
Pertemuanku dengan undead adalah suatu hal yang tidak kusangka-sangka sebelumnya. Kalau dipikir lagi secara mendalam, bagaimana bisa undead tercipta di negara yang damai seperti ini?
Biasanya undead hanya akan muncul di tengah kekacauan yang melibatkan pembantaian ratusan orang. Seharusnya cukup sulit untuk melihat undead kalau dunia berjalan dengan cukup damai.
Menurut hukum dunia, kematian makhluk hidup mengakibatkan energi kehidupan berubah menjadi mana jenis alam. Hal ini dinamakan sebagai hukum kekekalan energi. Alih-alih mengalami kemusnahan, energi kehidupan akan mengalami konversi sesuai dengan hukum entropi dimana hasil konversi selalu lebih kecil daripada energi sebelum mengalami konversi.
Hasil dari kematian selalu sama terlepas dari makhluk apa yang mengalaminya. Pertama, kematian menghasilkan mana jenis alam yang hanya dapat digunakan beberapa makhluk dan undead. Nah, total mana yang terbentuk dari konversi kematian pada kenyataannya tidak sebanding dengan energi kehidupan yang dikonversi. Oleh karena itu, munculah istilah void sebagai nama untuk energi yang tidak berhasil terkonversi. Jujur saja pengetahuanku tentang void masih sangat minim karena pada dasarnya void tidak dapat dideteksi.
Aku cukup mengetahui bahwa pada kenyataannya pengaturan yang sama dengan fenomena kematian juga berlaku pada aktivasi sihir. Setiap makhluk yang menggunakan sihir cahaya, kegelapan, dan alam selalu melahirkan void sebagai bagian dari reaksinya. Kemudian, secara misterius void akan berubah kembali menjadi energi murni yang membentuk jiwa untuk dilahirkan setelah beberapa tahun. Selanjutnya, jiwa akan termanifestasikan di dalam tubuh seorang bayi dan semakin tumbuh seiring makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Ya ... ini juga sesuai dengan hukum kekekalan energi. Semua fenomena tersebut akan terus berulang tanpa awal dan akhir.
Ah ... tidak berguna. Untuk apa aku memikirkannya terlalu dalam.
Larut dalam pemikiran seperti itu membuat perjalanan pulangku tidak terasa. Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku meninggalkan hutan dan sebentar lagi akan memasuki Trowell.
Berbicara dengan penjaga gerbang terasa cukup menurunkan tingkat stress yang masih menyelubungiku. Rasanya seperti berbagi kekhawatiran dengan orang lain. Walaupun begitu, aku sama sekali tidak berniat untuk membicarakan undead itu. Kalau tidak, mereka mungkin akan menjadi ribut dan mengirimkan beberapa penjaga untuk menginvestigasi. Lebih baik aku hindari saja keributan yang tidak perlu.
Oh, mengingat kembali tentang undead setelah berbicara dengan penjaga, aku baru menyadarinya. Sejak awal anak manusia itu memiliki perilaku yang aneh untuk ukuran manusia. Desanya dibantai habis, tetapi dia tidak terlalu depresi. Emosinya juga terlampau datar saat berbicara denganku. Bukankah ini aneh?
Aku terbiasa dengan iblis dan Alma untuk jangka waktu lama. Jadi, aku tidak terlalu merasakan keanehannya pada saat itu. Namun, mungkin karena akhir-akhir ini aku mencoba berbicara dengan para manusia, pada akhirnya aku mengetahuinya. Kurasa kepekaanku terhadap perilaku manusia semakin meningkat.
Sekarang kesimpulanku cuma satu, anak manusia itu sudah menjadi undead sejak awal. Parahnya lagi, dia undead berakal yang bisa berbicara dan memiliki pemikiran semasa hidupnya. Sudah jelas bahwa ini berita buruk.
Biasanya butuh pengorbanan sekitar seribu makhluk hidup untuk melahirkan undead berakal. Tidak sama seperti undead bodoh --zombie, skeleton, ghoul, dan lain sebagainya-- pada umumnya, undead berakal sanggup berkembang dan tumbuh semakin kuat setiap harinya. Memang tidak akan merepotkan pada awalnya, tetapi akan menjadi sesuatu yang sulit dihadapi jika mereka mampu mencapai jenis undead tingkat tinggi seperti death guardian, true vampire, berserker, dullahan, atau bahkan daywalker dan undead king. Namun, setidaknya butuh puluhan ribu tahun untuk mencapai tingkatan itu secara alami.
Di masa lalu aku bahkan melawan Undead God sampai dia mati. Pada saat bersamaan, Seven Deadly Sins menghadapi pasukannya yang dipimpin oleh dua daywalker. Hasilnya kami menang dengan penuh luka dan kehilangan begitu banyak pasukan. Mereka itu musuh yang paling merepotkan selain Heaven Dragon God, Deka Logos, dan Hestia.
Aku harus mencoba untuk mencari asal-usul kelahiran undead yang baru saja kutemui dan memastikan tidak ada undead lain yang terlahir. Memang mereka bukan merupakan ancaman bagi rencanaku untuk merebut takhta ketuhanan. Namun, di masa lalu berbagai undead sering menghalangi jalanku untuk menguasai dunia ini. Walau bagaimanapun, aku tidak boleh membiarkan para undead berkembang menjadi jauh lebih kuat dari sekarang.
Berpegang teguh pada apa yang kuyakini, aku melangkah menuju Guild Petualang dan memberikan beberapa kantong tanaman obat yang kubawa. Hasil dari pendapatanku dalam menyelesaikan quest ternyata cukup banyak. Jadi, aku membaginya dan memberikan setengahnya pada Hellen dan Gabriel untuk menutupi biaya pengobatan mereka. Awalnya mereka berdua menolak, tetapi aku memaksa. Hal ini kulakukan agar hubungan di antara kami semakin erat.
Sisa hari kuhabiskan untuk menjalani quest lain di desa-desa terdekat sekaligus mengumpulkan informasi mengenai kemunculan undead. Hellen dan Gabriel yang semakin membaik juga pada akhirnya ikut bersamaku untuk membantu menyelesaikan quest. Tentu saja aku tidak menceritakan mengenai undead pada siapa pun termasuk mereka berdua.
Hari-hari yang kami habiskan dengan quest tidak terasa membuat aku, Hellen, dan Gabriel mampu menaikan rank kami masing-masing. Sekarang kita bertiga sama-sama berada pada rank C. Tentu saja hal ini juga memengaruhi rank kelompok kami yang awalnya berada pada rank steel kini telah naik menjadi silver.
Pada hari kelima, Guild Master mengundangku untuk bertemu secara pribadi. Aku merasa heran dan cukup khawatir dengan pertemuan mendadak yang dia ajukan. Namun, saat kami bertatap muka, dia hanya membahas tentang Hellhound dan Archdemon. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia mencurigai Alma tentang suatu hal.
Ternyata selama ini Guild Master terlalu sibuk untuk menghadiri pertemuan dengan Grand Master Guild di ibukota sebagai akibat dari kemunculan Hellhound di wilayah ini. Pantas saja dia tidak pernah menyambut kami sekali pun saat Alma dipromosikan menjadi petualang tingkat atas.
Pada hari keenam akhirnya orang yang sudah aku tunggu-tunggu datang juga. Dia tidak lain adalah seorang wanderer yang juga menjabat sebagai salah satu dari Enam Pendeta. Namanya sangat terkenal di kalangan manusia sampai pada tahap dimana anak kecil dari wilayah kumuh juga sudah tidak asing lagi dengan nama itu. Ya ... dia adalah Robbert.
Lelaki itu datang bersama dengan Carmen. Mereka melewati lubang dimensi tepat dimana aku dan Alma menyewa sebuah kamar. Awalnya aku merasa heran kenapa mereka tidak menyuruh kami ke kuil dan malah repot-repot datang kemari. Namun, aku menyadari alasannya beberapa saat setelah kemunculan kedua pendeta itu.
Mungkin mereka melakukan ini untuk menghindari keributan yang akan terjadi di kota. Karena dia sangat terkenal, aku yakin sosoknya akan menjadi pusat perhatian jika berita tentang kunjungannya ke Trowell menyebar. Berkebalikan dengan Robbert, Carmen sepertinya tidak cukup dikenal oleh orang-orang. Sungguh gadis yang malang.
"Benar-benar luka yang mengerikan."
Robbert menilai keadaan Alma yang masih terbaring seperti sebelumnya tanpa ada perubahan. Dia menatapnya sangat dekat, beberapa kali menyentuh topeng yang Alma pakai dan mengusapnya perlahan.
Pendeta itu menjelaskan sihirnya terlebih dahulu kepadaku. Dia mengatakan bahwa apa yang akan dipakainya adalah sebuah sihir pembalik waktu. Tergantung berapa banyak mana yang dia gunakan, durasi dari pembalikan waktu bisa dilakukan hingga dua minggu ke belakang. Namun, efek dari masa tenang sihir ini akan semakin lama seiring semakin banyaknya mana yang dia gunakan.
Kemampuannya memang cukup merepotkan, tetapi dia hanya bisa menggunakannya paling cepat sekali dalam seminggu. Menyadari hal itu membuatku tidak terlalu khawatir jika suatu saat aku harus menghadapinya.
Sihir yang akan digunakan oleh Robbert adalah sesuatu yang mungkin juga mengirimku ke masa lalu. Hanya saja, tingkatan dari sihirnya tidak cukup kuat untuk sampai merobek takdir. Jadi, aku masih sedikit meragukannya.
"Wahai engkau yang melahap masa lalu atas perintah dari Sang Pencipta, aku, Sang Penyembah yang setia kepada Hestia Sang Dewi Cahaya, memohon padamu untuk mengabulkan permintaan kecilku."
Robbert mulai merapalkan mantra yang digunakan olehnya. Jujur saja, aku agak heran dengan bagaimana cara dia mengaktifkan mantra suci tanpa katalis. Apakah dia memiliki organ yang memungkinkannya untuk menggunakan mantra suci? Atau jangan-jangan dia adalah salah satu dari penghuni langit yang turun ke dubia fana melalui kontrak. Aku benar-benar tidak punya petunjuk tentang lelaki ini.
"Reverse!"
Berkas cahaya samar yang menyelimuti tubuh rusak Alma adalah konsentrasi dari mantra suci yang mengkonsumsi mana jenis cahaya. Dilihat dari seberapa kental mana yang terkumpul di sana membuatku yakin bahwa butuh terlalu banyak kekuatan untuk mengaktifkannya. Mantra ini tampak sangat tidak efisien.
Awalnya tidak ada apa pun yang terjadi pada Alma. Kurasa hal ini terjadi karena seminggu sebelumnya memang tidak ada perubahan sama sekali. Jadi, kemunduran yang dilakukan oleh mantra ini jelas tak akan mengubah apa pun. Efeknya akan terlihat setelah melewati minggu kedua.
Beberapa menit kemudian perubahan mulai terlihat. Tubuhnya yang rusak berangsur menyembuhkan diri. Kulit dan ototnya mulai menutup, seakan luka-luka yang diderita olehnya selama ini tidak pernah ada. Dia sembuh dengan sangat baik.
Tidak sadar aku menghela napas merasa lega. Akhirnya aku bisa kembali ke rencana awalku setelah seminggu ini tidak dapat melakukan apa-apa. Tepat pada saat aku merasa semuanya sudah dalam kendali, bahu tangan kiri Alma tiba-tiba hancur hingga terlepas. Lukanya bahkan mengoyak daging dan tulangnya begitu parah.
Tentu saja aku panik dengan kejadian tidak terduga itu.
"Hei apa yang terjadi?!" Aku meninggikan suaraku, merasa khawatir dengan apa yang kulihat.
Apakah sihirnya gagal?!
"Tenanglah." Karena Robbert masih berkonsentrasi dengan sihirnya, Carmen menggantikan dirinya untuk menjelaskan. "Reverse adalah pembalikan waktu. Adikmu mungkin mengalami luka ini sebelumnya dan telah menyembuhkannya sebelum kembali mengalami luka."
Hanya kata-kata seperti itu yang diucapkan oleh Carmen untuk menjelaskan fenomena aneh yang terjadi di hadapan kami.
Awalnya aku tidak terlalu memahaminya. Namun, setelah kupikir secara mendalam, aku akhirnya dapat mengerti walaupun hanya sedikit.
Mungkin Archdemon melukainya begitu parah ketika mereka bertemu di Desa Orc. Lalu, makhluk itu berhasil memotong tangan kiri Alma sanpai putus. Setelahnya, Alma pasti menggunakan mantra regenerasi untuk menyambungkan kembali tangannya. Jadi, tidak aneh jika mantra pembalik waktu membatalkan mantra regenerasinya hingga mengakibatkan luka Alma terbuka lagi.
Mereka bilang bahwa Alma sudah dalam keadaan baik dan cepat atau lambat dia pasti bangun.
Setelah menghentikan mantranya tepat pada saat tubuh Alma sembuh dari segala luka, kami bertiga duduk secara berhadapan. Aku menduduki sebuah kursi kayu yang tersedia di kamar ini sementara Carmen dan Robbert di atas tempat tidurku. Yah mau bagaimana lagi, kamarku hanya memiliki satu kursi.
"Kudengar adikmu menggunakan sejumlah besar kekuatan iblis untuk membunuh Archdemon."
Robbert membuka pembicaraan di antara kami. Kedua bola matanya memandangku dengan tajam layaknya seekor predator yang siap menerkam mangsanya. Jujur saja tatapan itu membuatku sedikit khawatir.
"K-kurasa begitu." Aku menjawab pertanyaannya dengan agak gugup.
Seharusnya melawan salah satu dari enam pendeta bukan masalah bagiku. Jadi, jika dia memutuskan bahwa kami adalah musuh, entah bagaimana aku pasti bisa melarikan diri atau menghancurkannya. Namun, berdasarkan apa yang terjadi pada Alma ketika dia menggunakan sedikit kekuatannya, hal yang sama juga mungkin akan menimpa tubuh manusiaku. Total kekuatan yang kumiliki akan meleburkan tubuhku sendiri sampai hancur. Benar-benar kematian yang tidak lucu.
Mendengar jawabanku, Robbert menghela napasnya untuk beberapa saat sebelum kembali berbicara padaku.
"Tingkat iblis macam apa sebenarnya yang melakukan kontrak dengan gadis malang ini?"
Aku terdiam dengan keringat dingin yang mengalir. Jika mereka tahu bahwa iblis tingkat acient berada di dalam tubuhnya sementara iblis terkuat yang berhasil termanifestasi ke dunia fana sekarang ini hanya setingkat Demon Lord, sudah pasti mereka akan membunuhnya tanpa menilai apakah Alma dapat mengendalikannya atau tidak.
Walau bagaimanapun, aku tidak boleh membiarkan mereka tahu bahwa di balik tubuh Alma adalah Acient Demon Fiora.
"Yah ... selama dia dapat mengendalikannya," Robbert bangkit dari duduknya sebelum melanjutkan kata-katanya, "kurasa tidak akan ada masalah."
Tampaknya diamnya diriku dinilai sebagai ketidak tahuan oleh orang ini. Syukurlah dia tidak terlalu banyak menaruh perhatian padanya.
"Carmen, buka gerbang menuju kuil. Aku akan mengurus laporan mengenai ini kepada Demigod."
Menanggapi ucapan dari Robbert, sebuah lubang dimensi kembali terbuka di dalam kamar ini. Robbert mulai melangkah mendekati lubang tersebut dengan tangan kanan yang melambai ke arahku. Namun, tepat sebelum dia menghilang, lelaki itu berbicara ke arahku untuk terakhir kalinya.
"Saat Demigod tahu bahwa dia menyimpan iblis setingkat archdemon, beliau pasti akan mempercepat lisensinya. Kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat."
Lelaki itu melangkah masuk ke dalam lubang dimensi tanpa menunggu respon dariku. Kemudian, retakan tersebut mulai pecah dan hilang tanpa meninggalkan jejak apa pun.
Kini di ruangan hening yang kami tempati hanya ada aku, Alma yang masih terbaring tidak sadar, serta Carmen yang duduk di atas tempat tidurku. Gadis berambut cokelat itu menatapku sebelum menyunggingkan senyum yang sedikit membuatku merasa tidak nyaman.
"Tenang saja. Aku tidak akan mengatakan pada siapa pun bahwa iblis yang ada dalam tubuhnya adalah Fiora."
Aku tersentak kaget saat dia mengatakan itu. Luapan kekhawatiran seakan menelan tubuhku sekaligus. Kali ini aku benar-benar merasa sedikit takut.
Dia tahu tentang Fiora. Tapi bagaimana bisa?! Apa aku harus membunuhnya di sini? Tidak, tidak ... walau terlihat lemah, membunuh seorang pendeta kuil pastinya tidak akan mudah.
"A-apa maksudmu?" Aku memutuskan untuk berlagak bodoh di depannya.
"Jadi kau tidak tahu? Bukankah Archdemon mengatakannya sebelum dia mati? Monster itu mengatakan sesuatu tentang Fiora."
Monster rendahan sialan itu?! Bahkan sebelum mati saja dia masih sempat membuat masalah untukku! Kita lihat saja, setelah Alma sadar aku harus bertanya nama dari iblis sampah itu dan akan kuingat selalu namanya sampai kami bertemu lagi di neraka. Tepat pada saat kita bertemu lagi, aku akan siksa dia sampai mati berkali-kali!
"Mungkin kau tidak tahu. Namun, semua orang dari kelas pendeta pastinya paham betapa berbahayanya Fiora. Dia adalah iblis yang menempati urutan kesembilan paling berbahaya setelah Demon God dan Seven Deadly Sins. Kalau dunia tahu Fiora ada di dalam tubuh kecil itu, Enam Pendeta pasti akan menargetkannya."
Benar-benar tidak bagus. Aku sudah terpojok. Kalau sampai informasi ini bocor, bukan hanya keselamatan Alma yang terancam, tetapi aku juga akan mengalami banyak kerugian.
"Tapi tenang saja." Tampaknya Carmen menyadari kehawatiranku. "Aku sudah berbicara dengan Hellen sebelumnya untuk merahasiakan itu dan aku juga tidak akan membuka mulut."
Hellen? Ah ... dia juga ada di tempat kejadian saat archdemon melawan Alma. Tentu saja dia juga pasti tahu tentang siapa sosok Alma sebenarnya.
"Baiklah, ini perpisahan di antara kita. Mungkin kita tak akan bertemu lagi dalam waktu dekat."
Carmen kembali membuka lubang dimensi di dalam kamarku. Dia bangkit dari tempat tidurku dan mulai berjalan mendekati lubang dimensi yang diciptakannya beberapa saat lalu. Namun, sebelum dia benar-benar masuk ke dalam, aku berbicara kepadanya.
"Tunggu dulu!" Carmen berhenti tepat di depan lubang dimensi setelah mendengar ucapanku.
"Kenapa kau membantu kami?" Jujur saja aku tidak begitu mengerti dengan jalan pikiran gadis ini hingga membuatku penasaran.
"Sederhana saja. Aku tidak mau jika Demigod menyuruhku untuk melawan Acient Demon Fiora. Nyawaku jauh lebih berharga. Bahkan jika manusia dilenyapkan, aku sama sekali tidak peduli. Hal yang penting bagiku hanyalah menghindari konflik sebanyak mungkin."
Dia memasuki lubang dimensi tepat setelah kata-katanya berakhir.
-----
Minggu, 22 September 2019
Pukul 05:20 PM
Note: Selanjutnya kita akan memasuki Arc baru dan tempat baru. Musuh juga akan memulai pergerakannya. Sudah sekitar 57% progress menuju selesainya volume satu dari reverse. Kalau kalian tidak keberatan, tolong like projek ini di mangatoon dengan judul yang sama. Syukur-syukur disertai ngasih tip :3
Oya ku baru selesai baca WN Aphoteosis of a Demon karya Haru no Hi. Karya Reverse sebenarnya terinspirasi salah satunya dari WN berjudul Akuma Koujo dimana author-nya adalah Haru no Hi juga. Kalo kalian suka demonic loli dengan MC antihero, kedua WN buatan Haru no Hi sangat kurekomendasikan.
Riwayat Penyuntingan :
• 23 September 2019