RE:Verse

RE:Verse
13. Perpisahan



Sebelumnya ku minta maaf karena ternyata bab 10.III terlewat hiks. (kenapa bisa teledor sih?!). Sebagai permintaan maaf, minggu ini ku apdet 2 bab heu ...


--------


Marquis Canaria adalah salah satu bangsawan tinggi yang memegang otoritas sangat besar di Kerajaan Ignis. Dia memimpin Imperial Knight dan menjadi senjata terkuat milik kerajaan hingga saat ini.


Di antara bangsawan tinggi lainnya, Marquis Canaria bahkan sangat disegani dan memiliki pengaruh yang begitu kuat. Maka, tidak heran jika banyak sekali bangsawan yang berusaha untuk menjalin koneksi dengannya. Tidak terkecuali dengan kedua pangeran dan putri-putri kerajaan.


Setelah berita tentang pembantaian istri dan kedua anaknya menyebar dan menjadi perbincangan di antara para bangsawan, anak-anak perempuan dari berbagai golongan mulai berusaha untuk meraih hatinya. Bahkan beberapa putri raja dan pedagang kaya tidak terkecuali. Padahal, usia dari Marquis sendiri sudah memasuki empat puluh tahunan. Namun, tidak ada yang benar-benar peduli dengan usianya. Walaupun begitu, rasa cintanya terhadap keluarga sebelumnya membuat Marquis Canaria menolak semua proposal pernikahan yang dia terima.


Hari ini dia mengunjungi raja untuk menanyakan suatu hal yang cukup mengganjal hatinya selama beberapa waktu. Pada awalnya dia tidak terlalu memperhatikannya. Namun, saat dia menyadari bahwa ada yang aneh dengan laporan yang diterimanya, Marquis langsung meminta jadwal untuk bertemu dengan Sang Raja.


Raja Ignis XVIII duduk di atas singgasana ketika Marquis Canaria datang menghadapnya. Berdiri di samping Raja Ignis adalah seorang bangsawan tinggi yang menjabat sebagai perdana menteri. Namanya adalah Joseph van Houghton, satu-satunya duke di negara ini. Sementara itu, beberapa imperial knight berjejer rapi menghadap karpet merah di tengah ruangan.


Marquis Canaria menunduk seraya memberikan penghormatan yang mendalam pada Raja Ignis. Dia berlutut di hadapan penguasa tertinggi yang memimpin tanah makmur ini.


"Angkat kepalamu, Marquis." Sebagai respon dari penghormatannya, Raja Ignis berbicara dengan nada yang berwibawa.


Marquis Canaria mengangkat kepalanya untuk menatap langsung ke arah Sang Raja. Dia memandang dengan wajah serius tetapi masih meninggalkan kesan penghormatan yang mendalam.


"Apa yang membawamu untuk meminta pertemuan mendadak di tengah kesibukanmu?"


"Mohon maaf sebelumnya, Yang Mulia. Saya menghadap untuk mengetahui rincian mengenai Putri Estelle."


Mendengar ucapan Marquis, Raja Ignis XVIII menghela napasnya untuk beberapa saat sebelum kembali mengajukan pertanyaan.


"Rincian mengenai apa tepatnya?"


"Tentang berapa banyak kelompok yang dikirim ke Kerajaan Cygnus dan siapa saja yang menjadi pengawal mereka."


"Bukankah saya sudah mengirimkan laporannya kepada Anda?" Seseorang yang membalas ucapan Marquis bukanlah Sang Raja, melainkan Perdana Menteri.


"Masing-masing hanya dijaga oleh seorang pengawal. Bukankah itu keterlaluan?"


Putri Estelle adalah putri termuda yang lahir dari ratu saat ini. Dia merupakan adik kandung Pangeran Kedua dan diyakini sebagai putri mahkota nomor tiga dalam kerajaan setelah Pangeran Kedua dan Pangeran Pertama.


Sejak awal Raja Ignis memang tidak menyukai anak perempuan. Jadi, wajar jika Putri Estelle tidak pernah mendapat perhatian sedikit pun dari ayahnya. Inilah sebabnya Sang Putri tumbuh menjadi anak yang sedikit memberontak. Walaupun begitu, Putri Estelle memiliki bakat dalam seni pedang. Sangat disayangkan menyadari bahwa kemampuannya tidak diasah dengan baik.


"Marquis, kau terlalu baik. Seharusnya kau tahu bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk memulai peperangan." Raja menunjukan senyum hangat di balik kata-katanya yang tidak menyenangkan.


Beberapa waktu lalu Kerajaan Cygnus mengundang perwakilan dari Kerajaan Ignis untuk memulai sebuah pertandingan persahabatan. Mereka mengirimkan undangan dengan maksud untuk mempererat hubungan baik di antara kedua negara. Walaupun begitu, beberapa petinggi negara ini yakin bahwa ada maksud tersembunyi di balik undangan tersebut. Jadi, alih-alih mengirim pangeran untuk menghadiri acara, Raja Ignis menunjuk Putri Estelle dan siswa akademi untuk mengunjungi Kerajaan Cygnus. Beliau juga hanya menunjuk beberapa pengawal yang akan melindungi mereka. Sudah jelas bahwa pihak kerajaan sedang mengorbankan keselamatan Putri Estelle untuk memicu perang.


Di masa lalu, Putri Estelle memang tidak pernah mendapatkan sedikit pun perhatian dari Sang Ayah. Hal ini membuat Marquis Canaria merasa kasihan padanya dan mulai mencoba untuk menjalin kontak dengan Putri. Dia juga melatihnya secara pribadi hingga Putri Estelle berhasil meraih prestasi yang cukup membanggakan di akademi. Hasilnya, dia diberi begitu banyak pasukan dan pelayan serta mendapatkan Kastil Mutiara sebagai bentuk hadiah dari Raja.


Awalnya Marquis mengira bahwa masalah Putri Estelle sudah selesai sampai di sini. Namun, belakangan dia mengetahui fakta bahwa Raja secara tidak langsung membahayakan nyawa Sang Putri layaknya pion yang dapat dikorbankan kapan pun. Tentu saja dia tidak bisa tinggal diam setelah menerima laporan seperti itu.


"Maaf jika saya terkesan lancang. Apakah Anda juga mengirim utusan yang siap mengotori tangan mereka?"


Marquis Canaria bertanya mengenai kemungkinan adanya beberapa assassin. Dia menilai bahwa kemungkinan bagi Kerajaan Cygnus untuk menyerang rombongan Putri Estelle tidaklah terlalu tinggi. Jadi, jika tujuan Raja adalah untuk memicu perang, Beliau setidaknya akan mengirimkan beberapa assassin untuk menaikan tingkat kesuksesan peperangan.


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Marquis Canaria, Raja tertawa dengan puas. Beliau beberapa kali menepukkan kedua tangannya sebelum kembali berbicara.


"Seperti biasa, kau lancang sekali. Sejujurnya aku ingin sekali memenggal kepalamu sejak lama. Namun, kemampuanmu sebagai senjata terkuat kerajaan ini menyulitkanku untuk bertindak."


Ucapan Sang Raja yang cukup kasar membuat Marquis Canaria sedikit menyunggingkan senyuman.


"Terima kasih atas pujian Anda, Yang Mulia." Dia menjawab dengan santai.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa Raja sering bersitegang dengan Marquis Canaria. Orang-orang juga tahu bahwa Sang Marquis sering mengungkapkan ketidak setujuannya dengan kebijakan-kebijakan yang dikemukakan Raja. Namun, lelaki itu adalah salah satu orang yang sangat setia dengan negaranya dan mendapat dukungan dari berbagai faksi. Jadi, Raja sekalipun tidak cukup berani untuk menurunkan jabatan Marquis kepada orang lain.


"Jangan khawatir, aku mengirim Viscount Evans untuk menjaganya. Aku juga tidak sampai hati untuk membunuh anakku sendiri. Anggap saja apa yang kulakukan adalah semacam ujian untuk melihat apakah Kerajaan Cygnus mengundang kita dengan tulus atau tidak."


Mendengar penjelasan singkat dari Sang Raja membuat Marquis Canaria sedikit menghela napas lega. Terlepas dari sifatnya yang sedikit tidak pantas dengan gelarnya sebagai seorang raja, dia tahu bahwa kata-katanya dapat dipegang. Jadi, Marquis cukup senang dengan penjelasan yang diucapkan oleh-Nya.


"Terima kasih atas penjelasan Anda, Yang Mulia." Dia mengucapkan terima kasih dengan tulus.


"Tidak usah dipikirkan." Kali ini Raja melambaikan tangan kanannya beberapa kali. Kemudian, beliau mengganti arah pembicaraan setelah yakin bahwa perselisihan di antara mereka sudah mereda. "Keadaan Kota Agarten tampaknya semakin memburuk. Aku tidak paham kenapa pihak kuil melarang kita untuk melakukan penyerangan."


Pembahasan tentang Agarten bersama Robbert telah selesai sekitar seminggu yang lalu. Pendeta itu mengatakan bahwa penyebab lumpuhnya Agarten adalah ulah iblis tingkat tinggi. Tepat pada saat Raja akan membentuk pasukan untuk menaklukn Agarten, Robbert menolak mentah-mentah proposal itu atas nama Demigod. Dia bahkan mengancam kerajaan jika mereka berani untuk mengirimkan pasukan.


"Demigod mungkin memiliki rencana tersendiri. Kita serahkan sepenuhnya urusan tersebut pada-Nya." Marquis Canaria membalas ucapan Sang Raja.


"Tetapi invasinya semakin menyebar. Sekarang bahkan hampir sampai ke Kota Mobra. Kalau begini terus, wilayah Viscount Eurellia akan benar-benar jatuh ke tangan iblis." Sekarang giliran Perdana Menteri yang mengungkapkan pendapatnya.


"Jadi, apakah Anda memilih untuk menentang Demigod? Lagipula imperial knight yang dikirim ke sana kelihatannya cukup berhasil untuk menekan laju invasi."


Sebagai komandan tertinggi, Marquis Canaria telah mengirimkan dua divisi ke Kota Mobra dan berhasil menahan pergerakan dari para iblis. Selain itu, ratusan pendeta dari Kuil Ortodox juga dikirim sebagai upaya Demigod dalam menekan jumlah kerusakan. Jadi, untuk sementara, kekacauan berhasil diatasi dengan baik.


"Memang benar kita dapat menahan mereka. Namun, berapa banyak lagi nyawa penduduk yang akan menjadi korban jika --"


"Canaria Dominion akan menanggung setengah dari para pengungsi. Earl Garcia juga siap membantu dalam upaya menyelamatkan orang-orang. Anda seharusnya tidak meragukan kata-kata Demigod."


Marquis Canaria langsung memotong ucapan Perdana Menteri yang terus-terusan menekan agar kerajaan melakukan serangan tanpa memikirkan akibat dari tindakan tersebut.


"Lalu bagaimana jika iblis kuat mulai muncul di wilayah tersebut?" Sang Raja bertanya dengan nada serius.


Atas pertanyaan yang diucapkan oleh Raja Ignis XVIII, Marquis Canaria menghela napas beberapa saat. Kemudian, dia menatap Sang Raja dengan pandangan yang tajam sebelum membalas pertanyaan tersebut.


"Saya sendiri yang akan memimpin imperial knight. Selain itu, saya juga mendapat kabar bahwa Pendeta Robbert akan datang ke sana untuk memimpin semua Ordo Paladin dalam mempertahankan kota."


Keraguan yang menyelimuti Sang Raja tampaknya mulai sedikit mereda setelah mendengar ucapan dari Marquis. Dia terlihat lebih tenang sekarang. Namun, Sang Raja tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan yang sedikit membuat Marquis Canaria terganggu.


"Kenapa kau begitu tenang dan menerima keputusan Demigod begitu saja? Bukankah ada kemungkinan bahwa iblis yang sama telah membunuh keluargamu?"


Marquis Canaria sedikit tersentak saat anggota kekuarganya yang telah dinyatakan meninggal disinggung lagi, tetapi dia kembali tenang setelah beberapa saat berlalu.


"Iblis menarik emosi negatif di dunia ini sebagai sumber kekuatan. Walaupun sedikit, mereka bermanfaat untuk membersihkan dunia dari dosa. Saya yakin Demigod menggunakan kesempatan ini untuk mengurangi mana kegelapan yang sudah menodai dunia. Tentu saja, beliau tidak akan membiarkan invasi mereka menyebar terlalu jauh. Saya tidak memiliki hak untuk menentang."


Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa emosi negatif dan dosa melahirkan mana jenis kegelapan. Kemudian, mana ini digunakan iblis sebagai bahan bakar untuk mengaktifkan mantra kegelapan. Jadi, untuk membersihkan dunia dari dosa dan energi negatif, iblis adalah makhluk yang diperlukan. Namun, karena memiliki risiko yang tinggi, tidak pernah ada seorang pun yang berpikiran untuk memanfaatkan iblis seperti ini.


"Jadi begitu." Raja mengangguk sebagai tanda bahwa dia mengerti dengan maksud di balik pelarangan Demigod.


Kalau itu Demigod, seharusnya tidak akan terjadi masalah. Perang kali ini hanyalah upaya dalam membersihkan dunia yang sudah terlalu banyak dinodai oleh dosa. Tentu saja keuntungan yang akan didapatkan setelah perang ini jauh lebih besar daripada kerugiannya. Lagipula Demigod juga menjanjikan kompensasi yang sesuai setelah urusan ini beres. Jadi, secara teknis pihak penguasa sama sekali tidak dirugikan.


"Kalau begitu, aku memberimu wewenang untuk menjaga perbatasan dari serangan para iblis." Raja memerintahkan Marquis Canaria.


"Kejayaan bagi Kerajaan Ignis."


Lelaki itu mulai bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Dia bersiap untuk pergi menuju garis depan guna mencegah para iblis menginvasi lebih jauh lagi. Senjata terkuat yang dimiliki Kerajaan Ignis akhirnya kembali mendapat kesempatan untuk menunjukan taringnya sekali lagi.


-------


Note:


Putri Estelle pernah disinggung di bab 10.IV. Cuma, baru di bab ini namanya disebutkan. Sebelumnya (di bab 10) dia hanya disebut sebagai "putri bungsu yang dihadiahi Kastil Mutiara". Dia ini adik kandung dari pangeran kedua (anak dari raja dan ratu). Makanya walaupun anak terakhir, dia punya posisi sebagai putri mahkota ketiga. Putra mahkota adalah pangeran kedua sedangkan putra mahkota kedua adalah pangeran pertama yang lahir dari selir. Namun, status ini tidaklah resmi karena sampai saat ini Raja Ignis XVIII belum menunjuk siapa pun untuk menjadi penerusnya. Nah, masalah ini juga membuat Putri Estelle berada dalam incaran berbagai fraksi.