RE:Verse

RE:Verse
12.II Kobold



Melihat dari dampak yang ditimbulkan oleh ayunan kedua yang telah kulakukan, tidak sadar aku menelan ludah karena gembira sekaligus khawatir.


Senjata ini ... aku benar-benar menyukainya. Tidak salah jika pedang hitam kebanggaan yang sedang kugenggam dinamai sebagai Hecate. Sesuatu yang mendominasi kegelapan memang sangat cocok menyandang nama luar biasa itu.


Apa aku terlalu berlebihan dalam memuji properti milikku sendiri? Kurasa tidak sampai pada taraf seperti itu.


Pada dasarnya, bahkan sebelum senjata ini diciptakan, namanya sendiri sudah menyebarkan teror yang terukir abadi di dalam alam bawah sadar setiap iblis. Tidak ada satu iblis pun yang tak mengetahui kisah di balik pembuatan pedang ini.


Hecate sebenarnya adalah nama dari iblis kuno yang hidup jauh sebelum Seven Deadly Sins dan disembah sebagai ahli sihir paling kuat di dunia bawah. Kekuatan dari Hecate diyakini hampir setara dengan seluruh dewa di masa lalu. Ada juga mitos lain yang menyebutkan bahwa dia adalah satu-satunya makhluk hidup yang dapat lolos dari Maut.


Dia membentuk Kerajaan Tauris dan memimpin Tartarus selama jutaan tahun, memerintahnya dengan tangan besi dan menyebarkan teror ke seluruh penjuru dunia. Berkat kepemimpinannya yang semena-mena, banyak sekali nyawa iblis yang menjadi korban pembantaian.


Sifatnya yang keras dalam mengatur dunia membuat Hecate memiliki begitu banyak musuh. Dia menjadi incaran dari berbagai kelompok pemberontakan selama ribuan tahun.


Sebenarnya wanita penyihir itu tahu bahwa rakyatnya mulai merencanakan kudeta. Namun, kesombongan dan rasa percaya dirinya yang tinggi membuat Hecate memandang rendah para pemberontak itu.


Sampai pada suatu hari kesombongannya berbalik menjadi pisau yang mengakhiri masa pemerintahan Hecate. Pencipta mengambil salah satu pilar yang memisahkan dunia bawah dengan Heaven dan memerintahkan Pandai Besi Aietes untuk membuat pedang yang sanggup membunuh Hecate. Kemudian, dengan kuasanya sebagai awal sekaligus akhir dari segalanya, Beliau melemparkan pedang tersebut menembus gerbang dunia dan menancap tepat mengenai kepala penyihir itu hingga mati.


Sejak saat itulah celah kecil antara Heaven dengan Tartarus terbuka dan memungkinkan untuk dilalui hingga Pencipta menyegelnya kembali. Sementara itu, pedang hitam ini mewarisi namanya dan terus berpindah tangan hingga berakhir di tanganku sampai sekarang.


Sebenarnya, kisah mengenainya tidak sependek itu. Namun, apa gunanya membicarakan kisah masa lalu yang bahkan sudah melenceng sedikit dari kisah aslinya? Bagiku inti dari kisahnya hanyalah Pencipta menjatuhkan pedang ini untuk mengakhiri Hecate dan dunia iblis berakhir menjadi tempat yang tidak nyaman untuk ditinggali karena perang abadi yang terus berlangsung setelah itu. Tidak lebih dan tidak kurang.


Serangan sihir Pedang Hecate terdapat dua varian. Bentuk pertama memiliki jangkauan serang yang luas, tetapi hanya menyebarkan jumlah kerusakan yang tipis. Sementara itu, varian kedua merupakan sebaliknya dari bentuk pertama.  Juga, semakin banyak potensi kerusakan yang digunakan selama ayunan, Hecate akan mengalami masa tenang semakin lama. Ya, layaknya sihir para iblis, serangan sihir pedang ini memiliki cooldown. Ketika cooldown terjadi, maka Hecate hanya akan menjadi pedang biasa dengan ketajaman dan ketahanan tertinggi.


Jika aku melawan makhluk dengan pertahanan yang kuat, memilih untuk mengaktifkan mode kedua adalah pilihan yang tepat. Namun, dalam kondisi seperti sekarang dimana musuhku hanyalah segerombolan makhluk lemah, memilih untuk menggunakan varian pertama tentu saja menjadi satu-satunya pilihan yang memiliki tingkat efisiensi tinggi.


Akibatnya, Desa Orc yang sejak awal sudah menjadi reruntuhan kini hampir rata dengan tanah. Sementara itu, para werewolf bodoh yang menantangku sebelumnya berubah menjadi ceceran daging yang mengotori puing-puing bangunan.


Tidak peduli apakah itu kayu, logam, mayat, maupun makhluk hidup, semuanya telah tersapu bersih. Bahkan, pohon-pohon dan pagar pembatas desa yang berada jauh di ujung ikut terhapus begitu saja. Padahal, aku sama sekali tidak menggunakan potensi penuh dari Hecate itu sendiri.


Julukan Pedang Sihir Malapetaka yang benda ini dapatkan memang tidak diberikan tanpa alasan.


Aku memang puas dengan hasil dari apa yang kulakukan barusan. Namun, sedikit rasa khawatir juga tercampur di dalamnya. Bagaimana tidak? Walaupun sedikit, aura dari pedang hitam ini sempat terpancar keluar untuk beberapa detik. Jika saja ada penghuni langit dalam radius 50 kilometer dari sini, aku yakin dia akan menyadari aura ini. Yah, karena semua senjata memiliki aura yang sama, bukan berarti dia akan sadar dari senjata apa aura itu berasal. Jadi, aku seharusnya tidak perlu terlalu memikirkannya.


Permasalahan yang jauh lebih mendesak dari semua itu justru terletak pada kedua belati Alma yang mungkin juga ikut terhempas dan terkubur di dalam puing-puing bangunan. Tentunya akan menjadi masalah yang merepotkan jika senjata itu tidak kutemukan dan berakhir dengan hilang begitu saja.


Sebenarnya jika Alma berada bersamaku, dia akan dengan mudah merasakan kehadiran dari kedua belatinya. Hal ini bisa terjadi karena dia sudah melakukan kontrak darah dengan kedua belati itu sebelumnya dan menjadi pemiliknya. Alasan yang kusebutkan barusan jugalah yang menjadi penyebab kenapa aku tidak bisa melakukan apa yang bisa Alma lakukan terhadap belati-belati itu.


Pada akhirnya aku menyesali perbuatanku sendiri.


"A-apa yang terjadi dengan desanya?!"


Masih jatuh ke dalam penyesalan akibat ayunan tidak berguna yang baru saja kulakukan, sebuah suara yang penuh dengan nada terkejut terdengar tepat di belakangku. Tanpa sadar aku menoleh untuk melihat makhluk jenis apa yang menjadi sumber dari keterkejutan itu.


Tentu saja, tidak ada makhluk lain di hutan ini yang bisa berbicara kecuali werewolf. Setidaknya aku belum menemukan makhluk lain selain mereka. Jadi, aku sudah menebak bahwa sumber suara itu pastinya datang dari mereka.


Yah ... tebakanku kali ini memang sangat akurat.


"Apakah Anda yang melakukannya? Apakah para kobold membuat masalah dengan Anda?"


Serigala itu melanjutkan kata-katanya dengan nada yang sama seperti sebelumnya. Untuk alasan yang berbeda, aku juga terkejut sekaligus heran.


"Para kobold? Maksudmu sekumpulan werewolf yang ada di desa ini sebelumnya?"


Jari tangan kiriku menunjuk ke tempat di mana desa seharusnya berada. Maksudku, sekarang pemandangan di hadapanku hanya seperti dataran yang benar-benar berantakan.


"Tidak, tidak. Tidak ada werewolf di sana. Semua werewolf sedang mencari tanaman yang Anda minta, apakah Anda ingat?"


Jika memang seperti itu, berarti sesuatu yang mirip serigala beberapa waktu lalu bukan bagian dari mereka. Aku bingung harus menyebutnya menarik atau membingungkan. Jujur saja, aku tidak begitu familier dengan ras werebeast karena sebelumnya kerajaan iblis memang tidak pernah banyak berperang dengan werebeast. Mereka adalah makhluk penakut yang bahkan kabur sebelum bertarung. Jadi, kurasa wajar bagiku untuk tidak terlalu tahu tentang mereka. Walaupun begitu, aku sebenarnya cukup percaya diri dengan pengetahuanku mengenai werewolf.


Bagaimana mungkin ada suatu hal yang tidak aku ketahui tentang mereka?


Serigala di hadapanku mengangguk dengan yakin.


"Dan kau adalah werewolf, 'kan?"


Dia mengangguk sekali lagi untuk membenarkan pertanyaanku.


"Apa bedanya? Bagiku kalian terlihat sama."


"Ahh ... ahh!"


Aku tidak mengerti, tetapi dia terlihat sedikit tersentak saat aku mengatakan kalimat terakhirku.


Pada awalnya tampang serigala itu terlihat kesal. Dia memicingkan mata penuh kemarahan layaknya predator yang siap menerkam kapan saja. Namun, saat kedua bola mata itu beralih ke pemandangan desa di belakangku, wajahnya langsung berubah khawatir dan pancaran rasa takutnya kembali menyebar.


"Kami berbeda dengan kobold. Aku adalah evolusi dari serigala sementara mereka adalah evolusi dari anjing. Tentu saja kami jauh lebih baik daripada para kobold."


Ah, jadi begitu. Walaupun terlihat mirip, mereka berasal dari ras yang berbeda. Aku masih tidak begitu paham dalam membedakan keduanya. Namun, kurang lebih aku sudah mengerti kenapa mereka disebut kobold.


Apakah alasan ini juga yang mendasari kenapa mereka tidak mengetahui tentangku? Karena mereka adalah ras yang berbeda, pastinya wajar jika mereka berasal dari kelompok yang berbeda pula.


Sekarang semuanya menjadi jelas. Hal yang berhasil membangkitkan seeikit rasa penasaranku telah terjawab. Walaupun tidak penting, entah kenapa aku merasa agak lega.


Ah ... tunggu dulu. Sekelebat pertanyaan tiba-tiba mengganggu pikiranku lagi. Mungkin aku harus menanyakan ini padanya juga sebelum memulai pencarianku dalam menemukan belati milik Alma.


"Kalau mereka berbeda dengan kalian, lalu kenapa mereka ada di sini?"


Dia menunjukan raut wajah yang tidak bisa kutebak sebelum menjawab pertanyaanku.


"Masih banyak daging orc yang tersisa. Kami tidak bisa memakan semuanya. Daripada dibiarkan membusuk dan menjadi makanan burung pemakan bangkai, Alpha memutuskan untuk membaginya pada kobold. Walau bagaimanapun, kami masih saudara jauh."


Wah ...? Apakah werewolf memang sepintar dan sebijaksana ini? Aku baru tahu bahwa otak kecil mereka dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Luar biasa ... benar-benar mengesankan.


"Baiklah, aku sudah mengerti garis besarnya. Namun, jangan harap aku akan meminta maaf untuk kematian para kobold itu. Mereka yang berniat untuk menjadikanku sebagai makanan terlebih dahulu. Bukan aku yang memulai."


Aku menggunakan nada yang sedikit mengintimidasi seakan menantangnya. Jika memang otaknya dia pakai dengan benar, seharusnya dia tahu siapa yang patut disalahkan atas kejadian ini.


"Tentu saja. Anda tidak perlu khawatir. Lagipula kobold bukanlah bagian dari kami."


Ah, sampah ini menggunakan bahasa formal lagi. Sebelumnya dia mulai berbicara tidak sopan setelah aku menyamakannya dengan kobold. Namun, kali ini dia kembali lagi menggunakan kata-kata yang formal. Jujur aku sedikit terkesan padanya.


"Kalau begitu," aku mengangguk padanya seraya menyarungkan Hecate di punggungku, "lanjutkan kembali tugasmu. Aku masih punya urusan di sini."


Setelah berakhirnya kata-kata perpisahan tersebut, aku berbalik dan mulai melangkahkan kaki ke arah dimana kedua belati itu berada sebelumnya. Namun, sebelum aku membuka jarak yang cukup jauh dengannya, dia tiba-tiba mengucapkan sebuah pertanyaan padaku.


"Berapa banyak tanaman yang Anda butuhkan?"


Aku menjawabnya tanpa pikir panjang seraya tetap berjalan membelakanginya.


"Sebanyak yang kalian bisa ambil. Bawa semua dan kumpulkan di desamu. Aku akan mengambilnya setelah urusanku di sini selesai."


-----


Selasa, 26 Agustus 2019


Pukul 08:48 AM


Note : -