
Menurut pengetahuanku sebelum Sang Pahlawan mengirimku kembali ke masa lalu, Kekaisaran Dwarf --setidaknya sebelum musnah-- selalu terlibat perang yang memanas melawan Kerajaan Elf. Hal ini dipicu karena langkah salah yang diambil oleh salah satu bangsawan elf di masa lalu.
Benua dwarf --dalam hal ini disebut sebagai Nidavellir-- lokasinya berdekatan dengan Alfheim, benua dimana dua belas kerajaan elf berdiri. Di masa lalu, Alfheim sangatlah makmur tanpa ada konflik besar yang pernah terjadi. Bahkan kabarnya ada beberapa jenis werebeast yang diberikan wilayah dan hak-hak layaknya warga negara di berbagai tempat yang dikuasai oleh elf. Kurasa wajar jika Alfheim menjadi wilayah paling luar biasa dan memiliki kekuatan militer tertinggi daripada benua manusia maupun benua para dwarf.
Berbeda dengan manusia yang berperang dengan peraturan perang yang jelas sehingga sangat jarang sekali salah satu pihak yang kalah akan dilibas habis, para dwarf berperang tanpa otak. Mereka mirip dengan kami para iblis, menyerang tanpa ampun seakan tidak ada hari esok.
Mirisnya, benua dwarf adalah zona perang saudara abadi yang tak berkesudahan. Karena kegemaran mereka dalam berperang, sembilan kerajaan dwarf selalu menyerang satu sama lain.
Suatu ketika, salah satu dari kerajaan dwarf sangat terpojok dan hampir runtuh. Tentu saja berita tersebut membuat beberapa kerajaan yang berbatasan dengan kerajaan yang hampir runtuh itu menjadi sangat agresif dalam melakukan invasi. Hal ini semakin memperburuk keadaan internal kerajaan itu.
Ketika semakin terpojok dengan serangan dari berbagai arah, Raja Dwarf dengan putus asa meminta bantuan pada Kerajaan Ljosalfar, sebuah kerajaan elf terkuat yang berada di Alfheim. Mereka memang mau membantu, tetapi dengan beberapa syarat. Dua syarat yang paling memberatkan adalah menjadikan kerajaan dwarf itu sebagai negara bawahan dan Sang Raja harus menyerahkan putrinya kepada Raja Elf. Karena tidak ada pilihan lain, Raja Dwarf dengan terpaksa menyetujuinya.
Kerajaan bawahan itu berhasil bangkit hanya dalam kurun waktu sekitar lima tahun. Berkat bantuan dari Ljosalfar, mereka bahkan memperluas wilayah kerajaannya dan hampir menelan delapan kerajaan yang tersisa. Manfaat yang didapatkan elf dari hubungan ini cukup luar biasa. Berbagai alat yang hanya dapat dibuat oleh dwarf semakin memperkuat Kerajaan Ljosalfar sehingga terjadi perbedaan tingkat kekuatan militer yang signifikan dan berakhir dengan memicu perang di Alfheim.
"Tujuannya jelas untuk menyatukan seluruh Alfheim di bawah kekuasaan mereka. Setelah Nidavellir dan Alfheim jatuh di tangan Ljosalfar, mereka pastinya akan menyerbu Midgard sebagai langkah untuk menguasai dunia."
Cellica mengungkapkan isi kepalanya saat aku mendiskusikan pengetahuan yang kumiliki sekadar untuk mencocokannya dengan sejarah dunia ini. Kenyataan bahwa Kerajaan Ignis dan Cygnus yang harusnya sudah musnah masih berdiri kokoh hingga sekarang membuatku ingin tahu apakah sejarah para dwarf juga ikut berubah ataukah tidak.
Sejauh ini masih sama dengan apa yang kuingat sebelumnya.
"Midgard?" Alma bertanya dengan wajah datarnya.
Sungguh? Apakah dia benar-benar tidak mengetahui sesuatu mengenai istilah-istilah umum yang sering dipakai oleh para dwarf?
"Benua manusia. Kami menyebutnya seperti itu." Cellica menjelaskan.
Ini adalah hari kedua setelah kami berangkat dari ibukota menuju Arbellion. Cellica menyewa sebuah kereta pribadi yang nyaman dan jauh lebih cepat daripada kereta biasa. Bentuknya mengingatkanku pada kereta yang biasa dipakai oleh para bangsawan. Aku penasaran berapa banyak koin emas yang dia keluarkan untuk menyewa kereta seperti ini.
Nidavellir berada di seberang barat benua. Sebelum sampai ke pelabuhan, kami harus melewati dua kerajaan kecil terlebih dahulu. Jika diperkirakan secara kasar, mungkin butuh sekitar satu bulan lebih untuk sampai ke pelabuhan. Namun, karena ini kereta mahal, mungkin waktu kami bisa sedikit dipangkas.
"Apa yang menyebabkan Kerajaan Ljosalfar gagal?" Alma kembali bertanya.
Setelah mendengar pertanyaan itu, Cellica mulai menjelaskan secara rinci apa yang dia ketahui. Aku sebenarnya sudah tahu, tetapi tetap mendengarkannya untuk mencocokannya dengan apa yang kuingat. Sejauh ini tidak ada perbedaan yang nyata.
Penyebab gagalnya Kerajaan Ljosalfar dalam menguasai dunia disebabkan oleh satu orang, yaitu Glastila. Tidak heran jika namanya menyebar bahkan sampai ke kerajaan manusia serta dianggap sebagai pahlawan demihuman pertama dan satu-satunya.
Dia adalah anak yang lahir dari Putri yang dijual Raja Dwarf ke Kerajaan Ljosalfar. Ayahnya merupakan Raja Ljosalfar itu sendiri. Namun, statusnya yang tinggi bahkan tidak mencegah orang-orang mencemoohnya.
Perkawinan silang lintas ras merupakan hal yang tabu di dunia ini. Anak yang terlahir disebut sebagai demi dan dipandang sebagai sampah yang bahkan lebih rendah daripada seorang budak. Kupikir wajar jika Glastila mendapat perlakuan buruk selama masa kecilnya.
Dia tumbuh menjadi gadis yang dipenuhi kebencian dan pemarah. Daripada diam dan menerima semua perundungan yang diarahkan kepadanya, Glastila malah akan melawan para perundungnya.
Suatu saat salah satu putri dari bangsawan elf tertentu yang merundungnya mendapat pukulan darinya sampai kepalanya hancur dan mati di tempat. Cellica mengatakan bahwa kejadian tersebut terjadi saat usia Glastila baru menginjak sepuluh tahun.
Ini pertama kalinya aku mendengar kisah tersebut. Sejak kecil dia memang gemar membunuh, ya? Sekarang aku tahu kenapa bahkan acient demon kesulitan menghadapinya. Saat masih kecil saja kekuatan pukulannya sudah sanggup menghancurkan kepala seseorang.
Pembunuhan itu memicu pemberontakan para bangsawan. Hal ini membuat Glastila dan ibunya diasingkan ke dalam menara pengasingan. Selama di sana, ibunya selalu mendapat perlakuan kasar dari para bangsawan yang membencinya. Sebenarnya mereka hanya ingin memukuli Glastila, tetapi ibunya selalu melindunginya. Sebagai gantinya, Sang Ibu menjadi sasaran pelampiasan kebencian mereka. Pada akhirnya Glastila melihat sendiri bagaimana ibunya mati dipukuli.
Sejak hari itu tidak ada lagi orang yang melindunginya. Hari demi hari dilaluinya dengan perlakuan kasar dari orang-orang. Ironisnya, Sang Ayah yang merupakan seorang raja tidak punya waktu untuk melihatnya. Dia terlalu fokus pada penaklukan sebelas kerajaan elf lainnya.
Glastila diasingkan selama seratus tahun. Selama itu pula dirinya tidak pernah libur dipukuli bahkan hanya untuk satu hari. Namun, justru karena inilah resistensi tubuhnya meningkat dari waktu ke waktu. Saat aku melawannya, pukulan penuhku yang seharusnya cukup untuk menghancurkan kepala seekor naga bahkan tidak terlalu menyakitinya.
"Raja Ljosalfar mengirimnya ke medan perang saat beliau berusia 120 tahun. Pada awalnya Raja mengirimnya untuk mati, tetapi tidak diduga beliau bisa membalikkan keadaan dan membawa kemenangan." Cellica menghentikan ceritanya, mungkin untuk membasahi mulutnya yang kering.
Selama sekitar 200 tahun dia menjadi senjata terkuat kerajaan. Ironisnya, bukan gelar pahlawan yang dia dapatkan, para bangsawan elf hanya menganggapnya sebagai senjata yang bisa rusak kapan saja, tidak lebih.
Dalam kurun waktu 200 tahun itu, tidak terhitung berapa banyak dirinya bertempur. Kekuatannya secara alami terus tumbuh semakin mengerikan pada setiap pertempuran. Kemudian, ketika Glastila berusia 342 tahun --usia yang terbilang muda bagi seorang half-dwarf, dendam yang selama ini dia tekan meledak begitu kuat. Pemicunya sangat jelas, para bangsawan berengsek itu menyulut emosinya dari hari ke hari sampai dirinya tidak dapat menahannya lagi.
Amukannya memporak-porandakan Ljosalfar hanya dalam semalam. Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan amukan Glastila yang setara dengan acient demon. Bahkan saat seluruh pasukan yang berjumlah sekitar 80.000 prajurit dari berbagai divisi menargetkannya, dia melepaskan sihir tingkat sepuluh dan mengirim semua orang ke dalam lautan api.
Sebenarnya aku agak penasaran dengan satu hal. Kalau memang dirinya sudah sekuat itu dari dulu, kenapa Ljosalfar tidak bisa menaklukan Alfheim sepenuhnya? Glastila bahkan menghabiskan waktu 200 tahun dalam perang tanpa pernah berhasil menaklukan satu kerajaan pun. Apakah dia menyembunyikan kemampuannya pada saat itu? Untuk apa dia melakukannya?
"Beliau kemudian mendatangi Nidavellir dan membangun kekaisaran setelah memaksa sembilan kerajaan dwarf tunduk padanya." Cellica menyelesaikan ceritanya.
Sebenarnya ada satu hal unik tentang Glastila. Sama sepertiku saat masih memiliki sayap, dia bisa menggunakan sihir kegelapan dan sihir suci sekaligus. Tingkatannya juga cukup tinggi.
Batas sihir kegelapannya sekitar gerbang kegelapan empat belas. Ini berarti dia dapat menggunakan mantra orbis. Sayangnya aku tidak tahu apakah dia bisa menggunakannya atau tidak. Mantra sucinya sekitar gerbang ketuhanan dua belas. Tingkatan mantra suci yang lebih rendah disebabkan oleh karma negatif dari setiap tindakannya. Bisa dibilang dia adalah pendosa yang sudah membunuh ratusan ribu orang tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Bagaimana hubungannya dengan para elf sekarang?"
Terus terang aku penasaran. Oleh karena itu, aku bertanya pada Cellica tentang hal ini. Karena Cellica juga tinggal di Arbellion, seharusnya dia tahu beberapa detil yang bukan merupakan pengetahuan umum mengenai Glastila.
"Lebih baik tidak kuceritakan. Intinya beliau sangat membenci mereka sampai-sampai jika ada seseorang yang membahas elf di hadapannya, orang itu akan langsung dipukuli tanpa ampun. Kebanyakan mati di tempat dengan tubuh tidak berbentuk."
Yah, itu memang sifatnya. Dia adalah Glastila yang kukenal. Selama pertarungannya denganku, ada banyak sekali sifat unik yang dia tunjukan. Aku merasa lebih seperti sedang bertarung dengan iblis alih-alih makhluk fana.
Cerita yang disampaikan oleh Cellica memang tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan apa yang kudengar di masa lalu. Namun, bagaimana dia berakhir menjadi seorang pendeta adalah hal yang sama sekali berbeda.
Di masa lalu, organisasi penyembah Hestia tidak berkiblat pada satu tempat. Mereka tersebar dan bahkan saling berperang satu sama lain sebagai pembuktian ajaran siapa yang paling benar. Oleh karena itu, agama dan kerajaan tidak terlalu memiliki perbedaan dalam jumlah anggota dan kekuatan militer. Hanya saja, para ksatria keagamaan lebih banyak berada pada kelas paladin daripada kelas lainnya. Kurasa pahlawan wanita yang mengirimku kembali juga berada pada kelas itu.
"Sebenarnya itu merupakan aib bagi beliau. Jadi, tidak banyak orang yang tahu dan siapa pun dilarang untuk membahasnya." Cellica menolak memberi tahuku ketika aku bertanya tentang hal itu padanya.
Walaupun dia menolak memberi tahuku, sedikit banyak aku agak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Secara kasar, bisa dibilang dia ditaklukan dan dipaksa untuk menjadi pendeta. Kalau begitu, dapat kusimpulkan bahwa Demigod pastilah lebih kuat dari Glastila. Masalahnya sekarang adalah seberapa berbahayanya orang itu untukku?
Kalau saja aku bisa menggunakan seluruh kekuatan yang kumiliki, mungkin melawannya tidak akan terlalu sulit. Sayangnya, melihat bagaimana tubuh Alma mencair pada saat dia melawan archdemon membuatku takut melepaskan segel.
Sebenarnya ada cara untuk memanifestasikan tubuh iblisku ke dunia fana. Hanya saja hal ini membutuhkan setidaknya setengah dari jumlah mana milikku. Masalahnya besar kemungkinan tubuhku akan berubah menjadi agar-agar saat aku menaikan jumlah kapasitas mana hingga setengah.
Alternatif lain adalah dengan meminjam mana dari dua puluh demon lord atau lima acient demon. Akan tetapi, bagaimana caraku meminjam kekuatan mereka sementara mantra necromancy tingkat dua saja tidak dapat kugunakan? Kalau aku menggunakan mantra necromancy tingkat pertama, iblis yang termanifestasi hanya sebatas lesser demon. Butuh sekitar sepuluh ribu lesser demon jika aku ingin menggunakannya untuk memanggil satu demon lord. Masalahnya adalah mantra necromancy hanya bisa digunakan setiap sepuluh hari dan mana yang kumiliki sekarang akan terkuras habis begitu aku melakukannya satu kali. Dengan kapasitas mana yang sekarang, aku butuh waktu sampai lima belas hari untuk mengisinya sampai penuh sebelum menggunakan mantra necromancy lagi. Membayangkan betapa merepotkannya hal ini bahkan membuatku frustrasi.
Kurasa tidak ada pilihan lain selain tetap diam sampai Demon Lord Kimaris membentuk pasukan yang cukup besar.
Percakapan kami berakhir saat kereta memasuki Kota Cerbia tepat di barat Ibukota Kerajaan Cygnus.
-----------------------------------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu, 28 Maret 2020 pukul 12:00 PM.
Note : Di rumah aja klean, jangan batu.