RE:Verse

RE:Verse
Intermission IV : Keluarga



Bangunan yang berdiri di antara rimbunnya pepohonan adalah sebuah rumah kayu sederhana yang tampak tidak terurus. Beberapa jendela kaca sudah retak dan berlubang, tetapi dibiarkan begitu saja sampai tertutup oleh debu yang agak tebal. Jika dilihat dengan sekilas dari luar, orang-orang pasti tidak akan menyangka bahwa bangunan tersebut masih dihuni oleh seseorang.


Carmen sedikit melompat di sela-sela langkah kecilnya. Dia bahkan bersiul untuk beberapa saat sementara kedua telapak tangannya sibuk memegangi anak kelinci putih yang baru saja dia dapatkan. Kaki kanannya memang dinodai dengan bercak-bercak darah yang mengering, tetapi gadis itu sepertinya tidak begitu peduli.


Carmen mendorong pintu kayu sederhana di hadapannya dengan menggunakan bahu kecilnya. Karena kedua tangannya dipakai untuk memegangi anak kelinci yang dia bawa, gadis itu cukup kesulitan untuk membuka pintu. Namun, tampaknya dia berhasil membukanya setelah sedikit berusaha.


"Cukup lahirkan saja sesuatu yang kuat! Bahkan sampah yang dibuang sepertimu harusnya bisa melakukan itu!"


Seketika itu juga suara kegaduhan yang terjadi di dalam salah satu kamar rumah kayu tersebut menusuk telinga Carmen. Gadis itu bahkan hampir menjatuhkan anak kelinci di kedua telapak tangannya karena sedikit terkejut dengan kegaduhan yang muncul tiba-tiba.


Tidak lama setelah ia memasuki rumah, gadis itu mendengar beberapa suara benturan keras. Dia tahu bahwa benturan-benturan yang didengarnya merupakan suara yang ditimbulkan dari pukulan dan tamparan. Jadi, secara alami Carmen merasa agak khawatir.


Apakah aku melakukan kesalahan lagi? Gadis itu bertanya dalam hati.


Perlahan kaki-kaki kecilnya melangkah, berusaha mendekati pusat keributan dengan suara seminimal mungkin. Dia tidak mau suara yang dikeluarkan olehnya mengganggu mereka. Jika itu sampai terjadi, Carmen mungkin akan berakhir dengan dipukuli selama berjam-jam. Rasanya tentu akan menyakitkan dan dia tak mengharapkan dirinya berakhir seperti itu lagi.


"Aku sudah membuatnya satu untukmu! Apakah anak iblis itu masih belum cukup?!"


Dari celah pintu kayu di depan matanya, Carmen dapat mendengar suara yang sangat familier. Nada keputusasaan yang tercampur dengan isak tangis itu adalah suara dari ibu kandungnya. Seseorang yang memberikan kehidupan padanya di dunia ini dan satu-satunya wanita yang pernah dia lihat selama hidupnya.


"Sampah itu bahkan tidak memiliki cukup mana! Bagaimana bisa aku menggunakannya sebagai senjata?!"


Teriakan seorang pria kembali menusuk gendang telinganya. Walaupun begitu, Carmen tetap memberanikan diri untuk membuka pintu kayu yang sedikit terbuka di hadapannya. Dia tahu bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menemui mereka, tetapi dirinya mempunyai sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan.


Kedua bola mata cokelatnya memandang lurus ke arah tempat tidur lusuh di hadapannya. Seorang wanita dewasa dengan gaun lusuh compang-camping terbaring di sana begitu saja. Tubuhnya dipenuhi luka terbuka dan memar yang membiru. Di sela-sela isak tangis perempuan itu, Carmen bahkan dapat melihat bahwa gusinya bengkak sementara beberapa giginya sudah hilang dari tempat yang seharusnya. Wajahnya yang lebam serta tetesan darah segar dari lubang hidung dan sudut mulutnya membuat Carmen sedikit mengerutkan dahi.


Seorang pria besar yang mengenakan pakaian prajurit kini menarik pakaian wanita itu dengan kasar. Dia membantingnya ke tempat tidur cukup keras, memukuli wajahnya, lalu memaki tepat di telinga wanita menyedihkan tersebut dengan suara yang sangat keras.


"Ayah ... "


Carmen menatap ke arah mereka dengan pandangan khawatir. Dia berusaha mengambil perhatian mereka, tetapi tampaknya tidak berhasil. Kedua orang itu masih saja berdebat dan mengabaikannya.


" ... bolehkah aku memelihara kelinci?" Dia bergumam pelan, merasa sedikit tidak enak jika sampai menganggu mereka dan berakhir dipukuli lagi.


"Lihat itu!" Pada akhirnya, Sang Ayah menjambak rambut ibunya dan membuatnya mengalihkan pandangan ke arah Carmen. Dia cukup senang saat menyadari bahwa dirinya mendapatkan perhatian mereka. "Sampah lemah tidak berguna itu bahkan sangat bodoh! Bagaimana bisa aku menggunakannya?!"


Tangan kiri ayahnya menunjuk ke arah Carmen. Dia bahkan menatapnya dengan pandangan marah dan benci. Gadis itu menyadari bahwa bukan hanya ayahnya saja yang melakukannya, wanita menyedihkan di sana juga memberikan tatapan yang serupa.


Apa aku membuat kesalahan lagi? Dia memiringkan kepalanya seraya memikirkan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya, berusaha mengingat lagi kesalahan yang dirinya perbuat.


"Aku tidak mau melahirkan monster lagi! Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!" Wanita itu semakin terisak, tetapi pandangan bencinya tidak luput sedikit pun.


"Hei ... jika butuh anggota keluarga baru, kenapa tidak membiarkanku memelihara kelinci ini?"


Bahkan jika hanya seekor kelinci, dia berpikir bahwa hal ini seharusnya tidak akan menjadi masalah. Lagipula, dia sendiri tidak begitu mengerti kenapa ayah dan ibunya membutuhkan anggota keluarga baru. Menurutnya, kehidupan keluarga kecilnya sudah cukup baik. Menambah satu orang anggota lagi mungkin akan membuat keadaanya menjadi buruk.


"Sudah kubilang sejak awal, 'kan?! Kau hanya harus memberiku satu senjata yang cukup kuat! Jika kau memenuhi keinginanku, aku akan membiarkanmu pergi dari sini!"


Mereka kembali mengabaikan Carmen yang masih berdiri di depan pintu kamar. Dirinya cukup kecewa dengan perlakuan seperti ini. Walaupun begitu, dia tidak mau menyerah begitu saja dengan permintaannya.


"Aku yang akan memberinya makan. Setelah ini, aku tidak akan meminta apa pun lagi dan akan menjadi anak yang baik."


"Kau sendiri juga pasti tahu bahwa itu hampir mustahil untuk dilakukan! Melahirkan satu monster saja sudah merupakan penghinaan bagiku, bagaimana mungkin aku bisa melakukannya lagi?!"


Carmen benar-benar diabaikan sepenuhnya. Mereka sama sekali tidak mendengarkan kata-katanya sedikit pun. Kehadiranya bahkan mungkin sudah tidak dianggap ada oleh orangtuanya.


"Sudah cukup!" Sang Ayah kembali memukul ibunya tepat di batang hidung, membuat darah segar mengalir semakin banyak dari lubang hidungnya yang belum mengering. "Aku tidak mau tahu. Jika kau tak memenuhi perintahku, aku akan menghadiahimu dengan rasa sakit abadi."


Pria besar itu kini berdiri di samping tempat tidur tersebut. Dia sempat menendang bagian kepala wanita di hadapannya hingga terjungkal sebelum berjalan ke arah Carmen untuk keluar dari ruangan itu.


Sang Ayah hanya mengambil anak kelinci tersebut dengan kasar, meremasnya sangat kuat sampai terdengar suara patahan dari tulang-tulang rapuhnya yang masih muda, lalu menjatuhkannya ke tanah begitu saja. Dia tidak mengatakan apa pun setelah itu dan hanya pergi meninggalkan Carmen yang masih berdiri dalam diam.


Gadis itu menundukan kepala, menatap sosok anak kelinci di hadapannya yang kini sudah hancur. Organ dalamnya sedikit keluar dan bulu-bulu putihnya yang indah sudah rusak dalam sekejap. Makhluk malang itu sekarat dalam penderitaan dan akan mati tidak lama lagi.


Carmen mulai mengambilnya dengan hati-hati, lalu berjalan perlahan ke samping tempat tidur. Gadis itu sempat melihat sebuah rantai besar yang mengikat kaki kiri ibunya, tetapi mengabaikannya karena sejak awal memang seperti inilah keadaan Sang Ibu.


"Ibu, apakah aku bisa memeliharanya?"


Wanita tersebut masih terisak saat Carmen mengatakan kalimat tersebut. Di tengah tangisannya, dia menatap Carmen dengan pandangan yang tajam.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Aku tidak pernah melahirkan anak yang menjijikan sepertimu."


"Tapi ... bukankah ibu sendiri yang menyuruhku?" Carmen memiringkan kepalanya, dia membalas tatapan ibunya dengan pandangan polos yang tidak mengerti apa-apa.


"Itu karena kupikir aku bisa mengubahmu menjadi senjataku dan membunuhnya agar aku bisa bebas dari neraka ini."


Wanita itu menghela napas, berusaha menghentikan isak tangisnya. Dia menghapus air matanya menggunakan kain kumal yang dikenakan olehnya.


"Apakah aku melakukan kesalahan lagi?" Kalimat itu adalah pertanyaan yang sejak tadi ingin dia katakan. Carmen tidak mengetahui letak permasalahan yang membuat Sang Ibu membenci dirinya.


"Kesalahan?" Sang Ibu memandang langit-langit untuk beberapa saat, seakan memikirkan sesuatu yang penting. "Ya ... sejak awal penderitaanku adalah salahmu. Andai saja kau memiliki kekuatan, dia pasti sudah melepaskanku sejak dulu. Andai saja kau lebih kuat, aku pasti bisa menggunakanmu untuk membunuhnya. Ini semua salahmu karena kau sangat lemah."


Mendengar perkataan ibunya, Carmen tidak bisa membalasnya. Dia hanya terdiam mematung dengan bibir yang rapat. Wajahnya sedikit menunduk, merasa sedih karena sudah menjadi penyebab dari kekacauan yang terjadi di rumahnya yang indah. Dia sangat marah kepada dirinya sendiri sekaligus kecewa.


"Sekarang pergilah dari hadapanku. Aku tidak mau melihatmu lagi."


Sebagai respon dari ucapan ibunya, Carmen sedikit mengangkat kepalanya. Dia terdiam beberapa saat sebelum kembali membuka mulutnya.


"Bagaimana dengan kelincinya? Apakah aku boleh memilikinya?"


"Kau memang tidak waras seperti orang itu. Aku tidak peduli lagi, lakukan sesukamu. Sekarang cepat pergi dari sini sebelum aku ikut menjadi gila seperti kalian!"


Teriakan ibunya membuat Carmen terkejut. Dia segera melangkah pergi dari hadapan ibunya. Walau sekasar apa pun perlakuan Sang Ibu kepadanya, Carmen tidak mau ibunya menjadi gila. Gadis itu masih menyayanginya dan tidak akan membiarkan hal buruk menimpa Sang Ibu.


Langkah kakinya mengantarkan Carmen menuju kamarnya. Dia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu menaruh anak kelinci putih malang itu yang kini sudah menjadi mayat di atas meja kayu sederhana miliknya.


"Ayahku menyiksamu juga. Sekarang kau sudah tahu bagaimana rasanya, 'kan?" Di tengah-tengah kalimat yang dia ucapkan, Carmen tertawa untuk beberapa saat. "Kau tampak semakin mirip denganku. Karena itulah aku jadi sangat menyukaimu. Semoga kau cepat terbiasa dengan sifat ayahku."


Jari-jari tangan kecilnya menyentuh salah satu bola mata dari mayat kelinci yang hampir keluar dari rongga matanya. Dia menekannya dengan hati-hati seraya tersenyum, berusaha memasukannya kembali seperti semula.


"Aku sempat khawatir karena berkat kesalahanku, ibu dimarahi oleh ayah. Beruntung sekali ibuku tetap memberikan izin tinggal padamu di saat-saat terakhir, 'kan?"


Gadis itu tenggelam ke dalam suasana hatinya yang semakin membaik. Dia menyentuh bagian-bagian lain dari mayat kelinci tersebut dan menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya sampai larut malam. Kemudian, Carmen menyimpan mayat anak kelincinya ke dalam laci di bawah meja kecil kamarnya dengan hati-hati seraya tersenyum merasa bahagia.


"Kuharap kalian bisa cepat akur."


Bola matanya memandang ke dalam laci yang penuh dengan tulang-belulang kecil, tumpukan daging busuk yang sedang menjadi santapan lalat dan belatung, serta kepala dari hewan-hewan kecil yang hidup di hutan dekat rumahnya.


--------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Minggu 01 Desember 2019


Pukul 12:00 PM


Note : Dua Intermission lagi untuk bagian masa kecil Carmen.