
Normalnya setiap jenis mana dapat digunakan untuk hal lain selain hal-hal yang berhubungan dengan sihir. Sebagai contoh, sabit milik Fiora malah hancur berkeping-keping saat dia mengayunkannya pada tubuh manusiaku ketika aku berhasil membangkitkannya ke dunia ini. Fenomena itu terjadi dikarenakan pengaruh dari mana membuat tubuhku kokoh dan tidak mudah dilukai.
Sumber mana yang dikumpulkan ras iblis biasanya terkonsentrasi pada bagian jantung. Kemudian, saat kami menyebarkannya ke seluruh tubuh, permukaan kulit kami akan mengeras sesuai dengan seberapa banyak mana yang dialirkan. Untuk kasusku, hanya senjata dengan prioritas pembunuh dewa saja yang bisa menembusnya. Senjata biasa hanya akan menjadi mainan anak-anak bagiku.
Alasan yang mendasari kenapa tubuhku dapat mudah dilukai oleh Alpha tidak lain adalah karena kapasitas mana yang kumiliki pada saat itu terlampau rendah. Tentunya hal ini berpengaruh pada tubuhku yang tidak memiliki cukup banyak konsentrasi mana. Pada akhirnya resistensiku terhadap segala jenis serangan menurun sangat tajam.
Ah, sebagai tambahan berdasarkan pengalaman dan pengetahuanku, setiap jenis mana --alam, cahaya, dan kegelapan-- memiliki sedikit perbedaan dalam peningkatan pertahanan ini. Namun, pada dasarnya semua jenis mana sama saja.
Selain dapat digunakan untuk memperkuat pertahanan, mana juga dapat digunakan untuk memperkuat otot-otot kami. Efek dari penguatan otot tidak main-main. Ras iblis yang memiliki tubuh besar dan berat bisa bergerak sangat cepat berkat kemampuan tersebit. Jumlah kerusakan dari setiap serangan fisik yang kami lakukan juga meningkat berkali-kali lipat.
Nah ... berbicara tentang bergerak dengan cepat berkat penguatan otot, saat ini aku sedang melakukannya untuk menuju Desa Werewolf. Jarak tempuh 5 jam berjalan kaki seharusnya bisa kuperpendek hingga setengah jam saja dengan kecepatan setinggi ini.
Aku memang menyegel kapasitas mana yang kumiliki. Hanya saja, sekitar seujung kuku dari total semua mana yang kumiliki telah aku bebaskan dari segel ini. Walaupun jumlahnya sangat sedikit, tetapi masih cukup untuk memperkuat, mempercepat, dan membuatku setara dengan Alpha. Kali ini jika dia memutuskan untuk bertarung denganku lagi, tidak ada kesempatan baginya untuk menang.
Oh, aku hampir melupakan sesuatu yang agak unik. Entah apa yang dipikirkan oleh Pencipta saat memutuskan untuk menciptakan ras manusia sehingga terdapat banyak fakta menarik tentang mereka. Hal ini membuat mereka menjadi satu-satunya ras yang sanggup menarik perhatian Heaven dan Tartarus.
Manusia tidak memiliki organ untuk mengumpulkan mana. Hal ini membuat mereka tidak dapat menggunakan segala jenis sihir. Namun, sebagai kompensasi dari kerugian ini, mereka dapat menggunakan segala jenis mana melalui organ makhluk lain.
Sebagai contoh, para mage biasanya menggunakan mantra-mantra jenis alam dengan bantuan tongkat atau berbagai item sihir yang berasal dari organ para monster sebagai katalis. Sementara itu, para pendeta menggunakan grimoire agar dapat menggunakan mantra jenis cahaya. Tidak terkecuali bagi mereka yang mempelajari mantra kegelapan, jantung iblis akan digunakan sebagai inti atau katalis yang membantu mereka untuk menguasai berbagai macam sihir kegelapan.
Tentu saja, semua ini tidak hanya terbatas dalam hal sihir, melainkan segala macam penggunaan yang berhubungan dengan ketiga jenis mana. Maka dari itu, para manusia yang terbagi ke dalam lima kelas dasar --Acolyte, Mage, Rogue, Warrior, dan Creator-- biasanya tetap akan menggunakan item sihir untuk berbagai macam keperluan.
Berdasarkan aturan dasar yang aku ketahui tersebut, entah apakah sudah ikut menyimpang juga atau belum, kami ras iblis tidak dapat menggunakan mantra lain selain dari jenis kegelapan sekalipun menggunakan item sihir yang ada sebagai katalis. Maksudku, walaupun aku memegang grimoire, masih mustahil bagiku untuk menggunakan sihir cahaya. Hal ini juga berlaku bagi semua ras dari tiga dunia kecuali ras manusia.
Apakah hal ini merugikan ras lain? Tentu saja tidak. Kami --ras selain manusia-- memiliki keunggulan sendiri.
Sebagai kompensasi dari ketidak mampuan kami dalam menggunakan mana jenis lain, kami memiliki organ internal untuk mengumpulkan mana yang sesuai dengan ras masing-masing.
Hal ini sudah pernah kujelaskan sebelumnya, 'kan? Ras iblis memiliki jantung yang berfungsi sebagai katalis untuk menggunakan mantra kegelapan, para penghuni langit memiliki gift yang membuat mereka mampu untuk menggunakan mantra suci, kedua telinga Dwarf adalah katalis yang membuat mereka mampu untuk memanipulasi mana jenis alam, kedua bola mata Werewolf juga berfungsi sebagai katalis, dan masih banyak lagi. Intinya, setiap ras bukan manusia memiliki organ internalnya sendiri. Selain itu, mereka juga dapat menggunakan item sihir selama masih sesuai dengan jenis mana yang dapat mereka kuasai.
Seperti sebelumnya, aturan dunia selalu berada dalam keseimbangan. Setiap kelebihan pasti memiliki kekurangan. Setidaknya itulah yang terjadi ketika anturan dasar dunia masih belum menyimpang seperti sekarang.
Ah ... memikirkan segala macam hal ternyata membuatku tidak sadar bahwa aku sudah berada tepat di gerbang masuk desa. Yah, walaupun kusebut sebagai gerbang, itu tidak lebih dari sekadar tombak-tombak kayu yang ditata dan diikat dengan akar rumput.
Berjalan sendirian memang jauh lebih baik daripada harus membawa manusia dan melangkah selambat mereka. Sebenarnya aku lebih suka untuk membentuk kelompok dengan Alma seorang agar kami lebih leluasa. Namun, aturan dari guild tidak memperbolehkan kami seperti itu. Sungguh merepotkan.
Jika aku bandingkan jumlah kerusakan Trowell yang disebabkan oleh Hellhound dengan Desa Werewolf yang rusak akibat kejadian kemarin, perbedaannya sangat jauh. Maksudku, desa di hadapanku ini hampir rata dengan tanah. Yah, sebenarnya tidak aneh mengingat luas wilayah dari tempat ini tidak begitu besar.
Semoga saja otak bodoh Alpha sanggup untuk memimpin pembangunan desanya kembali.
"Tu-Tuan Manusia. Si-silakan ikuti aku!"
Salah satu serigala berbicara dengan agak gagap sesaat setelah melihatku. Walaupun wajahnya benar-benar tertutup oleh bulu cokelat yang kumal, aku masih dapat menilai bahwa dia sedang khawatir. Tentu saja, aroma rasa takutnya terpancar cukup kuat.
Tanpa repot-repot untuk menjawab ucapannya, aku berjalan memgikutinya dari belakang.
Pengaruh dari Alma di desa ini tampaknya sangat kuat. Hal tersebut bisa dilihat melalui bagaimana para penghuni desa menatapku dengan sikap waspada dan ketakutan. Mau bagaimana lagi ... sihir tingkat sembilan yang Alma gunakan kemarin pastinya sesuatu yang sanggup membuat semua makhluk hidup jatuh ke dalam keputusasaan.
Kalau saja dia tidak menggunakan barrier terlebih dahulu, bukan hanya semua penghuni desa akan mati, tetapi Desa Werewolf itu sendiri yang akan benar-benar lenyap dan berubah jadi kawah raksasa.
Aku diantar untuk masuk ke kediaman Alpha oleh serigala penjaga. Tidak seperti kediaman lain, tampaknya rumah ini tidak terlalu banyak memgalami kerusakan. Ah, bisa saja dia memaksa para anak buahnya untuk membangun tempat ini dalam semalam. Kalau memang seperti itu, betapa hinanya si Alpha ini. Sebagai makhluk yang sama-sama memimpin, aku tidak terima dengan perlakuan sewenang-wenang seperti itu.
Hal pertama yang mengganggu pikiranku begitu aku memasuki ruangan tersebut adalah ceceran daging dan tulang-belulang yang berserakan. Sementara itu, beberapa langkah di depanku, aku melihat Alpha sedang duduk santai seperti orang yang terlalu banyak makan.
Tampaknya dia tidak menyadari kedatanganku walaupun diriku berada tepat di hadapannya. Dasar makhluk bodoh primitif tidak tahu diri.
"Oh, apa perburuanmu hari ini mendapatkan hasil yang berlimpah?"
Saat aku berbicara padanya, dia tampak terkejut dengan kehadiranku. Alpha membelalakan mata dan terbatuk beberapa kali sebelum menyambar air dalam wadah di hadapannya. Serigala besar itu menenggak air layaknya manusia.
"Ugh ... a-apa yang ... kau ... ?"
Pertanyaan bodoh apa lagi itu? Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang dia tanyakan. Benar-benar monster primitif yang bahkan bicara pun tidak mampu.
"Langsung saja ke intinya. Mana tanaman yang kau janjikan padaku?" Aku mengasongkan tangan kananku sebagai isyarat meminta sesuatu.
"Apa? Tanaman apa?"
Apa kau serius?! Bisa-bisanya hewan menyedihkan ini bertanya dengan wajah polos seakan tidak tahu apa-apa. Tidak mungkin kau punya penyakit pikun, 'kan?
Aku berjalan ke arahnya yang masih terduduk tak jauh dariku. Tangan kiriku meraih rambut cokelat Alpha yang tumbuh di sekitar leher sementara tangan kananku meraih pedang satu tangan hitam yang sejak awal aku bawa.
"Kau sudah bosan hidup atau bagaimana?" Ujung pedangku berada tepat di antara kedua matanya sementara raut wajahku sekarang pastinya sedang menyeringai.
"Tanaman! Iya tanaman! Kau boleh mengambil semua tanaman di desaku. Lagipula kami tidak membutuhkannya!"
Sebenarnya agak aneh dan menyedihkan melihat tingkah laku serigala raksasa di hadapanku sekarang. Aku yakin semua pengikutnya akan pergi meninggalkannya jika mereka tahu pemimpinnya semenyedihkan ini.
Menilai dari respon yang dia berikan, aku yakin monster ini sudah melupakan perjanjian kami. Yah, mau bagaimana lagi, kejadian kemarin pastinya menyebarkan teror dan trauma ke semua penduduk desa. Jadi, wajar jika mereka melupakan hal sepele yang kami minta.
Baiklah, saatnya menjelaskan maksud dan tujuanku datang kemari. Kuharap ini tidak akan membutuhkan waktu yang lama agar aku dapat segera kembali ke kota.
Semoga otak werewolf di hadapanku tidak seidiot para werewolf yang kutahu di masa lalu.
----
Selasa, 13 Agustus 2019
Pukul 04:05 PM
Note : masih belum pindah arc hm ...