RE:Verse

RE:Verse
13.I Sebuah Undangan



Pertama kalinya Alma memasuki ruang guild, hal yang terjadi adalah tangisan Isabelle disertai dengan tatapan terkejut dari berbagai petualang yang ada di sana. Mereka kelihatannya cukup terguncang begitu menyadari bahwa sosok yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini adalah seseorang yang sanggup membunuh archdemon tanpa bantuan siapa pun.


Baru-baru ini pesona Alma kian meningkat setelah pihak kuil mengkonfirmasi keabsahan tentang terbunuhnya archdemon di tangan Alma. Mereka yang tahu tentang seberapa tangguhnya archdemon hanya dapat menelan ludah tidak percaya.


Kudengar setidaknya butuh lima orang petualang peringkat S untuk menghabisi monster setingkat archdemon. Jadi, wajar sekali jika Alma langsung terkenal dan menjadi topik perbincangan di kota ini. Tentu saja tatapan penasaran dan kekaguman di mata para petualang akan langsung tertuju ketika dirinya memasuki guild.


Dia menghabiskan beberapa waktu untuk mengobrol dengan Isabelle tanpa memedulikan tatapan semua orang. Mereka berdua saling bertukar kata layaknya dua orang gadis normal. Bahkan sesekali Alma terlihat menyunggingkan senyum di wajahnya ketika mereka membahas hal-hal yang mungkin membuat nostalgia.


Melihat mereka yang bertingkah seakan tidak ada orang lain di sini, aku, Hellen, dan Gabe memutuskan untuk membiarkannya dan duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Kami memesan beberapa daging panggang dan minuman yang didinginkan oleh sihir.


"Dia itu seperti domba! Kepalanya bahkan sebesar ini dan punya dua tanduk yang besar sekali!" Alma merentangkan tangannya dengan antusias sementara Isabelle mendengarkan ucapannya yang kekanak-kanakan.


Para petualang di sekitarnya yang mencuri dengar juga tampaknya cukup tertarik dengan bentuk dari archdemon yang berhasil Alma kalahkan. Pandangan mata mereka yang serius masih tertuju pada kedua gadis muda itu dalam diam.


"Aku masih tidak percaya Alma adalah orang yang sama dengan sosok yang mengalahkan archdemon."


Sambil memperhatikan mereka berdua yang masih asik mengobrol, Gabe berbicara dengan sedikit berbisik.


"Bahkan aku sendiri sebagai kakaknya pun merasa aneh."


Yah ... aku juga sedikit heran. Bukan karena hal yang sama dengan apa yang Gabe katakan, melainkan karena sifat Alma yang terlihat begitu antusias. Dia seakan ingin memamerkan semua pencapaiannya dengan harapan bahwa Isabelle akan memujinya. Alma mungkin sangat haus akan perhatian gadis berambut cokelat itu.


Apakah ini baik-baik saja? Aku bertanya-tanya dalam hati.


Semakin lama dia tinggal di tubuh manusia itu, aku merasa Alma semakin jauh dari sosok sejatinya. Dia juga jadi banyak bicara dan bertingkah layaknya manusia pada umumnya. Aku bahkan mulai meragukan sosok asli di balik tubuh itu. Semoga saja perubahan ini akan mendatangkan keuntungan padaku.


Percakapan di antara Isabelle dan Alma yang seakan berlangsung selamanya tiba-tiba terpotong tepat ketika Guild Master mendatangi meja resepsionis. Awalnya aku tidak terlalu memedulikannya. Namun, saat kulihat wajah kesal Alma, aku segera pergi ke arah mereka sebelum sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi.


Instingku sebagai iblis tingkat tinggi dapat merasakan nafsu membunuh yang Alma arahkan pada lelaki di hadapannya. Dia bahkan sudah berada dalam keadaan siap melepaskan pukulan yang dapat membunuh orang biasa dengan mudah.


Ada apa dengan bocah iblis ini?!


"Selamat pagi, Guild Master. Apa yang menyebabkan Anda repot-repot datang ke lantai bawah sepagi ini?" Aku berbicara pada Guild Master dengan ramah disertai cubitan kecil yang kuarahkan ke pinggang Alma.


Kulihat wajah Alma sedikit menekuk seperti menahan perih. Namun, dia tidak melakukan apa pun untuk menghentikan cubitanku. Apa yang dilakukannya hanyalah meringis untuk beberapa saat dengan alis yang mengerut.


Pada dasarnya ras iblis memang sudah terbiasa dengan rasa sakit. Hidup di tempat ekstrim seperti Tartarus membuat kami tumbuh dengan banyak sekali pertarungan dan luka-luka fatal. Jadi, cubitan seperti ini tentunya bukan masalah besar bagi iblis tingkat tinggi seperti Alma.


Aku menggunakan telepati untuk membuatnya diam. Setelah kusadari bahwa Alma kembali pada dirinya yang normal, aku melepaskan cubitanku.


"Aku dengar tentang kedatangan pahlawan Trowell yang berhasil membunuh archdemon ke guild. Tentu saja akan menjadi tidak sopan jika aku tak menyambutnya." Master Guild membalas kata-kataku dengan nada yang penuh kebahagiaan.


"Anda terlalu memuji. Alma tidak sehebat itu. Dibandingkan dengan Anda, dia tentu saja hanya pemula yang belum berpengalaman." Aku juga berbicara dengan nada ramah.


Kudengar Master Guild adalah mantan petualang peringkat B. Dia sudah menghabiskan 30 tahun hidupnya dengan profesi berbahaya ini. Jadi, kupikir kemampuannya dalam pertarungan pasti terasah dengan baik.


Master Guild memang cukup antusias dengan keberadaan Alma. Pertemuan kami sebelumnya juga banyak diisi dengan pembahasan mengenai gadis itu. Jadi, tidak heran jika dia langsung keluar dari kantornya dan datang ke sini hanya untuk bertemu dengannya.


"Kau tidak perlu merendahkan adikmu sebanyak itu. Membunuh archdemon adalah pencapaian yang bahkan peringkat S pun tidak bisa lakukan."


"Erebrus itu bodoh. Aku yakin banyak orang yang bisa membunuhnya." Kali ini Alma yang berbicara.


Mendengar ucapan polos yang keluar dari mulut Alma, Master Guild tiba-tiba tertawa cukup keras. Dia bahkan sukses menarik kembali perhatian semua petualang yang beberapa saat lalu sudah mulai mereda.


Memang benar setelah tersadar dari koma, Alma mengungkapkan kekesalannya pada archdemon yang belakangan kuketahui bernama Erebrus. Gadis ini sudah berusaha untuk menjelaskan tentang identitas sebenarnya di balik tubuh manusianya. Namun, lucunya Erebrus tidak memercayai sedikit pun kata-katanya. Archdemon itu malah menganggap Alma sebagai anak manusia yang sedang berusaha untuk menipunya.


Sebenarnya pertarungan bodoh macam apa yang mereka lakukan seminggu yang lalu? Aku tidak dapat membayangkan pembicaraan apa saja yang mereka lakukan di tengah pertarungan. Kurasa ada banyak hal lucu yang keluar dari mulut mereka berdua. Sialan, aku benar-benar menyesal sudah melewatkan semua kejadian konyol itu.


Setelah perbincangan singkat di depan meja resepsionis, Master Guild mengundangku, Alma, Hellen, dan Gabe untuk datang ke ruangan khusus tamu di lantai dua bangunan guild. Dia mengatakan sesuatu tentang undangan dan mengungkapkan bahwa ada seseorang dari ibukota yang diutus untuk bertemu dengan kami.


Aneh sekali, bagaimana bisa momen dia datang kemari sangat pas dengan kedatangan aku dan Alma? Bahkan dia datang tepat setelah Alma sembuh dari luka-lukanya. Benar-benar kebetulan yang luar biasa sampai-sampai aku sendiri berpikir bahwa kami memang ditakdirkan untuk bertemu dengan orang asing itu.


Mengetahui bahwa orang itu datang dari ibukota membuatku langsung tahu siapa orang yang mengutusnya. Jika bukan raja dari Kerajaan Cygnus sendiri yang mengirimnya, maka kemungkinan besar dia diutus oleh keluarga bangsawan tinggi lain. Tentu saja ada kesempatan bahwa orang itu diutus oleh pedagang kaya yang berpengaruh. Namun, kemungkinannya sangat kecil.


Yah ... kita berdoa saja supaya kedatangannya kemari tidak membawakan kejadian buruk bagiku. Jujur saja aku sudah lelah dengan berbagai macam masalah yang datang padaku secara bertubi-tubi. Kepalaku mulai sakit dan tingkat stress yang aku alami juga kian memburuk. Lama-lama aku bisa gila kalau terus seperti ini.


"Mari ikuti aku."


Guild Master memimpin jalan menuju lantai dua. Melihatnya mempersilakan kami untuk mengikuti, aku dan yang lainnya mulai berjalan di belakangnya. Kami melangkah menaiki tangga kayu yang sedikit berdecit ketika diinjak, mengantarkan kami berempat menuju ruang tamu yang ada di lantai dua.


------


Note : kependekan? Urusai! Otakku lagi macet >,<"