
Alma pergi menuju guild tepat setelah sarapan pagi. Dia bermaksud untuk menanyakan apakah tanda pengenalnya sudah selesai dikerjakan atau belum. Gadis itu membutuhkannya untuk melewati gerbang pemeriksaan tempat dimana klien yang mempekerjakannya tinggal.
Sama seperti sebelumnya, orang-orang di dalam guild menatap ke arahnya dengan pandangan tajam. Namun, kali ini tidak ada orang yang menghalanginya untuk bertemu dengan salah satu resepsionis. Bahkan, antrean di depannya langsung menyingkir begitu menyadri Alma. Mereka mempersilakan gadis itu untuk langsung mendapat giliran.
"Jadi, apakah tanda pengenalku sudah selesai?"
Mendengar pertanyaan Alma yang datar, resepsionis di hadapannya sedikit menunjukan wajah khawatir.
"Maafkan kami. Tanda pengenal Anda masih belum selesai hari ini." Wanita itu menunduk hormat seraya mengucapkan kalimat maaf.
"Begitukah?" Alma sedikit memiringkan kepalanya, agak tidak nyaman dengan suasana yang tiba-tiba hening. Namun, dia tidak terlalu peduli dan memilih untuk melanjutkan kata-katanya. "Lalu, karena aku akan memasuki Akademi Carcas di dalam wilayah bangsawan, apakah ada tanda khusus yang dapat membantuku untuk ke dalam?"
"Ah ... tentang quest khusus yang kemarin?" Resepsionis bertanya sekadar untuk mengkonfirmasinya, lalu dijawab dengan anggukan ringan Alma.
Sebuah gulungan perkamen diletakan di atas meja di antara mereka. Kemudian, resepsionis itu mulai berkata untuk menjelaskan apa isi di dalam perkamen tersebut.
"Ini adalah izin resmi yang dikeluarkan oleh Guild Master. Anda bisa menggunakannya untuk masuk ke dalam wilayah bangsawan dan gerbang akademi."
Setelah selesai dengan urusanya di dalam guild, Alma langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dia berjalan menuju salah satu tempat perhentian kereta penumpang dan memesan tiket menuju wilayah bangsawan.
Sebenarnya wilayah bangsawan tidaklah terlalu terlarang untuk dimasuki. Selama kau meniliki urusan di sana dan namamu teridentifikasi dengan baik, penjaga gerbang tidak akan terlalu banyak menahan. Jadi, saat Alma memasuki wilayah itu dengan menaiki kereta penumpang, dia bahkan tidak mengeluarkan perkamen yang diberikan padanya. Sebagai gantinya, penjaga yang berafiliasi dengan Guild Petualang memeriksa identitas Alma dan memberikan izin masuk setelahnya.
Tujuannya masuk ke wilayah bangsawan tidak lain adalah untuk menemui Viscount Evans. Mereka memiliki janji temu di Akademi Carcas, tempat dimana putri bungsu dari Kerajaan Ignis menetap untuk sementara waktu.
Akademi Carcas merupakan sekolah terbesar yang berada dalam naungan pemerintahan Kerajaan Cygnus. Bukan hanya bangsawan dan keturunan dari keluarga kerajaan, bangsawan asing dan orang-orang terkemuka juga diklaim sebagai lulusan dari sekolah ini. Oleh karena itu, akademi yang sudah berdiri sejak dua ratus tahun terakhir ini menjadi salah satu sekolah paling diminati sampai sekarang.
Putri Estelle --putri bungsu dari Kerajaan Ignis-- datang ke akademi menggantikan kakaknya, Pangeran Pertama, yang tidak dapat hadir karena konflik di dalam wilayah. Beliau dan beberapa keturunan bangsawan lain mewakili kerajaannya untuk melakukan pertandingan persahabatan dalam rangka memperingati sepuluh tahun berakhirnya perang besar antara dua kerajaan. Jadi, tidak aneh jika tempat yang dipilih untuk menyambut mereka adalah akademi yang juga memiliki arena pertarungan pribadi dimana para siswa dibebaskan untuk melatih kemampuan bertarung mereka.
Berkat gulungan perkamen yang telah disiapkan, Alma dapat memasuki akademi tanpa ada masalah. Dia juga langsung bertemu dengan Evans yang memang sudah menunggunya di balik gerbang.
"Tampaknya kau agak terlambat, ya?" Evans memandang dengan wajah kaku dan dahi sedikit mengerut.
Sebenarnya karena tidur lebih awal dan diganggu oleh tuannya, Alma menjadi tidak nyenyak setelahnya. Dia beberapa kali terbangun dan mendapati langit yang masih gelap. Akan tetapi, saat dirinya tertidur pulas dan kembali bangun untuk kesekian kalinya, mentari sudah mulai meninggi. Jadi, keterlambatannya memang tidak dapat dihindari.
"Aku pergi ke guild terlebih dahulu dan antreannya cukup panjang." Gadis itu menghindari pandangan Evans.
Mendapati jawaban itu, Evans tidak bisa mempermasalahkannya lebih jauh lagi. Jadi, dia memilih untuk membiarkannya begitu saja dan lekas menuntun Alma menuju salah satu bangunan yang diperuntukan untuk tempat tinggal sementara Sang Putri.
Ketika melewati lorong pada salah satu bangunan utama, Alma dikagetkan oleh suara ledakan yang cukup memekakan telinga. Dia segera memandang ke arah sumber suara, mendapati salah satu pintu yang tertutup rapat mulai mengeluarkan asap putih dari lubang ventilasi. Anehnya, orang-orang di sekitar seperti tidak menyadari suara keras tersebut. Mereka tetap berjalan seperti biasanya, tampak mengabaikan keributan itu.
Evans kelihatannya menyadari kebingungan Alma. Jadi, dia mulai berbicara kepadanya.
"Jangan khawatir." Lelaki itu berbicara tanpa menurunkan kecepatan langkahnya. "Setidaknya akan ada dua ledakan seperti itu setiap harinya."
"Dua ledakan? Apakah ini adalah hal yang normal di sini?" Alma bertanya agak penasaran.
"Apa kau percaya dengan itu?"
"Tentu saja tidak. Apalagi mereka bilang bahwa alkemis maniak ledakan itu hanyalah seorang gadis kecil. Bagaimana bisa aku memercayainya?" Evans menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. "Namun, setelah tinggal beberapa hari di sini, kami menjadi terbiasa dengan ledakan-ledakan itu."
Seorang Alkemis merujuk pada orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk membuat ramuan. Jika berbicara tentang kelas pekerjaan, alkemis merupakan kelas lanjutan dari creator.
Layaknya kelas lanjutan dari Creator lainnya seperti blacksmith, enchanter, dan viking, alkemis sebenarnya tidak didominasi oleh manusia. Bukan berarti tidak ada alkemis di kerajaan manusia, hanya saja sangat sedikit orang yang mampu menyandang gelar alkemis. Hal ini dipengaruhi oleh batas usia manusia yang terlalu pendek dan lambatnya mempelajari pengetahuan tentang alkimia. Jadi, kebanyakan alkemis sebenarnya adalah orang tua yang hampir tutup usia. Akibatnya harga ramuan --baik yang dijual oleh guild, toko pedagang, maupun kuil-- akan sangat menguras kantong.
Mengingat semua informasi tersebut, pada akhirnya Alma hanya diam setelah mendengar rumor aneh yang dikatakan oleh Evans. Tidak mungkin seseorang yang masih muda sudah menjadi alkemis. Menurutnya kata-kata Evans terdengar sangat konyol.
Saat mereka berdua sampai di tempat tujuan, Evans memerintahkan Alma untuk menunggu di depan pintu masuk sebuah ruangan. Dia mengatakan bahwa pemberitahuan terlebih dahulu perlu dilakukan dan Alma tidak diperbolehkan masuk sebelum pihak lain mengizinkannya. Alma tidak terlalu terkejut dengan perlakuan ini, melalui pengetahuannya sebagai keturunan seorang marquis, apa yang sedang Evans lakukan merupakan etika dasar seorang bangsawan. Jadi, dia langsung menerimanya tanpa mengajukan keberatan.
Tidak lama kemudian, Viscount Evans kembali keluar dan mempersilakan Alma untuk masuk. Dia juga mengajari Alma tentang etika dasar terlebih dahulu sebelum menghadap majikannya. Tentu saja gadis itu tidak benar-benar mendengarkan Evans karena pada dasarnya dia sudah tahu mengenai hal-hal merepotkan yang menyangkut bangsawan.
Di dalam ruangan mewah yang dia masuki, bidang pandang Alma langsung tertuju pada meja kayu bundar yang penuh dengan keranjang kue, teko perak mahal, dan cangkir-cangkir yang terisi oleh teh hangat. Pada empat kursi yang diatur mengelilingi meja, tiga orang lelaki muda dan seorang gadis duduk di atasnya. Masing-masing mengenakan pakaian mewah yang tidak mungkin dijangkau oleh rakyat biasa.
Alma tetap melangkah tanpa menurunkan kecepatannya. Bola mata cokelatnya memandang ke arah gadis yang mungkin lebih muda darinya seraya membalas tatapan tajam gadis itu. Di dalam sudut pikirannya, dia ingat bahwa dirinya pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya. Namun, ingatan ini sangat kabur karena sudah terlalu lama terkubur.
Bola mata gadis itu berwarna biru terang dengan rambut lurus pirangnya yang dihiasi ornamen bunga rumit. Dia mengenakan gaun putih mewah sementara kedua telinga dan lehernya dihiasi aksesoris yang terbuat dari batu permata. Wajahnya terbilang manis, tetapi memiliki pandangan tajam seakan mengintimidasi dan penuh kesombongan. Benar-benar raut wajah khas seorang bangsawan tinggi pada umumnya.
Alma langsung tahu bahwa gadis itu pastilah putri bungsu dari Kerajaan Ignis sekaligus majikan Viscount Evans.
Saat dirinya berada dua langkah di tepi meja, Alma menghadap gadis berambut pirang itu dan membungkuk seraya menarik sedikit ujung rok hitamnya dengan kaki kanan sedikit di depan, secara tidak sadar menggunakan pengetahuannya untuk menyapa sesuai dengan etika dasar seorang bangsawan. Dia berbicara selembut mungkin seraya menahan sapaan hormatnya untuk beberapa saat.
"Petualang peringkat A, Almaria, menghadap Yang Mulia Putri Estelle."
Panggilan hormat Yang Mulia Putri atau Yang Mulia Pangeran hanya digunakan untuk menyebut bangsawan tinggi dengan status putri atau pangeran kerajaan sedangkan untuk keturunan seorang duke dan di bawahnya, mereka biasanya hanya menyebutnya putri atau pangeran. Sementara itu, para pelayan biasanya akan memanggil majikannya dengan sebutan nona atau tuan muda. Tentu saja, Isabelle adalah pengecualian. Alma secara pribadi memerintahkan agar Isabelle memanggilnya dengan sebutan putri. Dia tidak mau pelayan itu menganggapnya sebagai majikan.
Di tengah keheningan yang terbentuk setelahnya, Putri Estelle mulai bangkit dari kursinya. Dia melangkah mendekati Alma yang masih membungkuk dalam diam, menunggu pihak lain untuk membalas sapaannya. Namun, alih-alih menjawab sapaan, sensasi panas dan perih terasa menyengat di pipi kirinya.
Suara keras yang ditimbulkan dari telapak tangan Putri Estelle yang mengenai pipi kiri Alma membuat semua orang menahan napasnya untuk beberapa saat. Tidak ada satu pun di antara mereka yang menyangka kejadian seperti ini.
Dia menamparku? Tapi kenapa? Di tengah sensasi tak menyenangkan yang masih belum mereda, Alma terdiam kebingungan.
------------------------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 04 Januari 2020
Pukul 12:00 PM
Notr : fokusku bulan ini adalah untuk mencari kerja di RL. Jadi, mungkin akan sedikit berpengaruh juga pada update projek ini. Namun, ku berusaha agar tetap update heu ...