
Alma melangkah melewati jalan yang sama. Di balik wajahnya yang masih biasa dan serius, pikirannya benar-benar kacau.
Apa yang sudah aku lakukan?!
Hanya dalam waktu singkat, dia sudah melakukan beberapa kesalahan fatal.
Pertama, karena Alma menggunakan pengetahuan masa lalunya sebagai putri seorang marquis untuk mempelajari tata krama bangsawan, dia menyapa seorang putri raja dengan cara seorang putri marquis. Mengingat statusnya sekarang, bukanlah hal aneh jika Putri Estelle merasa tersinggung dengan sikapnya.
Selain itu, dirinya yang terprovokasi oleh kata-kata Putri Estelle sangat tidak sesuai dengan sifatnya. Sebagai iblis peringkat tinggi, dia tahu betapa fatalnya hal seperti itu di tengah pertarungan. Kemarahan bisa membuat konsentrasi sangat menurun dan mengancam nyawa secara tidak langsung. Jadi, terprovokasi hanya dengan kata-kata seorang anak manusia seharusnya tidak mungkin.
Kalau memang begitu, lalu kenapa dia bisa sampai marah seperti ini? Bahkan kemarahannya masih belum turun sepenuhnya.
Alasan di balik kemarahannya bukan tidak diketahui. Alma langsung sadar kenapa dia marah. Namun, menyadari hal ini justru malah membuatnya semakin bingung.
Di masa lalu, saat dirinya masih berusia sekitar 6 tahun, Almaria pernah ikut dengan ayahnya ke istana selama beberapa hari. Dirinya yang terbiasa bebas dan menjadi pusat perhatian para pengikut saat berada di mansion keluarga, tiba-tiba harus menghadapi peraturan ketat istana dan pengabaian. Tentu saja perubahan drastis yang tiba-tiba ini membuat dia tidak nyaman selama di sana.
Kebanyakan waktunya hanya dihabiskan dengan memandang keluar jendela kamarnya yang berada di lantai dua, melihat taman bunga ambrosia yang dirawat secara khusus oleh Sang Ratu dari balik jendela.
Suatu ketika, saat dia melakukan kebiasaanya memandangi taman, untuk pertama kalinya Almaria melihat Putri Estelle. Rambutnya yang lurus dengan mata biru cerah berhasil membuat Almaria menaruh perhatian padanya. Kebebasan yang dia tunjukan saat berlari di taman bersama salah seorang pelayan istana tanpa ada yang berani melarang sedikit pun membuat Alma --yang pada saat itu tertekan dengan berbagai macam larangan dari ayahnya-- merasa iri. Apalagi, saat ayahnya berpapasan dengan gadis kecil berambut pirang tersebut, alih-alih melarangnya untuk berlarian sebagaimana dia melakukannya pada Alma, ayahnya malah berlutut dan mencium punggung tangan kanan gadis itu.
Alma yang memperhatikan mereka sangat terkejut dengan apa yang dia lihat. Biasanya hanya dialah yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari ayahnya. Bahkan Alma belum pernah melihat ibunya mendapatkan penghormatan seperti itu selama mereka di rumah. Lalu, bagaimana bisa gadis kecil itu juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan Alma?
Sejak saat itu Almaria tidak pernah lagi mau untuk menginjakan kaki di ibukota. Dia juga selalu menolak ajakan Sang Ayah untuk mengunjungi pesta ulang tahun maupun debutan anak-anak bangsawan di ibukota. Apalagi saat dia menerima undangan untuk menghadiri pesta ulang tahun Putri Estelle, Alma pasti akan langsung menolaknya dengan kesal tidak peduli sekeras apa ayahnya meminta.
Mungkin latar belakang kehidupan masa kecil Alma inilah yang membuatnya kesal hari ini dan balik memaki Putri Estelle.
Masalahnya adalah kata-kata yang kupilih!
Sebagai seorang petualang dari negara lain, seharusnya tidak normal baginya untuk mengetahui sifat dan kebiasaan seorang putri raja dari kerajaan tetangga. Kecuali bagi para bangsawan dan pelayan kerajaan itu sendiri yang biasa ikut dalam pergaulan kelas atas, rumor dan gosip miring tentang putri yang keras kepala tidak akan pernah sampai ke telinga rakyat jelata di seberang perbatasan. Jadi, kata-kata yang dia gunakan di depan para delegasi sebenarnya cukup berisiko.
Untungnya, berkat betapa terkenalnya reputasi Sang Putri yang buruk, tidak ada seorang pun di dalam sana yang berpikir sampai jauh ke sini.
Alma menghela napasnya sekadar untuk menurunkan rasa khawatirnya.
Masalahnya sekarang adalah bagaimana dia akan melanjutkan quest yang diberikan kepadanya. Membatalkan quest ini tampaknya akan menjadi pilihan yang bijak. Namun, masalahnya dia tidak punya uang untuk membayar denda pembatalan quest. Jika dia meminta uang kepada tuannya untuk masalah sepele seperti ini, dia yakin setidaknya tubuhnya tidak akan lengkap lagi.
Saat Alma berusaha untuk mencari jalan keluar yang lebih baik, seseorang tiba-tiba memanggilnya dari belakang. Suaranya tidak begitu asing di telinganya. Setidaknya Alma sudah mendengar suara ini beberapa waktu yang lalu. Pemiliknya adalah orang yang sama dengan pemuda yang menyangkal kata-kata Putri Estelle sebelumnya.
Alma menghentikan langkahnya seraya berbalik menghadap lelaki itu. Menyadari bahwa Alma menatapnya, lelaki tersebut menaruh tangan kanannya di dada dan mulai membungkukan tubuhnya sedikit. Begitu melihat postur yang familier itu, Alma langsung tahu bahwa lelaki di hadapannya sedang melakukan penghormatan seorang ksatria. Namun, walaupun dirinya mengetahui hal ini, gadis itu sebenarnya tidak terlalu peduli.
"Sebelumnya, perkenalkan nama saya Brian von Glass, putra kedua dari Keluarga Earl Glass. Saya ingin mewakili Yang Mulia Putri Estelle untuk menyampaikan permohonan maaf. Bolehkah saya meminjam waktu Anda untuk beberapa saat?"
Lelaki ini sangat sopan dan berwibawa. Ditambah lagi postur tubuhnya yang tinggi dan proporsional membuat Alma terpana untuk beberapa saat. Tentu saja bukan karena alasan ketertarikan kepada lawan jenis, melainkan murni hanya karena penasaran dengan seberapa jauh keahliannya dalam mengayunkan pedang.
Alma sebenarnya tidak sedang dalam suasana hati yang baik sekarang. Walaupun begitu, menolak permintaan seseorang di sampingnya terasa bukan hal yang bagus. Jadi, dia tidak punya pilihan lain selain mengiyakannya.
"Tentu suatu kehormatan bagi saya untuk menemani salah satu anggota delegasi yang mulia." Alma menjawabnya dengan nada yang sopan.
Mereka berjalan berdampingan melewati taman-taman akademi yang dirawat langsung oleh para siswa seraya mulai bercakap-cakap.
Bahasan yang dipilih oleh lelaki itu pada awalnya hanya basa-basi semata. Misalnya, sudah berapa lama dirinya berprofesi sebagai petualang, bagaimana bisa Evans bertemu dengannya, dan hal-hal tidak penting lainnya. Namun, saat pembicaraan semakin dalam, kata-kata lelaki itu mulai menuju ke arah yang buruk.
"Sebenarnya, Anda terlihat familier di mata saya."
Mendengar kalimat itu membuat raut wajah Alma sedikit berubah. Dia secara tak sadar sedikit menundukkan kepalanya sekadar untuk menyembunyikan perubahan kecil dalam ekspresinya.
"Apalagi nama Anda agak mirip dengannya."
Kali ini wajahnya menjadi pucat.
Sekarang aku ingat. Orang ini pernah beberapa kali mengunjungi mansion.
Habis sudah ...
Menyadari hal ini membuat Alma kehilangan ketenangannya.
"Pada saat pertama kali melihat Anda, saya cukup terkejut dan hampir memanggil Anda dengan nama orang tersebut. Namun, belakangan saya sadar bahwa itu mustahil."
Nada yang dipakainya sedikit menurun, menunjukan emosi sedih dan penyesalan yang samar. Alma --yang mengenali suasana hatinya berubah-- secara tidak sengaja mengeluarkan nada keheranan tanpa makna.
"Hm?"
Brian tampaknya salah menafsirkannya karena dia mulai menjelaskan secara singkat makna dari balik kata-kata sebelumnya.
"Seseorang yang mirip dengan Anda merupakan putri dari seorang marquis di kerajaan kami. Saya memang tidak terlalu akrab dengannya. Jadi, saya tidak tahu seberapa mirip Anda dengan putri itu. Namun, belakangan musibah menimpa keluarga mereka dan beliau wafat dalam musibah tersebut."
Ah ...
Alma menghela napasnya sendiri setelah mendengar ucapan lelaki di sampingnya. Berdasarkan dari apa yang dia dengar, Brian tampaknya tidak terlalu yakin dengannya. Dia bahkan sudah menyangkal penilaiannya tanpa Alma harus repot-repot menyangkalnya sendiri. Jadi, dia yakin bahwa setidaknya identitas Almaria masih akan aman untuk beberapa waktu ke depan. Masalahnya sekarang adalah berapa banyak orang yang menghubungkan dirinya dengan Almaria.
Sepanjang yang dia ingat, Almaria memang jarang sekali pergi keluar dari wilayah keluarganya. Berkat usianya yang masih muda dan belum melakukan pesta debutan di ibukota, dia juga jarang bertemu dengan keluarga bangsawan lain. Oleh karena itu, seharusnya tidak terlalu banyak orang yang mengenalinya di antara para delegasi. Namun, kemungkinannya tidaklah nol.
Setidaknya aku harus menyiapkan akting untuk mengelabui mereka.
"Ah, maafkan saya." Setelah diam beberapa saat, Brian akhirnya kembali membuka mulutnya. "Tampaknya saya berbicara hal-hal yang tidak perlu."
Mungkin Brian salah menafsirkan helaan napas Alma beberapa saat yang lalu. Oleh karena itu, dia mengucapkan kalimat meminta maaf. Padahal, Alma sama sekali tidak keberatan dengan kata-katanya.
"Tidak perlu seperti itu, saya hanya terkejut Anda membicarakan keluarga bangsawan kepada petualang asing." Jawaban Alma sama datarnya seperti biasa.
Mendengar ucapan seperti itu, Brian langsung berhenti melangkah. Wajahnya juga agak pucat seakan seseorang sedang mengancamnya.
Melihatnya seperti itu membuat Alma cukup keheranan. Dia juga ikut menghentikan langkahnya seraya berbalik menghadap lelaki itu. Kemudian, Alma mendengar kata-kata bernada khawatir dari lawan bicaranya.
"Saya benar-benar meminta maaf. Bukan maksud saya untuk seperti itu."
Kali ini Alma benar-benar bingung dengan alasan di balik sikap lelaki itu. Namun, sebelum dia menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Brian kembali membuka mulutnya.
"Kalau begitu, semoga hari Anda menyenangkan. Viscount Evans mungkin akan menunjukan kamar Anda sebentar lagi. Jadi, saya pamit undur diri."
Brian membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum berbalik dan berjalan pergi.
Alma masih terdiam, melihat punggung lelaki itu yang semakin mengecil seraya berusaha mencerna apa yang sebenarnya membuat Brian pergi menjauh darinya. Tidak butuh waktu lama sampai dia menyadari sesuatu yang agak bermasalah.
"Bangsawan, ya? Kelihatannya aku harus berhati-hati dalam memilih kata saat berbicara dengan mereka."
Bagi para bangsawan, perang kata-kata adalah salah satu tata krama. Memuji dan menyindir di saat bersamaan bukanlah hal yang langka. Tentu saja, kemampuan dalam menafsirkan kata-kata juga harus dimiliki oleh setiap bangsawan. Jika tidak, mereka akan menjadi mangsa yang mudah dalam pergaulan kelas atas.
Kalimat Alma sebelumnya sebenarnya tidak memiliki artian khusus apa pun. Hanya saja, Brian tampaknya terlalu memikirkannya dengan sudut pandang seorang bangsawan. Inilah sebabnya dia langsung merespon dengan agak khawatir.
Perkataan tersebut bisa diartikan sebagai, "kau membicarakan bangsawan di tempat yang tidak seharusnya, berhati-hatilah dengan ucapanmu" atau "aku bisa saja mengadukan kata-katamu pada orang yang bersangkutan. Jadi, berhati-hatilah".
"Merepotkan ... sungguh sesuatu yang merepotkan."
Alma kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya sendirian.
-------------------------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 25 Januari 2020 Pukul 12:00 PM
Note : -