
Ketika ingin mengumpulkan informasi mengenai sebuah kota, bertanya langsung pada bangsawan feodal adalah cara yang paling cepat dan efisien. Biasanya, seorang baron akan dibantu oleh para bangsawan rendah yang memiliki status sebagai knight. Mereka dipilih berdasarkan kemampuannya dalam penegakan hukum yang berlaku untuk mengikat masyarakat agar terbentuk tatanan komunitas yang teratur.
Bertanya pada salah seorang knight yang ditugaskan untuk memimpin pos penjagaan seharusnya menjadi salah satu cara paling mudah. Namun, jangankan knight, tidak ada seorang penjaga pun di sana. Ditambah lagi, kedaan kota saat ini benar-benar terlihat suram dan sulit untuk menemui prajurit Orde Cromwell.
Pemandangan yang dilihatnya kian parah seiring semakin dalam dia melangkah. Bahkan beberapa bangunan kayu terlihat sudah hancur dan rata dengan tanah. Bercak-bercak darah mengering di jalanan batu yang dia lewati menambah rasa gelisahnya. Apalagi sampai sekarang Carmen belum bertemu dengan seorang pun kecuali pasangan aneh beberapa waktu lalu.
Pada akhirnya, setelah yakin dengan pasti keadaan bangunan kota dan tidak adanya orang di sana, Carmen memilih untuk langsung datang ke kediaman Baron Cromwell tanpa mempertimbangkan tentang izin sama sekali. Menurutnya, dalam keadaan genting seperti ini, memperoleh izin sama sekali tidak diperlukan.
Jarak dari gerbang menuju mansion sekitar dua jam jika ditempuh dengan berjalan kaki. Sedangkan kereta kuda yang biasanya bisa kau temui di mana pun tampaknya tidak ada yang beroperasi. Mereka bahkan mungkin sudah musnah di kota ini.
Bermasalah dengan jarak dan sedikitnya waktu yang dia miliki, Carmen pada akhirnya memutuskan untuk menggunakan gate. Gadis itu tidak perlu khawatir akan menarik perhatian dengan sihir unik miliknya karena tidak ada orang lain di sana.
Namun ...
"Maaf untuk mengatakan ini, tetapi tuan kami sedang tidak ada dan kami dilarang untuk membawa seseorang masuk."
Seorang lelaki muda --di antara banyaknya prajurit yang ada di sana-- dengan armor perak menunduk hormat sebagai permintaan maaf. Dia membawa tombak yang dilengkapi dengan lambang Keluarga Cromwell serta menggantungkan sebuah pedang satu tangan di samping pinggang kirinya. Rambut cokelatnya yang sedikit berantakan membuat Carmen merasakan ketidak cocokan dengan kerapian seragamnya.
"Raja sendiri yang menyuruhku untuk datang. Ke mana dia pergi?"
"Maafkan saya. Namun, tuan saya melarang kami untuk memberi tahukanya pada raja sekalipun."
Prajurit orde adalah mereka yang loyal kepada bangsawan yang memimpin suatu wilayah. Mereka bukanlah orang-orang yang akan mematuhi perintah kerajaan secara langsung. Pusat komando harus melalui bangsawan itu sendiri untuk menggerakan sebuah orde. Loyalitas seperti ini merupakan harga diri tertinggi seorang prajurit. Jadi, meski seorang bangsawan rendah sekalipun memerintahkan prajurit orde yang dipimpinnya untuk menyerang raja, kemungkinan besar mereka akan melakukannya dengan penuh kebanggaan walaupun sangat mustahil untuk menang.
Sistem pemerintahan cacat seperti inilah yang mengakibatkan Kerajaan Ignis mengalami perpecahan menjadi dua faksi yang sangat sulit untuk diselesaikan.
"Kalau begitu, panggilkan aku Kapten Orde Cromwell. Aku ingin bicara padanya."
Berbicara dengan salah seorang prajurit yang menjaga gerbang adalah hal yang sia-sia. Oleh karena itu, setidaknya Carmen ingin menemui Sang Kapten untuk mendiskusikanya. Gadis itu yakin bahwa Kapten akan mengerti dan bersedia untuk membagikan beberapa informasi tentang kota ini.
Sebenarnya dia bisa saja menerobos masuk ke dalam menggunakan gate-nya untuk melakukan pemeriksaan secara langsung. Walau bagaimanapun, perginya Sang Baron dari mansion ketika kotanya hancur berantakan terdengar sangat mencurigakan. Kemungkinan bahwa prajurit orde melakukan kudeta juga tidaklah nol. Namun, Carmen adalah tipe orang yang akan merasa bermasalah ketika menerobos tanpa izin. Jadi, dia mengurungkan pilihan tersebut dan memilih untuk berbicara pada perwakilan Orde Cromwell sebagai gantinya.
"Maaf karena terlambat memperkenalkan diri." Lelaki muda itu kembali menunduk sopan sebagai permintaan maaf sebelum melanjutkan kata-katanya. "Saya adalah Alexis von Cromwell, putra kedua Baron Cromwell. Saya kapten dari Orde Cromwell yang Anda cari."
Mendengar perkenalan diri yang begitu sopan, Carmen hanya menghela napas seraya menepuk keningnya. Dia sedikit bermasalah jika harus mengorek informasi dari seorang anak lelaki yang bahkan belum genap berusia dua puluh tahun. Bertanya padanya merupakan solusi yang tidak bagus. Kata-katanya dapat memicu penyerangan pasukan kerajaan ke tempat ini. Namun, gadis itu tidak punya pilihan lain. Setidaknya dia hanya akan menempatkan Alexis sebagai salah satu sumber informasi dari sekian banyak hal yang dapat dia pertimbangkan dan tidak akan menganggapnya sebagai seorang kapten.
"Bisakah kau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Saat Carmen menanyainya mengenai masalah ini, lelaki muda itu hanya memiringkan kepalanya seakan kebingungan. Carmen bahkan bisa melihat prajurit-prajurit lain mengalami kebingungan yang sama. Alih-alih menjawab pertanyaanya, Alexis malah balik bertanya.
"Apa yang Anda bicarakan?"
"Aku bertanya tentang keadaan kota ini yang hancur dan ke mana perginya orang-orang."
"Tuan kami mengelola tanah ini dengan baik. Tidak mungkin tempat ini hancur. Kami bahkan hidup dengan nyaman, benar bukan?"
Dia beralih menatap prajurit lain yang berdiri tak jauh darinya. Tanpa ada keraguan, dua orang prajurit di sekitar mereka mengangguk dengan pasti. Sangat jelas wajah mereka mengatakan bahwa hal ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.
Distrik bangsawan memang terlihat baik dan tidak ada tanda-tanda kehancuran. Sejauh apa pun Carmen memandang, tempat di sekitar mereka cukup indah untuk dinikmati. Hanya saja, selain para prajurit yang berlalu-lalang, gadis itu tak menemukan satu pun warga. Jelas dilihat dari mana pun, tentunya ada keanehan yang menyelimuti kota ini. Apalagi saat dia menatap raut wajah setiap prajurit yang merasa seakan tidak terjadi apa-apa.
"Tidak ada seorang pun warga di sini, kau lihat?"
Dia menegaskan dengan menunjukan pemandangan di sekitar mereka yang tampak sepi. Namun, bukan hanya Sang Kapten, semua orang yang berada di sana bahkan tidak merasakan kejanggalan itu sama sekali.
"Bukankah sudah jelas? Sebuah kota memang seharusnya damai seperti ini, 'kan? Apakah ada yang salah dengan kedamaian di sini?"
Jelas sekali ada yang salah dengan mereka. Tidak mungkin seseorang akan menganggap sebuah kota yang terkesan mati sebagai kota yang damai. Mereka pasti menyembunyikan sesuatu. Namun, berdasarkan nada dari kata-kata yang keluar dan raut wajah yang ditunjukan, sama sekali tidak memperlihatkan ciri-ciri yang mencurigakan.
Menggunakan pengetahuannya yang luas sebagai seorang pendeta, Carmen memikirkan kemungkinan terburuk yang cukup memiliki peluang. Rasa gelisah dan ketakutan yang dialami olehnya membuat Carmen langsung tiba pada kesimpulan paling buruk tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain yang lebih baik.
Apakah ada seseorang yang menggunakan mantra ilusi tingkat tinggi pada mereka? Tapi untuk apa?
Satu-satunya hal yang logis baginya hanyalah kemungkinan adanya penggunaan sihir ilusi. Dia sama sekali tidak mendeteksi adanya kebohongan pada diri Alexis sehingga membuang jauh-jauh pemikirannya tentang kudeta seorang anak kepada orangtuanya. Hanya saja, keuntungan macam apa yang didapat dari melakukan hal ini masih belum jelas. Gadis itu berpikir jauh semakin dalam.
Jika ingin kekayaan, seharusnya dengan mantra sehebat ini mereka bisa menyerang sebuah kerajaan kecil secara langsung. Selain itu, menyerang dengan strategi seperti ini sebetulnya sangat berisiko. Demigod tidak akan diam saja dan orang-orang seharusnya tahu akan hal ini.
Jelas alasan seperti itu tidak masuk akal. Sebuah perang tidak akan terjadi begitu saja hanya karena permasalahan satu wilayah kecil. Setidaknya mustahil akan terjadi di dunia dengan perjanjian ketat yang diatur oleh Sang Demigod secara langsung. Kemungkinan terburuk hanyalah pemusnahan Kota Agarten dan desa-desa di sekitarnya oleh Sang Raja.
"Maaf, apakah ada masalah yang mendesak sampai-sampai raja meminta bantuan kepada pihak ordo?"
"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya kebutuhan untuk inspeksi saja." Gadis itu memilih mengikuti alurnya terlebih dahulu untuk memastikan penilaianya. "Kapan terakhir kali kau ke gerbang barat?"
Setidaknya, sejauh yang Carmen tahu, tempat itu adalah yang paling parah mengalami kehancuran. Jika memang mereka pernah ke sana dalam waktu dekat dan tidak menyadari hancurnya tempat itu, dia yakin akan penilaianya mengenai mantra ilusi tingkat tinggi.
"Biar saya ingat terlebih dahulu." Alexis memandang langit beberapa saat sebelum kembali membuka mulutnya. "Mungkin sekitar sebulan yang lalu. Ada masalah di penjara bawah tanah dekat gerbang barat. Jadi, saya memutuskan untuk turun tangan."
"Masalah?"
"Mengenai hal itu, saya sudah berusaha mengingatnya sejak tadi. Namun, tidak ada sedikit pun yang saya tahu."
Sebuah masalah baru muncul sebulan yang lalu di penjara bawah tanah. Apa pun itu, seharusnya cukup krusial sampai-sampai seorang kapten harus datang ke sana secara langsung. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan masalah seperti itu hanya dalam kurun waktu yang singkat?
Carmen mengerutkan dahinya. Dia tahu beberapa mantra ilusi tingkat tinggi yang setidaknya membutuhkan sepuluh ahli sihir untuk menggunakannya. Semuanya hampir memiliki efek samping dimana target akan melupakan hal-hal tepat sebelum mantra itu mengenainya dan jumlah mana yang digunakan sampai bisa mengancam nyawa. Ada juga beberapa mantra gagal yang akan merusak ingatan seseorang dan menghancurkan mental mereka. Seharusnya hal itu dapat dihubungkan paksa dengan dua orang warga yang dia temui. Namun, Carmen khawatir bahwa ini hanyalah spekulasi dari pikiran negatifnya saja.
Aku harus mencari bukti lain.
"Terima kasih atas informasinya, aku akan pergi ke penjara bawah tanah untuk bertanya langsung pada para penjaga di sana."
"Biar saya antarkan Anda ke sana, Tuan Pendeta."
"Tidak perlu repot-repot. Kau masih memiliki tugas di sini, 'kan?"
Dia bermaksud untuk menggunakan gate miliknya. Walaupun banyak orang yang tahu bahwa Robbert bisa muncul di mana saja, tetapi tidak ada yang mengira bahwa dialah sumber dari gate itu sendiri. Untuk melindungi dirinya yang lemah dari incaran orang-orang jahat ketika tidak bersama Robbert, Carmen tidak mau terlalu banyak orang yang tahu dengan kemampuannya. Dia takut seseorang akan mendeteksi kelemahan dari sihir ini dan menggunakanya untuk menghabisinya hanya dengan sekali mengamati. Oleh karena itu, sebisa mungkin dia memperlihatkan kemampuannya hanya pada orang-orang yang dia percayai.
"Kalau begitu, bagaimana dengan bawahan say-"
"Tidak, tidak. Aku hanya akan mampir sebentar dan langsung kembali. Jadi, tidak usah khawatir."
Setelah menolak tawaran yang kedua, Alexis tampaknya mengerti dan memilih untuk menyerah. Dia kembali menunduk hormat seraya mengucapkan kalimat perpisahan yang begitu sopan.
"Terima kasih atas kunjungan Anda. Maaf karena tidak bisa menyambut dengan baik."
"Tidak apa. Sampaikan salamku pada Sang Baron saat dia kembali."
Carmen berbalik seraya berjalan menjauhi mansion. Dia menaruh perhatian pada keadaan di sekitar, terutama gerak-gerik para prajurit yang mungkin akan menyerangnya dengan tiba-tiba. Mereka mungkin terkesan jujur karena mantra ilusi, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya penyergapan. Namun, sampai akhirnya mansion terhalangi bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya, tidak ada hal-hal yang mencurigakan sedikit pun.
Sama seperti sebelumnya, walau dikelilingi oleh bangunan-bangunan kayu yang menjulang tinggi, sama sekali tidak ada seseorang di sekitarnya. Tempat itu layaknya sebuah kota mati yang tidak berpenghuni. Dia bahkan bisa mendengar suara hembusan angin yang menggesek debu di sekitarnya.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama di Agarten, Carmen sudah tidak heran lagi dengan suasana ini dan memutuskan untuk menggunakan kembali gate miliknya agar mempersingkat waktu. Namun, sedikit suara gaduh dari kejauhan menarik perhatiannya.
Gelak tawa orang-orang silih bersahutan dari kejauhan diikuti suara dentingan dari gelas-gelas kaca. Suara teriakan dari seorang pria bahkan bisa terdengar cukup keras hingga sanggup untuk memecahkan suasana sunyi di tempat ini.
Tanpa memikirkan banyak hal, Carmen yang tertarik segera bergegas mendekati sumber suara tersebut sebelum mereka mereda. Gadis pendeta itu berjalan semakin cepat, berbelok beberapa kali di antara gang-gang sempit hingga menembus jalan utama lainya. Carmen bergerak secepat yang dia bisa dengan harapan untuk bertemu seseorang yang menurutnya normal.
Semakin dekat jarak di antara dirinya dengan sumber suara itu, semakin ramai pula kesan yang dia terima. Kali ini dia bahkan dapat menyimak percakapan-percakapan yang mereka lakukan. Terlebih lagi, kedengaranya mereka sedang mengadakan sebuah pesta kecil.
Setelah berjalan cukup jauh hingga napasnya memendek dan terengah-engah, Carmen berdiri di depan sebuah bangunan kayu megah dengan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya. Dia menatap ke jalanan batu yang diinjaknya sementara air keringat mulai membasahi pipinya.
"Tubuh ini ... benar-benar lemah." Gadis itu masih terengah-engah.
Pada saat dirinya mulai dapat menguasai diri dan mengatur napasnya kembali, Carmen berdiri tegak seraya menengadahkan kepalanya. Di sana, tepat di atas pintu kayu ganda berwarna cokelat yang tertutup rapat, menggantung sebuah papan kayu yang bertuliskan Guild Petualang.
------
Senin, 24 Juni 2019
Pukul 01:31 PM
Catatan :