RE:Verse

RE:Verse
Intermission VI : Void



Carmen hanya menatap kosong, memandang Maut yang masih berada di hadapannya. Ibunya kini sudah hilang ditelan oleh salah satu pintu yang kemudian lenyap sebagaimana pintu itu datang sebelumnya.


Dia memang merasa sedih atas kepergian Sang Ibu. Namun, melihat mayatnya yang masih berada di atas tempat tidur membuatnya sedikit tenang. Setidaknya Carmen masih merasa dekat dengannya melalui tubuh hancur Sang Ibu.


"Apa kau tidak berduka? Tidak benar, kau berduka. Tidak, tidak, dia tidak menunjukan emosi apa pun." Maut berbicara dengan suara mengerikannya, tetapi Carmen tidak peduli.


Tubuh besar Maut kini melayang mendekatinya, lalu memegangi kepala Carmen dengan kedua tangan kerangka miliknya. Dia mendekatkan wajah tengkoraknya sampai benar-benar berada tepat di hadapan Carmen.


Walaupun sedikit gugup dan takut, Carmen sama sekali tidak bergeming. Dia tetap diam tanpa mengalihkan pandangannya.


"Jantungmu mampu meraih mana kegelapan sementara telinga dan matamu mampu menarik kekuatan suci dari Kerajaan Langit. Sirkuit sihir mirip dengan para ancient. Sesuatu sepertimu harusnya tidak pernah ada."


Mendengar kalimat Maut yang entah kenapa mengubah pola menjadi mudah dimengerti membuat Carmen mengerutkan dahinya.


"Jadi, apa kau akan menghukumku juga?"


Jika Maut mengatakan bahwa dirinya tidak seharusnya ada, maka kematian mungkin menjadi pilihan yang akan diambil Maut. Lagipula dia mengenalkan diri sebagai perwujudan kematian. Seharusnya tidak aneh jika dirinya melakukan itu. Namun, jawaban Maut di luar ekspektasinya.


"Takdir diatur oleh Atropos. Takdirmu adalah mati di medan perang dan aku menyetujui kematian itu. Jadi, kami tidak akan memisahkan jiwamu untuk sekarang."


Carmen sebenarnya agak sedih saat mendengar penjelasan Maut. Setidaknya jika dia mati sekarang, ada kemungkinan untuk berkumpul kembali dengan ibunya. Akan tetapi, sepertinya Maut tidak mau hal itu terjadi.


"Sayangnya, jika kami membiarkanmu begini saja, kau pasti akan mati."


Maut membelai bilah pedang yang terhunus tepat ke leher Carmen. Jarak antara mata pedang dan lehernya hanya tinggal satu ruas jari. Jika waktu yang membeku kembali berjalan seperti sedia kala, sudah pasti pedang ayahnya akan menembus leher Carmen dan membunuhnya. Mustahil baginya untuk menghindar.


"Oleh karena itu, aku akan memberimu hadiah. Akan kupinjamkan sihirku, sihir para ancient. Sihir penciptaan yang mampu mengubah hukum sebab akibat. Aku meminjamkan otoritasku sebagai pembawa kematian selama satu menit."


Ketika Maut menyelesaikan kata-katanya, suara lain tiba-tiba terdengar dari berbagai arah. Rasanya seperti orang-orang saling berbicara tepat di lubang telinganya tanpa membiarkan yang lain untuk menyelesaikan kalimatnya. Semua suara itu terdengar sangat mengerikan hingga membuatnya sedikit tidak nyaman.


"Kami meminjamimu otoritas sebagai pemegang pengetahuan selama satu menit."


"Kami memperbolehkanmu menulis ulang takdir selama satu menit."


"Kami mengizinkanmu menciptakan kreasi selama satu menit."


"Aku melarang apa pun untuk dapat menggoresmu selama satu menit."


"Atas nama Sang Pencipta, kami para ancient mengizinkanmu menggunakan sihir kami, Void. Gunakanlah sebaik mungkin." Maut mulai mundur perlahan. Dia mengucapkan kata-kata lain sebagai perpisahan sebelum akhirnya menghilang. "Setelah ini tubuhmu akan hancur sebagai akibat dari melihat kami. Matamu akan meleleh; kulitmu juga mencair; paru-parumu akan terbakar, tetapi aku menolak kematianmu! Kita akan bertemu lagi saat kau telah dikenal sebagai salah satu pahlawan."


Tubuh kerangka raksasa itu mulai memudar, lenyap begitu saja seakan sosoknya hanyalah ilusi. Setelah kepergiannya, segala kebekuan yang Carmen lihat seperti mencair.


Sebelum dirinya menyadari apa yang sebenarnya terjadi, suara dentingan keras menggema sangat keras. Sumber suara berada tepat di lehernya, tempat dimana mata pedang ayahnya seharusnya menusuk.


"A-apa yang terjadi?"


Sang Ayah terhempas ke belakang akibat gaya tolak yang dia terima saat menusuk Carmen. Pedang di tangannya hancur menjadi butiran pasir berwarna hitam pekat.


"Jika aku membiarkan ayahku, apa yang terjadi?" Alih-alih menghiraukan ayahnya, Carmen bergumam sendiri, berharap seseorang menjawabnya.


Kemudian, suaranya sendiri yang mungkin datang dari imajinasinya menjawab pertanyaan itu.


Kau akan mati, tetapi jiwamu tidak akan diterima oleh Maut.


"Kalau aku mati, apakah aku bisa bertemu ibu?" Dia bertanya lagi.


Tidak. Di neraka, setiap dimensi hanya diisi satu pendosa.


"Sialan, bagaimana kau menahan seranganku?!" Ayahnya yang sudah tersadar dari keterkejutan membentaknya, tetapi Carmen tetap tidak mendengarkan.


"Apa otoritasku bisa membawa ibu kembali?"


Kau tidak dipinjami otoritas neraka.


"Sampah ini ... beraninya kau melakukan ini padaku!"


Sebuah sabit hitam tiba-tiba muncul dari udara kosong di tangan kanan Sang Ayah, menggantikan pedang yang sebelumnya hancur. Ayahnya kembali melesat ke arahnya. Namun, Carmen tetap diam seakan tidak ada siapa pun di sana.


"Begitu, ya? Kemudian, bagaimana caraku untuk dapat bertemu denganya?"


Sabit besar menggorok leher Carmen, tetapi seperti sebelumnya, sabit itu hancur ketika beradu dengan kulit lehernya. Semua bagiannya kembali berubah menjadi butiran pasir hitam.


Bunuh, bunuhlah para pendosa. Dimulai dari ayahmu. Jika kau melakukannya dengan baik, kami akan membalas karma baikmu.


"Bunuh ayah?" Carmen memiringkan kepalanya tidak mengerti.


Ya, dia hanyalah iblis yang meringkuk dalam tubuh manusia. Sebuah parasit bagi dunia fana yang masih diberkati. Makhluk yang harusnya tidak ada. Makhluk yang melambangkan kegagalan dari karya Sang Pencipta.


" ... kegagalan. Ayah adalah kegagalan." Carmen memandangi ayahnya yang berdiri tak jauh darinya, menatap dengan pandangan yang tajam.


Melihat garis pandang Carmen yang berubah membuat perasaan tidak nyaman menyebar pada tubuh Sang Ayah. Resistensi mutlaknya terhadap pengaruh mental bahkan tidak berdaya melawan aura intimidasi murni yang terpancar dari kedua bola mata cokelat Carmen. Auranya benar-benar pekat, bahkan raja iblis sekalipun pasti akan terpengaruh oleh rasa haus darah gadis itu.


"Jika saja ayah tidak ada, maka ibu tak akan menderita. Namun, membunuhnya tidak akan mengubah apa pun."


Tekanan udara di ruangan itu semakin meningkat, menyebabkan keretakan di tanah sekitar kaki kecil Carmen. Tubuhnya yang kurus dan tampak tak berdaya kini dipenuhi aura hitam pekat yang bahkan terlihat oleh mata telanjang.


"Dengan otoritasku sebagai lambang dari kreatifitas, aku meminta sebuah senjata yang bisa memotong apa pun."


Tepat setelah kata-kata datarnya selesai terucap, hujan di luar seketika berhenti, hanya meninggalkan suara petir yang menyambar semakin sering. Lalu, atap rumah di depan Carmen tiba-tiba berlubang bersamaan dengan sebuah tombak logam yang dihiasi ukiran rumit menancap di tanah antara Carmen dengan ayahnya. Tampaknya tombak itu jatuh dari langit sehingga menghancurkan dan meninggalkan lubang di atap rumahnya.


"I-ini ... sihir penciptaan? Sebuah kreasi dari ketiadaan?"


Suara Sang Ayah tidak lagi terdengar karena detik berikutnya senjata-senjata lain mulai menghujani tempat itu. Beberapa menancap di tempat tidur, beberapa mengiris tangan ayahnya dan meninggalkan luka bakar berasap, sementara sisanya menancap di tanah. Carmen juga tak luput dari berbagai macam senjata yang menghujamnya, tetapi tubuhnya sama sekali tidak tergores.


Jumlahnya sekitar ratusan dan semuanya merupakan senjata dengan prioritas paling tinggi. Sebuah senjata yang sanggup membunuh para dewa.


"Void! Ini benar-benar void!" Sang Ayah tertawa dengan suara yang keras. Tubuhnya memang terluka, bahkan salah satu tangannya hancur parah akibat sebuah pedang dua tangan yang meluncur tepat mengenainya, tetapi raut wajahnya malah menunjukan kepuasan.


"Seorang pengguna void selain Ratu Sihir Hecate! Kau akan menjadi pionku mulai sekarang! Seluruh dunia akan tunduk padaku! Akhirnya hari dimana takhta ketuhanan menjadi milikku akan tiba!"


"Dengan otoritasku sebagai lambang dari benang takdir, aku menghapusmu dari keberadaan dunia. Jiwamu tidak akan pernah memasuki surga maupun neraka. Kau hanya akan kembali menjadi ketiadaan."


Tepat setelah kata-katanya berakhir, tawa Sang Ayah tiba-tiba berhenti. Wajahnya menjadi kosong, lalu roboh layaknya boneka.


Carmen memandanginya dengan raut wajah datar. Mata cokelatnya melihat tubuh tanpa jiwa itu beberapa saat, tetapi kemudian tertutup disertai dengan suara ringisan samar dari mulutnya.


Perlahan cairan merah pekat mulai mengalir dari sela-sela kedua matanya yang menutup, membasahi wajahnya yang mulai meleleh.


Carmen jatuh berlutut di hadapan jasad ayahnya, meraung kesakitan dengan sensasi terbakar yang baru saja dirasakan olehnya. Seluruh kulitnya meleleh, menunjukan otot-otot merah pucat yang mulai menghitam.


Asap putih mengepul dari seluruh bagian tubuhnya, menyebarkan bau menyengat yang membuat Carmen muntah.


Dia berteriak sekuat yang dirinya bisa, berusaha bertahan dari rasa sakit yang dideritanya.


Kemudian, ketika mentalnya tidak tahan lagi dengan semua mimpi buruk yang menimpanya, Carmen roboh di atas jasad ayahnya. Pandangannya gelap dan dia tidak dapat merasakan apa-apa lagi.


***


Hutan lebat masih basah oleh air hujan yang mengguyur wilayah itu selama beberapa malam. Pohon-pohon yang sempat tersambar oleh petir meninggalkan jejak hangus yang samar, menunjukan bahwa api yang tercipta segera padam oleh derasnya hujan.


Tanah gambut yang seharusnya dapat menyerap air kini sedikit tergenang, meninggalkan jejak kaki hewan-hewan kecil yang berkeliaran. Akar-akar dan batang pohon lapuk berserakan di mana-mana, digunakan oleh serangga sebagai sarang mereka.


Selain suasana hutan yang khas, beberapa objek yang tergeletak dan menancap di tanah sekitar membawa kesan aneh bagi siapa saja yang melihatnya. Tombak, pedang pendek, pedang dua tangan, bahkan anak panah logam yang berkilau dapat dilihat berserakan tidak teratur. Namun, sosok yang kini berjalan melewati semua itu tampak tidak peduli.


Seluruh tubuhnya ditutupi oleh jubah hitam yang kotor, hanya menyisakan bibir pucat dan rambut perak yang sedikit bergelombang. Kedua tangannya mengintip dari balik jubah panjang yang dia kenakan, menunjukan jari-jari halus seputih salju yang dipenuhi oleh cincin-cincin logam dengan pola ukiran rumit.


Dia berjalan dengan lambat, menginjak ranting pohon di sekitar dengan kaki telanjang. Setiap kali dirinya melangkah, tanah di sekitar kakinya retak dan serangga yang berada di dekatnya berlarian menjauh.


Walaupun kedua matanya terhalang oleh tudung dari jubah yang dia kenakan, sosok itu berjalan dengan penuh kepastian seakan tidak ada yang menghalangi penglihatannya.


Ketika tujuannya semakin dekat, berbagai macam senjata yang berserakan juga semakin banyak.


Dia mempercepat langkah kakinya, menyebabkan beberapa pohon disekitarnya tumbang entah karena apa. Tanah gambut di bawah kakinya memanas, mengeluarkan asap putih seakan terbakar. Walaupun begitu, dia tetap tidak memedulikannya.


Sosok berjubah itu kini menghentikan langkahnya, berdiri tepat di hadapan sebuah rumah kayu yang hampir roboh. Dia menghirup napas dalam-dalam, lalu menyentuh pintu kayu di depan matanya.


Alih-alih terbuka, pintu lapuk itu pecah dengan suara menyerupai sebuah ledakan kecil. Serpihannya tersebar ke dalam rumah yang dipenuhi oleh berbagai macam senjata berserakan.


Dia tampak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, tetapi kemudian kembali tenang saat mendengar suara serak yang cukup mengganggu.


"Beruang?"


Sosok berjubah itu terdiam untuk beberapa saat, lalu berjalan masuk menuju sebuah kamar lantai satu dimana suara asing itu terdengar. Ketika dia kembali meledakan pintu kayu yang membatasi ruangan di dalam kamar dengan dirinya, dia sempat mengambil langkah mundur.


Tepat di hadapannya, di atas tempat tidur yang penuh dengan bercak darah mengering dan organ yang membusuk, seorang gadis dengan rambut cokelat kusut terduduk di sana. Pakaiannya robek, menunjukan tubuh kurusnya yang penuh dengan luka. Setengah wajahnya meleleh hingga tengkorak kepalanya terlihat. Kedua matanya yang terbuka terus-menerus mengeluarkan cairan kental berbau menyengat, seakan sudah membusuk dari dalam. Namun, kelihatannya dia masih dapat melihat dengan samar.


"Bukan beruang, ya? Apa kau datang untuk mengganggu kebahagiaan keluarga kecilku?"


Ketika sosok berjubah itu mengalihkan pandangannya dari gadis sekarat tersebut, dia sempat berhenti bernapas untuk beberapa waktu.


Di samping kanan gadis itu, mayat seorang wanita yang membusuk terbaring begitu saja. Bagian leher, mulut, dan matanya dijahit serampangan menggunakan benang yang terbuat dari akar pohon kering sehingga tampak seperti sedang tersenyum. Sementara itu, di samping kirinya terbaring mayat seorang pria tanpa tangan yang mendapat jahitan serupa. Termasuk gadis kecil itu sendiri, semuanya dihinggapi banyak serangga pemakan bangkai.


"Bukankah ini memilukan? Apa yang terjadi dengan mereka?" Sosok berjubah itu berbicara, suaranya yang indah sudah lebih dari cukup untuk membayangkan bahwa sosok di balik jubah tersebut adalah seorang wanita muda.


Mendengar pertanyaan tersebut, gadis berambut cokelat itu mengalihkan pandangan secara bergantian pada kedua mayat yang terbaring di sampingnya.


"Ayahku bertengkar hebat dengan ibu. Lalu aku menghentikan mereka. Sekarang mereka sudah berbaikan dan kami kembali menjadi keluarga kecil yang bahagia. Kau lihat senyuman mereka, 'kan?"


Gadis kecil itu tersenyum lembut, sedikit memejamkan matanya yang terus meneteskan cairan.


Wanita berjubah itu menghembuskan napas seraya mendekatinya, kemudian menyentuh kepala gadis berambut cokelat tersebut. Ketika kulit mereka bersentuhan, perlahan luka-luka yang diderita oleh gadis itu mulai tertutup, seakan semua yang dia derita selama ini hanyalah ilusi semata.


Ketika seluruh lukanya menghilang tanpa bekas, wanita itu berkata, "ikutlah denganku. Bersama, kita akan menebus dosa orangtuamu dan mengeluarkannya dari neraka. Aku secara pribadi akan membantumu mengumpulkan karma baik."


***


Suara burung yang bernyanyi di luar jendela membangunkan seorang gadis muda dari tidurnya. Kedua bola mata cokelatnya terbuka, mengungkap kamar mewah yang dia tempati.


"Mimpi yang sama lagi?"


Sudah sejak lama dia memimpikan kejadian buruk itu di hampir setiap tidurnya. Karena sudah terbiasa dengannya, dirinya jadi tidak terlalu memedulikannya lagi.


Dia menguap seraya meregangkan tubuhnya. Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya, lalu membuka jendela kamarnya. Sinar mentari pagi dan udara sejuk dari luar menerpanya, membawa sensasi kesegaran tersendiri.


Ketika dirinya masih menikmati udara pagi, suara seorang gadis tiba-tiba terdengar dari balik pintu kamarnya.


"Pendeta Ordo Campbell, jadwal Anda untuk hari ini telah dipersiapkan."


Dia segera melupakan mimpi dari kejadian masa lalunya dan cepat-cepat membalas ucapan dari pendeta magang tersebut.


"Terima kasih banyak. Saya akan memeriksanya setelah bersiap-siap."


Gadis pendeta berambut cokelat itu menjawab seraya bersiap untuk menyambut pekerjaan yang ditugaskan oleh pihak kuil padanya.


-----------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Minggu 05 April 2020 pukul 12:00 PM.


Note :


Akhirnya ripers menembus episode seratus uwu ~


Maaf kalo episode ini memiliki 3 scene heu, soalnya bingung mau masukinya gimana. Aku yakin yang baca juga pasti bingung karena perubahan scene dan sudut pandang yang tiba-tiba :(


btw scene ketiga (scene terakhir) di episode ini merupakan scene yang ada di bab 10. Pendeta Kuil.