RE:Verse

RE:Verse
21.I Usaha yang Percuma



Memasuki wilayah Arbellion ternyata tidak terlalu sulit. Kami hanya diminta untuk menunjukan tanda pengenal ketika keluar dari stasiun dan mereka memperbolehkan kami lewat begitu saja. Beruntung sekali kartu petualang milikku dan Alma sudah dibuat, jadi tidak ada masalah dengan tanda pengenal.


Arbellion sendiri merupakan kota bawah tanah terbesar dan terpadat. Selain menjadi kota industri yang menghasilkan berbagai macam peralatan tempur dan item sihir tingkat tinggi, sekolah ksatria yang diurus langsung oleh Glastila berada di tempat ini. Tidak heran jika banyak dwarf dari berbagai daerah pergi kemari untuk memperbaiki kehidupan perekonomian mereka. Sayangnya, jika tidak ada koneksi dengan warga Arbellion itu sendiri, hampir mustahil mereka dapat memasuki wilayah ini.


Bangunan-bangunan di sini dibuat dengan batu-bata yang dilapisi oleh campuran pasir khusus sebagai perekat sekaligus memperkuat dinding. Kaca-kaca jendela terlihat jauh lebih jernih daripada yang dimiliki kerajaan manusia. Selain itu, berbagai macam kendaraan bertenaga uap memenuhi jalan-jalan utama kota.


Aku sebenarnya penasaran tentang suhu yang meningkat akibat penggunaan uap yang berlebih. Namun, Cellica mengatakan bahwa kota ini memiliki sistem sirkulasi sekaligus pendingin udara yang berfungsi untuk menstabilkan suhu dan tekanan. Jadi, suhu di Arbellion relatif nyaman untuk para penduduk.


"Jadi, apakah kita akan langsung menyelesaikan quest di sini atau ... "


Aku membuka topik tentang permintaan pengawalan yang dia ajukan. Karena kita sudah sampai Arbellion, kupikir permintaannya telah terpenuhi. Jadi, aku berniat untuk menyelesaikannya dan berpisah dengannya di sini. Rencanaku setelah itu adalah untuk mengumpulkan informasi mengenai kota ini dan Glastila.


"Yah, sebenarnya ada sedikit masalah." Cellica menggaruk kepalanya seraya tertawa.


"Masalah apa? Bukankah isi dari permintaannya untuk mengantarmu sampai kemari?"


"Bagaimana aku harus mengatakanya, ya?" Cellica memandang langit-langit untuk sementara waktu sebelum melanjutkan kata-katanya. "Siapa pun selain dwarf yang berkunjung kemari harus melapor terlebih dahulu ke kastil. Memang hanya formalitas, tetapi tetap diwajibkan sekadar untuk menghindari masalah di masa depan."


Aku menghela napas malas saat mendengar penjelasannya. Namun, ketika aku memikirkannya lagi, kurasa mendatangi kastil bukanlah ide yang buruk. Setidaknya aku bisa mengumpulkan jauh lebih banyak informasi di sana alih-alih berkeliling di kota luas ini tanpa tujuan yang jelas.


"Yah, mau bagaimna lagi." Aku memberi persetujuan. "Mari kita datang ke kastil terlebih dahulu."


Cellica membawa kami ke bawah sebuah bangunan kecil aneh yang dibangun tanpa dinding tepat di pinggir jalan. Kita hanya berdiri diam di sana tanpa melakukan apa-apa. Beberapa dwarf juga berdiri di sekitar kami, melirik aneh kepadaku dan Alma dengan raut wajah yang penasaran. Namun, mereka segera mengalihkan pandangan tidak lama kemudian. Kurasa mereka hanya penasaran karena jarangnya manusia yang datang ke tempat ini. Yah, walaupun kami sebenarnya bukan manusia.


Ketika aku bertanya pada Cellica tentang apa yang sebenarnya kita lakukan di sini, jawaban Cellica membuatku mengerutkan dahi.


"Bangunn ini adalah sebuah halte. Setiap 30 menit akan ada kereta tanpa kuda besar yang berhenti di sini dan mengambil penumpang. Biaya tiap orang hanya satu koin tembaga. Jadi, transportasi ini adalah salah satu yang menjadi andalan para penduduk."


Ah, kurasa sistemnya hampir mirip dengan kereta penumpang di kerajaan manusia. Hanya saja alih-alih ditarik oleh kuda, kereta di tempat ini bertenaga uap.


"Sebenarnya aku bisa saja menyewa kereta mewah untuk kita bertiga. Namun, aku ingin memberikan kalian pengalaman menaiki kendaraan publik di Kota Arbellion setidaknya sekali seumur hidup."


Yah, setelah menunggu cukup lama, kereta yang dia maksud datang juga. Bentuknya seperti kubus panjang besar yang ditopang oleh empat roda. Tabung uap yang merupakan sistem penggerak utama ditempatkan di belakang kereta, menggunakan tenaga yang dihasilkan untuk mendorong kereta melaju di jalan.


Di dalam kubus logam keperakan ini terdapat barisan kursi logam yang dilapisi kulit hewan berbulu. Kurasa kursi-kursi ini dimaksudkan untuk para penumpang. Jadi, setelah membayar biaya jasa pada seorang pria dwarf di dekat pintu masuk, kami duduk pada kursi yang masih kosong.


Kereta memiliki sistem sirkulasi udaranya sendiri. Oleh karena itu, aku tidak merasakan pengap sama sekali. Benar-benar kendaraan yang nyaman.


Di perjalanan, aku mendengarkan percakapan antara Alma dan Cellica. Kelihatannya mereka semakin akrab.


"Karena kau putri seorang bangsawan, apakah aku harus berbicara formal mulai sekarang?" Alma bertanya dengan nada yang serius.


"Terlambat! Harusnya kau bertanya sesaat setelah kau tahu aku anak seorang bangsawan!"


"Mau bagaimana lagi, aku baru ingat tentang hal ini beberapa waktu lalu."


"Hmph!" Cellica membuang muka seraya memasang wajah marah yang jelas-jelas palsu. "Tidak usah. Sebenarnya aku hanya dianggap orang luar. Mereka menghormatiku hanya karena pengaruh saudari dari ibuku. Kau lihat 'kan bagaimana para prajurit berbicara padaku tanpa bahasa formal?"


Apa maksudnya dengan orang luar? Apakah merujuk pada orang-orang yang berada di luar Kota Arbellion? Kalau tidak salah para penduduk Arbellion sering mendiskriminasi mereka yang berasal dari luar kota ini. Cellica mungkin berasal dari salah satu kerajaan dwarf. Apalagi seingatku dia itu seorang demihuman.


"Omong-omong, kenapa kau belajar di akademi kerajaan manusia? Terlebih lagi, kau mengambil bidang alkimia."


Nah! Ini adalah salah satu topik yang ingin kutanyakan padanya juga. Hanya saja aku malas bertanya langsung karena tidak tahan dengan mulutnya yang banyak bicara. Kerja bagus, Alma!


"Ada sesuatu yang ingin kubuat melalui alkimia. Sayangnya di Kekaisaran Dwarf tidak ada siapa pun yang ahli dalam bidang ini. Semuanya hanya tertarik untuk menjadi blacksmith berotak otot yang hobi memukuli batang logam dan mabuk-mabukan setiap hari. Orang-orang pendek ini benar-benar membuatku kesal!" Tangan kanan Cellica mengepal kuat, menunjukan jalur pembuluh darah dan otot-ototnya sendiri.


Suaranya yang keras saat menghina para dwarf membuat Cellica menjadi pusat perhatian di dalam kereta. Namun, kelihatannya tidak ada orang yang berani mengganggunya. Jujur saja suasana ini terasa sedikit aneh di mataku.


"Bukankah kau juga salah satu dari orang pendek itu?"


"Berisik! Aku ini half-dwarf! Jangan samakan aku dengan para penimbun otot seperti mereka!"


Astaga, mulutnya benar-benar tidak bisa dijaga. Aku khawatir dia akan dipukuli oleh penumpang lain. Soalnya orang-orang di sekitar sudah mulai menatap tajam ke arahnya dan pembuluh darah di kulit dahi mereka mulai bermunculan.


"Yah, kita kembali ke topik sebelumnya." Alma kelihatannya berhasil membaca suasana dan berusaha mengalihkan topik. Namun, aku tidak terlalu yakin juga otak bodohnya bisa berpikir sampai sejauh itu. "Kalau memang mau mendalami alkimia, kenapa tidak pergi ke Kerajaan Elf?"


Pertanyaan Alma cukup masuk akal. Kalau membandingkan kemampuan alkimia secara keseluruhan, para elf memang yang paling unggul. Usia panjang mereka membuat elf dapat mempelajari alkimia yang cukup kompleks dengan lebih dalam.


"Yah, dulu aku pernah belajar di sana. Namun, ada sedikit masalah sehingga aku malas untuk kembali lagi dan berakhir dengan memilih belajar di kerajaan manusia."


Cellica tertawa untuk beberapa saat. Namun, raut wajahnya kemudian berubah sedih saat dia kembali berbicara.


"Sialnya sampai sekarang seluruh eksperimenku tidak menemui titik terang. Sepertinya aku memang tidak punya bakat."


"Memangnya apa yang sedang coba kau buat?"


"Apakah kau tahu tentang batu penciptaan yang sanggup mengabulkan segala macam keinginan?"


"Batu penciptaan?" Alma bertanya seraya sedikit memiringkan kepalanya.


Mendengarkan ucapan Cellica, aku juga menjadi tertarik. Sejauh yang aku tahu, tidak ada benda apa pun yang dapat mengabulkan segala keinginan kecuali eksistensi Pencipta itu sendiri. Namun, karena Pencipta telah meninggalkan takhta-Nya, sudah tidak ada apa pun lagi yang sanggup mengabulkan segala macam keinginan.


"Ya. Lapis Philosophorum. Produk dari Puncak alkimia. Aku ingin menggunakannya untuk membangkitkan orang yang sudah mati."


Aku menepuk keningku sendiri ketika menguping penjelasan yang dikatakan Cellica pada Alma.


Lapis Philosophorum, atau dikenal sebagai Philosopher's Stone di kalangan penghuni langit dan dunia bawah, adalah sebuah batu yang terbuat dari endapan void yang diciptakan oleh Maut pada zaman kuno atas perintah Sang Pencipta. Batu ini diciptakan bersamaan dengan Pedang Hecate milikku dan digunakan untuk mengalahkan Ratu Sihir Hecate.


Sampai sekarang, produk ini hanya menyisakan bongkahan kecil yang dipegang oleh Greed King di dalam orbis-nya. Bagaimana bisa batu itu dipegang oleh Greed? Jawabanya sederhana, itu karena Greed adalah keturunan langsung dari tujuh pahlawan yang mengalahkan Ratu Sihir Hecate.


Dulu sebenarnya aku memiliki sebagian kecil dari bongkahan batu itu. Namun, sekarang sudah tidak lagi.


Pada suatu hari di masa lalu, Gluttony terlibat peperangan dengan Greed. Greed yang sudah menyerahkan Philoshoper's Stone kepada penerusnya kewalahan melawan Gluttony yang dipersenjatai oleh Pedang Hecate. Pada akhirnya, aku diperintahkan untuk memusnahkan semuanya menggunakan sihir puncak milik para dewa. Sebagai hasilnya, aku kehabisan Philoshoper's Stone dan mendapatkan Pedang Hecate milik Gluttony yang sampai sekarang masih berada padaku.


Mari kesampingkan terlebih dahulu mengenai Pedang Hecate.


Sekarang masalahnya adalah, aku pernah menggunakan Philosopher's Stone pada saat melawan Greed King dan Gluttony King. Jadi, aku tahu betul apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh benda itu.


Pada dasarnya Philosopher's Stone hanyalah sebuah item sihir yang berfungsi sebagai sumber mana, penghapus jeda sihir, alat tukar penggunaan sihir puncak para dewa, dan menyembuhkan penggunanya. Siapa pun yang memakainya tidak akan pernah kehabisan mana, tidak perlu merapal mantra ketika menggunakan sihir, dapat menggunakan sihir yang sama secara berulang-ulang, dan tubuhnya akan kembali utuh walaupun sudah hancur menjadi debu. Bisa dibilang penggunanya akan abadi dan dapat menyerang tanpa batas. Sayangnya, void yang terkondensasi di dalam Philosopher's Stone akan habis seiring digunakan dan tidak dapat diisi kembali.


Pada dasarnya prinsipnya sama seperti batu sihir yang dibuat oleh para dwarf. Parahnya lagi, batu itu mustahil mengabulkan keinginan penggunanya. Apalagi sampai bisa membangkitkan orang yang sudah mati.


Kasihan sekali Cellica. Dedikasinya selama ini hanya akan berakhir dengan sia-sia. Sampai kapan pun makhluk fana tidak akan pernah bisa membuat produk yang hanya bisa diciptakan oleh eksistensi kematian. Bahkan dewa sekalipun tidak akan bisa melakukannya. Terlebih lagi, walau seandainya dia berhasil menciptakannya, tidak ada jaminan keinginannya akan terkabul.


Terserahlah, lagipula itu bukan urusanku.


Kami mencapai kastil setelah berkendara kurang lebih dua jam. Setelah menuruni kereta, Cellica menunjukan sebuah gulungan ke arah penjaga gerbang dan mereka mempersilakan kami masuk bahkan tanpa menyita senjata kami terlebih dahulu. Benar-benar penjagaan yang ceroboh.


Aku pikir ruang pemeriksaan akan berada di dekat gerbang kastil, tetapi tampaknya ruangan tersebut berada jauh di dalam kastil utama. Serius, bagaimana bisa kau membangun ruangan yang akan sering dikunjungi oleh orang asing jauh di dalam tempat tinggalmu sendiri, Glastila?!


Tidak kusangka si otak otot pendek itu seceroboh ini.


Ketika Cellica menghentikan langkahnya, aku melihat sebuah pintu ganda logam berwarna emas yang dihiasi kaligrafi unik. Kurasa itu bukan hanya ukiran biasa, melainkan sebuah rune yang aku sendiri tidak tahu fungsinya untuk apa.


Di samping kiri dan kanan pintu ada seorang prajurit wanita yang berdiri seraya bertumpu pada tombak kapak di tangan kanan mereka. Keduanya memandang kami, lalu salah satunya berbicara.


"Tunggu sebentar, aku akan melaporkan kedatanganmu terlebih dahulu karena di dalam sedang ada tamu."


Prajurit wanita itu membuka sedikit pintu ganda di depan kami, menyalip masuk ke dalam, lalu menutupnya lagi.


Kami kembali menunggu dalam keheningan.


Terus terang pintu di depanku terasa agak familier. Warna dan bentuknya terasa akrab, apalagi saat aku melihat kaligrafi yang menghiasinya.


Di mana aku pernah melihatnya, ya? Kurasa bukan saat aku sudah terjebak di dalam tubuh ini. Kalau begitu, apakah saat sebelum pahlawan mengirimku ke masa lalu?


Bukan hanya pintunya, tetapi ruangan ini juga terasa sangat akrab. Aku yakin pasti pernah ke sini sebelumnya.


Ah, tunggu dulu. Kalau dipikir-pikir lagi, aku memang pernah ke sini! Tempat ini adalah lokasi yang aku datangi ketika menyerbu Kekaisaran Dwarf di masa lalu. Kalau tidak salah, di balik pintu ganda ini adalah ...


"Ruang takhta?!" Aku tidak sengaja mengeluarkan suara panikku.


Ucapanku menarik perhatian dari Cellica, Alma, dan prajurit wanita yang berdiri di samping pintu. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena pintu mulai terbuka dengan derit khas logam. Kemudian, suara dari prajurit yang sebelumnya telah masuk terlebih dahulu terdengar.


"Memberi tahukan kedatangan Yang Mulia Putri Selenia!"


Oh, sialan ...


-------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu, 18 April 2020 pukul 12:00 PM.


Note :


• Sebelumnya kubuat alur bahwa Greed King mendapatkan Philosopher's Stone dari Demon God sebagai hadiah kesetiaan. Namun, kupikir gak masuk akal Demon God memberikan batu yang tersisa satu-satunya dan sangat berharga yang menyimpan kekuatan luar biasa. Jadi, kuubah alurnya di sini dan menjadikan Philosopher's Stone sebagai batu pusaka keluarga yang diturunkan secara turun-temurun. Kalo sebelumnya dijelaskan bahwa Demon God menghadiahinya kepada Greed King, maafkan aku, itu salah dan akan kurevisi heu.


• Batu itu sendiri sebagian besar sebenarnya sudah ditanamkan ke Almaria pada (Intermission 2). Namun, masih ada sedikit sisa di dalam orbis Greed King.


• Sekadar meringkas tentang Hecate. Hecate itu ratu sihir dari ras iblis. Dia ada jauh sebelum dunia fana diciptakan. Hecate merupakan pemimpin para iblis di masa lalu yang memerintah dengan tangan besi sehingga menyulut pemberontakan. Kemudian, dia mati di tangan cikal bakal Seven Deadly Sins. Pedang Hecate sendiri dinamai oleh namanya sebagai penghormatan kepada Ratu Sihir Hecate karena para iblis mulai sadar bahwa kepemimpinan Hecate yang sangat tegas ternyata lebih baik daripada kepemimpinan Seven Deadly Sins.