
Tidak kusangka sebelumnya bahwa mencari belati-belati itu ternyata cukup mudah. Kemungkinan karena belatinya sedang dalam ukuran yang kecil dan agak berat, keduanya hanya bergeser sedikit dari lokasi sebelum saat aku meratakan tempat ini. Jadi, aku tidak begitu kesulitan saat mencari keduanya di antara reruntuhan.
Setelah mendapatkan keduanya, aku memutuskan untuk memasukannya ke dalam magic storage milikku dan lekas kembali ke Desa Werewolf. Hal ini aku lakukan semata-mata untuk menyembunyikan fakta bahwa aku tidak terpengaruh saat menggenggam belati-belati itu. Ah, untuk Hecate, aku juga akan menukar dan menyembunyikannya di dalam magic storage setelah aku berada di bibir hutan. Para werewolf itu cuma sekumpulan idiot sehingga diriku tidak perlu khawatir memperlihatkan Hecate pada mereka.
Sekarang tinggal memusatkan sedikit mana yang kumiliki pada kedua kaki untuk menaikan kelincahan. Tanpa perlu banyak waktu dan usaha, aku segera melesat menuju Desa Werewolf dengan kecepatan tinggi.
Aku pikir waktu tidak berjalan cukup lama sejak pergi dari kota menuju kemari. Namun, tampaknya sekarang sudah hampir tengah hari. Tampaknya terlalu banyak waktu yang kubuang di sini.
Alun-alun Desa Werewolf masih hancur seperti sebelumnya. Bahkan aku masih bisa mencium kelezatan dari bau darah yang menyengat hidungku. Kelihatannya mereka tidak punya waktu untuk membereskan sisa-sisanya dalam waktu dekat. Ironis menyadari bahwa mereka sempat berpesta semalaman dan tidak ada waktu untuk sekadar membereskan kekacauan ini. Gelar idiot memang cocok aku berikan pada sekumpulan sampah ini.
Alpha menyediakan beberapa potong daging panggang di hadapanku setelah mengetahui bahwa aku sudah kembali. Dia juga memberikan air minum yang dia klaim telah direbus terlebih dahulu. Yah, aku memang tidak peduli dengan makanan dan minumanku, tetapi tubuh manusiaku yang lemah tampaknya harus diberi perhatian lebih soal memilih makanan.
"Ba-bagaimana?"
Serigala raksasa itu berbicara padaku tepat setelah aku selesai memakan semua yang dia persiapkan. Kelihatannya dia mulai gugup lagi. Selain itu, pancaran rasa takutnya sedikit tercium olehku. Apakah ada yang salah?
"Tidak terlalu buruk. Masih lebih baik daripada daging mentah seekor werewolf."
Saat aku mengatakan itu, Alpha memasang wajah yang sulit aku tebak. Namun, pancaran rasa takut yang semakin pekat sudah cukup bagiku untuk mengetahui ketakutannya.
Apa yang aku katakan sebenarnya adalah sebuah fakta. Di masa lalu aku pernah memakan daging werewolf hidup-hidup. Rasanya tidak begitu enak, tetapi masih lebih baik daripada daging monster di Tartarus.
Daging werewolf itu terlalu keras dan alot. Mungkin ini dipengaruhi oleh kepadatan dan kualitas dari otot-otot mereka yang memang sering melakukan aktivitas berat semasa hidupnya. Jadi, wajar kalau rasanya tidak kenyal dan empuk seperti daging manusia serakah yang selama hidupnya hanya duduk dan menghitung uang.
"Hey, aku hanya bercanda. Mana ada manusia memakan daging mentah, 'kan?"
Dia mungkin merasa takut karena kata-kataku. Jadi, aku berusaha untuk menenangkannya dan mengklaim bahwa ucapanku sebelumnya hanyalah sebuah candaan.
Biasanya aku tidak akan terlalu peka dengan sesuatu seperti ini. Namun, akhir-akhir ini tampaknya kemampuanku dalam bersosialisasi dengan ras lain mulai meningkat. Tampaknya hidup bersama sekumpulan manusia membuatku sedikit berkembang.
Entahlah ... apakah hal ini bagus untukku atau malah buruk.
"Ah ... sebenarnya aku punya sesuatu untuk didiskusikan denganmu."
Mendengar kalimatnya yang ragu-ragu, aku memiringkan kepala merasa tertarik. Kelihatannya ada hal penting yang ingin dia sampaikan padaku.
"Kami menangkap anak manusia."
"Ha?"
Responku kali ini jelas sekali menunjukan rasa heran. Namun, tampaknya Alpha gagal memahaminya karena kalimat yang dia ucapkan selanjutnya menunjukan kesan seperti itu.
"A-aku tidak menangkapnya! Anak buahku juga tidak melakukannya! Dia yang datang sendiri mendekati desa kami! Aku bersumpah atas nama adikmu!"
Bukan, bukan hal itu yang membuatku heran. Hal yang tidak aku mengerti hanyalah alasan dibalik kenapa dia membicarakan manusia yang bahkan tidak pernah kutemui sebelumnya padaku. Maksudku, tidak ada hubungannya denganku walaupun kalian bermaksud untuk menyiksanya sampai mati dan memakan dagingnya mentah-mentah.
Bukankah aneh mendengarnya membicarakan hal sepele seperti ini padaku? Atau jangan-jangan dia berpikir bahwa aku mungkin mengenalinya?
"Tidak, tidak. Bukan begitu maks--"
Ah ... aku mengerti sekarang. Tepat ketika pikiranku berpusat pada satu kesimpulan yang paling kuat, aku menghentikan kalimatku sebelumnya dan memulainya kembali dengan sebuah pertanyaan.
"Apa kau mengubahnya menjadi bahan makanan dan menyajikannya kepadaku beberapa waktu lalu?"
Ho ... apakah dia sedang melakukan eksperimen terhadap manusia? Membiarkan seorang manusia memakan daging manusia lainnya lalu memberi tahunya tepat setelah manusia itu melahap semuanya untuk melihat reaksi macam apa yang akan terjadi. Boleh juga. Sepertinya kau tidak sebodoh yang aku perkirakan.
"Apa?! Ti-tidak mungkin! Mana berani aku melakukannya terhadapmu setelah semua yang terjadi kemarin!"
Kata-kata yang keluar dari mulut Alpha membuatku menarik kembali pujianku beberapa saat yang lalu. Kalau dipikir lagi, mana mungkin si idiot ini memikirkan hal agak rumit seperti itu, 'kan?
"Kalau bukan itu, lalu apa alasanmu memberi tahuku?" Aku bertanya dengan nada keheranan kepada Alpha.
"Sebenarnya ... "
Intinya dia mendengar tentang apa yang Alma katakan pada salah satu werewolf ketika mereka bertemu dengan si pendeta di kuil Desa Orc. Alma mengatakan sesuatu yang menarik seperti manusia akan saling melindungi satu sama lain terlepas dari apakah mereka saling mengenal atau tidak. Ya, aku tidak tahu persis kalimat apa yang Alma ucapkan pada waktu itu. Namun, kurasa pengertian dari kalimatnya tidak akan jauh dari kata-kata yang kusebutkan sebelumnya.
"Jadi, alih-alih memakannya. Aku kehilangan keberanianku setelah mendengar itu dari Delta." Alpha sampai tidak berani melukai manusia asing hanya karena kata-kata Alma.
"Menarik sekali."
Sudah kuduga, tindakan dan pemikiran Alma semakin menyimpang dari iblis lainnya. Meskipun dia masih berperilaku layaknya iblis pada umumnya, tetapi terkadang Alma kehilangan sifat iblisnya dan melakukan sesuatu yang agak menyimpang.
Biasanya para iblis tidak akan peduli dengan iblis lain selain dirinya sendiri. Bahkan tidak ada yang namanya hubungan kekeluargaan antara anak dengan orangtua. Kami menganggap beberapa iblis sebagai rekan karena memiliki tujuan yang sama. Jika tujuan kami saling berseberangan, maka kami akan menganggapnya sebagai musuh. Seperti itulah hubungan yang terjalin di antara para iblis.
Hanya dengan memikirkanya sekilas, wajar jika kami dapat saling menusuk dari belakang satu sama lain. Oleh karena itu, kepercayaan di antara para iblis tidak pernah terikat dengan erat. Terkadang kami akan saling mengkhianati demi keuntungan masing-masing. Tentu saja, aku sendiri tidak termasuk ke dalam pengecualian. Namun, Alma kelihatannya berbeda dengan iblis lainnya. Apakah dia pengecualian yang selama ini aku cari?
"Oleh karena itu, kami hanya menangkapnya dan mengurungnya di suatu tempat. Apa kau tertarik untuk melihatnya?" Ucapan Alpha memecahkan lamunanku.
Sebenarnya tidak ada kewajiban bagiku untuk menemuinya. Namun, aku juga agak penasaran dengan anak manusia yang masuk jauh ke dalam hutan sendirian. Padahal tempat ini terkenal berbahaya dan jarang sekali ada manusia yang masuk sampai sini kecuali para petualang peringkat tinggi.
Jujur saja aku penasaran dengan alasan yang mendorong manusia itu melakukan hal nekat seperti ini. Sepertinya tidak akan ada masalah jika aku pergi untuk menyelidikinya. Lagipula waktuku cukup senggang akhir-akhir ini.
"Baiklah, aku akan pergi untuk menemuinya."
Aku meregangkan tubuhku beberapa saat sebelum mengikuti Alpha yang sedang memimpin jalan. Tujuan kami sekarang adalah salah satu bangunan yang sebenarnya lebih cocok jika kusebut sebagai kandang. Letaknya tidak jauh dari bangunan tempat aku berbicara dengan Alpha beberapa waktu lalu. Jadi, kami sampai di sana tanpa membuang banyak waktu.
Kesan pertama yang kudapatkan saat melihatnya adalah anak manusia menyedihkan yang sedang jatuh ke dalam ketakutan. Dia menatap Alpha dengan tubuh yang gemetar dan raut wajah penuh keputusasaan. Anak manusia ini bahkan mengabaikan keberadaanku yang tengah berdiri di samping Alpha.
Benar-benar manusia lemah yang menyedihkan.
Aku berjalan mendekatinya yang terikat kuat pada sebuah tiang kayu, kemudian berjongkok hingga wajah kami berhadapan begitu dekat. Hal ini kulakukan untuk menghalangi pandangannya terhadap Alpha dan mengalihkannya padaku.
Tepat pada saat kedua bola mata cokelatnya memandang ke arahku, aku sedikit memiringkan kepala dan tersenyum ramah padanya.
"Tenang saja. Mereka adalah werewolf yang baik dan berteman dengan manusia. Jadi, kau tidak perlu ketakutan begitu." Aku mencoba menenangkannya.
Awalnya dia hanya memberikan tatapan kosong tanpa memberi reaksi apa pun terhadap kata-kataku. Namun, perlahan pancaran rasa takutnya mulai berkurang. Kurasa dia akan bisa tenang sebentar lagi. Menyadari bahwa sosok yang berbicara padanya adalah sesama manusia sepertinya telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap mental anak ini.
Benar-benar hal yang menarik.
"Be-benarkah begitu?" Ah, menilai dari suaranya, dia seorang anak laki-laki.
Sejak awal aku memang menyangka bahwa dia adalah anak laki-laki. Pakaian dan potongan wajahnya menunjukan hal itu dengan jelas. Namun, bocah ini memiliki rambut hitam kusut yang cukup panjang. Aku jadi ragu untuk menilainya hanya dari penampilan yang kulihat. Lagipula tidak penting apakah dia laki-laki atau perempuan.
Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa aku bisa membedakan gender manusia dengan mudah? Apakah karena aku sudah mulai terbiasa tinggal bersama mereka? Lebih baik kuabaikan dulu masalah ini untuk nanti.
"Tentu saja." Aku menolehkan kepala untuk melirik Alpha yang masih berdiri di dekat pintu masuk. "Benar, 'kan?"
Ketika aku menyunggingkan senyum ke arah Alpha, dia kelihatannya menangkap maksud di balik pertanyaanku. Jadi, Alpha membalas perkataanku dengan nada sehalus mungkin.
"Benar sekali. Kami menangkapmu karena kau memasuki wilayah kami tanpa izin. Sama sekali tidak ada maksud buruk. Oleh karena itu, aku memanggil anak manusia ini untuk menenangkanmu."
Oh ... otak bodohnya bekerja dengan baik. Dia bisa merangkai kata-kata yang bagus hanya dalam waktu singkat. Kali ini aku sedikit terkesan pada tindakanmu, Sang Pemimpin dari Sekumpulan Idiot.
"Nah ... bisa kau bawakan segelas air untuknya? Kurasa dia kelelahan." Aku memberi perintah pada Alpha.
Memberikan air untuk makhluk yang menyedihkan adalah dasar dari pengakraban. Aku sudah mempelajari hal ini selama waktu senggangku di masa lalu. Jadi, seharusnya dia akan merasa jauh lebih baik setelah menerima kebaikan kami. Setelah itu, menggali informasi mengenai dirinya tidak akan menjadi masalah yang sulit.
-----
Selasa, 10 September 2019
Pukul 12:51 PM
Note : -