jelas. Sementara itu, aku terdiam untuk beberapa saat, mencerna semua kata-kata yang diucapkan Gabe, lalu membalasnya dengan pertanyaan.


"Kenapa kalian tidak bisa ikut? Apakah seribu koin emas tidak cukup untuk kalian?"


"Tentu saja bukan itu masalahnya!"


Tidak kuduga, seseorang yang berteriak adalah Hellen. Dia yang biasanya pemalu dan sulit menunjukan emosinya tiba-tiba menggebrak meja kayu di hadapan kami dan sukses menarik perhatian semua orang yang ada di dalam restoran ini.


Sadar akan kesalahan yang diperbuat olehnya, Hellen berdiri dari kursinya dan mulai membungkuk disertai dengan kalimat meminta maaf.


"Maaf atas keributan yang aku perbuat."


Setelah itu, dia kembali duduk di kursinya dengan wajah merah cerah dan pandangan yang berkaca-kaca.


"Tentu saja bukan masalah uang." Gabe kembali membuka mulutnya. "Lagipula kami tidak pantas untuk mendapatkan koin-koin emas itu."


"Lalu?" Seperti biasa, Alma bertanya dengan nada datarnya yang khas.


"Aku dan Hellen masih harus menjaga adik-adik kami. Satu bulan meninggalkan mereka itu terlalu lama. Aku tidak bisa melakukannya."


Benar juga. Gabe dan Hellen memiliki beberapa adik angkat yang mereka rawat. Memang biasanya kedua orang ini akan menitipkan adik-adiknya pada orang lain jika mereka tidak dapat kembali. Namun, perjalanan pergi dan pulang dari ibukota setidaknya membutuhkan 20 hari. Tentu saja mereka tidak mau meninggalkan adik-adik angkatnya selama itu.


"Aku mengerti," ucapku seraya menyunggingkan senyuman kepada mereka berdua. "Jadi, hari ini adalah terakhir kami berada di kelompokmu, ya?"


Gabe dan Hellen menganggukan kepala mereka.


"Karena itulah kami mengajak kalian makan di restoran dan bermaksud untuk membayar semuanya." Hellen menjelaskan maksud dari ajakan mereka.


"Yah, walaupun uangku dan Hellen berasal dari kerja keras kalian berdua." Gabe menambahkan.


Sulit dimengerti. Kenapa mereka repot-repot menghabiskan uang untuk kami? Maksudku, keuangan mereka itu sangat memprihatinkan sampai-sampai aku mungkin akan menangis jika memiliki kemampuan berempati yang setara dengan manusia. Kemiskinan mereka benar-benar berada pada tingkat yang mengerikan. Walaupun begitu, mereka tetap menyisihkan sedikit uang mereka untuk salam perpisahan.


Masalahnya sekarang adalah, bagaimana caraku merespon semua ini? Aku tidak tahu cara membalas kebaikan seseorang sebagaimana yang biasa dilakukan oleh manusia. Namun, saat aku memikirkan respon macam apa yang harus kutunjukan, tiba-tiba ...


"Syukurlah kalau kalian sadar diri."


Apa-apaan dengan kata-kata kasar itu?!


Aku memang tidak terlalu bagus dalam bersosialisasi, tetapi setidaknya aku tahu bahwa kalimat yang Alma ucapkan barusan itu sangat tidak pantas. Apalagi si idiot ini mengatakannya dengan wajah polos dan datar seperti biasanya. Bocah ini semakin lama tingkahnya semakin tidak masuk akal.


"Kakakku memberikan uang supaya kalian gunakan untuk bertahan hidup. Jadi, jangan gunakan untuk hal yang sia-sia. Kalau kalian memang sadar diri, maka berhenti melakukan sesuatu seperti ini."


Oh ... aku sangat tidak menyangka dengan kalimat bagus yang Alma ucapkan. Sekarang aku benar-benar jatuh ke dalam dilema yang mendalam. Apakah Alma adalah seorang idiot? Atau harus kuakui bahwa dia sedikit cerdas? Mungkinkah dia memiliki bakat untuk menjadi idiot atau sedikit cerdas kapan pun yang dia mau?


Hellen dan Gabe tidak sanggup membalas kata-kata Alma dengan cepat. Kurasa mereka butuh sedikit waktu untuk mencerna semua kalimatnya. Setelah beberapa waktu kami lalui dalam diam, akhirnya Gabe mulai kembali membuka mulut. Namun, tampaknya Alma tidak membiarkan siapa pun untuk menyangkal kata-katanya.


"Tapi ka--"


"Lagipula kita hanya berpisah untuk sementara waktu. Kami akan bertemu lagi. Benar, 'kan?"


Alma menoleh ke arahku seraya tetap mempertahankan wajah lurusnya yang sedikit membuatku jengkel.


"Tentu saja. Setelah urusan di ibukota selesai, kami akan kembali untuk menemui kalian."


"Benarkah?"


Kali ini Hellen yang berbicara. Wajahnya seperti menggambarkan sedikit harapan yang meresap ke dalam kalimatnya. Padahal, aku mengucapkannya sekadar untuk berbasa-basi saja. Belum jelas apakah kami harus kembali kemari atau tidak.


"Belle tetap akan menjadi resepsionis di guild kota ini. Dia itu sudah seperti adik bagiku. Jadi, tentu saja kami akan kembali kemari."


Tunggu dulu. Isabelle tidak akan ikut ke ibukota? Aku kira dia akan ikut bersama kami sekalian mencarikan pekerjaan yang jauh lebih baik baginya di sana. Selain itu, kenapa kau yang memutuskannya?! Aku orang yang paling berkuasa di sini, dasar idiot!


"Kita akan meninggalkan Isabelle di sini sendirian?" Aku bertanya dengan heran dan berusaha untuk menyembunyikan kekesalanku.


"Belle sudah dapat pekerjaan yang layak dan bisa hidup mandiri. Pergi ke ibukota melelahkan dan banyak bahaya. Kita juga tidak bisa membiarkan raja muda itu bertemu dengannya. Mengetahui fakta bahwa dia sampai mengancam kita, besar kemungkinan Belle akan direbut paksa dariku."


Kenapa kita harus peduli dengan hal-hal sepele itu?!


Yah ... walaupun aku agak kesal dengan semua tindakan yang dia ambil tanpa persetujuanku, aku juga tidak terlalu keberatan. Malahan, aku sedikit setuju dengan semua yang dikatakan olehnya. Maksudku, Isabelle sepertinya cukup menarik perhatian semua laki-laki yang bertemu dengannya. Tentu saja akan merepotkan jika Raja juga tertarik padanya dan mengambil gadis itu secara paksa. Aku sendiri tidak terlalu memikirkannya, tetapi melihat tingkah laku mereka berdua yang sangat akrab saat bertemu, Alma mungkin akan mengamuk jika hal itu sampai terjadi.


Pada akhirnya aku membayar semua biaya yang kami keluarkan untuk pesta perpisahan sederhana kali ini. Hellen dan Gabe tentu saja menolaknya, tetapi aku memaksa dengan dalih bahwa sebentar lagi seribu koin emas akan menjadi milikku. Mendengar hal itu tampaknya membuat mereka luluh.


Sekarang aku yakin bahwa reputasiku dan Alma di mata mereka berdua sangat tinggi. Tidak ada ruginya membangun hubungan baik dengan orang-orang. Mungkin saja suatu saat nanti aku bisa menggunakan simpati mereka sebagai pion bagi rencana jangka panjangku.


Percakapan kami berakhir dengan tanpa ada masalah sama sekali. Sekarang tinggal menuju ke Guild Petualang untuk meresmikan keluarnya diriku dan Alma dari party Gabe sekaligus berpamitan dengan Isabelle. Semoga tidak akan ada drama lagi yang terjadi di antara gadis berambut cokelat itu dengan bocah iblis bodoh ini. Jujur saja aku merasa jijik setiap kali mereka bertemu dan saling mengumbar kasih sayang satu sama lain.


-------


Dipublish di Mangatoon pada Hari Sabtu, 19 Oktober 2019


Pukul 05:06 PM


Note :


Terima Kasih sudah mau baca sampe sini. Mohon kesediaannya untuk meninggalkan komentar dan like biar ku tak merasa kesepian hiks