
Memiliki segalanya mungkin terdengar luar biasa di mata orang-orang biasa. Namun, apakah harta dan keinginan yang selalu terpenuhi menjadi kunci dari kebahagiaan?
Terlahir sebagai putri dari sebuah kerajaan yang besar tidak serta-merta membuat hidupnya sesempurna yang dibayangkan orang lain. Ayahnya adalah seorang raja. Sang Ibu juga merupakan seorang ratu. Hanya melihat dari silsilah keluarga yang begitu kuat, pondasinya akan posisi dan derajat di mata bangsawan sudah tertancap begitu kokoh bahkan sejak dirinya belum menyadari tentang hal ini.
Dia tidaklah terlalu dekat dengan orangtua kandungnya. Waktu yang dihabiskan sejak kelahirannya hanyalah bersama ibu pengasuh dan beberapa pelayan pribadi. Walaupun begitu, Estelle kecil tumbuh tanpa kekurangan harta dan kasih sayang.
Sejak dirinya menginjak usia 8 tahun, barulah dia mengetahui bahwa kehidupannya tidaklah normal. Tak seperti sebuah keluarga pada umumnya. Dalam sebuah keluarga, seharusnya hanya ada satu ayah dan satu ibu. Namun, ayahnya memiliki beberapa selir di istana besar ini. Dia juga tidak terlalu dekat dengan orangtuanya. Mereka layaknya orang asing dan jarang sekali bertatap wajah dengannya. Bahkan, di setiap pesta ulang tahunnya yang megah, mereka hanya pernah mengunjunginya sebanyak empat kali.
Kehidupannya yang penuh dengan kemewahan terasa sangat kosong dan membosankan. Keinginannya yang selalu terpenuhi bahkan tidak bisa menggerakan hatinya lagi. Semua kebahagiaan yang dirasakannya hanya akan bertahan sesaat.
Ketika usianya menginjak 9 tahun, satu-satunya orang yang dia sayangi --ibu pengasuh-- meninggal dalam sebuah kecelakaan kereta saat perjalanan menemui cucunya. Estelle sangat terpukul. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia mengalami malapetaka yang tidak tertahankan.
Di masa-masa sulit saat dia masih berkabung, ibunya mengirim beberapa pengasuh baru untuknya. Namun, Estelle selalu menolaknya dengan kasar. Dia bahkan tidak segan-segan untuk melukai orang-orang yang dikirim ke kamarnya.
Apa yang dia inginkan hanyalah ibu pengasuhnya. Tidak peduli apakah itu mustahil atau tidak, Estelle hanya ingin ibu pengasuhnya kembali. Sayangnya, kali ini keinginannya tidak pernah bisa terpenuhi oleh siapa pun.
Estelle tidak pernah lagi merasakan kehangatan di kehidupannya. Sekuat apa pun dirinya merengek, ibu pengasuhnya tidak akan pernah kembali. Dia tidak menyangka bahwa satu-satunya keinginan yang tak akan bisa terpenuhi justru adalah keinginan terkuat selama hidupnya.
Setelah menyadari bahwa keinginannya tidak akan pernah tercapai, Estelle mulai menganggap ibu pengasuhnya sebagai orang yang berkhianat. Seseorang yang berani menolak keinginannya. Perlahan sifat yang selama ini dipupuk oleh ibu pengasuhnya juga mulai dia buang, menjadikannya seorang yang kasar dan pemarah.
Selama 6 bulan terakhir apa yang dilakukan olehnya hanyalah mengurung diri di kamarnya dan mengamuk kepada para pelayan yang berani datang ke kamarnya. Tidak ada satu pun keinginan yang bisa membuatnya kembali merasa hidup. Jadi, baginya tidak ada bedanya antara menghabiskan waktunya di luar dengan di dalam kamar.
Hari-hari berikutnya, salah satu bangsawan mulai sering mengunjunginya. Wajahnya agak menyeramkan, tetapi kebaikan yang tersirat dari perlakuan dan kata-katanya terasa sangat tulus. Walaupun Estelle selalu merengek dan mengusirnya, orang itu selalu saja memaksanya keluar dan mengajaknya bermain pedang kayu di halaman.
Awalnya Estelle tidak terlalu menyukainya. Lagipula dia adalah seorang gadis. Bermain pedang tidaklah menjadi pelajaran yang wajib bagi bangsawan wanita. Apalagi untuk ukuran seorang putri seperti dirinya. Namun, semakin lama dia bermain dengan tongkat-tongkat ini, Estelle seakan merasa hidup kembali.
Setelah mahir menggunakan pedang kayu, di pesta ulang tahunnya yang kesepuluh, untuk pertama kalinya dia dihadiahi sebuah pedang sihir asli oleh bangsawan tersebut. Pada bilahnya yang tipis dan ringan, namanya diukir dengan kaligrafi yang indah. Batu sihir yang tertanam di antara bilah dan gagang pedang juga memiliki warna yang serupa dengan warna matanya.
Saat pertama kali melihatnya, Estelle langsung jatuh cinta dengan hadiah tersebut melebihi apa pun yang pernah dia dapatkan. Dia juga mulai bersungguh-sungguh untuk melatih dirinya dan bertekad untuk menjadi ksatria pedang wanita terkuat di kerajaan.
Tahun berikutnya, Estelle mendaftar di akademi untuk memenuhi syarat menjadi seorang ksatria. Keahliannya yang selama ini diasah oleh guru terbaik dan bakatnya dalam berpedang membuatnya menjadi pusat perhatian. Apalagi silsilah keluarganya yang kuat bahkan membuat seniornya tidak mau berurusan dengannya.
Setahun di akademi membuat Estelle menjadi orang paling disegani. Dia juga memenangkan beberapa turnamen kecil yang diadakan oleh sekolah. Bahkan, ketika turnamen peringkat diadakan, Estelle yang saat itu berusia 12 tahun sanggup mengalahkan para seniornya yang berusia 2 tahun lebih tua darinya.
Hadiah berupa Kastil Mutiara dan prajurit pribadi dari Sang Ayah atas prestasi tersebut tidaklah begitu menyenangkan hatinya. Gadis itu merasa bahwa pengakuan dari ayahnya memang sudah sepatutnya dilakukan mengingat betapa hebat dirinya. Jadi, tidak mengherankan jika orang-orang mengaguminya dan memberi hadiah.
Pada tahun berikutnya, ketika dirinya mendengar sesuatu tentang invasi iblis, Estelle adalah orang pertama di dalam keluarga kerajaan yang mengajukan diri untuk bertempur ke garis depan. Dia yakin dengan kemampuannya yang luar biasa, iblis sekuat apa pun tidak akan pernah lepas darinya. Namun, baik ayah maupun gurunya tak ada yang mendukungnya.
Tentu saja dia sangat kesal pada saat itu.
Belakangan dia mendengar bahwa ayahnya telah mengirimkan Pangeran Kedua ke garis depan dan akan segera mengirimkan Pangeran Pertama untuk membantu. Estelle tidak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya. Dibandingkan dengan dua keturunan yang berpotensi mendapatkan takhta, kenapa beliau tidak mengirimnya? Jika kedua pangeran itu terbunuh di medan perang, siapa yang akan menggantikannya?
Di saat dirinya masih tenggelam dalam pikiran aneh ini, dia pada akhirnya menerima perintah langsung dari Raja. Tentu saja Estelle sangat senang. Dia akhirnya bisa mengejar kedua kakaknya ke garis depan. Namun, kenyataan pahit kembali dia alami.
Bukannya mengirimnya ke garis depan, Estelle malah diperintahkan mewakili kerajaan untuk bermain-main di kerajaan tetangga. Baginya ini adalah sebuah penghinaan terhadap kemampuan berpedangnya yang luar biasa, tidak lebih. Akan tetapi, sekeras apa pun dirinya menolak, perintah Raja tetaplah mutlak. Jadi, dengan enggan dan penuh kemarahan, Estelle pergi menuju Kerajaan Cygnus.
Kebenciannya masih belum sepenuhnya memudar dan tiba-tiba seorang rakyat jelata tanpa status kebangsawanan hanya membungkuk di depannya dan mengeluarkan kata-kata sebelum dia mengizinkannya. Tentu saja hal ini semakin membuatnya kesal. Setelah kemampuannya tidak dihargai oleh ayahnya sendiri, sekarang seorang rakyat jelata bahkan meremehkannya secara terbuka.
Estelle berdiri dari kursinya dan langsung menamparnya dengan sekuat tenaga.
"Nona!"
Ksatrianya --Viscount Evans-- langsung bereaksi pada saat berikutnya. Namun, Estelle mengangkat tangan kanannya untuk memerintahkan ksatria itu diam. Walau bagaimanapun, perintah majikannya adalah yang paling memiliki prioritas tertinggi. Jadi, Evans langsung terdiam begitu Estelle mengangkat tangannya.
"Beraninya kau memberiku sapaan setara. Aku adalah seorang putri dan kau hanyalah petualang rendahan yang dipekerjakan untukku. Putri seorang viscount sekalipun tidak akan berani melakukan itu di depanku!" Dia membentak dengan penuh kemarahan.
Apa yang Estelle lihat selanjutnya membuat dirinya semakin jengkel. Gadis berambut hitam itu bahkan tidak langsung bersujud memohon pengampunan setelah mendengar bentakannya, melainkan hanya menampakkan ekspresi terkejut yang hampir tidak dapat dikenali. Sungguh, tidak ada ketakutan dan penyesalan sama sekali.
Orang ini benar-benar ...!
"Minta maaflah padaku sekarang." Estelle menurunkan nadanya.
"Mohon maafkan saya, Yang Mulia."
Gadis itu langsung berbicara tanpa ragu tepat setelah Estelle memerintahnya. Suaranya masih tidak menunjukan ketakutan dan penyesalan, hanya suara datar yang dingin. Tentunya Estelle tidak senang dengan nada ini. Jadi, dia meningkatkan perintahnya sekadar untuk memuaskan hatinya.
"Minta maaf seperti itu hanya berlaku di antara bangsawan. Rakyat biasa sepertimu harus sujud dan mencium kakikku." Estelle tersenyum mengejek saat pihak lain menatap ke arahnya.
Pada saat suasana hatinya mulai membaik karena wajah petualang itu sedikit menunjukan raut kebingungan, tiba-tiba terdengar suara orang lain.
"Yang Mulia, Anda seharusnya tahu bahwa beliau bukanlah petualang biasa berperingkat rendah."
Kali ini salah seorang anak lelaki di belakangnya menyela. Estelle langsung mengalihkan pandangannya kepada lelaki muda yang masih duduk di salah satu kursi seraya memegang cangkir teh keramik.
Rambut pendeknya berwarna cokelat terang, sejalan dengan warna bola mata cokelat cerahnya yang memandang ke arahnya. Estelle mengangkat alisnya sedikit, tidak menduga akan ada penyangkalan dari pihak lain.
Anak laki-laki itu adalah Brian von Glass, putra kedua dari keluarga Earl Glass sekaligus seniornya di akademi. Walaupun usia mereka terpaut 3 tahun, Brian telah lulus dari akademi sekitar dua tahun yang lalu dan merupakan salah satu lulusan terbaik. Jadi, walaupun Estelle memiliki status yang jauh lebih tinggi, secara alami dia sedikit ragu untuk menyela perkataan lelaki itu.
"Tetapi tetap saja, dia hanya petualang." Estelle menjawab ragu seraya menghindari pandangan lelaki tersebut.
"Dan jika saya menolak untuk bersujud?"
Tidak diduga, gadis yang sejak tadi terdiam mulai bereaksi lagi. Kali ini suaranya jauh lebih dingin dan mengancam, membuat Estelle sedikit tidak nyaman. Dia kembali berbalik ke arah gadis itu untuk membalas kata-katanya yang tidak sopan. Namun, pihak lain sudah mulai berbicara kembali.
"Saya dibayar untuk melindungi Anda, bukan untuk mengikuti perintah Anda. Jadi, saya menolak."
"Kau ..." Estelle mengepalkan tangannya karena kekesalan yang kembali meluap. "Aku akan melaporkanmu kepada Yang Mulia Raja!"
Walaupun Estelle tahu bahwa Guild Petualang sepenuhnya terpisah dengan kerajaan manapun, menghina seorang delegasi tentu saja masalah yang berbeda. Raja Cygnus pasti tidak akan tinggal diam jika dia mengajukan keluhan tentang petualang di kerajaannya. Seharusnya kalimat mengancam seperti itu sudah cukup untuk menakuti pihak lain, tetapi alih-alih memohon pengampunan, gadis itu mulai membalas kata-katanya lagi.
"Benar, hanya itu yang bisa Anda lakukan, 'kan? Merengek dan menggunakan status Anda untuk menekan orang lain agar mereka mau mengalah."
Kali ini kemarahannya benar-benar meledak. Seumur hidupnya, tidak ada seorang pun yang pernah seberani ini kepadanya. Namun, sebelum Estelle membuka mulutnya lagi, gadis itu sudah kembali mengucapkan kata-kata mengesalkan padanya.
"Apa Anda pikir mereka mengalah karena menghormati Anda? Apakah Anda pikir orang-orang di sekitar Anda menyukai Anda? Merasa kagum dengan Anda?"
Dia ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi suaranya sama sekali tidak keluar. Perkataannya yang sederhana sedikit membuat hatinya tidak nyaman. Estelle tidak tahu kenapa dia ragu untuk menjawab kata-kata itu dan berakhir dengan terdiam sampai gadis petualang di hadapannya kembali membuka mulut.
"Sama sekali tidak. Mereka melakukannya karena terpaksa. Tidak akan pernah ada sorang pun yang menyukai anak-anak nakal dan keras kepala. Mereka mungkin tersenyum di depan Anda, tetapi siapa yang tahu? Mungkin di belakang Anda, mereka mencibir penuh rasa benci. Putri yang keras kepala dan suka bertindak seenaknya, siapa yang akan menyukai orang seperti itu?"
Ruangan itu tiba-tiba menjadi sunyi. Di antara mereka tidak ada yang berani untuk membuka mulutnya. Bahkan Estelle sendiri tidak terpikir untuk menyangkalnya.
Semua yang gadis itu katakan cukup masuk akal. Estelle sendiri pun tidak akan menyukai orang yang seperti itu. Namun, walaupun begitu, dia tetap tidak mau mengakuinya. Dia tidak mau mengalah kepada seseorang dengan status yang jauh lebih rendah darinya.
Saat Estelle memikirkan kata-kata untuk membalasnya, gadis itu sudah mulai berbicara lagi. Kali ini dia mengatakannya dengan sedikit nada mencibir.
"Apakah Anda sadar bahwa Anda menempati posisi yang tinggi seperti sekarang adalah karena bantuan dari orang lain? Bahkan sekarang, Anda ingin meminta bantuan dari Yang Mulia Raja hanya untuk masalah sepele seperti ini." Gadis itu berbalik dan berjalan menuju pintu seraya mengucapkan kalimat terakhir yang membuat Estelle semakin membencinya. "Saya tidak sudi bersujud pada orang yang tidak kompeten dan kekanak-kanakan."
------------------------
Dipublish di Mangatoon pada Hari Sabtu, 18 Januari 2020 pukul 12:00 PM
Note :
Kenapa minggu kemaren gak update? Hapeku rusak hiks. Ku biasa nulis di hape dan sekarang malah rusak.