RE:Verse

RE:Verse
24.III Pertarungan Tiruan



Siang hari merupakan jam istirahat bagi para siswa akademi. Mereka biasanya menghabiskan waktu untuk makan siang di area kantin atau halaman akademi bagi para siswa yang datang bukan dari kalangan bangsawan. Namun, sekarang kedua tempat yang biasanya ramai itu tampak sunyi.


Rumor tentang peringkat teratas akademi --Yang Mulia Putri Estelle-- akan melakukan pertarungan tiruan dengan seseorang menyebar dengan cepat. Mereka yang penasaran dengan pertarungan itu berbondong-bondong mendatangi arena, mengorbankan waktu istirahat yang seharusnya digunakan untuk mengisi perut.


Hampir semua tempat duduk kini dipenuhi oleh para siswa baik tahun pertama maupun tahun terakhir. Bukan hanya mereka yang berada pada kelas berpedang, bahkan siswa dari kelas sihir pun datang sekadar untuk melihat bagaimana pendekar pedang teratas akademi menghabisi lawan tandingnya.


Pedang yang digunakan oleh Estelle merupakan pedang kayu tumpul yang biasa digunakan untuk latihan. Ya, mau bagaimana lagi, aksesoris perisai yang biasa digunakan pada saat turnamen merupakan barang mahal yang didapat dari Kekaisaran Dwarf. Jadi, mereka tak bisa memintanya begitu saja kepada pihak akademi hanya untuk pertarungan tiruan. Lagipula aksesoris semacam itu sangat dibutuhkan untuk garis depan sekarang ini. Harganya sudah pasti melambung sampai empat kali lipat di pasaran.


Kedua bola mata birunya memandang ke arah lawan tandingnya, seorang gadis muda berambut hitam yang menggenggam pedang kayu yang sama. Dia melepaskan sepasang belati dan pedang satu tangan miliknya, tetapi topeng logam anehnya masih tetap tersingkap di samping kanan wajahnya.


"Apakah saya harus memberi kemudahan kepada Anda? Saya tidak ingin Anda dipermalukan di depan banyak putra putri keluarga bangsawan."


Walaupun bahasa yang dia gunakan cukup sopan, ucapan gadis itu tetap saja sedikit membuat Estelle kesal. Dia ingin meneriakinya, tetapi memilih untuk menekan emosinya dan menjawab dengan nada yang tenang.


"Tidak perlu. Keluarkan semua yang Anda miliki."


Berdasarkan apa yang dia lihat ketika berada di Ibukota Kerajaan Cygnus, kekuatan lawannya tidak bisa dibandingkan dengan dirinya. Kelincahan dan kecepatannya dalam bertindak sangat berbeda jauh dengan lawan yang selama ini dia tangani. Jadi, kekalahannya sudah dapat dipastikan bahkan sebelum mereka mulai bertarung. Walaupun begitu, Estelle ingin mengukur seberapa lama dirinya dapat bertahan dari seorang petualang peringkat A. Alasan inilah yang mendorongnya untuk menyuruh lawan tandingnya melakukan yang terbaik.


Peluit tanda pertandingan dimulai beberapa saat setelah Estelle membalas kata-kata gadis itu. Seperti biasa, dia langsung mengalirkan mana untuk memperkuat kaki, tangan, dan penglihatannya, bersiap menghadapi serangan frontal dari lawannya. Namun, alih-alih melesat ke arahnya, gadis itu malah merusak kuda-kudanya dan menggeser topengnya untuk menutupi seluruh wajah.


Wujudnya yang tertutup topeng membuka kembali ingatan lama Estelle. Pada saat gadis itu bertarung dengan para iblis, wajahnya juga tertutup topeng aneh itu. Entah apakah dia melakukannya untuk melindungi wajahnya atau ada rahasia lain di balik topeng itu, yang jelas seseorang di hadapannya pasti sedang dalam keadaan mode tempur penuh.


Estelle semakin fokus menatap musuhnya, tidak membiarkan gadis itu lepas dari pandangannya bahkan untuk sesaat. Beberapa detik mereka hanya saling menatap satu sama lain, tidak ada siapa pun yang mengambil langkah pertama. Kemudian, di tengah keheningan arena, gadis berambut hitam itu kembali berbicara dari balik topengnya.


"Apakah Anda tidak berniat untuk menyerang terlebih dahulu?"


Estelle yang mendengarnya menjawab dengan singkat.


"Datanglah ke hadapan saya kapan pun Anda mau."


Gadis itu menghela napasnya, kemudian mengambil kuda-kuda yang terlihat asing di mata Estelle.


"Kalau begitu, saya akan datang terlebih dahulu dengan seluruh kemampuan saya. Persiapkanlah diri Anda!"


Tepat setelah ucapannya, sosok gadis itu benar-benar lenyap dari pandangan Estelle. Ketika bola matanya berusaha menangkap posisi dari gadis berambut hitam tersebut, ujung pedang kayu sudah menyentuh kulit lehernya. Estelle reflek menatap lurus ke depan, memandang tepat ke arah gadis bertopeng yang kini berdiri setengah langkah darinya.


Kurang dari satu detik setelah kejadian singkat tersebut, hempasan angin dari gelombang kejut yang dihasilkan oleh pergerakan luar biasa cepat menghempaskan debu di sekitar arena dan menyebarkannya ke segala arah. Suara dentumannya bahkan sedikit membuat telinga Estelle berdengung.


Pergerakan gadis itu jauh lebih cepat daripada yang terakhir kali diingatnya. Dia juga berhasil menahan momentum yang dihasilkan dari gerakan cepatnya tepat setengah langkah dari lawannya. Estelle yang terkejut mulai jatuh terduduk dan menjatuhkan pedang kayu miliknya sendiri.


Mataku bahkan tidak sanggup untuk mengikuti gerakannya.


Kekalahan total. Hal itulah yang kini memenuhi kepala Estelle. Tidak ada ruang baginya untuk bertahan dari sosok yang sanggup bergerak dengan kecepatan tidak masuk akal seperti itu.


Semua penonton di arena tidak bereaksi dengan pemandangan tak masuk akal yang sedang mereka saksikan, membawa keheningan yang tidak nyaman di seluruh arena. Mereka hanya membeku di tempat duduk dengan wajah yang terlihat bingung dan terkejut.


"Mari lakukan pertandingan ulang. Kali ini saya akan menahan diri."


Gadis itu menyingkap kembali topengnya dan berjalan menjauhi Estelle yang masih belum tersadar dari keterkejutannya. Ketika dirinya berhasil memahami kata-kata itu, Estelle yang tersulut emosi mulai berdiri dan kembali fokus menatap lawan tandingnya.


Siswa lain mungkin akan kehilangan semangat bertarung ketika menghadapi musuh dengan tingkatan seperti ini. Namun, Estelle bukanlah seseorng yang mudah patah semangat. Tidak, dia tak memiliki opsi lain selain mendorong dirinya sampai di luar batas kemampuannya. Sejak awal memang tak ada pilihan lain baginya.


Jika semangat berpedangnya luntur di sini dan berakhir dengan kegagalan, statusnya sebagai anggota keluarga kerajaan akan membuatnya terjun ke dunia politik. Semua kebebasannya akan dirampas darinya dan pada akhirnya hanya dijadikan alat politik oleh saudaranya. Tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan untuk mempertahankan harga dirinya selain terus berada di jalannya sekarang dan menjadi salah satu kesatria wanita terkuat di masa depan.


Satu serangan. Hanya satu serangan sudah lebih dari cukup!


Gadis berambut hitam itu hanya sedikit mengubah posisinya untuk menghindari tusukan Estelle. Menyadari bahwa serangannya dapat dihindari dengan mudah membuatnya segera menarik kembali pedang kayu yang dia genggam secepat mungkin seraya menatap fokus pada pedang kayu lawan. Estelle menyiapkan diri untuk serangan balasan yang akan datang dari lawan tandingnya. Namun, alih-alih menggunakan pedang, telapak tangan kiri gadis berambut hitam itu mendorong tubuh Estelle dengan cukup kuat, membuatnya kehilangan momentum dan jatuh terduduk ke belakang.


"Jangan hanya memperhatikan senjata musuh. Pada saat pertarungan sungguhan, musuh dapat menggunakan apa saja untuk mencelakai Anda."


Gadis itu tampaknya menebak apa yang Estelle lakukan dengan benar. Pergerakan dari kedua bola mata birunya mungkin tampak jelas, menyiratkan bahwa dirinya hanya mewaspadai satu titik dari lawannya.


Keheningan arena tiba-tiba pecah ketika suara cemoohan datang dari para penonton. Mereka jelas mengungkapkan ketidak senangannya atas tindakan yang dianggap telah mencederai kehormatan seorang kesatria.


Dalam turnamen maupun pertarungan tiruan dengan para siswa, tidak pernah ada kejadian dimana seseorang menyerang bukan menggunakan senjata. Jadi, Estelle kurang mewaspadai adanya kemungkinan seperti ini. Tentu saja cara menyerang seperti itu akan menodai kehormatan sebagai seorang calon kesatria sehingga para siswa --termasuk Estelle-- tidak mungkin akan melakukannya. Namun, apakah hal ini berlaku untuk para bandit? Jika musuhnya bandit atau monster, apakah mereka akan repot-repot memikirkan harga diri dan kehormatan?


Walaupun para penonton yang kebanyakan merupakan keturunan para bangsawan mencemooh tindakan yang dilakukan oleh Almaria barusan, Estelle sendiri menyadari betapa naifnya mereka semua termasuk dirinya.


Dia kembali bangkit berdiri dan memegang erat pedang kayu miliknya dengan erat tanpa banyak mengeluh. Tubuhnya mulai terasa sakit dan lecet, tetapi dirinya mengabaikan semua rasa tidak nyaman itu.


"Tolong lakukan sekali lagi. Kali ini saya akan melawan Anda dengan benar." Estelle memohon kepada gadis itu untuk memberinya kesempatan lain.


Di depan seorang anggota keluarga kerajaan seperti dirinya, Almaria bahkan tidak berusaha untuk menyembunyikan ketidak sukaannya. Walaupun begitu, alih-alih menolak permintaannya, gadis itu kembali bersiap dan menyetujui apa yang Estelle minta.


"Silakan datang kapan saja."


Mendengar jawaban seperti itu membuat Estelle kembali melesat ke arahnya. Kali ini dia mengayunkan pedangnya dengan seluruh tenaganya dan terus-menerus, berusaha tidak memberikan kesempatan bagi lawannya untuk melakukan serangan balik. Memang staminanya akan cepat sekali terkuras jika dia melakukan hal ini, tetapi membiarkan Almaria untuk membalas serangannya bukanlah pilihan yang baik. Estelle tidak yakin bahwa dirinya dapat menahan serangan yang ditujukan kepadanya.


Sekitar lima menit telah terlewat. Walaupun begitu, tidak pernah sekali pun pedang kayunya menghantam baik pedang kayu maupun tubuh lawannya. Semua serangannya dapat dihindari dengan hanya sedikit gerakan, seolah kemampuan berpedang yang selama ini dibanggakan olehnya sedang diolok-olok. Melawannya sama saja seperti seorang anak kecil yang mengayunkan sebuah tongkat ke arah kesatria kerajaan. Bukan hanya anak itu akan dipermainkan oleh Sang Kesatria, bahkan dirinya tidak dipandang sebagai musuh yang layak. Begitulah apa yang Estelle rasakan sekarang ini.


Bersamaan dengan napasnya yang terengah-engah akibat terlalu banyak memakai stamina, Almaria mengayunkan pedang kayunya hingga beradu dengan pedang kayu miliknya. Ayunan yang luar biasa kuat itu membuat pedang kayu Estelle terpental beberapa meter ke udara sebelum akhirnya tergeletak cukup jauh dari mereka berdua. Estelle yang kehabisan stamina hanya bisa jatuh berlutut menatap mata pedang kayu yang mengarah tepat ke wajahnya.


"Menahan diri merupakan salah satu kunci kemenangan. Dalam perang skala penuh, Anda akan bertarung selama berhari-hari, bahkan bisa berbulan-bulan. Jadi, menyadari batasan Anda adalah salah satu dasar untuk menjadi seorang kesatria. Kelelahan di tengah pertarungan seperti ini adalah kesalahan yang fatal, Putri."


"Maaf."


Hanya kata itulah yang dapat terucap dari mulut Estelle ketika dia menjadi tidak sabar dan mendorong dirinya sendiri sampai di luar batas. Emosinya yang tidak stabil membuatnya ceroboh dalam mengambil keputusan. Jika ini pertarungan sungguhan, dia yakin bahwa dirinya pasti sudah mati sekarang.


Seharusnya Estelle tahu bahwa dirinya tidak mungkin menang dari lawan di hadapannya. Dia sadar dengan fakta tak terbantahkan ini bahkan sebelum pertarungannya dimulai. Namun, ketika dirinya menyadari bahwa perbedaan kekuatan mereka berada dalam tahap yang mengejutkan, sifat egoisnya kembali muncul sehingga Estelle tidak mau menerima kenyataan ini.


Jika aku menyerang sekuat tenaga, aku yakin setidaknya dapat mendaratkan satu pukulan padanya. Pikiran seperti itulah yang mendorongnya melakukan kecerobohan. Pada akhirnya hasil yang dia dapatkan membuatnya muak.


"Mari kita sudahi sampai di sini."


Lamunan Estelle terpecah saat Almaria mengatakan kalimat seperti itu. Ketika kesadarannya kembali, mata pedang kayu yang beberapa waktu lalu teracung tepat di depan wajahnya kini berganti dengan sebuah tangan kurus dan kecil. Tangan yang terlihat rapuh tetapi sebenarnya menyembunyikan kekuatan yang luar biasa.


Estelle menyunggingkan senyum sebelum akhirnya meraih tangan itu dan bangkit berdiri. Dia sedikit membungkuk di hadapan lawan tanding terkuat yang pernah ditemuinya selama hidupnya.


"Terima kasih telah mengabulkan permintaan egois saya."


Di tengah situasi hening arena, suara tepukan penonton mulai terdengar dari berbagai arah. Suaranya semakin meriah diiringi teriakan bersemangat ketika Estelle dan Almaria berjalan menuju pintu keluar arena. Mungkin mereka pada akhirnya mengetahui bahwa cara kotor yang ditunjukan sebelumnya hanyalah bagian dari pelajaran yang diberikan kepada Estelle melalui pertarungan.


------------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 15 Agustus 2020 pukul 12:00 PM


Note : -