RE:Verse

RE:Verse
14.I Menginjakkan Kaki di Ibukota



Perjalanan jauh bukanlah hal yang sulit bagi kami. Terus terang, hanya dengan mengalirkan sejumlah kecil mana ke seluruh tubuh, aku dan Alma dapat menempuh perjalanan dari Trowell menuju ibukota dalam kurun waktu dua hari saja. Namun, karena keberangkatan kami bersama dengan Carla, aku tidak bisa melakukan hal ini.


Berbagai macam kejadian yang kami hadapi selama sepuluh hari terakhir silih berganti. Dimulai dari masalah sepele dengan para manusia bodoh di dalam kota sampai pada permasalahan yang berhubungan dengan beberapa pedagang. Selain itu, kami juga sempat bermasalah dengan salah satu bangsawan feodal. Untungnya tidak ada satu pun dari masalah-masalah tersebut yang sampai berlarut-larut sehingga jadwal yang sudah susah payah diatur oleh Carla sama sekali tak memiliki kendala serius.


Pada awalnya aku cukup heran mengetahui fakta bahwa kami sama sekali tidak bertemu dengan bandit sekali pun. Namun, setelah kupikirkan lagi, akan menjadi hal yang aneh bagi orang-orang untuk tetap sering bepergian --bahkan sampai ada kereta penumpang yang menawarkan jasa mengantar mereka menuju kota lain-- jika serangan dari bandit selalu terjadi. Bandit dan monster memang banyak, tetapi peluangmu untuk diserang mereka setiap kali bepergian tampaknya tidak terlalu tinggi.


Ibukota Kerajaan Cygnus bernama Kota Prusia. Tempat ini memiliki tiga gerbang utama yang memisahkan antara kawasan kumuh tempat dimana rakyat jelata tinggal, lingkungan perdagangan yang dipenuhi dengan toko-toko serta perumahan kaum menengah ke atas termasuk bangsawan rendah, dengan kawasan terakhir yang dipenuhi oleh mansion mewah milik bangsawan tinggi dan para saudagar kaya yang dibangun tepat di pusat ibukota.


Wilayah elit di balik gerbang paling dalam juga berbatasan langsung dengan benteng megah yang memisahkan antara wilayah bangsawan tinggi dengan kawasan khusus keluarga kerajaan tempat dimana berdirinya Kastil Utama Kerajaan Cygnus itu sendiri.


Karena luasnya Kota Prusia, Guild Petualang sampai memiliki tiga cabang di kota ini. Semuanya didirikan di kawasan perdagangan, berdekatan dengan cabang kuil dan cabang Guild Perdagangan. Sementara itu, guild utama yang dipimpin langsung oleh Grand Master Guild berada di kawasan elit yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.


Tepat setelah Carla, aku, dan Alma turun dari kereta yang kami naiki seraya berjalan mendekati gerbang masuk ibukota, semua penjaga gerbang berhenti melakukan kegiatan pemeriksaan yang sedang mereka lakukan. Kemudian, kelima penjaga gerbang tersebut berdiri tegak ke arah kami --lebih tepatnya menghadap Carla-- seraya menaruh kepalan tangan kanannya tepat di dada masing-masing sebagai tanda penghormatan. Setelah itu, mereka berbicara dengan tempo yang hampir bersamaan.


"Kami menghadap Komandan Utama Divisi Intelijen!"


Tentu saja orang-orang yang mengantri untuk melewati pos pemeriksaan menoleh ke arah kami dengan serentak. Aku dapat melihat setiap raut wajah terkejut mereka hanya dengan sekali menatap. Sudah pasti mereka akan keheranan dengan kejadian mendadak seperti ini, 'kan?


Di mata para pengembara asing yang sedang mengantri tak jauh dari kami, kemunculan tiga orang petualang yang terdiri dari satu anak laki-laki dan dua orang gadis muda yang sanggup membuat para prajurit menaruh hormat pastilah terasa janggal. Namun, seharusnya mereka sadar ketika prajurit-prajurit ini memanggilnya sebagai komandan utama. Dengan begitu, tidak ada keanehan yang patut membuat mereka penasaran lagi di sini.


Yah ... kalau melihat gaya berpakaian Carla yang menyerupai seorang petualang biasa, kurasa wajar jika mereka masih penasaran. Aku juga pasti tidak akan langsung percaya jika berada di posisi mereka. Lagipula alasan di balik pakaiannya yang biasa saja masih belum jelas sampai sekarang.


Terserahlah, aku tidak terlalu peduli juga.


Carla mengangkat tangan kanannya sesaat untuk menjawab sapaan formal mereka sebelum berbicara.


"Kau layani aku." Gadis itu menunjuk salah seorang prajurit yang langsung mendekati kami dengan setengah berlari. "Empat lainnya lanjutkan tugas kalian."


Alih-alih menjawab, keempat prajurit yang dimaksud hanya membungkuk untuk beberapa saat. Kemudian, mereka melanjutkan kegiatan pemeriksaan yang sempat terhenti beberapa waktu lalu. Walaupun begitu, pandangan penasaran orang-orang masih tidak beranjak dari kami bertiga.


Seperti sebelumnya, aku dan Carla mengabaikan tatapan-tatapan tersebut. Sementara itu, Alma bahkan terlihat sama sekali tidak peduli dengan segala hal yang terjadi di hadapannya sejak awal.


Kami diantar menuju salah satu pos khusus yang dibangun di dalam benteng terluar kota. Tempat ini sepertinya hanya diperuntukan untuk tamu istimewa. Soalnya aku tidak melihat orang lain selain para prajurit penjaga dan kami bertiga di dalam sini.


"Kalian beristirahatlah dulu di ruangan ini. Aku akan berganti pakaian dan mengurus beberapa dokumen untuk izin masuk ke gerbang terdalam." Carla mengatakan hal itu pada kami setelah diantar ke ruang tunggu.


Tempatnya tidak terlalu buruk untuk ukuran ruangan di dalam dinding. Semua permukaanya terbuat dari tumpukan batu pualam yang direkatkan dan dipotong dengan rapi. Aku juga tidak melihat debu sedikit pun, padahal ruangan ini terkesan seperti tidak pernah digunakan. Mungkin memang ada pelayan khusus yang membersihkannya atau bisa jadi mereka menyuruh prajurit baru untuk melakukan hal itu.


Tidak selang berapa lama, seorang prajurit dengan jubah militer berwarna biru laut memasuki ruangan ini. Dia membawa tiga buah cangkir kayu di tangannya seraya tersenyum cerah ke arah kami. Selain dirinya, dua prajurit dengan armor perak juga mengikuti di belakang. Salah satunya memegang sebuah teko logam yang usang sementara sisanya membawa piring kayu yang dipenuhi kue-kue kering. Dilihat dari bentuk dan warnanya yang lebih mirip dengan potongan batu, kurasa kue-kue itu tidak layak untuk dimakan.


"Maaf hanya ada makanan seperti ini di pos kami." Lelaki berjubah itu duduk di kursi yang menghadap ke meja kayu, berhadapan dengan aku dan Alma.


Kedua prajurit di belakangnya menyimpan hidangan yang dibawanya sebelum membungkuk dan berbalik meninggalkan ruangan ini.


"Sebelumnya perkenalkan, aku adalah Andie van Degraff, seorang knight. Aku kapten yang sedang bertugas di benteng hari ini."


Aku sudah belajar sedikit mengenai tingkatan bangsawan manusia. Hal ini kulakukan supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Sejauh yang aku tahu, bahkan seorang anak dari wilayah kumuh memiliki pengetahuan dasar tentang hal itu. Jadi, mau tidak mau aku harus mempelajarinya juga walaupun sedikit. Untungnya, melalui potongan ingatan yang dimiliki oleh Almaria sebagai salah satu keturunan seorang marquis, Fiora tahu sangat banyak hal yang berhubungan dengan bangsawan.


Seorang knight merupakan tingkat bangsawan terendah yang aku tahu. Mereka tidak memiliki tanah feodal dan biasanya menjadi bawahan seorang baron dan bangsawan tinggi lainnya. Berbeda dengan status kebangsawanan lain, status knight tidak bisa diturunkan ke keturunan mereka. Kalau begitu, orang ini mendapatkan gelar dengan usahanya sendiri. Bukankah hal itu adalah sesuatu yang menakjubkan?


Dia mengatakan bahwa dirinya adalah kapten yang bertugas hari ini. Berarti kurasa ada lebih dari satu kapten yang melakukan tugas jaga secara bergiliran. Terasa aneh memang, tetapi itu sama sekali bukan urusanku.


"Namaku Yehezkiel dan ini adalah adikku, Almaria. Kami merupakan petualang yang berasal dari Trowell, kota di ujung Timur kerajaan ini." Aku membalas sapaannya dengan sopan.


"Ah, garis besarnya aku sudah tahu. Kalian pasti sudah menantikan untuk bertemu Raja, 'kan?" Dia tertawa kasar seraya memukul meja beberapa kali saat selesai berbicara.


Tidak juga, aku sama sekali tidak menantikannya, kau tahu? Lebih tepatnya, aku bahkan tidak terlalu peduli dengan raja muda itu. Alasan di balik kedatanganku ke sini adalah sekadar ingin memastikan dan menandai orang-orang di kerajaan ini yang mungkin berpotensi untuk menghalangiku. Selain itu, kalau memang ada kesempatan, mungkin aku juga bisa membangun negara boneka di tempat ini. Namun, aku tidak terlalu berharap juga. Bertemu dengan Raja hanyalah prioritas kedua.


"Ya, ini merupakan kehormatan besar bagi kami untuk bertatap muka langsung dengan Sang Raja." Untuk menghindari kecurigaan, aku menjawab pernyataannya dengan nada sedikit antusias.


"Um ... "


Sebelum lelaki itu membalas perkataanku, Alma sedikit bergumam. Jujur saja, instingku langsung tidak enak saat melihat wajah polosnya yang menyiratkan bahwa dia ingin berbicara. Tidakkah sebaiknya kau diam saja layaknya anak manusia yang baik?


"Apa boleh aku mencicipinya?"


Tangan kanan kecil Alma menunjuk tumpukan kue kering yang ada di atas meja. Seketika itu juga aku dan Andie langsung menelan kata-kata kami sebagai reaksi dari ucapan yang tidak kami prediksi sebelumnya. Akibatnya, ruangan menjadi hening untuk beberapa saat.


Apa-apaan dengan suasana canggung yang dibawa olehnya ini? Lagipula, bagaimana bisa kau penasaran dengan rasa dari tumpukan sampah itu?! Perut manusiamu akan hancur begitu kau memakannya!


"Ma-maafkan aku. Adikku memang agak tidak sopan." Aku berusaha mencairkan suasana begitu melihat wajah Andie yang kebingungan.


"Ya ...? Ah, tidak apa-apa! Salahku karena tidak menawarkannya kepada kalian."


Jujur saja terkadang Alma suka melakukan hal-hal aneh di luar perkiraanku. Pada beberapa kesempatan, dia bertingkah tidak seperti biasanya, tetapi tetap menghormatiku jika memang dibutuhkan. Tingkah lakunya berubah-ubah, seakan menyiratkan bahwa tubuh itu diisi dengan jiwa dari berbagai macam orang. Aku bahkan ragu apakah hanya Fiora yang tinggal di sana ataukah sebenarnya ada jiwa lain yang masuk ke dalam tubuh itu. Atau mungkin ingatan Almaria sebagai manusia memiliki efek samping lebih parah dari yang aku perkirakan terhadap perilaku Fiora sebagai iblis.


Apakah aku juga harus berhati-hati terhadap perkembangan ini? Entahlah, kurasa selama dia masih menghormatiku, tidak ada yang perlu kukhawatirkan. Selain itu, haruskah aku juga khawatir dengan diriku sendiri mengingat bahwa aku juga menempati tubuh manusia?


"Apakah Komandan Ferrero memperlakukan kalian dengan baik?" Saat Alma mulai menyantap apa yang disediakan untuknya, Andie tiba-tiba bertanya.


"Hm?" Sama seperti biasanya, selama ada aku di sampingnya, Alma akan sedikit bicara dan hanya berdeham sebagai tanda bahwa dia juga mendengarkan. Jika tidak ada perintah khusus, dia akan menyerahkan semuanya padaku.


Kudengar cara menghormati seorang bangsawan adalah dengan menyebutkan status dan nama keluarga mereka. Nama lengkap ksatria wanita yang mengantar kami adalah Marchioness Carla van Ferrero. Jadi, kupikir Komandan Ferrero yang dimaksud merupakan panggilan kehormatan yang ditujukan untuk Carla.


"Ya. Walaupun agak pendiam, terlihat sulit untuk bersosialisasi, dan selalu serius, beliau memperlakukan kami dengan baik."


Mendengar ucapanku, Andie menghela napasnya untuk sesaat.


"Syukurlah kalau begitu."


Aku merasakan kesan penuh kelegaan dari kata-katanya. Hal ini tentu saja memancing rasa ingin tahuku yang tinggi. Jadi, kupikir menanyakannya tidak akan menjadi masalah.


"Apakah ada yang salah?"


Andie merenung beberapa saat. Dia seperti mempertimbangkan apakah baik untuk memberitahukan apa yang dia pikirkan ataukah tidak. Kemudian, setelah yakin dengan keputusan yang dia pilih, lelaki itu mulai menjelaskan sesuatu yang menarik.


"Sebenarnya aku adalah mantan knight dari Keluarga Ferrero. Beliau merupakan anak tertua dari seorang baron ibukota. Ketiga saudarinya adalah perempuan dan mereka masih kecil. Pada awalnya, walaupun bukan bangsawan tinggi, keluarga ini baik-baik saja. Namun, suatu ketika ayahnya mati diserang oleh pembunuh bayaran saat perjalanan ke kota sebelah. Sejak saat itu keluarganya hancur."


Apakah baik-baik saja kau menceritakan aib keluarga seorang bangsawan? Kau seorang knight, 'kan? Bagaimana bisa seorang knight bergosip seperti ini? Terus terang aku jadi meragukan gelar bangsawannya.


"Ibunya menikah lagi dengan seorang mantan petualang yang gemar menghamburkan uang. Terus terang aku tidak tahu kenapa Nyonya memilih lelaki brengsek seperti itu. Tentu saja, saat aku tahu mengenai hal ini, aku mencabut sumpahku dan pergi meninggalkan keluarganya."


Apa-apaan itu?! Apakah mencabut sumpah diperbolehkan? Kau benar-benar knight paling busuk yang pernah kutemui!


"Nyonya tidak mampu mengurus pekerjaan yang ditangani keluarganya, tuan yang baru bahkan tidak memiliki pendidikan yang cukup untuk menanganinya. Hal yang diketahuinya hanya bertarung dan berpesta. Sampai tiga tahun kemudian kudengar kabar bahwa status kebangsawanan mereka dicabut oleh Raja. Mereka menjadi bangsawan yang hancur dan jatuh miskin."


Pada saat seperti ini apakah aku harus menangis? Jujur saja, memilih emosi yang tepat dalam berbagai macam situasi merupakan salah satu kelemahanku. Sebaiknya aku melihat reaksi Alma terlebih dahulu dan memastikan raut wajah macam apa yang cocok untuk kuperlihatkan di saat seperti ini.


Kedua bola mataku melirik ke arah seorang gadis berambut hitam yang duduk di sampingku. Kulihat mulutnya masih sibuk mengunyah kue kering tidak layak makan sementara bidang pandangnya menatap dengan serius ke arah Andie. Dia hanya mengerutkan kening, seakan menahan gejolak kesedihan yang dirasakan olehnya.


Ah ... seperti itukah raut wajah yang sebaiknya kuperlihatkan? Harus kuakui, gadis ini memang memiliki bakat untuk meniru emosi manusia. Memanggilnya ke dunia fana sebagai rekanku dalam melakukan penyamaran merupakan pilihan terbaik.


Hal yang kulihat selanjutnya adalah Alma cepat-cepat mengambil gelas teh di hadapannya dan meneguknya dengan agak terburu-buru. Kemudian, dia menghela napasnya cukup panjang sebelum menunjukan raut wajah penuh kelegaan seraya menyenderkan punggungnya di kursi kayu yang dia duduki.


Kau ... kau bahkan tidak mendengarkannya, 'kan?! Bagaimana bisa kau berani melakukannya?!


"Aku juga mendengar kabar bahwa Nyonya sampai menjadi gila karenanya. Sementara itu, si petualang brengsek yang hanya menghabiskan uang mereka pergi begitu saja sambil membawa harta yang tersisa dari keluarganya. Jujur aku sangat kesal, tetapi tidak ada yang bisa kulakukan pada saat itu."


Andie sedikit menundukan kepalanya. Kulihat tangan kanannya mengepal kuat, seakan menahan amarah yang mulai menyelimuti tubuh besarnya. Syukurlah dia tidak memperhatikan wajahku dan Alma.


"Yah, tetapi semuanya hanya kenangan sekarang. Aku tidak tahu bagaimana beliau melakukannya, tetapi Komandan Ferrero meraih gelarnya sendiri dan menduduki posisi yang sangat tinggi hanya dalam kurun waktu tujuh tahun. Terus terang aku senang sekali saat mendengarnya."


Perubahan emosinya begitu tiba-tiba. Perasaan benci dan amarah yang sebelumnya berhasil menguasai lelaki itu kini berubah menjadi tawa kasar penuh kepuasan. Dia bahkan kembali memukul-mukul meja beberapa kali di tengah tawanya yang meledak.


"Karena itulah, saat aku mendengar bahwa beliau pergi untuk bertemu seorang petualang, aku agak khawatir. Beliau bahkan meminjam pakaian petualang dariku. Kurasa Komandan Ferrero melakukannya untuk melacak keberadaan ayah tirinya yang sudah merusak keluarganya."


"Ah, jadi begitu." Aku mengangguk sebagai tanda bahwa aku mengerti garis besarnya.


Carla kelihatannya membenci apa pun yang berhubungan dengan Guild Petualang. Salah satu alasan di balik sedikitnya penjelasan yang dia sampaikan saat berada di ruangan guild juga tampaknya dipengaruhi oleh hal ini. Gadis itu bahkan memperlakukan kami dan Guild Master dengan agak dingin.


Dendam, ya? Hal ini juga yang mendorong setiap pahlawan untuk melawanku. Bahkan alasan di balik Empress Glastila memutuskan melawanku di masa lalu adalah untuk membalas dendam akibat kematian anaknya. Sungguh menarik mengetahui bahwa dendam bisa memengaruhi sifat seseorang sampai sebanyak itu.


Kurasa akan ada banyak hal yang menarik di ibukota. Syukurlah aku memilih untuk datang ke sini. Aku tidak sabar untuk melihat seperti apa kehidupan di kota ini.


-----------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Jumat 15 November 2019


Pukul 08:16 PM


Note :


"Napa apdet jam segini? Siapa coba yang mau baca?"


U-urusai!!