RE:Verse

RE:Verse
Tambahan II Berpisah



Lilly tidak pernah berharap bahwa hari seperti ini akan tiba. Dia menghabiskan waktunya di sebuah toko pakaian mewah di ibukota. Pada awalnya penjaga toko memang keberatan karena Sang Tuan membawa budak menyedihkan seperti dirinya ke dalam, tetapi 12 koin emas yang dibayarkan oleh tuannya langsung menutup mulut pemilik toko rapat-rapat.


Dia membebaskan Lilly untuk memilih pakaian yang diinginkannya. Selain itu, bahkan sepatu dan aksesoris bukanlah pengecualian. Segala pernak-pernik dan pakaian yang mahal dibelikan untuknya tanpa keraguan.


Penghentian selanjutnya adalah restoran besar yang hanya menyediakan makanan mewah. Sama seperti sebelumnya, kali ini tuannya mengeluarkan 20 koin emas untuk menyewa satu ruangan pribadi di lantai dua dan menghabiskan waktu cukup lama bersamanya. Mereka juga sempat berbagi cerita layaknya hubungan antara teman.


Seumur hidupnya, perlakuan baik seperti ini belum pernah dia alami. Ketulusan yang terpancar dari wajah tuan barunya bahkan berada pada tahap yang mengagumkan. Dia sama sekali tidak melihat setitik pun emosi jijik dari majikan barunya.


"Tunggulah sampai malam. Kita akan bertemu dengan seseorang yang bisa menyembuhkanmu." Majikannya tersenyum sekali lagi, tetap ramah kepadanya.


Lilly mengangguk sebagai jawaban.


Sebenarnya dia merasakan sedikit perasaan aneh yang tidak wajar ketika dirinya berada di dekat lelaki yang menjadi tuan barunya itu. Wajahnya memang menunjukan kehangatan dan perlakuannya begitu baik, tetapi semua hal yang dilakukan olehnya menampakkan kesan kosong yang samar. Dia seperti melihat sesuatu yang tidak berjiwa di balik tubuh ramah dan hangat itu. Lilly tidak tahu kenapa dia merasakannya, tetapi dirinya yakin bahwa tuan barunya pasti memiliki jalan hidup yang mirip. Sifat apatis dan kosong yang terpancar di balik senyuman ramah itu pastilah hasil dari penderitaan terus-menerus.


Mungkin Sang Tuan membelinya karena dia ingin menghentikan penderitaan orang-orang yang tidak beruntung. Mungkin dia termotivasi oleh masa lalunya dan bertujuan untuk membebaskan para budak. Jika alasan di balik tindakannya adalah sesuatu seperti itu, maka Lilly siap menyerahkan segalanya demi mewujudkan impian mulia tersebut.


Saat menjelang malam, mereka masuk ke dalam sebuah penginapan mewah. Sang Tuan memesan dua kamar mahal di lantai dua dan menyuruh pelayan penginapan agar mempersiapkan air hangat untuk mandi. Kemudian, mereka berdua berjalan menuju kamar yang telah dipesan.


Ketika Sang Tuan membuka salah satu pintu di sisi lorong, Lilly langsung dapat melihat ruangan mewah di balik pintu itu. Namun, ada sesuatu yang janggal dengan kamar yang mereka masuki.


Sebuah karpet berbulu menghampar tepat di samping tempat tidur. Di atas karpet yang terlihat sangat lembut itu, dua buah belati hitam, sebuah topeng logam aneh, dan sebilah pedang tergeletak begitu saja. Selain itu, di atas tempat tidur mewah yang terlihat empuk, seorang gadis dengan warna rambut segelap langit malam tanpa bintang terbaring nyenyak, tampak tertidur dengan pulas.


"... ma ... ma ..."


Gadis itu bergumam samar. Kelihatannya sedang memimpikan sesuatu dan mengigau.


Lilly berpikir apakah mereka salah memasuki kamar ataukah gadis itu menyelinap ke kamar yang mereka sewa tanpa sepengetahuan pihak penginapan. Namun, saat Sang Tuan berbicara, dia tahu bahwa majikannya membawa Lilly ke penginapan ini bukanlah tanpa alasan.


"Bangunlah sebentar, aku butuh bantuanmu."


Hanya dengan kalimat dingin tanpa nada keramahan yang sebelumnya selalu dia tunjukan, gadis berambut hitam itu segera membelalakan mata dan melompat dari tempat tidurnya. Dia kelihatan terkejut dan panik dengan kedatangan keduanya yang tiba-tiba, tetapi raut wajah datarnya sama sekali tidak menunjukan emosi.


Sebelumnya Sang Tuan telah menjelaskan bahwa pengobatan yang akan dijalaninya merupakan sihir kutukan. Dia sudah diperingati bahwa sebagai bayaran atas kesembuhannya, rasa sakit yang akan dideritanya selama pengobatan sangat tidak tertahankan. Namun, walau sudah mendengarkan hal ini, tekadnya untuk sembuh tidaklah padam. Jadi, saat gadis itu memakai topeng hitam yang sebelumnya tergeletak begitu saja dan mulai merapalkan mantra, Lilly bersiap untuk menerima segala efek sampingnya.


Persis seperti apa yang dikatakan tuannya, sensasi panas yang seakan membakar tubuhnya terasa di mana-mana. Dia juga merasakan ribuan jarum panas menusuk bola matanya berulang kali, seakan berusaha untuk mencungkil matanya yang sebenarnya sudah rusak sejak lama. Telinganya terasa seperti disirami logam panas dan melelehkan segalanya.


Lilly menjerit dengan rasa sakit yang belum pernah dia alami sebelumnya. Penyiksaan yang dia terima selama ini bahkan bukanlah tandingan dari mimpi buruk yang sedang dialaminya. Gadis itu berteriak sampai pita suaranya hancur, berusaha bertahan dalam keputusasaannya.


Hanya lima menit waktu telah berlalu di antara mereka. Sihirnya mulai memudar diikuti rasa sakit yang mulai menghilang. Perlahan Lilly kembali ke dalam kesadarannya, mendapati dirinya terbaring begitu saja di lantai kayu penginapan. Kemudian, dia mulai sadar sepenuhnya bahwa penglihatannya menjadi jauh lebih baik. Bahkan rasa sakit dari luka-lukanya yang belum mengering kini sudah hilang sepenuhnya.


Dia tahu bahwa tubuhnya pastilah sudah pulih sepenuhnya.


Sebenarnya, walaupun dia cukup menderita selama menjalani proses penyembuhannya, Lilly ingin mengucapkan terima kasih kepada gadis yang telah menyembuhkannya. Namun, wajahnya yang datar kini dihiasi dengan pandangan mata yang begitu tajam. Perubahan pandangannya terjadi tepat setelah dirinya mengetahui bahwa Lilly adalah half-elf, persis seperti pandangan jijik dan merendahkan yang biasa orang lain tunjukan kepadanya.


Pada akhirnya, hanya Tuan yang menganggapku sederajat.


Lilly mengeluh di dalam hatinya, tetapi tidak berani berkata-kata. Dia memutuskan untuk segera menjalankan perintah tuannya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Setelah itu, tuannya mendatangi kamarnya dan membicarakan tentang perjalanan yang akan mereka lakukan besok.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah melakukan checkout dan memesan tiket untuk memasuki wilayah bangsawan. Pada awalnya Lilly ragu apakah budak sepertinya akan diizinkan untuk masuk ke wilayah tersebut atau tidak. Namun, tuannya menenangkan dan memastikan bahwa dirinya bisa masuk tanpa ada masalah.


Setelah memasuki wilayah bangsawan, mereka berganti ke kereta yang lebih mewah.  Berdasarkan lambang yang terukir pada bagian samping kereta yang sama persis dengan lambang bendera kerajaan, Lilly langsung tahu bahwa kereta ini bukanlah kereta bangsawan biasa, melainkan kereta milik keluarga kerajaan.


Dia agak terguncang dengan fakta bahwa dirinya memiliki kesempatan untuk menaiki kereta yang seorang ksatria sekalipun belum tentu pernah merasakannya. Terlebih lagi, sebenarnya siapa sosok asli dari tuan barunya sehingga dia bisa membawa seorang budak bersama dengannya ke dalam kereta seperti ini. Lilly semakin penasaran dengan identitas lelaki di hadapannya.


"Tuanku, ke mana kita akan pergi?" Tidak tahan dengan semua pertanyaan yang mendatanginya, Lilly mencoba untuk memulai pembicaraan.


Sang Tuan tersenyum ramah seperti biasanya, memegang tangan kanan Lilly dan mengecupnya ringan.


"Aku akan membawamu ke tempat yang indah. Jadi, tunggulah dengan sabar."


Setelah menyelesaikan kata-katanya, dia melepaskan tangan kanan Lilly dengan lembut. Gadis itu tersipu dengan kehangatan lelaki di hadapannya. Namun, saat dia sadar tentang statusnya yang hanya sebagai budak dan fakta bahwa tuannya memiliki kenalan gadis lain yang bahkan bisa mengobati luka serius, Lilly membuang segala pemikirannya jauh-jauh.


Mereka terus melalui jalan utama wilayah bangsawan, melewati mansion-mansion megah dengan taman indah yang mengelilinginya. Kemudian, setelah menaiki kereta sekitar dua jam lebih, mereka mulai memasuki gerbang megah berlapis emas.


Para penjaga membungkuk hormat, tidak menghentikan kereta mewah yang mereka naiki. Beberapa prajurit bahkan mulai mengawal mereka menuju jalanan batu di antara taman bunga yang luas dan tampak terawat dengan baik.


Lilly menelan ludahnya sendiri beberapa kali saat memandangi taman di sekitarnya. Selama hidupnya, ini adalah pertama kali baginya untuk melihat sesuatu yang luar biasa seperti ini. Dia bahkan mulai lupa dengan segala sesuatu yang sedang terjadi di sekitarnya sampai Sang Tuan dengan lembut menuntunnya untuk turun.


"Kelihatannya kau datang cukup terlambat, ya?"


"Alma menginap cukup jauh dari kastil. Keterlambatan tidak bisa saya hindari." Tuannya membalas dengan kata-kata yang dingin, berbeda sekali dengan nada yang selama ini digunakan kepadanya. "Apakah Yang Mulia ada?"


"Ikuti aku, beliau sudah menunggu sejak pagi."


Wanita di hadapan mereka mulai berbalik dan berjalan menuju salah satu bangunan paling megah yang bisa Lilly lihat bahkan sejak dia pertama kali memasuki gerbang wilayah ini. Dia juga bisa melihat banyaknya prajurit dan pelayan yang berjalan, sibuk dengan urusannya masing-masing.


Jika dibandingkan dengan mansion bangsawan yang pernah dia tempati, wilayah ini puluhan kali lipat lebih megah. Selain itu, orang-orang yang berada di dalam juga sangat ramai. Sudah jelas bahwa pemiliknya pastilah bukan bangsawan biasa.


"Ah, aku lupa." Ketika Lilly masih tenggelam dalam lamunannya, Sang Tuan tiba-tiba berbicara pelan ke arahnya. "Kita akan bertemu dengan Yang Mulia Raja. Jadi, kuharap kau bisa menyesuaikan sikapmu."


Yang Mulia Raja?!


Lilly sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh tuannya. Dibandingkan dengan bangsawan biasa, bangsawan dimana darah keluarga kerajaan mengalir di dalam tubuhnya tentu saja bukan orang yang sembarangan. Sedikit saja membuat kesalahan, dia tahu bahwa kepalanya akan langsung tertancap pada tiang di tengah alun-alun kota. Terlebih lagi, orang yang akan dihadapinya sekarang merupakan pemimpin dari negeri ini, sosok raja yang menjadi pusat kendali segala perintah.


Tidak sadar tubuhnya mulai gemetar karena khawatir.


"Memberi tahukan kedatangan Petualang Yehezkiel!"


Suara lantang ksatria wanita di depan mereka membuat Lilly sedikit tersentak karena terkejut. Dia segera membuang jauh-jauh ketakutannya dan berusaha untuk tetap fokus. Kesalahan sekecil apa pun tidak boleh sampai terjadi. Jika tidak, mereka pasti akan kehilangan kepala.


Saat pintu ganda terbuka dan mereka mulai berjalan masuk ke dalam ruangan, Lilly menundukan kepalanya. Menurutnya, budak tidak seharusnya menatap seorang penguasa hebat yang memerintah kerajaan besar. Jadi, dia terus menunduk dan mulai berlutut, mengikuti cara tuannya memberikan penghormatan mendalam.


"Aku terkejut kau benar-benar membawanya!"


Suara penuh antusias yang muncul terasa tidak asing oleh Lilly. Dia seperti pernah mendengarnya di suatu tempat. Namun, kemiripan sebuah suara sering kali dialami oleh orang-orang. Jadi, Lilly tidak mau mengambil kesimpulan apa pun.


"Saya membawanya kemari sesuai dengan perintah Anda, Yang Mulia." Tangan kanan Sang Tuan memegang kepalanya sebelum melanjutkan kata-katanya. "Lilly. Sebagai tuanmu, aku memerintahkanmu untuk mengikuti perintah Yang Mulia Raja tanpa terkecuali."


Gadis itu tersentak dengan kata-kata majikannya. Dia tidak pernah berpikir sekalipun bahwa lelaki muda yang kini berlutut sedikit di depannya akan memberikan perintah seperti itu.


Kalimatnya bisa diartikan sebagai ritual penyerahan budak. Ucapan majikan merupakan perintah yang akan langsung direspon oleh kalung budak yang mengikat lehernya. Jadi, saat Sang Majikan memerintahkan untuk mengikuti perintah orang lain, secara otomatis kalung budaknya akan merespon dan mengatur ulang majikan yang baru. Tentu saja tidak semua kalung budak memiliki metode praktis seperti ini.


Setelah kata-katanya, Lilly diperbolehkan untuk mengangkat kepalanya dan kembali dikejutkan saat menatap majikan barunya. Dia melebarkan pandangannya diikuti dengan rasa takut yang mulai merasuk ke dalam pikirannya.


Sosok raja yang disebutkan oleh majikan sebelumnya adalah bangsawan yang beberapa bulan lalu menyiksanya dan menjualnya setelah sekarat. Seringai dan suaranya sangat identik. Jadi, Lilly tidak mungkin salah dalam menilai seseorang di hadapannya.


"Tu-tuan ... orang ini adalah bangsawan yang telah menyiksaku ... " Lilly mencicit seperti tikus, berusaha memeras semua keberaniannya untuk mengadu kepada mantan majikannya.


Jauh di lubuk hatinya, Lilly berharap bahwa tuannya akan menolongnya lagi, sama seperti saat dia menolongnya dari penjara pedagang budak. Walaupun begitu, dia tahu persis bahwa lawannya kali ini adalah seorang penguasa negara. Bahkan setelah mengetahui penyiksanya selama ini, Lilly tahu bahwa mantan tuannya tidak mungkin dapat berbuat banyak. Namun, jawaban yang dia dengar seakan meruntuhkan segalanya.


"Aku bukan tuanmu lagi. Sekarang pergilah."


Lelaki itu berbicara dengan nada yang dingin dan tanpa emosi. Kehangatannya selama satu hari terakhir benar-benar tidak tersisa, membuat Lilly merasa bahwa sosok di hadapannya telah berubah.


"Ta-tapi ... Anda menyelamatkan saya." Giginya gemetar, tetapi Lilly tidak ingin menyerah begitu saja. Dia berusaha untuk memahami situasinya sekarang.


"Inilah sebabnya saya tidak ingin melakukan ini sejak awal." Ucapan mantan majikannya tidak ditujukan kepada Lilly, melainkan pada Yang Mulia Raja di depan mereka. "Menipu seseorang bukanlah kesenangan saya. Setelah ini, saya tidak akan menerima permintaan untuk memperbaiki boneka Anda yang telah Anda rusak lagi. Jujur saja, itu merepotkan dan sangat menguras waktu."


Kalimatnya membuat Lilly tidak bisa berkata-kata. Sekarang sudah cukup jelas. Mantan majikannya bahkan tidak memandang Lilly sebagai makhluk hidup. Gadis itu tenggelam dalam kesedihan dan rasa sakit akan pengkhianatan saat tubuhnya diseret pergi meninggalkan ruangan itu, dilemparkan ke dalam salah satu penjara di bawah tanah kastil. Sampai akhir, dia tidak melihat sedikit pun rasa menyesal di wajah mantan tuannya.


Saat malam tiba, penyiksaan yang sudah dia prediksi sebelumnya benar-benar terjadi. Ketika majikan barunya datang dengan berbagai macam peralatan, dia tahu bahwa mimpi buruknya akan terulang lagi. Namun, gadis itu sudah kehilangan emosinya dan mengacuhkan pihak lain. Semangat hidupnya seakan menguap begitu dia dikhianati.


Seakan tidak peduli dengan penderitaan Lilly,  majikan barunya memerintahkan dirinya untuk memotong salah satu tangannya sendiri. Tentu saja Lilly tidak bisa menolak perintah. Jadi, dengan tangan kanan gemetar yang sedang memegang pisau, dia mulai menusuk tangan kirinya.


Lilly menjerit disertai dengan isak tangis karena tak kuasa menahan rasa sakit yang diderita olehnya. Namun, kalung budaknya tidak membiarkan dirinya untuk mencabut pisau itu. Di tengah tangisannya yang memilukan, gadis itu terus merobek tangan kirinya hingga benar-benar terpisah dari tubuhnya.


Hingga menjelang pagi, siksaannya tidak pernah berhenti. Pandangan matanya kini benar-benar gelap dan kedua telinganya sudah tidak dapat mendengar. Dia bahkan sudah kehilangan semua kaki dan tangannya beberapa jam yang lalu. Jadi, apa yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah terbaring tak berdaya.


Rasa sakit di sekujur tubuhnya terasa seakan membakar. Namun, kesadarannya tidak pernah membiarkan Lilly untuk pingsan. Darahnya yang terus mengalir juga tidak membuatnya mati karena kehabisan darah.


Ketika rasa sakitnya mulai mereda karena tidak ada siksaan lebih lanjut selama satu jam terakhir, kulit lehernya mulai merasakan sengatan panas yang tajam. Sensasi perih itu mulai menyebar dengan cepat, membuat Lilly kesulitan untuk bernapas. Dia terbatuk, tetapi udara malah keluar melalui lehernya yang tergenang oleh darah. Kemudian, segala rasa sakitnya perlahan mulai berubah menjadi sensasi dingin yang aneh. Pandangannya semakin gelap, mengantarkannya untuk mengakhiri penderitaan yang panjang. Kali ini dia benar-benar telah beristirahat di tempat pemberhentiannya yang terakhir.


------------------------


Note :


Selamat Tahun Baru 2020! Semoga mimpi kita tercapai di tahun ini \(•°/\°•)/