
Langit mendung dan hujan deras yang mengguyur wilayah dimana kediaman Carmen berada mulai menembus atap langit-langit yang berlubang. Lantai kayu dan tempat tidur sederhana di lantai dua kini sudah basah, membuat Carmen menggigil kedinginan.
Gadis berambut cokelat itu menggunakan salah satu kain lusuh sebagai selimut dan duduk di pojok tempat tidurnya. Gigi-gigi kecilnya bergemelutuk, saling beradu dengan getaran yang cepat akibat kedinginan. Sementara itu, sebuah kotak kayu kecil berisi tubuh-tubuh hewan yang membusuk dia peluk dengan erat, seolah berusaha untuk menjaga suhunya tetap hangat.
Sambaran petir beberapa kali terdengar, menyambar pepohonan yang berada di sekitar rumahnya. Suaranya benar-benar memekakan telinga dan membuat Carmen jatuh ke dalam ketakutan.
Samar-samar, telinganya bisa mendengar keributan di lantai bawah. Tentu saja dia tahu bahwa ayah dan ibunya sedang melakukan rutinitas harian mereka, yaitu bertengkar hebat. Oleh karena itu, Carmen yang terbiasa dengannya hanya diam seraya ketakutan dengan suara petir. Namun, keributan hari ini kelihatannya tidak seperti pertengkaran yang biasanya.
Perlahan Carmen memberanikan diri untuk bangkit dari tempat tidurnya. Dia membungkus kotak kayu di pelukannya dengan kain lusuh yang sebelumnya menjadi selimut baginya.
"Kalian aman bersamaku." Dia berbicara dengan suara gemetar, masih merasa takut dengan sambaran petir di luar.
Di tengah kekhawatirannya, Carmen merasa janggal dengan apa yang sedang terjadi di bawah. Sebelumnya dia mendengar Sang Ibu menjerit keras, bahkan mengalahkan kerasnya suara petir untuk beberapa saat. Namun, setelah itu, jeritan kerasnya berubah menjadi tawa histeris sebelum akhirnya tenggelam dalam keheningan.
Alasan itulah yang membuat Carmen memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya dan bergerak menuju kamar ibunya.
Biasanya, setelah ayahnya pergi meninggalkan rumah, suara isak tangis Sang Ibu akan terdengar untuk beberapa jam ke depan. Selalu seperti itu sejak pertama kali Carmen menyadari pertengkaran di antara mereka. Namun, kali ini benar-benar hening hingga membuat Carmen khawatir.
Perlahan Carmen membuka pintu kayu di hadapannya dan secara tidak sadar membuat kedua bola mata cokelatnya sedikit melebar karena pemandangan yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Carmen menjatuhkan kotak kayu di kedua tangannya, membuat semua tubuh busuk dari hewan-hewan kecil di dalamnya tercecer ke tanah. Dia bahkan tidak merespon saat alas kotak kayu itu menghantam kaki kanannya, menorehkan luka yang langsung dibasahi oleh cairan kental berwarna merah.
"Ibu ...?" Suaranya dingin, sedingin raut wajah dan pandangan bola matanya yang kosong.
Di atas tempat tidur dimana seharusnya Sang Ibu terbaring, sosok mayat wanita jatuh terduduk dengan kepala menunduk. Lengan kirinya tergeletak begitu saja, terkoyak tepat di bagian bahu dan sudah benar-benar terpisah dari tubuhnya. Organ-organ di dalam perutnya terburai mengotori tubuh hancur itu, tergenang di dalam cairan berwarna kuning dan merah pekat.
"Ibu ...?"
Untuk kedua kalinya, Carmen mengeluarkan suara. Kali ini tubuhnya benar-benar gemetar, tetapi raut wajahnya sama sekali tidak berubah. Bahkan kedua bola mata cokelatnya hanya menatap tanpa mengeluarkan air mata.
"Konyol sekali." Tepat di samping Sang Ibu, seorang laki-laki yang Carmen kenali sebagai Ayah tengah berdiri dengan sebilah pedang berwarna hitam pekat di tangan kanannya. "Sekarang sudah terlambat. Salah satu demon lord dari faksi Wrath sudah termanifestasi ke dunia ini."
Carmen sedikit memiringkan kepalanya atas kata-kata yang tidak dia mengerti. Gadis itu sedikit heran dan penasaran dengan kalimat yang diucapkan oleh ayahnya. Namun, melihat bagaiman ibunya telah berubah menjadi tumpukan daging, dia takut untuk menanyakannya.
"Begitu Kimaris tahu, aku pasti akan diburu sampai mati." Lelaki itu masih mengatakan hal-hal aneh, seakan mengabaikan keberadaan Carmen. Namun, dia menoleh ke arahnya kemudian. "Kau ... ini semua salahmu!"
Sang Ayah mengangkat pedang hitam itu ke arahnya, menatap Carmen dengan raut wajah penuh kemarahan. Lengan kanannya gemetar, seakan semua kekuatannya terkonsentrasi di sana. Lalu, dengan sekali ayunan cepat, leher mayat wanita di sampingnya mulai jatuh dan menggelinding.
Carmen merasakan amarah untuk pertama kalinya. Dia tidak tahu alasannya, tetapi bagian di sekitar dadanya terasa sakit, seakan jantungnya ditusuk-tusuk oleh sesuatu. Sensasi dari rasa sakit itu semakin meningkat saat kedua bola mata Carmen memandangi wajah Sang Ibu. Kedua mata yang tertutup dan bibir yang sedikit menunjukan senyuman terukir jelas pada kepala yang sudah terpenggal itu, membuat Carmen diselimuti oleh perasaan asing yang samar.
"Selanjutnya adalah kau ... sumber masalah dari semua ini. Aku akan menyingkirkanmu perlahan, bersenang-senang dengan rasa takut dan keputusasaan akan kematianmu sendiri."
Suara ayahnya benar-benar dingin dan tanpa keraguan. Tidak terdapat kasih sayang sama sekali di dalam kata-kata itu. Tentu saja hal ini membuat Carmen sedikit sedih, menganggap bahwa cinta Sang Ayah kepada dirinya sudah lenyap seluruhnya.
Jeda waktu yang singkat mengantarkan bilah pedang hitam Sang Ayah menuju ke arah Carmen. Targetnya adalah leher. Jika ingin menyiksanya seharusnya leher bukanlah incaran yang tepat. Namun, Carmen yang sedang berada dalam bahaya tidak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu.
Carmen hanya diam, memandang Sang Ayah yang melesat ke arahnya dengan sangat cepat. Dalam pikirannya, jika kematiannya akan membuat ayahnya puas, maka Carmen tidak keberatan. Dia siap untuk menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk kebahagiaan orangtuanya.
Jarak di antara mereka semakin dekat, sangat dekat sampai-sampai Carmen dapat melihat setiap detail dari pedang hitam yang berada tepat di depannya. Dia juga bisa menatap kerutan-kerutan di wajah ayahnya yang terlihat sangat marah.
Gadis itu berkedip untuk sesaat, sekadar membasahi bola matanya yang mengering. Namun, setelah membuka matanya untuk melihat, posisi Sang Ayah tidak berubah sama sekali. Tubuhnya benar-benar berhenti tepat sebelum pedang hitamnya menyentuh leher Carmen seakan waktu benar-benar berhenti.
Awalnya Carmen sedikit kebingungan dengan fenomena ini, tetapi pemandangan yang terjadi selanjutnya menyingkirkan semua kebingungan gadis itu dan berubah menjadi rasa takut.
Tepat di samping tempat tidur Sang Ibu, kabut hitam mulai berkumpul, berputar layaknya tertiup angin. Kemudian, warna hitamnya mulai semakin pekat, menampakan kegelapan mutlak yang mulai menyebar semakin besar dan membentuk lingkaran raksasa dua dimensi.
Gadis berambut cokelat itu berusaha untuk mundur karena terkejut dengan keanehan di depan matanya, tetapi tubuhnya tidak menerima perintah dari otaknya dengan benar. Dia hanya terdiam di sana dengan posisi yang sama, seakan tubuhnya berubah menjadi batu.
Saat Carmen semakin bimbang dengan fenomena ini, dari lubang hitam di hadapannya, muncul tangan raksasa yang hanya tersusun dari tulang-tulang kering. Setelahnya, sebuah sabit hitam dengan tiga mata pisau mulai keluar dari sana diikuti oleh tangan lain sebelum akhirnya sosok kerangka raksasa dengan sayap yang juga adalah tumpukan tulang mulai menampakan diri di dalam ruangan kecil itu.
"A-apa itu?!" Carmen kehilangan ketenangannya seraya bertanya tanpa sadar.
Mendengar ucapan Carmen yang ketakutan, sosok tersebut mulai menoleh ke arahnya, memperlihatkan wajah tengkorang tanpa sedikit pun kulit dan otot. Sepasang tanduk domba menempel erat di atas tengkorak raksasa itu, seakan menjadi bukti bahwa sebelum menjadi makhluk mengerikan ini, sosok di hadapannya pastilah berasal dari monster yang sudah mati. Namun, anehnya Carmen tidak merasa yakin dengan hal ini.
"Apa kau melihat? Kau dapat melihat kami? Manusia? Tidak, dia iblis."
Carmen mengerutkan dahinya karena sedikit kesal dengan perkataan kasar yang dilontarkan ke arahnya. Selama ini ibunya memang memanggilnya monster. Namun, dia dapat memakluminya karena wanita itu adalah ibunya. Tentu saja gadis itu tidak akan terima jika pihak asing yang sebenarnya lebih cocok disebut iblis memanggilnya dengan sebutan itu.
" ... dan juga malaikat?"
"Eh?"
Kali ini Carmen benar-benar tidak mengerti. Setelah dengan tidak sopan memanggilnya sebagai iblis, makhluk itu kini menyanjungnya dan menyebutnya malaikat.
Semakin banyak makhluk itu bicara, Carmen semakin tidak memahaminya.
"Kau adalah iblis, juga malaikat ... dan manusia. Reverse membuat Atropos kacau."
"Berhentilah berbicara yang tidak jelas. Kau siapa? Apa yang sedang terjadi di sini?"
"Aku adalah Maut, Ruler of Death. Tanpaku kematian ... " makhluk itu tiba-tiba berhenti berbicara dan mengubah arah pembicaraannya. "Aku ingat, kami mengingatnya. Kematian, tugasku adalah memisahkan jiwa dengan tubuh yang sudah mati."
Selesai dengan kata-katanya, makhluk yang mengaku sebagai maut mulai mengayunkan sabit besarnya. Dia mengayunkannya dari bawah tempat tidur dimana mayat ibunya berada sampai tepat sebelum menyentuh langit-langit.
Walau pada awalnya Carmen pikir tempat tidurnya akan hancur, tetapi kenyataannya sabit besar itu hanya menembus semua material yang ada. Sebagai gantinya, sosok makhluk dengan tinggi sekitar dua meter tertancap di ujung sabit besar itu. Namun, anehnya, tidak ada darah yang keluar dari sosok besar tersebut.
Tangan kiri maut mengayunkan sabitnya dan membanting sosok tersebut ke tanah dengan kasar. Carmen yang masih tidak mengerti mulai mengalihkan pandangan pada tubuh yang sekarang terbaring di tanah.
Sosok itu terlihat seperti seorang wanita dengan kulit putih porselen. Rambutnya berwarna cokelat dan tampak halus layaknya sutra. Sepasang sayap putih yang indah menempel erat pada bagian punggung, menembus gaun putih tanpa noda yang dia kenakan. Ketika Carmen memperhatikan wajahnya, dia merasa nostalgia dan langsung mengenalinya.
" ... ibu?"
Tanpa memberi Carmen kesempatan untuk berbicara lebih jauh, monster yang mengklaim dirinya sebagai Maut mulai kembali berbicara.
"Wahai gerbang kematian yang memisahkan dunia dengan alam kematian, dengan izin kematian yang kami berikan, kuperintahkan kau, Kharon, untuk membuka gerbang surga dan neraka."
Setelah jeda sesaat, Carmen dapat melihat sepasang pintu gerbang yang mulai muncul dari dalam tanah. Pintu di sebelah kanan Maut adalah sebuah pintu ganda logam berwarna putih murni dengan ukiran-ukiran indah pada daun pintunya. Sementara itu, pintu di sebelah kirinya mengeluarkan aura berwarna merah pekat. Daun pintunya hanya memiliki ukiran aneh dengan pola wajah yang sedang menderita, seakan tengah mengalami siksaan yang mengerikan.
"Melalui Akhasic Record, kami menilai semuanya. Anaphiel, angel yang dihukum karena menentang perintah Hestia, dosamu adalah melahirkan anak yang tabu dan membiarkan iblis menodaimu. Atas namaku, Kharon, ancient yang memutuskan hukuman, menjatuhimu pembakaran dosa seribu tahun di neraka."
Suara yang keluar entah dari mana memiliki nada yang sama persis dengan suara Maut. Namun, berdasarkan nada dan uapannya, Carmen tahu bahwa bukan Maut yang berbicara. Jadi, dia yakin bahwa suara tersebut memang berasal dari makhluk lain yang mengaku sebagai Kharon. Hanya saja, tidak ada siapa pun lagi di sana yang bisa dia lihat.
Waktu berikutnya diisi dengan suara tawa histeris seorang wanita. Nadanya penuh dengan depresi dan penderitaan, seakan segala macam emosi yang terkumpul selama puluhan tahun meledak keluar.
Carmen yang sadar dengan suara itu segera mengalihkan pandangannya, menatap sosok wanita bersayap yang kini berlutut di hadapan Maut. Sosoknya memang luar biasa indah layaknya seorang dewi yang datang untuk memberikan perlindungan. Namun, raut wajahnya benar-benar bertolak belakang. Matanya basah dan terus mengeluarkan cairan. Sementara itu, bibirnya yang terbuka karena tawa meneteskan air liur.
Walaupun terlihat jauh berbeda, Carmen merasa yakin bahwa itu adalah ibunya. Perasaan familier yang dia rasakan sekarang dan instingnya sebagai seorang anak tidak bisa dikelabui hanya dengan penampilan fisik. Tentunya dia merasa senang bahwa ibunya baik-baik saja. Namun, kondisinya sekarang benar-benar tidak dapat dia mengerti.
Carmen yang menyadarinya mengerutkan kening dan mulai khawatir. Akan tetapi, tubuhnya masih tidak dapat bergerak. Jadi, dia hanya bisa menatapnya tanpa dapat melakukan apa-apa.
"Apakah ... apakah dosaku akan diampuni setelah seribu tahun?"
Sesaat setelah Sang Ibu menyelesaikan kalimatnya, kedua bola mata ibunya tiba-tiba mengalirkan darah yang semakin deras seiring berjalannya waktu. Kemudian, Carmen menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat kedua bola mata wanita itu melompat keluar dari kepalanya dan mulai meleleh. Gadis kecil itu tentu saja khawatir dengan keadaan ibunya, tetapi menyadari bahwa wanita itu tampak tidak peduli, Carmen juga merasa sedikit lega. Menurutnya, jika Sang Ibu tidak terlihat kesakitan, maka memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Aku adalah Maut, otoritas kami hanya mengatur kematian. Otoritas hukuman hanya milik Kharon, dan dia sudah memutuskan."
Maut menjawab pertanyaannya. Kemudian, lubang telinga wanita bersayap itu mulai mengeluarkan darah berwarna merah pekat. Namun, bukannya berteriak kesakitan, Sang Ibu malah tertawa semakin histeris.
"Hanya seribu tahun? Selama ini aku ketakutan dengan hukumanku. Walau bagaimanapun, aku pernah menolong fallen demon sebelumnya. Untuk berpikir bahwa kalian tidak mempertimbangkan dosa tabu itu, aku benar-benar bersyukur."
"Kami ada untuk mengatur dunia. Ancient ada untuk menjaga dunia. Bahkan orang itu sekalipun tidak pernah berpikir untuk menghancurkannya. Kau bebas dari tabu."
Mendengar kalimat Maut yang anehnya menjadi sedikit mudah untuk dimengerti membuat raut wajah wanita bersayap itu berubah. Tawanya langsung lenyap, digantikan dengan emosi penuh keterkejutan yang tampak sangat jelas di mata Carmen.
"Apakah itu benar? Lalu, kenapa Sang Pencipta mengusirnya dan mengutuknya di dunia bawah? Tabu macam apa yang dia lakukan--"
Sebelum dapat menyelesaikan kalimatnya, tangan kiri Maut tiba-tiba meraih kepalanya. Kulit dan otot wanita itu tiba-tiba meleleh setelah Maut menyentuhnya, layaknya sebuah batang lilin yang dipanaskan.
Menyadari bahwa ibunya berada dalam bahaya, Carmen berusaha bergerak dari posisinya. Akan tetapi, sekuat apa pun dia memberontak, tubuhnya sma sekali tidak dapat digerakan. Gadis kecil itu hanya bisa berteriak memanggilnya dengan sekuat tenaga.
"I-ibu!"
"Waktumu sudah habis. Setelah seribu tahun, nikmatilah kerajaan di balik pintu surga hingga hari yang dijanjikan."
Pintu dengan aura merah pekat mulai terbuka secara perlahan. Seketika itu juga telinga Carmen dipenuhi dengan suara jeritan histeris yang menyakitkan. Segala macam emosi mengerikan seakan mengoyak isi kepalanya, membuat Carmen berteriak kesakitan. Seluruh tubuhnya terasa seperti dikoyak dan dibakar terus-menerus sehingga kesadarannya mulai melemah. Hal terakhir yang dilihat sebelum kegelapan menelannya hanyalah sosok Sang Ibu yang dilemparkan ke dalam pintu mengerikan itu.
-----------
Dipublikasikan di Mangatoon pada, Hari, Minggu 16 Februari 2020 Pukul 13:00 PM
Note :
Satu Intermission lagi untuk menyelesaikan masa kecil Carmen.